Senin, 10 Agustus 2026

UKURAN ORANG BERILMU: TAKUT KEPADA ALLAH

 UKURAN ORANG BERILMU: TAKUT KEPADA ALLAH


By. Satria Hadi Lubis


BANYAK orang mengira bahwa ukuran ilmu adalah banyaknya gelar, luasnya wawasan, atau tingginya kecerdasan. Padahal Al-Qur'an memberikan ukuran yang berbeda. Ukuran utama orang berilmu bukanlah seberapa banyak yang ia ketahui, tetapi seberapa besar rasa takutnya kepada Allah.


"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28)


Ayat ini tidak berarti setiap orang yang bergelar ulama pasti takut kepada Allah. Maksudnya, rasa takut yang benar kepada Allah mestinya lahir dari ilmu yang benar. Semakin seseorang mengenal Allah, memahami ayat-ayat-Nya, dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya, semakin tunduk dan takutlah hatinya kepada-Nya.


Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Karena mereka mengetahui keagungan, kekuasaan, kesempurnaan, dan keadilan-Nya. Ilmu yang benar melahirkan kekhusyukan, bukan kesombongan.


Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan untuk memusuhi akal. Justru akal adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Dengan akal, manusia berpikir, meneliti, menemukan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban.


Namun Islam juga mengajarkan bahwa akal bukanlah tuhan. Sebab akal memiliki batas. Ia hanya mampu menjangkau apa yang dapat diindra, dihitung, diamati, dan dianalisis. Sementara ada banyak hakikat yang berada di luar jangkauan akal manusia, seperti perkara gaib, hakikat ruh, kehidupan setelah mati, misteri alam semesta yang sangat luas dan hikmah Allah yang tidak selalu dapat dipahami saat ini.


Di sinilah letak kekeliruan sebagian paham ateisme. Mereka menjadikan akal sebagai hakim tertinggi. Sesuatu dianggap benar hanya jika dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. Padahal akal manusia sendiri terbatas, sering keliru, bahkan para ilmuwan pun terus merevisi teori-teori yang dahulu dianggap pasti.


Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas dijadikan ukuran mutlak bagi seluruh kebenaran?


Seorang mukmin menggunakan akalnya semaksimal mungkin, tetapi tidak mengagungkan akalnya di atas wahyu. Akal dipakai untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk menghakimi Allah Ta'ala. Ketika akal telah sampai pada batas kemampuannya, iman melanjutkan perjalanan.


Inilah hakikat ilmu dalam Islam. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit yang diketahuinya dibanding ilmu Allah. Semakin luas pengetahuannya, semakin besar rasa takzimnya kepada Sang Pencipta.


Ilmu yang tidak melahirkan ketundukan bisa berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan ketaatan.


Maka, jika ingin mengukur diri apakah ilmu kita bertambah, jangan hanya bertanya, "Sudah berapa banyak yang saya ketahui?" Tetapi bertanyalah, "Apakah hati saya semakin takut kepada Allah? Apakah saya semakin taat kepada-Nya?" Karena itulah ukuran ilmu yang sesungguhnya.

“CAPE YA, NAK… SINI AYAH PELUK.”

 “CAPE YA, NAK… SINI AYAH PELUK.”


By. Satria Hadi Lubis


“CAPE ya, Nak… sini ayah peluk.”


Kalimat itu sederhana. Pendek. Bahkan mungkin jarang sekali terdengar.


Karena ayah… biasanya tidak pandai merangkai kata. Ia bukan tipe yang banyak bicara tentang perasaan. Ia lebih sering diam, lebih sering terlihat kuat, seolah tidak punya ruang untuk menunjukkan kelembutan.


Tapi kalau suatu hari kalimat itu keluar dari mulutnya…

percayalah, itu bukan kalimat biasa.

Itu adalah cinta… yang selama ini ia simpan dalam diam.


Seorang anak pulang dengan langkah berat. Hari itu tidak mudah. Dunia terasa sempit. Masalah datang bertubi-tubi. Tidak ada tempat bercerita. Tidak ada yang benar-benar mengerti.

Ia mencoba terlihat biasa. Menahan semuanya. Seperti yang selama ini ia lakukan.


Namun ayah… selalu punya cara melihat yang tak terlihat. Ia tidak bertanya panjang. Tidak menghakimi. Tidak memberi ceramah. Ia hanya berkata pelan, "Cape ya, Nak… sini ayah peluk.”


Seketika… pertahanan itu runtuh.

Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya jatuh.

Beban yang dipikul sendirian, perlahan terasa ringan.

Dalam pelukan itu, ada ketenangan yang sulit dijelaskan.


Ayah tidak banyak bicara. Tapi pelukannya seolah berkata,

"Kamu tidak sendirian."

"Ayah di sini."

"Semua akan baik-baik saja."


Kita sering mencari tempat pulang ke mana-mana.

Mencari pengertian dari banyak orang.

Mencari ketenangan di luar sana.


Padahal… kadang yang kita butuhkan hanya satu:

pelukan ayah.

Pelukan yang mungkin jarang kita minta.

Pelukan yang sering kita anggap tidak penting.

Pelukan yang… baru kita sadari harganya, ketika sudah tidak bisa lagi kita rasakan.


Jika hari ini ayahmu masih ada…

Jangan tunggu sampai kamu benar-benar lelah.

Jangan tunggu sampai hidup memaksamu jatuh.

Datangi dia.

Duduk di dekatnya.

Dan jika kamu berani…

katakan pelan,

"Ayah… aku capek."

Mungkin ia tidak akan langsung menjawab.

Mungkin ia hanya diam.


Tapi bisa jadi…

ia akan membuka tangannya, dan berkata,

“Sini, Nak… ayah peluk.”

Dan di situlah kamu akan mengerti…

bahwa pelukan itu adalah rumah,

yang selama ini tidak pernah benar-benar kamu tinggalkan.

TENGGELAMNYA SEORANG PEMBOHONG

 TENGGELAMNYA SEORANG PEMBOHONG


By. Satria Hadi Lubis


SEORANG pemuda sangat mahir berenang. Ia begitu bangga dengan kemampuannya. Hampir setiap hari ia berenang di sungai yang membelah desanya.


Suatu hari, ketika sebuah perahu penuh penumpang melintas, tiba-tiba ia berteriak sekuat tenaga,


"Tolong...! Aku tenggelam!"


Mendengar teriakan itu, beberapa penumpang tanpa ragu melompat ke sungai. Dengan pakaian yang masih melekat di badan, mereka berenang sekuat tenaga demi menyelamatkan nyawa seseorang.


Namun, sesampainya di dekat pemuda itu, ia justru tertawa terbahak-bahak.


"Aku hanya bercanda. Aku ahli berenang!"


Orang-orang yang telah basah kuyup itu pulang dengan kecewa dan marah. Anehnya, pemuda itu mengulangi perbuatan yang sama berkali-kali kepada perahu-perahu lain. Baginya, melihat orang tertipu adalah hiburan.


Hingga suatu hari, hujan deras menyebabkan sungai meluap. Arus menjadi sangat deras. Dengan rasa percaya diri, ia kembali berenang seperti biasa.


Kali ini ia benar-benar terseret pusaran air.


Ia berteriak meminta tolong. Sebuah perahu mendekat. Semua mendengar jeritannya. Namun tidak ada yang melompat.


Mereka mengira, "Itu hanya tipuan lagi."


Perahu terus berlalu.


Tak lama kemudian, pemuda itu tenggelam. Keesokan harinya, jasadnya ditemukan mengapung di sungai.


Betapa mahal harga sebuah kebohongan.


Allah Ta'ala juga berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur."

(QS. At-Taubah: 119)


Rasulullah saw bersabda:


"Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang terus berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka. Seseorang yang terus berdusta akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)


Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis di atas menerangkan bahwa kejujuran adalah jalan menuju seluruh kebaikan, sedangkan dusta adalah pintu menuju berbagai dosa dan kebinasaan.


Hikmah :


1. Jangan pernah menjadikan kebohongan sebagai candaan. Sekali orang kehilangan kepercayaan kepada kita, sangat sulit mengembalikannya.


2. Berbohong bisa seperti narkoba, menagih dan membuat pelakunya tidak lagi merasa bersalah untuk berbohong. 


3. Orang yang suka berbohong akan sulit mendapatkan kepercayaan walau saat itu sebenarnya ia sedang tidak berbohong. 


4. Kita tidak harus berbohong, meski mengatakan kebenaran dapat menyebabkan kerugian, penderitaan, atau sakit. Kita tidak harus berbohong jika berbohong mungkin memberi kita uang, kekuasaan, atau kesenangan. 


5. Kejujuran adalah modal terbesar dalam kehidupan. Harta bisa dicari, jabatan bisa diraih, tetapi kepercayaan membutuhkan waktu yang panjang untuk dibangun.


6. Kebohongan sering kali terasa menguntungkan sesaat, tetapi merugikan di kemudian hari. Banyak orang jatuh bukan karena kurang cerdas, tetapi karena kehilangan kepercayaan.


7. Seorang mukmin memilih jujur meski pahit. Sebab ia yakin bahwa pertolongan Allah datang bersama kejujuran, bukan bersama kebohongan.


Ingatlah, bukan karena sungai yang membunuh pemuda itu. Yang menenggelamkannya adalah kebohongan yang selama ini ia pelihara.

TARBIYAH BUKAN SEGALANYA, TAPI SEGALANYA BERAWAL DAN BERAKHIR DARI TARBIYAH

 TARBIYAH BUKAN SEGALANYA, TAPI SEGALANYA BERAWAL DAN BERAKHIR DARI TARBIYAH


✍️ By. Satria Hadi Lubis


BANYAK orang ingin melihat perubahan besar. Ingin lahir pemimpin yang amanah. Ingin masyarakat yang jujur. Ingin keluarga yang sakinah. Ingin dakwah berkembang. Ingin umat kembali berjaya. Namun sering kali kita lupa pada akar dari semua itu. Yaitu TARBIYAH.


Tarbiyah memang bukan segalanya. Sebab setelah dibina, seseorang tetap harus bekerja, berdakwah, berjuang, memimpin, berkorban, dan terus belajar. Tarbiyah bukan tujuan akhir, melainkan proses membentuk manusia agar mampu menjalankan semua amanah itu. Namun, hampir semua kebaikan besar selalu berawal dari tarbiyah.


Tidak ada bangunan yang kokoh tanpa fondasi. Tidak ada pohon yang rindang tanpa akar yang kuat. Begitu pula dakwah. Aktivitas yang besar hanya akan bertahan jika ditopang oleh pribadi-pribadi yang telah ditempa melalui proses tarbiyah.


Rasulullah saw tidak langsung membangun peradaban Madinah. Beliau terlebih dahulu membina para sahabat di Makkah selama bertahun-tahun. Mereka ditanamkan tauhid, keikhlasan, kesabaran, ukhuwah, dan ketaatan kepada Allah. Setelah manusianya terbentuk, barulah lahir masyarakat terbaik dalam sejarah. Allah Ta'ala berfirman:


"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah."

(QS. Al-Jumu'ah: 2)


Perhatikan urutannya. Rasulullah saw membacakan wahyu, menyucikan jiwa, lalu mengajarkan ilmu. Inilah hakikat tarbiyah: membangun hati sebelum membangun organisasi, membangun karakter sebelum membangun peradaban.


Sebaliknya, banyak kegagalan berawal dari kurangnya tarbiyah. Ilmu ada, tetapi tidak amanah. Jabatan tinggi, tetapi lemah integritas. Organisasi besar, tetapi rapuh ukhuwahnya. Semangat tinggi, tetapi mudah futur ketika menghadapi ujian.


Karena itu, ketika sebuah gerakan melemah, jangan hanya mencari strategi baru. Lihat kembali kualitas tarbiyahnya. Ketika kader mulai kehilangan semangat, jangan hanya menambah program. Perkuat kembali pembinaan ruhiyah, ilmu, dan akhlaknya.


Menariknya, bukan hanya awal yang membutuhkan tarbiyah. Akhir perjalanan pun ditentukan oleh tarbiyah.


Istiqamah hingga akhir hayat tidak lahir secara tiba-tiba. Husnul khatimah bukan hadiah bagi orang yang sesekali berbuat baik, melainkan buah dari proses panjang mendidik hati agar selalu dekat kepada Allah.


Karena itu, tarbiyah tidak pernah mengenal kata lulus. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula kita membutuhkan tarbiyah untuk memberikan nasihat, muhasabah, berbagi ilmu, sahabat sholih, dan lingkungan yang sehat.


Imam Malik rahimahullah pernah berkata, "Siapa yang tidak dididik oleh orang tuanya, maka akan dididik oleh zaman." Betapa beruntungnya orang yang memilih dididik oleh Al-Qur'an dan Sunnah sebelum kerasnya kehidupan mendidiknya dengan berbagai ujian.


Maka jangan pernah meremehkan sebuah halaqoh kecil, liqo' yang sederhana, nasihat seorang murabbi, atau tilawah yang rutin. Boleh jadi dari situlah lahir pemimpin, ulama, da'i, ayah yang saleh, ibu yang tangguh, dan generasi yang mengubah peradaban.


Tarbiyah memang bukan segalanya. Tetapi jika ingin mencari dari mana semua kebaikan bermula, jawabannya adalah tarbiyah. Dan jika ingin menjaga agar semua kebaikan itu tetap hidup hingga akhir hayat, jawabannya juga tetap sama: Tarbiyah.

NGAPAIN KAMU MENCARI CINTA DAN PERHATIAN MANUSIA?

 NGAPAIN KAMU MENCARI CINTA DAN PERHATIAN MANUSIA?


By. Satria hadi lubis


CAPEK tidak, kalau hidup terus-menerus berusaha agar manusia mencintaimu? Berusaha menyenangkan orang. Takut dikritik. Sedih ketika tidak dihargai. Kecewa ketika kebaikanmu tidak dibalas. Lelah mengejar pengakuan yang tidak pernah ada habisnya.


Padahal, sejak kapan tujuan hidup kita adalah mendapatkan cinta manusia?


Manusia memiliki hati yang berubah-ubah. Hari ini memuji, besok bisa mencela. Hari ini mendukung, besok bisa meninggalkan. Jika kebahagiaanmu bergantung pada perhatian manusia, maka hatimu tidak akan pernah benar-benar tenang.


Karena itu, berhentilah menjadikan manusia sebagai pusat perhatianmu. Fokuslah berbuat baik sesuai syariat Allah.


Jika ada yang mencintaimu, bersyukurlah. Jika ada yang tidak menyukaimu, bersabarlah. Jika ada yang menghargaimu, jangan terbang. Jika ada yang meremehkanmu, jangan tumbang.


Kamu tidak akan mudah baper, tidak mudah sakit hati, dan tidak mudah kecewa, karena tujuanmu bukan mengambil hati manusia, tetapi mencari ridho Allah Ta'ala.


Biarlah manusia menilai sesuka mereka. Tugasmu bukan mengendalikan penilaian manusia. Tugasmu adalah memperbaiki amalmu di hadapan Allah.


Dicintai atau tidak dicintai manusia bukanlah fokus hidupmu. Yang menjadi fokus adalah: apakah Allah mencintaimu?


Sebab, jika Allah sudah mencintaimu, itulah keberuntungan terbesar. Bahkan bila seluruh dunia tidak mengenalmu, engkau tetap menjadi orang yang mulia di sisi-Nya.


Maka sibukkanlah dirimu mengejar tanda-tanda cinta Allah.

Apakah hari ini kamu semakin mudah bertaubat?

Apakah shalatmu semakin khusyuk?

Apakah hatimu semakin mencintai Al-Qur'an?

Apakah maksiat semakin kamu benci?

Apakah akhlakmu semakin baik?

Apakah kamu semakin ikhlas dalam beramal?

Apakah kamu semakin ringan melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat?

Semua itu jauh lebih penting daripada berapa banyak orang yang menyukaimu. 


Rasulullah saw bersabda dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril dan berfirman, "Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia." Kemudian kecintaan itu disebarkan kepada penduduk langit, lalu Allah menjadikan hamba tersebut diterima di muka bumi.


Jangan habiskan umurmu mengejar perhatian manusia. Habiskan umurmu mengejar cinta Allah.


Sibuklah berbuat baik. Sibuklah memperbaiki diri. Sibuklah mengejar ridho-Nya. Sebab ketika Allah mencintaimu, kamu tidak lagi gelisah dengan penilaian manusia. Dan ketika Allah ridho kepadamu, itulah kemenangan yang sesungguhnya.


"Kamu tidak akan mudah baper, tidak mudah sakit hati, dan tidak mudah kecewa, jika tujuan hidupmu bukan mengambil hati manusia, tetapi mencari ridho Allah SWT."

TUGASMU: MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN

 TUGASMU: MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN


By. Satria Hadi Lubis


SEBAGIAN manusia menduga bahwa tujuan hidup adalah membahagiakan diri sendiri. Mereka bekerja keras agar memiliki harta, jabatan, rumah yang nyaman, dan kehidupan yang serba berkecukupan. Semua itu memang boleh diusahakan, tetapi Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tertinggi bukan ketika kita menerima, melainkan ketika kita memberikan kebahagiaan kepada orang lain.


Seorang muslim tidak boleh hidup hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Kehadirannya seharusnya membawa manfaat, ketenangan, dan harapan bagi orang-orang di sekitarnya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar pula manfaat yang ia berikan kepada sesama. Rasulullah saw bersabda:


"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)


Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seorang hamba bukan hanya banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga besarnya manfaat yang dirasakan orang lain melalui dirinya.


Allah juga menjelaskan misi diutusnya Rasulullah saw dan umatnya:


"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)


Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini bukan hanya menggambarkan sifat Rasulullah saw, tetapi juga menunjukkan karakter yang harus diwarisi oleh umatnya.


Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Siapa yang menerima risalah beliau akan memperoleh rahmat di dunia dan akhirat. Bahkan bagi yang menolak, diangkat dari mereka azab yang membinasakan secara menyeluruh seperti yang menimpa umat-umat terdahulu.


Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa rahmat Rasulullah saw tampak pada seluruh ajarannya. Syariat Islam membawa kemudahan, keadilan, kasih sayang, perlindungan terhadap jiwa, harta, akal, kehormatan, dan agama manusia. Karena itu, seorang muslim yang mengikuti Rasulullah saw semestinya menjadi sumber rahmat (kebahagiaan), bukan sumber kerusakan.


Sekh Abdurrahman As-Sa'di juga menjelaskan bahwa seluruh ajaran Nabi saw adalah rahmat. Ilmu yang beliau ajarkan adalah rahmat, akhlaknya adalah rahmat, dakwahnya adalah rahmat, bahkan hukum-hukum syariat pun pada hakikatnya merupakan rahmat bagi manusia.


Karena itu, semakin seseorang meneladani Rasulullah saw, semakin besar pula manfaat yang ia berikan kepada orang lain.


Membahagiakan orang lain bukan berarti selalu memberi uang. Ada banyak cara yang sering kali lebih bernilai, seperti memberi perhatian kepada orang tua, menghormati pasangan, mendidik anak dengan penuh kasih, menghibur orang yang sedang bersedih, membantu tetangga, mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya, memaafkan kesalahan, mengajarkan ilmu, atau sekadar menghadirkan senyum yang tulus.


Yang perlu diingat, membahagiakan orang lain tidak boleh dilakukan dengan melanggar syariat. Kita tidak boleh menyenangkan manusia dengan cara yang dimurkai Allah. Seorang mukmin selalu menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama. Jika Allah ridho, maka kebahagiaan yang kita tebarkan akan menjadi ibadah.


Ironisnya, orang yang hanya sibuk mengejar kesenangan untuk dirinya sendiri sering kali tidak pernah merasa puas. Ia justru menjauhi kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang menjadikan hidupnya bermanfaat bagi sesama justru merasakan kebahagiaan yang sulit dibeli dengan harta. Allah memenuhi hatinya dengan ketenangan karena ia telah menjadi jalan datangnya kebahagiaan bagi orang lain.


Maka mulailah dari lingkungan terdekat. Jadilah rahmat di rumahmu, di tempat kerjamu, di masjidmu, di lingkungan masyarakatmu, dan di mana pun Allah menempatkanmu.


Setiap malam, cobalah bertanya kepada diri sendiri:


"Hari ini, siapa yang lebih tenang, lebih kuat, atau lebih bahagia karena kehadiranku?"


Jika setiap muslim hidup dengan semangat ini, niscaya ia sedang mewarisi salah satu misi terbesar Rasulullah saw: menjadi rahmat bagi semesta alam.

TANGISAN TAUBAT YANG BERULANG

 TANGISAN TAUBAT YANG BERULANG

Tangisan yang Allah Tidak Pernah Bosan Mendengarnya


MALAM kembali turun.

Semesta perlahan sunyi.

Lampu-lampu mulai dipadamkan.

Satu demi satu manusia terlelap dalam tidurnya.


Namun di sebuah sudut kamar, ada seorang hamba yang kembali menangis.

Tangisnya bukan karena miskin.

Bukan karena sakit.

Bukan karena kehilangan orang yang dicintai.


Ia menangis karena ketakutan akan dosa yang sama...

Dosa yang telah berkali-kali ia sesali.

Dosa yang telah berkali-kali ia janjikan untuk ditinggalkan.

Namun entah mengapa, ia kembali jatuh.


Dengan wajah yang dipenuhi rasa malu, ia mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah... aku datang lagi..."


Kalimat itu begitu berat.

Karena ia sadar, ini bukan pertama kalinya.

Bahkan mungkin bukan yang keseratus kalinya.


Lalu setan datang berbisik:


"Masih berani mengangkat tangan? Bukankah engkau sudah berkali-kali mengingkari janji kepada Allah? Bukankah taubatmu hanya sandiwara?"


Betapa banyak manusia yang akhirnya percaya kepada bisikan itu.

Mereka berhenti berdoa.

Berhenti menangis.

Berhenti berharap.


Padahal itulah kemenangan terbesar yang diinginkan setan.

Bukan ketika kita berdosa.

Tetapi ketika kita berputus asa dari rahmat Allah.


Padahal Allah berfirman:


"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa." (QS. Az-Zumar: 53).


Perhatikanlah...

Yang Allah larang bukan hanya berbuat dosa.

Tetapi juga berputus asa.

Karena putus asa adalah pintu menuju kebinasaan.


Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw menceritakan tentang seorang hamba yang terus mengulangi dosanya.


Setiap kali ia berdosa, ia berkata,

"Ya Rabb, ampunilah dosaku."

Allah mengampuninya.

Tapi ia jatuh lagi.

Dan Allah mengampuninya lagi.

Ia jatuh lagi.

Allah kembali mengampuninya.

Bukan karena Allah menyukai dosanya.

Tetapi karena Allah mencintai hati yang terus kembali.


Selama penyesalan itu masih hidup...

Selama rasa takut kepada Allah masih ada...

Selama istighfar masih terucap...

Pintu itu belum ditutup.


Para salaf tidak pernah merasa aman dengan amal mereka. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:


"Seorang mukmin menggabungkan antara amal yang baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik menggabungkan antara amal yang buruk dengan rasa aman."


Mereka takut amalnya ditolak.

Mereka menangisi dosa yang mungkin bagi kita terlihat kecil.

Padahal mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Allah.


Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar yang dahulu pernah menjadi perampok, menghabiskan banyak malamnya dengan tangisan. Beliau pernah berkata,


"Celakalah engkau, wahai Fudhail. Betapa banyak dosamu, sementara ajalmu semakin dekat."


Lihatlah...

Seorang wali Allah masih menangisi dosanya.


Sebenarnya ada yang lebih mengerikan daripada sering berdosa.

Yaitu ketika hati sudah tidak lagi mampu menangis.

Ketika dosa dilakukan tanpa rasa bersalah.

Maksiat dianggap biasa.

Shalat ditinggalkan tanpa penyesalan.

Al-Qur'an berdebu tanpa kerinduan.

Istighfar terasa asing di lisan.

Saat itulah hati mulai mengeras.


Padahal hati yang keras lebih berbahaya daripada tubuh yang sakit.

Karena tubuh yang sakit hanya mengancam kehidupan dunia.

Sedangkan hati yang mati mengancam kehidupan akhirat.


Ingatlah...

Allah SWT tidak pernah bosan menerima orang yang pulang.

Kitalah yang sering bosan untuk kembali.


Jangan bangga dengan dosa yang berhasil disembunyikan.

Karena yang menutup aibmu bukan kepintaranmu.

Tetapi karena kasih sayang Allah.


Bayangkan...

Berapa banyak dosa yang seandainya Allah tampakkan kepada manusia, mungkin kita tidak sanggup lagi mengangkat kepala.


Namun Allah menutupinya.

Masih memberi rezeki.

Masih memberi kesehatan.

Masih membuka pintu masjid.

Masih memberi kesempatan untuk bersujud.

Bukankah itu berarti Allah masih memanggil kita untuk pulang?


Suatu hari nanti...

Air mata akan berhenti mengalir.

Bukan karena hati telah tenang.

Tetapi karena ajal telah datang.

Saat itu, taubat tidak lagi diterima.

Yang tersisa hanyalah penyesalan.


Karena itu, selama napas masih berembus...

Selama pintu taubat masih terbuka...

Jangan pernah malu datang kepada Allah.

Datanglah dengan hati yang takut.

Dengan dosa yang diakui.

Dengan harapan yang besar.

Sebab Allah tidak pernah meminta kita datang dengan kesempurnaan.

Allah meminta kita datang dengan ketulusan.


Maka jika malam ini engkau kembali menangis karena dosa yang sama...

Jangan katakan,

"Aku sudah terlalu kotor untuk kembali."

Katakanlah,

"Ya Allah... aku memang terlalu kotor. Karena itu aku sangat membutuhkan ampunan-Mu."


Semoga tangisan taubat yang berulang di dunia menjadi saksi bahwa kita tidak pernah menyerah untuk kembali kepada Allah.

Semoga tangisan penyesalan yang berulang di dunia menjadi sebab kita tidak perlu menangis karena penyesalan di akhirat.


"Ya Allah, jangan biarkan kami meninggalkan dunia ini sebelum Engkau mengampuni dosa-dosa kami. Jadikan akhir hidup kami sebagai akhir yang baik, husnul khotimah; dan pertemukan kami dengan-Mu dalam keadaan Engkau telah ridho kepada kami."


By. Satria hadi lubis