KAMPANYE ANTI NIKAH: KAMPANYE MENOLAK BAHAGIA TINGKAT LANJUT
By. Satria Hadi Lubis
BELAKANGAN ini semakin sering kita menemukan narasi yang meremehkan pernikahan. Ada yang mengatakan menikah hanya menambah beban hidup. Ada yang beranggapan hidup sendiri lebih bebas dan lebih bahagia. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengampanyekan agar generasi muda tidak perlu menikah.
Tentu setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya. Namun jika kampanye anti nikah disampaikan seolah-olah pernikahan hanya berisi penderitaan dan kesengsaraan, maka itu adalah gambaran yang tidak utuh.
Ya, pernikahan memang memiliki suka dan duka. Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Ada saat-saat terjadi perbedaan pendapat. Ada masa-masa sulit secara ekonomi. Ada kelelahan ketika harus mengurus anak. Ada ujian yang harus dihadapi bersama.
Tetapi pertanyaannya, adakah kebahagiaan besar yang bisa diraih tanpa perjuangan?
Orang yang membangun bisnis juga menghadapi stres. Orang yang kuliah menghadapi tugas dan ujian. Orang yang bekerja menghadapi tekanan pekerjaan. Namun mereka tetap menjalaninya karena ada hasil besar yang ingin diraih.
Begitu pula dengan pernikahan.
Di balik berbagai tantangannya, ada kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Ada kebahagiaan ketika pulang ke rumah lalu disambut pasangan dan anak-anak. Ada kebahagiaan ketika berjalan-jalan bersama keluarga pada akhir pekan. Ada kebahagiaan ketika melihat anak tumbuh dan berkembang dari hari ke hari. Ada kebahagiaan ketika makan bersama, bercanda bersama, dan saling menguatkan di saat sulit.
Mungkin perjalanan wisatanya biasa saja. Mungkin tempat makannya sederhana saja. Tetapi karena dilakukan bersama orang-orang yang dicintai, momen itu menjadi sangat berharga.
Kebahagiaan seperti ini sulit ditemukan dalam kehidupan yang sepenuhnya dijalani sendirian.
Selain itu, manusia pada dasarnya membutuhkan teman berbagi hidup. Karena setiap orang memiliki masalah. Setiap orang memiliki kegelisahan. Setiap orang memiliki hari-hari yang berat.
Pada saat seperti itu, kehadiran pasangan sering kali menjadi tempat pertama untuk bercerita. Ada yang mendengarkan keluh kesah kita. Ada yang memperhatikan keadaan kita. Ada yang bertanya apakah kita sudah makan, sudah istirahat, atau sedang menghadapi masalah.
Perhatian-perhatian kecil seperti ini sering kali dianggap biasa. Padahal bagi banyak orang, itulah salah satu sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup.
Islam sendiri memandang pernikahan sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Perhatikan bahwa Allah menyebut tujuan pernikahan dengan kata sakinah (ketenteraman), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Ini menunjukkan bahwa rumah tangga yang dibangun sesuai tuntunan Islam bukanlah penjara kehidupan, melainkan salah satu jalan menuju kebahagiaan.
Tentu saja menikah bukan berarti hidup akan bebas dari masalah. Tetapi pernikahan membuat kita memiliki teman seperjalanan dalam menghadapi masalah tersebut.
Karena itu, kampanye anti nikah sering kali bukan sekadar kampanye menolak sebuah institusi sosial. Dalam banyak kasus, ia adalah kampanye yang membuat manusia menjauh dari salah satu sumber kebahagiaan terbesar yang Allah sediakan dalam kehidupan. Kampanye yang merugikan manusia itu sendiri karena menolak untuk bahagia pada tingkat yang lebih tinggi.
Maka yang perlu dikampanyekan bukanlah menjauhi pernikahan, melainkan mempersiapkan diri untuk membangun rumah tangga yang baik, matang, dan bertakwa.
Sebab pada akhirnya, banyak orang yang sukses dalam karier merasa kesepian ketika pulang ke rumah yang kosong. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana tetapi merasa sangat kaya karena memiliki keluarga yang mencintainya.
Rumah tangga memang memiliki suka dan duka. Namun bagi banyak orang, duka itu menjadi ringan karena dijalani bersama orang-orang yang dicintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar