Minggu, 09 Oktober 2022

SETIAP HARI ADA WAKTU YANG ISTIMEWA

 

By. Satria hadi lubis   


Dalam satu hari, ada waktu-waktu khusus yang diistimewakan Allah dan memiliki ganjaran yang besar di sisi Allah swt, yakni waktu subuh dan ashar. Pada waktu tersebut terjadi pergantian malaikat penjaga siang dan malam. Rasulullah saw bersabda,"Para malaikat datang kepadamu pada pergantian malam dan siang, dan mereka semua berkumpul pada waktu shalat subuh dan shalat ashar. Mereka (para malaikat) yang melewatkan waktunya bersamamu naik (ke langit) dan Allah bertanya kepada mereka, meskipun Dia tahu segala sesuatu tentang kamu, "sedang apa hamba-hamba-Ku ketika kau tinggalkan?" Para malaikat menjawab, "Ketika kami meninggalkan mereka, mereka sedang mengerjakan shalat. Dan ketika kami menemui mereka, mereka sedang mengerjakan shalat" (HR. Bukhari).


Selain waktu subuh dan ashar, waktu dhuha juga memiliki keutamaan untuk melakukan sholat dhuha dengan berbagai ganjarannya. Di antaranya, Rasulullah saw bersabda : “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai shadaqah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no.  720).


Waktu sepertiga malam juga adalah waktu yang utama untuk kita isi dengan ibadah, belajar dan membaca Al Qur’an. Oleh sebab itu jangan disia-siakan waktu malam berlalu tanpa ibadah malam (tahajud). Di antara keutamaannya adalah : “Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat (waktu). Seandainya seorang muslim meminta suatu kebaikan di dunia maupun di akhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim). Nabi SAW bersabda : “Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )


Lalu bagaimana dengan waktu pagi, adakah nash atau dalil tertentu yang mengutamakan waktu pagi? Jawabnya ada. Dalil tentang keutamaan waktu pagi disebutkan dalam hadits, “Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi harinya” (HR. Abu Dawud no. 2606, Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236, shahih At-Targhiib wa Tarhiib no, 1693). Dan hadits : “Diberikan barakah kepada umatku di pagi harinya” (HR. Abu Dawud at-Thaayalisy dishahihkan Al Bani dalam Shahih Jami’ush Shaghir no. 2841). Rasulullah saw juga bersabda: “Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Thabrani).


Di dalam tiga hadits tersebut, Rasulullah saw menganjurkan agar mengutamakan waktu pagi dan tidak menyia-nyiakannya dengan bermalas-malasan atau tidur lagi.


Orang yang bermalas-malasan dan tidur lagi di waktu pagi akan terhalang rezekinya. Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, bahwasanya orang yang tidur di pagi hari akan menghalanginya dari mendapat rizki. Karena waktu subuh adalah waktu di mana makhluk mencari rizkinya, dan pada waktu tersebut Allah membagi rizki kepada para makhluk-Nya. Beliau menukil dari Ibn ‘Abbas radliyallahu ‘anhu bahwasannya dia melihat anaknya tidur di waktu pagi maka ia berkata kepada anaknya, “Bangunlah engkau! Apakah engkau akan tidur sementara waktu pagi adalah waktu pembagian rezki?” Tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang shalih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barakah (banyak kebaikan).”


Semoga kita senantiasa bisa menggunakan waktu-waktu istimewa tersebut untuk memperbanyak ibadah dan amal sholih.  Aamiin yaa robbal alamin

MELEPAS GUSAR DAN RISAUMU

 

By. Satria hadi lubis 


Berbuat baiklah semampumu

Perbaiki terus dirimu

Agar kualitas dirimu terus melangit


Tak perlu gusar dengan celaan orang lain

Tak perlu berharap dengan pujian siapa pun


"...dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela" (Qs. 5 ayat 54)


Karena eksistensimu sesungguhnya

Hanya di depan Allah


Tak perlu risau dengan cela (kekurangan) orang lain

Mereka punya Allah

Biarlah Allah yang mengurus mereka dengan hikmah-Nya


"Biarlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya" (Qs. 74 ayat 12)


Tugas kita hanya mengajak dengan sabar, bukan menghakimi surga neraka mereka


Karena kebahagianmu sesungguhnya 

Hanya ketika engkau melepas gusar dan risaumu

BIARKAN STATUS QUO INI


By. Satria hadi lubis 


"Jika Islam hanya sebatas ibadah dan mu'amalah, niscaya Rasulullah tidak akan pernah ada di medan pertempuran."


Ini quote yang bagus! Yang menunjukkan bahwa Islam itu syamil wa mutakamil (integral dan sempurna), sebagaimana firman-Nya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS. 5 ayat 3).


Quote yang menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama sekuler.  Sekulerisme adalah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.


Sekularisme asing dalam Islam, karena meminggirkan Islam hanya sebatas ibadah vertikal saja dengan Tuhan. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, bahkan kalau terpaksa siap berperang jika Islam dipinggirkan dan dilecehkan.


Sekulerisme berasal dari Eropa pada abad pertengahan ketika ajaran Kristen diterapkan secara salah dan korup. Lalu sebagai protes, para petinggi Eropa meminggirkan ajaran Kristen, sehingga wujud Kristen seperti yang kita lihat sekarang ini; hanya mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan. Agama jangan dibawa-bawa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 


Nah...pemahaman sekuler inilah yang coba diterapkan di dalam tubuh umat Islam saat ini dengan berbagai propaganda oleh mereka yang memuja sekulerisme yang sesat itu. Bahkan sekulerisme juga bertentangan dengan ideologi Pancasila sila pertama "Ketuhanan yang Maha Esa" sebagai dasar negara kita.  


"Pemaksaan" untuk menerima sekulerisme dalam tubuh umat Islam ini yang menjadi biang kerok konflik tak berkesudahan antara Islam dan penganut sekuler di dunia saat ini, termasuk di Indonesia. Ada upaya ghozwul fikri (serangan pemikiran) yang dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) dan antek-anteknya. Mereka adalah muslim munafik dan para kafir harbi dari kalangan Kristen, Syi'ah, Komunis, dan lain-lain yang ingin mensekulerkan umat Islam. Kafir yang baik-baik tidak termasuk dalam kelompok perusak Islam.


Umat Islam di Indonesia harus waspada dan selektif menerima  informasi dan propaganda yang dilakukan para pemuja sekelurisme, terutama para generasi muslim milenial. Seringkali propaganda tersebut dibungkus dengan istilah-istilah keren, seperti hak azasi manusia, kesetaraan gender, modernisasi, emansipasi, dan lain-lain.


Bagi kita umat Islam, toleransi bukanlah dengan menerima nilai-nilai sekuler, sehingga setiap agama menjadi urusan individu masing-masing. Atau menjadi sama benarnya. Lalu kita bebas berinteraksi tanpa batas antar umat beragama. Termasuk bebas menikah antar umat beragama. Bukan begitu toleransi dalam Islam.


Toleransi dalam Islam adalah memberikan kebebasan setiap pemeluk agama untuk menjalankan agamanya masing-masing, tanpa saling mengganggu. Jika ada gangguan, maka selesaikan dengan dialog atas dasar itikad baik. Bukan dengan kepura-puraan, yakni berdialog tapi terus menyebarkan agamanya dengan cara tipu daya dan imbalan materi. Tujuan akhirnya adalah ingin mengubah demografi agama penduduk Indonesia, sehingga umat Islam yang tadinya mayoritas menjadi minoritas di negeri ini.


Upaya mengubah demografi agama ini akan memunculkan ketidakpercayaan dan konflik antar umat beragama, sehingga kerukunan umat beragama di Indonesia menjadi terancam. 


Solusinya....


Jangan "paksa" umat Islam menerima sekulerisme. Terapkan toleransi secara adil dan biarkan demografi agama penduduk Indonesia dalam keadaan status quo seperti sekarang ini, dimana umat Islam menjadi mayoritas. Jangan ada upaya untuk mensekulerkan atau memurtadkan umat Islam dengan berbagai tipu daya yang akhirnya memunculkan perlawanan dari tubuh umat Islam yang hidupnya ingin mulia dan matinya syahid karena membela agama Allah.


“Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia suka untuk kembali ke dunia padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena dia melihat keistimewaan karamah (mati syahid)” (HR. Al-Bukhari no. 2817 dan Muslim no. 1877)

BAHAYA TIDAK BERSYUKUR


By. Satria hadi lubis 


AWALNYA adalah nikmat Allah yang dikufuri, sehingga datanglah azab Allah. 


Ada hukum Allah (hukum alam) yang mengatakan "Jika tidak bersyukur atas nikmat Allah maka azab Allah akan datang". 


Dalilnya, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Qs.14:7).


Bagaimana cara bersyukur? Cara bersyukur itu dengan mengingat Allah atas segala nikmat-Nya. 


Dalilnya, "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Qs.2:152). Dalam ayat tersebut diawali dengan ingat kepada Allah, sebagai syarat  bersyukur. 


Jadi azab dari Allah yang diterima seseorang atau suatu kaum karena perbuatan manusia itu sendiri yang kurang bersyukur dengan tidak ingat (tidak taat) kepada Allah. 


Firman Allah SWT dalam surah Ar-Ruum ayat 41 :

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” 


Kembali ke jalan yang benar artinya kembali taat kepada Allah SWT. Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa "laut" di sini berarti kota-kota besar atau desa-desa yang di pinggir laut. Sedangkan "darat" artinya kampung-kampung atau desa-desa yang terdapat di darat. Artinya kerusakan itu bisa meluas di kota dan di desa-desa. 


Kerusakan bukan hanya berarti kerusakan alam tapi juga kerusakan sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain.


"Kerusakan" ekonomi yang saat ini terjadi juga disebabkan karena pemimpin dan rakyat bangsa ini kurang bersyukur sehingga datanglah azab atas negeri ini. 


Azab adalah siksaan atau musibah. Peringatan dan teguran agar kembali kepada Allah. Banyak orang mengira bahwa azab merupakan istilah yang digunakan hanya untuk azab yang besar, berat, dan mengerikan. Hal ini karena penyebutan azab dalam Al Qur’an seringnya berupa azab yang keras, pedih, hina, besar, berat, kekal, dan sebagainya. Semua itu sebagai bentuk ancaman bagi mereka yang terjerumus dalam syahwat, syubhat, kesesatan, dan pelanggaran.


Namun, Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah mengancam orang-orang yang menentang dan membuat kerusakan dengan suatu azab selain azab yang besar. Dengan harapan, mereka mau kembali dari kesesatan kepada ketaatan dan tersadarkan dari perbuatannya. 


Allah menjelaskan bahwa bencana dan malapetaka yang menimpa orang-orang yang menentang di dunia ini itu hanya azab yang dekat (kecil).


Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (kepada ketaatan).” (as-Sajdah: 21)

JANGAN BUTA POLITIK

 

By. Satria hadi lubis 


Dalam sebuah ceramahnya, seorang ustadz berkata: "Mereka yang berpolitik itu sudah benar gak sholatnya? Sudah sholat berjamaah tidak di mesjid? Sudah baca al Qur'an gak? Perbaiki dulu deh ibadahnya, baru setelah itu berpolitik!"


Ucapan semacam ini sekilas kelihatannya benar, tapi akan lebih benar lagi jika seruannya seperti ini : "Mereka yang berpolitik itu sudah benar gak sholatnya? Sudah sholat berjamaah tidak di mesjid? Sudah baca Al Qur'an gak? Perbaiki dulu deh ibadahnya SAMBIL berpolitik!"


Ibadah dalam Islam itu luas pengertiannya, meliputi ipoleksosbudhankamrata (ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan rakyat semesta). Semuanya sama-sama penting. Bagi seorang muslim, politik tidak bisa ditinggalkan karena asyik mendahulukan ibadah mahdhoh (khusus), seperti sholat, zikir, haji, dan sebagainya. Begitu pun sebaliknya, jangan asyik berpolitik tapi melupakan ibadah khusus.


Walau tidak semua muslim harus berpolitik praktis (dengan menjadi anggota parpol), suka atau tidak suka seorang muslim harus tahu kondisi kaum muslimin, membela kaum muslimin (baca: membela kemanusiaan) dan memahami makar mereka yang membenci Islam. Dan ini berarti berpolitik (high politics). Tidak boleh cuek.


Bukankah Allah sendiri yang memberitahu kita adanya orang-orang yang membenci Islam? "Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya" (Qs.61 ayat 8).


Semuanya itu hanya ditujukan kepada Allah dan dalam rangka mencari ridho Allah SWT. 


"Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam" (Qs. 6 ayat 162).


Jadi jangan menjadi muslim yang buta politik!


Bukankah Allah memerintahkan kita agar jangan setengah-setengah (parsial) dalam memahami dan mengamalkan Islam? 


"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu" (Qs. 2 ayat 208).

CINTA ATAS NAMA AGAMA


By. Satria hadi lubis 


Rasulullah saw telah mencanangkan bahwa yang membuat pernikahan itu langgeng adalah agama (ad dien), bukan yang lainnya.


"Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu paling utama yang harus jadi perhatian adalah masalah ad dien (agamanya). Maka pilihlah berdasarkan agamanya, niscaya kamu beruntung" (HR. Bukhari Muslim).


Karena itu, ta'aruf (pengenalan) terhadap calon suami atau isteri itu adalah ta'aruf terhadap dien-nya. Indikatornya   adalah quwatul aqidah (aqidah yang kuat), matanal khuluq (akhlaq yang kokoh) dan shohihul ibadah (ibadah yang benar) dari calon suami atau isteri kita.


Pengenalan terhadap selain dien boleh saja dilakukan tetapi tak terlalu penting. Itulah sebabnya pernikahan dalam Islam tidak diawali dengan pacaran, apalagi pacaran yang lama dan "brutal" sampai melakukan hubungan seksual sebelum nikah dengan alasan mengenal luar dalam. Cukup mengenal ad dien saja.


Sedang perbedaan sifat, karakter, gaya hidup, hobi, dan lain-lain dari suami isteri adalah dinamika dalam pernikahan. Suka duka yang merupakan takdir dalam pernikahan, yang perlu dihadapi dengan sabar dan syukur, sehingga menjadi ladang pahala.


Jangan percaya dengan mitos bahwa nikah itu harus memilih pasangan yang paling banyak persamaannya dengan kita. Tapi percayalah bahwa memilih pasangan harus mengutamakan kualitas dien-nya, sebagaimana yang disabdakan Nabi saw dalam hadits di atas.


Dalam 32 tahun perjalanan pernikahan saya, yang menyatukan saya dengan istri (Ustadzah Kingkin Anida) adalah agama. Cinta kami berdua dibangun atas nama agama. Marah yang kembali reda juga gara-gara pertanggungjawaban agama.

Sedih yang kembali riang juga karena nilai-nilai agama.

Musibah yang kembali aman juga karena dikuatkan oleh agama.


Agama yang dihidupkan dalam bentuk dakwah di internal keluarga dan ke eksternal keluarga telah membuat pernikahan kami, alhamdulillah, bisa bertahan selama 32 tahun (7 Oktober 1990 - 7 Oktober 2022). Dan insya Allah, akan terus langgeng sampai maut memisahkan kami di dunia. Lalu bersatu lagi kelak di akhirat...insya Allah.


Bagi kami....

Cinta atas nama agama adalah cinta sejati dan puncak dari cinta-cinta lain yang paling membahagiakan.


Bagi kami...

Cinta atas nama agama (yang dihidupkan dalam dakwah) adalah cinta segitiga yang agung antara suami, isteri dan Allah, sebagai Sang Pemilik Cinta itu sendiri.


FOTO KEMESRAAN DENGAN PASANGAN


By. Satria hadi lubis 


Sering kita melihat di medsos, postingan foto/video suami istri yang mesra. Bahkan foto/video orang pacaran yang kelewat batas mesranya, sehingga bisa disebut sebagai foto yang mengumbar kemaksiatan.


Kesan dari yang melihat foto-foto kemesraan tersebut beragam. Ada yang turut bahagia, ada yang biasa-biasa saja, ada yang merasa tidak etis, tapi ada juga yang iri dengan kemesraan pada foto/video tersebut.


Dulu saya pernah ditegur via DM, "Ustadz....jangan sering-sering memajang foto kemesraan dengan istri donk....kan jadi iri nih bagi saya yang jomblo atau bagi orang lain yang keluarganya tidak harmonis."


Semenjak itu, saya jadi jarang memasang foto kemesraan dengan istri di medsos. Dulu sering karena ingin menjadikan hal tersebut sebagai arsip keluarga juga. Seperti diketahui, fungsi memposting foto di medsos, seperti di Facebook dan Instagram, bisa juga untuk menjadi alat dokumentasi. 


Lepas dari ikhtilaf hukum agama memasang foto dengan pasangan di medsos (ada ulama yang mengharamkan, ada juga yang berpendapat mubah) sebaiknya perlu dipertimbangkan kembali apa motif kita memasang foto/video kemesraan tersebut. Apakah untuk riya' (pamer), untuk bersyukur, untuk berdakwah, untuk dokumentasi, sekedar iseng, atau bahkan untuk membuat iri orang lain.


Namun bagi kita yang melihat foto/video kemesraan suami istri di medsos sebaiknya tetap bersikap husnuzhon (bersangka baik) dan mendoakan semoga apa yang terlihat di foto tersebut sesuai dengan realitanya. 


Saran saya, sebaiknya foto kemesraan yang kelewat batas jangan sering ditampilkan ke publik agar tidak terkesan pamer imoral dan juga untuk menjaga perasaan yang melihatnya. Janganlah kita bersikap semau gue dan cuek dengan reaksi publik.


Jika pun ingin menampilkan foto kemesraan dengan pasangan sebaiknya itu foto yang jujur dan wajar. Bukan hoax, karena faktanya ada juga yang memposting foto mesra tapi sebenarnya ada kisah sedih dan tragedi di balik foto mesra tersebut.


Postinglah foto dengan pasangan karena niat untuk berdakwah tentang keharmonisan keluarga. Sambil tetap memperhatikan kepatutan etis serta tidak melanggar norma-norma agama dan budaya ketimuran di Indonesia.