Sabtu, 25 April 2026

KEBIASAAN RASULULLAH SAW MENYAMBUT RAMADHAN

 KEBIASAAN RASULULLAH SAW MENYAMBUT RAMADHAN


By. Satria hadi lubis 


RAMADHAN tidak datang secara tiba-tiba dalam kehidupan Rasulullah saw. Bagi Nabi saw, Ramadhan bukan sekadar tanggal di kalender, tapi tamu agung yang dimuliakan. Lalu bagaimana kebiasaan Rasulullah saw menyambut bulan Ramadhan?


1.⁠ ⁠Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban.

Salah satu kebiasaan paling menonjol adalah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Bahkan, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban lebih banyak dibanding bulan-bulan lain, kecuali Ramadhan. Puasa ini bukan sekadar latihan fisik, tapi pemanasan ruhani. Seakan Rasulullah saw mengajarkan : jangan masuk Ramadhan dalam keadaan iman yang dingin.


Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).


2.⁠ ⁠Lebih Intim dengan Al-Qur’an.

Meski Rasulullah saw selalu hidup bersama Al-Qur’an, namun menjelang Ramadhan beliau semakin meninggikan intensitasnya. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, maka Nabi saw mencontohkan umatnya untuk berinteraksi lebih intens dengan al Qur'an sebelum Ramadhan.


Para salaf memberi petunjuk kepada kita untuk memperbanyak membaca Qur’an sejak dari bulan Sya’ban, bukan hanya di bulan Ramadhan. Sebagaimana bulan Ramadhan kita dituntun untuk sibuk dengan Al Qur’an, maka sebagai pemanasan aktivitas mulia tersebut sudah seharusnya dimulai dari bulan Sya’ban.


Salamah bin Kahiil berkata, “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” ‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an.


3.⁠ ⁠Memperbanyak Doa dan Munajat.

Rasulullah saw dikenal sebagai hamba yang paling banyak berdoa. Menjelang Ramadhan, doa dan munajat beliau, terutama di sepertiga malam semakin sering. Ada harap, ada rindu, ada ketundukan. Nabi saw berkata dengan lisannya : "Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan. (HR Imam Baihaqi dan Thabrani).


4.⁠ ⁠Menjaga Hati dan Memperbanyak Sedekah.

Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tapi menjaga hawa nafsu dan hati. Rasulullah saw menyambut Ramadhan dengan memperhalus akhlak, menahan emosi, dan membersihkan hubungan dengan manusia.


Beliau saw juga memperbanyak sedekah, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Ibn Abbas RA berkata: “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya lebih besar lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


5.⁠ ⁠Menata Niat dan Kesungguhan.

Yang paling penting, Rasulullah saw menyambut Ramadhan dengan niat yang lurus dan kesungguhan total. Tidak setengah-setengah. Ramadhan adalah proyek besar keimanan, bukan ibadah sambil lalu. Beliau mempersiapkan diri seakan menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan yang terakhir, tak ada kesempatan pada tahun berikutnya. 


Abu Bakr al-Balkhi Rahimahullah, “Bulan Rajab sebagai bulan penanaman, Sya’ban sebagai bulan penyiraman tanaman, dan Ramadhan sebagai bulan panen hasil.”


Rasulullah saw seakan mengajarkan kepada kita bahwa Ramadhan seyogyanya dimenangkan sebelum bulan Ramadhan datang. Siapa yang serius mempersiapkan diri, dialah yang akan memetik manisnya.


Maka jika hari ini kita masih diberi kesempatan waktu menjelang Ramadhan, jangan sia-siakan. Perbaiki niat. Perbanyak ibadah. Agar ketika Ramadhan tiba, kita tidak hanya hadir dengan tubuh, tapi juga dengan jiwa yang siap kembali pulang kepada Allah.

NASAB DARAH DAN "NASAB" IMAN

 NASAB DARAH DAN "NASAB" IMAN


By. Satria hadi lubis 


KITA sering bangga pada nasab darah. Siapa ayah kita, siapa ibu kita, dan dari keluarga apa kita berasal. Ada yang lahir dari keluarga terpandang, ada yang diwarisi nama besar, ada pula yang merasa kecil karena silsilahnya biasa saja.


Padahal di hadapan Allah, nasab darah tak selalu menentukan kemuliaan. Al-Qur’an mengajarkan satu hal penting bahwa "nasab" iman bisa mengalahkan nasab darah.


Lihat kisah Nabi Nuh as. Anaknya sendiri ditenggelamkan banjir, bukan karena kurang cinta, tapi karena putus nasab iman. Darah ada, tapi iman tidak.


Lihat juga Nabi Ibrahim as. Ayahnya pembuat berhala, tapi Ibrahim dimuliakan Allah karena memilih iman di atas darah.

Ia sendirian, tapi Allah bersamanya.


Di sisi lain, Allah mengabadikan hubungan keluarga yang disatukan oleh iman. Suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik yang bukan hanya sedarah, tapi juga disatukan oleh iman yang sama.


Oleh karena itu, jangan minder hanya karena keluargamu penuh kekurangan. Sebaliknya, jangan terlalu percaya diri karena lahir dari keluarga baik-baik. Ketahuilah, Allah SWT tidak pernah bertanya, “Anak siapa kamu?” Tapi Allah bertanya: “Siapa Rob yang kamu sembah?”


Ketahuilah, nasab darah berhenti di liang lahat. Tapi nasab iman ikut sampai di akhirat. Sebab di hari kiamat nanti, yang saling memanggil bukan lagi "saudaraku sedarah", tapi "saudaraku seiman".


Kalau hari ini keluargamu belum seiman jalan pikirannya, maka jangan putus asa. Bisa jadi, kamu yang Allah pilih untuk menyambung nasab iman itu. Dan ingat ini baik-baik : Nasab darah bisa diwariskan. Tapi nasab iman harus diperjuangkan.

BERBUAT BAIKLAH, SEBAGAIMANA ALLAH BERBUAT BAIK KEPADAMU

 BERBUAT BAIKLAH, SEBAGAIMANA ALLAH BERBUAT BAIK KEPADAMU


By. Satria hadi lubis 


KADANG kita sibuk menghitung kebaikan orang lain kepada kita. Siapa yang paling berjasa, siapa yang paling perhatian, siapa yang layak kita balas. Padahal, kalau mau jujur sebentar saja…yang paling banyak berbuat baik kepada kita bukan manusia, tapi Allah SWT.


Allah memberi kita hidup, tanpa kita minta. Memberi napas, tanpa kita bayar. Memberi rezeki, bahkan saat kita lalai, bermaksiat, dan lupa bersyukur. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan dengan lembut namun tegas :


“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77)


Ayat ini seperti cermin. Allah tidak sedang menuntut kita menjadi malaikat. Allah SWT hanya berkata : balaslah kebaikan-Ku dengan kebaikanmu kepada sesama manusia.


Kalau Allah menutup aib kita setiap hari, mengapa kita begitu mudah membuka aib orang lain?

Kalau Allah sabar menunggu taubat kita, mengapa kita cepat sekali memutus silaturahmi?

Kalau Allah memberi rezeki tanpa melihat masa lalu kita,

mengapa kita pelit menolong hanya karena orang itu “tidak pantas” menurut versi kita?


Berbuat baik itu bukan karena orang lain layak. Berbuat baik itu karena Allah sudah lebih dulu baik kepada kita. Mungkin kita tidak mampu memberi harta, tapi kita bisa memberi senyum. Mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah orang lain, tapi kita bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Kita mungkin tidak mampu mengubah dunia, tapi kita bisa membuat hari seseorang terasa lebih ringan.


Jadi, tetaplah berbuat baik. Sebab tidak ada satu pun kebaikan kita yang hilang. Kalau tidak dibalas manusia, ia disimpan rapi oleh Allah dan suatu ketika akan dibalas-Nya. Karena sejatinya, kebaikan kita kepada makhluk adalah bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta.


Maka hari ini, sebelum kita menuntut dunia lebih adil kepada kita, mari bertanya berbisik pada diri sendiri : “Sudahkah aku berbuat baik, sebagaimana Allah tak pernah lelah berbuat baik kepadaku?” Semoga kita termasuk orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan kebaikan, bukan kelalaian.

REFLEKSI KASUS SISWA SD YANG BUNDIR DI NGADA

 REFLEKSI KASUS SISWA SD YANG BUNDIR DI NGADA


By. Satria hadi lubis 


BARU-BARU ini, kita dikejutkan oleh berita tragis tentang seorang siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Hal itu terjadi setelah permohonan sederhananya untuk membeli buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi oleh keluarganya karena keterbatasan ekonomi. (https://www.kompas.id/artikel/

anak-sd-bunuh-diri-lantaran-tak-mampu-beli-buku-dan-pena-tamparan-bagi-negara)


Peristiwa ini telah menjadi perhatian nasional dan menyentuh hati banyak pihak sebagai sebuah tamparan keras tentang kondisi sosial ekonomi dan pendidikan anak Indonesia. 


Bagi kita orang beriman, bunuh diri tentu saja merupakan tindakan yang salah, dengan alasan apa pun. Sebab setiap jiwa adalah amanah dari Allah SWT. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. 4 ayat 29)


Larangan bunuh diri ini tegas dan tanpa kompromi. Islam memandang hidup sebagai karunia yang harus dijaga, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Anak yang masih kecil, yang belum sepenuhnya mampu memahami kompleksitas hidup, sangat perlu diberi dukungan penuh oleh lingkungannya. Bukan malah mengalami tekanan batin yang membuatnya menyerah.


Kesedihan atas peristiwa ini bukan saja karena kehilangan nyawa, tapi juga karena terungkapnya ketidakmampuan sistem sosial dan kenegaraan kita dalam memenuhi kebutuhan hak azasi anak Indonesia, berupa pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang.


Anak adalah amanah umat dan negara. Islam sangat menekankan perlindungan terhadap kaum lemah, terutama anak-anak dan orang miskin. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang tidak menyayangi anak kecil di antara kami, dan tidak mengakui hak orang tua kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Ahmad)


Oleh karena itu, ketika seorang anak sampai pada titik putus asa yang begitu mendalam sehingga mengakhiri hidupnya, maka kita perlu melihatnya sebagai kegagalan bersama, bukan sekadar “peristiwa individu”.


Keluarga, guru, ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan agama, serta pemerintah daerah dan pusat perlu menjadikan peristiwa ini sebagai teguran keras untuk membenahi sistem lingkungan tumbuh kembang anak yang sehat dan aman. 


Peristiwa tragis di Ngada NTT bisa jadi merupakan fenomena gunung es. Masih banyak anak-anak Indonesia yang hidup papa dan kurang perhatian. Ke depannya, kita semua turut bertanggung jawab untuk memastikan tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang merasa kesepian dan sendirian.


SIAPAKAH ORANG TERBAIK ITU?

 SIAPAKAH ORANG TERBAIK ITU?

By. Satria hadi lubis
SIAPAKAH orang yang terbaik di dunia? Pertanyaan ini sering mampir di kepala kita. Apakah orang yang paling kaya? Paling pintar? Paling terkenal? Atau yang paling banyak pengikutnya?
Al-Qur’an yang mulia menjawabnya dengan sangat lugas dan menghujam.
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Fussilat: 33)
Ayat ini seperti menata ulang standar “terbaik” versi langit. Orang terbaik itu bukan yang paling lantang suaranya, tapi yang paling mengajak kepada Allah. Bukan berarti harus ceramah di mimbar, bukan harus viral di media sosial. Kadang hanya dengan sikap, dengan kejujuran, dengan akhlak yang membuat orang lain bertanya, “Kok dia bisa sibuk dakwah tapi rezeki gak pernah seret? Koq dia bisa tenang di tengah kerumitan hidup?”
Orang terbaik itu bukan yang banyak bicara kosong, tapi yang banyak berbuat kebaikan. Lisannya banyak mengajak, tangannya bekerja, kakinya melangkah. Apa yang ia katakan selaras dengan apa yang ia lakukan. Tidak sempurna, tapi sungguh-sungguh.
Dan yang paling menyejukkan, ia tidak merasa paling hebat.
Ia justru berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Tidak jumawa. Tidak merasa paling benar. Ia tahu, semua ini bukan karena dirinya, tapi karena Allah yang menolongnya.
Jadi, kalau hari ini kita bertanya, “Sudahkah aku menjadi orang terbaik?” Mungkin pertanyaannya bisa dipersempit :
Apakah aku berdakwah mendekatkan orang kepada Allah? Apakah ucapanku sejalan dengan perbuatanku? Apakah aku masih merasa butuh Allah dalam setiap langkah?
Sebab menurut Al-Qur’an, orang terbaik itu bukan yang paling tinggi derajatnya di mata manusia, tapi yang paling ikhlas mengajak kepada Allah, berbuat baik, dan berserah diri sepenuh jiwa.

DIMANA TEMPAT CURHAT YANG MELEGAKAN?

 DIMANA TEMPAT CURHAT YANG MELEGAKAN?

By. Satria hadi lubis
ADA kalanya hidup terasa terlalu penuh. Masalah datang bersamaan, hati lelah, dan kepala tak berhenti berpikir. Ingin curhat, tapi bingung harus mulai dari mana. Tak semua orang mampu memahami, dan tak semua cerita nyaman dibagikan. Di saat seperti itulah Al-Qur’an hadir sebagai tempat curhat yang melegakan.
Ketika kita membuka Al-Qur’an, sejatinya kita sedang duduk berhadapan dengan Allah. Kita membaca ayat-ayat-Nya, lalu diam, merenung, dan membiarkan hati berbicara. Tak perlu kalimat rapi. Tak perlu alasan yang panjang. Allah sudah tahu apa yang membuat dada kita sesak.
Al-Qur’an mengajarkan satu hal penting : curhat terbaik adalah yang menguatkan, bukan sekadar meluapkan. Ayat-ayatnya menenangkan, menegur dengan lembut, dan memberi harapan di saat yang paling gelap. Kadang satu ayat terasa seperti jawaban. Kadang hanya membuat kita menangis. Tapi setelahnya, hati terasa lebih ringan.
Curhat kepada Al-Qur’an tak menuntut kita sempurna. Bacaan boleh terbata, air mata boleh jatuh, perasaan boleh berantakan. Justru di situlah kejujurannya. Saat hati benar-benar dilibatkan, Al-Qur’an menjadi teman yang setia, mendengar tanpa menyela, memahami tanpa menghakimi.
Jika ini dilakukan secara rutin, meski hanya beberapa ayat setiap hari, perlahan hati menjadi lebih kuat. Bukan karena masalah hilang, tapi karena kita tak lagi sendirian menghadapinya. Ada Allah yang menemani lewat firman-Nya.
Maka saat dunia terasa berat dan manusia terasa jauh, jangan buru-buru menutup diri. Bukalah Al-Qur’an. Bacalah sebagai tempat curhat. Menangislah bila perlu. Karena siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai tempat curhat, akan pulang dengan hati yang lebih lapang dan jiwa yang lebih tenang.
"Siapa saja yang disibukkan oleh membaca Al-Qur’an, hingga tak sempat dzikir yang lain kepada-Ku dan meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya balasan terbaik orang-orang yang meminta. Ingatlah, keutamaan Al-Qur’an atas kalimat-kalimat yang lain seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya” (HR. Baihaqi)

KONSEP KENEGARAAN DALAM ISLAM

 KONSEP KENEGARAAN DALAM ISLAM

By. Satria hadi lubis
KETIKA mendengar kata negara, sebagian orang langsung membayangkan kekuasaan, undang-undang, dan perebutan pengaruh. Namun dalam Islam, negara bukan sekadar mesin kekuasaan. Ia adalah alat untuk menjaga kemaslahatan manusia dan menunaikan amanah Allah di muka bumi.
Islam tidak datang hanya mengatur shalat dan puasa. Ia juga hadir mengatur bagaimana manusia hidup bersama dalam keadilan, tertib, dan bermartabat. Di sinilah konsep kenegaraan dalam Islam menemukan maknanya.
Dalam pandangan Islam, kekuasaan bukan hak yang diwariskan, bukan pula trofi kemenangan politik. Kekuasaan adalah amanah. Rasulullah saw bersabda bahwa kekuasaan kelak akan menjadi penyesalan jika tidak dijalankan dengan amanah.
"Sesungguhnya kalian akan tamak pada kekuasaan, namun kelak di hari kiamat (hal itu) akan menjadi penyesalan" (HR. Bukhari).
Maka negara dalam Islam berdiri bukan untuk menguntungkan penguasa, tapi melindungi yang lemah, menegakkan keadilan, dan mencegah kezaliman.
Islam juga tidak mematok satu bentuk negara yang kaku. Yang ditekankan adalah tujuan. Para ulama merumuskannya dalam maqashid syariah, yakni negara wajib menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta rakyat.
Islam tidak menanyakan, “Apa bentuk negaramu?” Islam bertanya, “Seberapa adil dan amanah engkau mengelola kekuasaan?” Dan di sanalah, negara dinilai bukan dari namanya, tapi dari manfaat dan keadilannya bagi manusia.
Islam tidak membenarkan kekuasaan yang absolut. Bahkan Nabi Muhammad saw pun bermusyawarah dengan para sahabatnya. Konsep syura (musyawarah) adalah fondasi penting kenegaraan dalam Islam, sehingga keputusan publik tidak boleh sewenang-wenang. Suara rakyat harus didengar. Kritik rakyat bukanlah ancaman, tapi amar ma'ruf nahi munkar.
Islam juga tidak memisahkan agama dari urusan publik, tapi juga tidak menjadikan agama sebagai alat penindasan. Fungsi agama dalam negara sebagai penuntun moral, penjaga nurani kekuasaan dan korektor saat negara menyimpang. Ketika agama kehilangan suara kritisnya, negara bisa zalim. Ketika negara menindas atas nama agama, nilai Islam menjadi rusak.
Dalam Islam, rakyat bukanlah angka statistik. Mereka adalah manusia bermartabat. Rasulullah saw menegur penguasa yang lalai dari membela rakyat kecil dan suka menipu rakyatnya.
"Tidaklah seorang hamba diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka sejatinya negara yang Islami adalah negara yang membela orang fakir dan tertindas, yang menghormati perbedaan dan melindungi hak azasi manusia tanpa melihat suku dan agamanya.
Negara dalam Islam juga harus menjamin keamanan rakyatnya, menegakkan hukum tanpa tebang pilih, memberi ruang ibadah dan keyakinan rakyat serta mengelola kekayaan publik dengan adil.
Konsep kenegaraan dalam Islam bukanlah sekedar romantisme kejayaan masa lalu, apalagi sekedar jargon. Ia adalah nilai nyata dari keadilan, amanah, musyawarah, dan kemanusiaan.

KASUS JEFFREY EPSTEIN : RUNTUHNYA IDEOLOGI SEKULER-MATERIALISME

 KASUS JEFFREY EPSTEIN : RUNTUHNYA IDEOLOGI SEKULER-MATERIALISME

KASUS Jeffrey Epstein bukan sekadar skandal kriminal. Ia adalah retakan besar pada wajah peradaban modern. Peradaban yang lama mengagungkan kebebasan tanpa Tuhan, kekayaan tanpa batas, dan kekuasaan tanpa moral.
Dalam pandangan Islam, kasus ini menyingkap satu hal penting: ideologi sekuler–materialisme sedang memperlihatkan kebangkrutannya sendiri. Kasus Epstein mengungkap kejahatan seksual serius, eksploitasi anak, dan dugaan jejaring elite yang terhubung dengan intelejen Sirewel.
Yang mengejutkan dunia bukan hanya perbuatannya, tetapi siapa saja yang berada di lingkar kekuasaan itu : orang kaya, para pemimpin dunia yang berpengaruh dan dihormati publik. Di sini kita melihat lebih dalam, bukan hanya soal individu yang jahat, tapi buah dari sistem nilai sekuler–materialisme yang rusak.
Ideologi sekuler–materialisme berdiri di atas dua keyakinan bahwa hidup diukur oleh materi dan kenikmatan. Moral adalah urusan privat, bukan fondasi publik. Dan ketika Tuhan disingkirkan dari ruang publik, yang tersisa adalah nafsu yang tak punya rem. Kekayaan menjadi tameng, jabatan menjadi pelindung, dan hukum berubah menjadi alat tawar-menawar. Dalam Islam, ini disebut fasad fil ardh (kerusakan sistemik di muka bumi).
Materialisme memandang tubuh bukan sebagai amanah, tetapi barang konsumsi. Industri hiburan, pornografi, dan budaya hedon mengaburkan batas. Yang penting suka sama suka. Tanpa peduli relasi kuasa, usia, dan dampak trauma.
Islam berdiri berlawanan arah dengan sekuler-materialisme. Bahwa kehormatan manusia suci. Melanggarnya, terlebih terhadap anak, adalah dosa besar dan kejahatan sosial. Ketika batas ini runtuh, peradaban ikut runtuh. Sekularisme menjanjikan hukum yang jauh dari campur tangan Tuhan, sehingga hukum mudah tunduk pada uang dan pengaruh.
Kasus Epstein memperlihatkan betapa hukum bisa tegas pada yang lemah, namun gamang pada yang kuat. Rasulullah saw telah memperingatkan kita, umat terdahulu binasa karena hukum hanya ditegakkan pada orang-orang kecil. Padahal keadilan perlu ditegakkan tanpa kecuali.
"Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah, jika orang mulia (penguasa/pejabat) di antara mereka mencuri, mereka biarkan. Namun, jika orang lemah (rakyat jelata) di antara mereka mencuri, mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR. Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688)
Mengapa kasus Epstein merupakan tanda keruntuhan ideologi sekuler-materialisme? Sebab sebuah ideologi dinilai dari buahnya. Jika kebebasan melahirkan eksploitasi, jika kekayaan melahirkan impunitas, dan jika kekuasaan melahirkan pembungkaman, maka pasti ada yang salah di akarnya. Sekuler–materialisme gagal memberi jawaban ketika nafsu bertemu kekuasaan. Ia kuat dalam teknologi, tapi rapuh dalam etika.
Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah dengan hisab. Semakin tinggi posisi, semakin berat tanggung jawabnya.
Keadilan tidak boleh netral dari nilai. Ia harus berpihak pada korban dan kebenaran. Islam memuliakan martabat korban dan menghukum pelakunya. Pendidikan adab, batas pergaulan, dan tanggung jawab sosial bukan kebebasan liar yang menipu.
Kasus Jeffrey Epstein adalah cermin retak peradaban sekuler–materialis. Ia menunjukkan bahwa ketika Tuhan dikeluarkan dari etika publik, yang tersisa adalah hukum tanpa jiwa dan kebebasan tanpa tanggung jawab. Oleh sebab itu, Islam datang bukan untuk memoles skandal, tapi menyelamatkan manusia dengan menegakkan keadilan, menjaga kehormatan, dan mengikat kekuasaan pada moral.
Peradaban seringkali tidak runtuh karena kurang cerdas, tapi karena kehilangan arah moral. Dan di situlah, Islam menawarkan arah, bukan slogan, sebagai penjaga kemanusiaan yang sesungguhnya.
By. SHL

TAK ADA YANG MAPAN SAMPAI AKHIR HAYATNYA

 TAK ADA YANG MAPAN SAMPAI AKHIR HAYATNYA

By. Satria hadi lubis
BANYAK orang yang menunda berdakwah dan berbuat baik kepada orang lain dengan satu alasan klasik: “Nanti kalau saya sudah mapan.” Mapan secara ekonomi. Mapan secara mental. Mapan secara ilmu. Mapan secara usia.
Ada juga yang berkata, “Nanti saya sedekah kalau penghasilan sudah besar.” “Nanti menikah kalau ekonomi sudah aman.” “Nanti pakai jilbab kalau iman sudah kuat.” “Nanti ngaji kalau hati sudah tenang.”
Padahal, ada satu kenyataan yang sering kita lupakan : TAK ADA manusia yang benar-benar mapan sampai ajal menjemputnya.
Hidup ini tak pernah stabil sepenuhnya. Hari ini kita kuat, besok bisa rapuh. Hari ini punya, besok bisa kehilangan. Hari ini siap, besok diuji dengan ketidaksiapan. Bahkan para nabi pun berdakwah dalam ketidakpastian dunia, namun mereka tidak menunda ketaatan.
Allah SWT tidak pernah menunggu kita mapan untuk memanggil kita taat. Justru sering kali, ketaatanlah yang memapan­kan hidup kita.
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Qs. 47 ayat 7)
Justru yang ada bukan hidup yang mapan, tetapi hidup yang terus diuji.
"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Qs. 67 ayat 2)
Islam tidak mengajarkan kita menunggu sempurna, tetapi berjalan sambil dibenahi. Bukan menunggu siap, tetapi siap untuk taat meski belum ideal.
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW pernah memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.’ Ibnu Umar juga pernah berkata: ‘Bila engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi, dan bila engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu,’” (HR Al-Bukhari).
Dalam hadits di atas, Rasulullah saw mewasiatkan kita bahwa dunia ini hanyalah pengembaraan dan tempat singgah bagi orang asing. Lalu mengapa kita menunggu mapan di tempat singgah?
Justru orang yang beriman sadar : ketidakmapanan hidup adalah LADANG PAHALA. Di sanalah sabar bekerja. Di sanalah syukur memotivasi. Di sanalah tawakal menenangkan. Di sanalah munajat menjadi khusyu'.
Oleh karena itu, jangan kita dikuasai kecemasan, kegelisahan terus menerus. Terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu kita masih ada. Bersiap boleh, tapi tak boleh menguasai orientasi dan merusak mental.
Allah berfirman : "Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin." (Qs. 3 ayat 139)
Sekali lagi, yang perlu kita kejar bukan hidup yang mapan, tetapi hidup yang Allah RIDHOI. Karena pada akhirnya,
yang benar-benar “aman” bukanlah hidup tanpa masalah,
melainkan hati yang TETAP TERIKAT pada Allah di tengah-tengah masalah, sampai akhir hidup kita yang husnul khatimah.

JANGAN TERJEBAK MENCARI UANG, WALAU HIDUP SUSAH

 JANGAN TERJEBAK MENCARI UANG, WALAU HIDUP SUSAH

By. Satria hadi lubis
HIDUP memang tidak selalu mudah. Harga kebutuhan naik. Tanggung jawab bertambah. Anak butuh sekolah. Orang tua butuh perhatian. Tagihan datang tanpa kompromi. Di titik itu, banyak orang mulai berkata, “Yang penting cari uang dulu. Urusan lain belakangan.”
Lalu tanpa sadar, hidup berubah arah. Bukan lagi mencari ridha Allah, tapi mengejar nominal. Bukan lagi menata hati, tapi menata pemasukan. Bahkan bukan lagi bertanya “halal atau tidak?”, tapi “untung atau tidak?”
Padahal, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita menjadikan uang sebagai tujuan hidup.
Yang Allah perintahkan kepada kita adalah bertakwa, sehingga mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Perhatikan… jalan keluar dulu dengan bertaqwa, baru dapat rezeki. Bukan sebaliknya.
Banyak orang terjebak. Karena merasa hidup susah, ia menghalalkan segala cara. Pinjam sana-sini tanpa niat bayar. Ambil yang bukan haknya.
Bekerja siang malam sampai lupa shalat, lupa keluarga, lupa berdakwah dan ikut tarbiyah, hingga lupa akhirat. Ia kira sedang menyelamatkan hidupnya. Padahal pelan-pelan ia sedang menenggelamkan dirinya sendiri.
Ketahuilah... uang itu alat. Bukan tujuan. Kalau alat dijadikan tujuan, hidup jadi salah arah. Ironisnya, tidak sedikit yang sudah mendapatkan uang banyak, tapi hidupnya tetap gelisah. Sebab ketenangan bukan berasal dari angka di rekening, tapi berasal dari hati yang dekat dengan Allah.
Hidup susah itu ujian. Tapi menghabiskan waktu untuk mencari uang juga ujian. Apalagi dengan menghalalkan segala cara. Ingat… kemiskinan tidak pernah menghinakan seseorang. Yang menghinakan adalah ketika kita menjual iman demi rupiah.
Kalau hari ini hidup terasa berat, perbanyaklah sujud, bukan panik. Perbanyaklah istighfar, bukan nekat. Karena rezeki bukan soal cepat atau lambat. Rezeki soal berkah atau tidak.
Dan sering kali, sedikit yang berkah jauh lebih menenangkan
daripada banyak yang penuh masalah.
Jangan terjebak mencari uang, walau hidup susah.
Carilah Allah, maka uang akan mengikuti sesuai kadar yang Dia tetapkan. Sebab yang kita butuhkan bukan sekadar kaya, tapi selamat dunia akhirat.

AHLI MEMBUAT MASALAH

 AHLI MEMBUAT MASALAH

By. Satria hadi lubis
ALKISAH, ada orang yang usahanya seret, malah pinjam uang ke pinjol yang bunganya besar. Sering pinjam juga uang ke teman-temannya yang akhirnya tidak dibayar.
Jika dapat uang, uangnya malah dipakai bersenang-senang. Bukan untuk menata diri. Lama kelamaan, utangnya makin banyak, sehingga ia sering dikejar-kejar debt collector.
Dalam kondisi semacam itu, istrinya membantu keuangan keluarga. Bukannya mencukupi nafkah keluarga, ia malah bermain api dengan berselingkuh. Dan tak hanya sekali. Lalu ketahuan istrinya yang akhirnya meminta cerai. Anak-anaknya kecewa dengan tingkah bapaknya.
Prosesnya lama dan perlahan. Sekarang ia sakit-sakitan, tinggal sendiri, merana, dijauhi keluarga dan teman-temannya karena trauma dengan perilakunya yang sering bikin masalah.
Orang yang semacam ini tidak hanya satu dua, tapi berlimpah di sekitar kita. Tentu dengan masalah yang sedikit berbeda. Namun layaklah orang semacam ini disebut sebagai orang yang AHLI MEMBUAT MASALAH.
Orang semacam ini tidak siap dan tidak sabar dengan ujian hidup. Sudah susah dan punya masalah, kenapa malah ditambah dengan melakukan sesuatu yang dia sadar itu menambah masalahnya di kemudian hari?
Saudaraku... hidup memang tidak selalu mudah. Harga naik. Cicilan jalan. Penghasilan kadang seret. Tapi ketika itu terjadi sebenarnya kita sedang diuji : Apakah kita mendekat kepada Allah dan sabar dengan apa yang terjadi? Atau mencari jalan pintas yang berujung terjerat dalam lingkaran setan?
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat ini bukan sekadar hiasan di dinding. Ia janji. Tapi janji itu mensyaratkan takwa, bukan nekat. Mensyaratkan kesabaran, bukan pelarian.
Masalah hidup itu seperti api kecil. Kalau disiram air kesabaran, ia padam. Kalau disiram bensin hawa nafsu, ia membesar dan membakar segalanya. Banyak orang tidak hancur karena ujian. Mereka hancur karena responnya terhadap ujian.
Saudaraku… Allah SWT tidak pernah salah memberi ujian. Yang sering salah adalah cara kita menyikapinya. Kalau hari ini hidup sedang sempit, jangan tambah dengan dosa.
Kalau hari ini rezeki sedang tertahan, jangan buka pintu yang Allah haramkan. Kalau hari ini hati sedang gelisah,
datanglah ke sajadah, bukan ke maksiat.
Karena sekali kita terbiasa menambah masalah, lama-lama masalah itulah yang akan menenggelamkan kita. Jangan sampai di akhir hidup kita menyesal, bukan karena kurang rezeki, tapi karena terlalu sering membuat keputusan bodoh yang kita tahu itu salah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ketika diuji menjadi lebih dekat kepada-Nya, ketika susah menjadi lebih sabar, dan ketika lapang menjadi lebih bersyukur.
Jangan jadi ahli membuat masalah, tapi jadilah ahli memperbaiki diri.