Sabtu, 25 April 2026

TANYA KE SUAMI : UANGNYA DARI MANA?

 TANYA KE SUAMI : UANGNYA DARI MANA?


By. Satria hadi lubis 


BANYAK istri yang merasa senang ketika suami pulang membawa uang. Nafkah mengalir, kebutuhan terpenuhi, bahkan kadang berlebih. Rumah terasa aman, dapur mengepul, anak-anak tercukupi. Tapi ada satu pertanyaan yang sering terlupakan atau sengaja dihindari: “Uang ini dari mana?” Seolah yang penting jumlahnya. Yang penting cukup, bahkan banyak. Padahal dalam Islam, bukan hanya berapa yang penting, tapi dari mana ia berasal.


Seorang istri bukan sekadar penerima nafkah. Ia adalah penjaga rumah tangga, penjaga keberkahan, penjaga api neraka dari keluarganya. Allah SWT berfirman :


“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)


Menjaga keluarga bukan hanya dari bahaya fisik, tapi juga dari makanan haram, harta haram, dan kehidupan yang jauh dari ridha Allah.


Bayangkan, jika makanan yang masuk ke tubuh anak-anak kita, yang akan tumbuh menjadi darah dan daging mereka, ternyata berasal dari sesuatu yang haram. Dari riba, dari penipuan, dari korupsi, dari manipulasi. Lalu kita berharap anak-anak kita menjadi shalih? Kita berharap rumah tangga kita penuh keberkahan? Mungkin sering cekcoknya rumah tangga kita bisa berasal dari sini.


Rasulullah saw bersabda:

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi)


Ini bukan perkara ringan. Ini bukan sekadar “yang penting kebutuhan terpenuhi”. Ini tentang keselamatan dunia dan akhirat. Maka seorang istri yang shalihah tidak cukup hanya berkata: “Yang penting aku dinafkahi.” Ia akan bertanya dengan lembut tapi tegas: “Mas, ini uangnya dari mana?”


Bukan karena curiga. Bukan karena tidak percaya. Tapi karena takut kepada Allah, sehingga ia ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang masuk ke rumahnya adalah halal, bersih, dan membawa berkah.


Justru istri yang diam tanpa peduli, yang hanya menikmati tanpa bertanya, bisa jadi tanpa sadar sedang ikut menanggung dosa. Karena ia ridha dengan sesuatu yang belum jelas kehalalannya.


Karena di luar sana, godaan mencari uang dengan cara hedon begitu besar. Sedikit curang, sedikit “main belakang”, sedikit melanggar, uang bisa mengalir deras. Tapi di situlah ujian sebenarnya.


Dan di situlah peran istri menjadi sangat penting. Seorang istri bisa menjadi penyejuk yang mengingatkan,

penjaga yang meluruskan, atau justru pendorong tanpa sadar kepada yang haram dengan sering mengeluh, "Kapan ya kita kaya?", "Mas...pintar donk cari uang seperti tetangga kita yang udah punya dua mobil", atau keluhan, "Dari dulu aku gak pernah dibahagiakan oleh papa...." Keluhan rutin seperti itu sadar atau tidak sadar bisa membuat suami gelap mata dalam mencari uang.


Rasulullah saw juga bersabda tentang seseorang yang berdoa namun tidak dikabulkan doanya, "....karena makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul?” (HR. Muslim)


Maka, wahai para istri…

Mulailah peduli.

Mulailah bertanya.

Mulailah menjaga.

Tidak perlu kasar, tidak perlu menuduh. 

Cukup dengan cinta dan ketakwaan.


Jangan sampai kita bangga dengan banyaknya uang di rumah, tapi lupa bahwa keberkahan telah pergi. Rumah terasa penuh, tapi hati sempit. Makanan melimpah, tapi doa sulit dikabulkan.


Karena sesungguhnya, keluarga yang dibangun di atas harta halal meski sedikit akan jauh lebih tenang, lebih berkah, dan lebih dekat kepada surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar