Sabtu, 22 September 2018

KECERDASAN WAKTU



Sandiaga Salahuddin Uno yang sibuknya bukan main ternyata masih sempat sholat dhuha rutin setiap hari. Beliau juga punya kebiasaan melakukan puasa nabi Daud.

Seorang pejabat yang saya kenal juga punya kebiasaan membaca al Qur'an 2 juz per hari, sholat dhuha dan tahajjud setiap hari. Beliau juga kalau sholat fardhu selalu berjamaah di mesjid di awal waktu. Dari mana saya tahunya? Dari laporan evaluasi yaumiahnya...hehe.

Inilah contoh dua orang yang pandai mengatur waktu, sehingga kesuksesan duniawi diiringi dengan kesuksesan ukhrowi karena tetap rajin ibadah.

Bandingkan dengan sebagian kita yang dgn cepat memaafkan dirinya untuk malas ibadah dengan alasan sibuk kerja. Bahkan dikalahkan oleh kesibukan hura-hura, seperti main game, pacaran, kongkow-kongkow, dan hura-hura lainnya. Ada juga yg berdalih kerja itu kan ibadah juga sebagai alasan untuk melalaikan ibadah khusus seperti sholat, baca Quran, shaum, dan yang lainnya.

Selama ini ada kekeliruan di kalangan sebagian kaum muslimin bahwa hidup ini harus seimbang antara duniawi dan ukhrowi. Anggapan ini keliru, karena yang benar ukhrowi harus lebih utama dibanding dunia. "Dan sesungguhnya hari akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (dunia)" (Q.s. 93 ayat 4).

Renungkan ayat berikut ini jika ingin tahu hakekat mengatur waktu dan mana yg harus diprioritaskan.

"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi" (Q.s. 17 ayat 18-20).

Allah swt akan memberikan kesuksesan seseorang sesuai dgn orientasinya. Jika ia orientasinya dunia, maka Allah bisa memberikan kesuksesan dunia tsb (itulah sebabnya orang kafir bisa kaya raya) karena kemurahan Allah. Namun ia akan mengakhiri hidupnya dengan tragedi.

Sebaliknya, jika orientasi hidup seseorang ke akhirat maka Allah akan berikan dunia kepadanya asalkan untuk akhirat (ibadah) dia bersungguh-sungguh. Tidak tergoda dan lalai dgn kesibukan dunia.

Itulah sebabnya orang seperti Sandiaga Uno dan pejabat yg saya kenal tsb bisa sukses duniawi karena orientasi mereka ke ukhrowi dengan rajin beribadah.

Inilah kecerdasan mengatur waktu (time intellegence) yang benar. Kecerdasan waktu yang perlu dimiliki setiap orang, terutama generasi milenial, sehingga mereka tidak menghamburkan waktunya untuk hal sia-sia dan berujung penyesalan.
Sebuah kecerdasan yg paling penting di dunia ini. Jauh lebih penting daripada berbagai bentuk kecerdasan lainnya. Bahkan semua kecerdasan yang dimiliki seseorang tak berguna jika ia tidak memiliki kecerdasan mengatur waktu seperti  yang disebutkan Allah dalam surat Al Isro' (17) ayat 18-20 di atas.

Kita semua akan pergi...
Pergi menuju keabadian akhirat
Beruntunglah mereka yang menyiapkannya sejak dini
Merugilah mereka yang menunda dan melalaikannya...

*Dari fanpage FB satria hadi lubis

"CEREWET" DENGAN PENDAPATAN SUAMI 



"Pak..! Mosok uang belanja gak naik-naik sih! Padahal kebutuhan harian makin bengkak nih..!" Kata emak pertama kepada suaminya. Lalu ia merinci dengan semangat apa saja yang harusnya dipenuhi suaminya agar uang nafkah menjadi cukup.

"Papah....tolong bisa ngerti donk! ...pengeluaran kita makin banyak nih", lalu si emak kedua nyerocos merinci dengan detail apa saja kebutuhan yg harus dipenuhi suaminya. Dari uang sekolah anak sampai uang ke salon agar si emak tetap kinclong.

"Koq uang yang kemaren dikasih sudah habis sih mi?" Kata seorang suami. Lalu si emak ketiga alias si ummi ini merinci pengeluarannya sebagai laporan keuangan kepada sang suami agar laporannya mendapat predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian)...hehe. Lalu ditutup dengan resolusi agar uang belanja ditambah....hehe lagi.

Begitulah dinamika sebagian rumah tangga. Suami pulang cape-cape langsung mendapat "serangan darat" dari istrinya yang mengeluh tentang berbagai pengeluaran rumah tangga.

Alangkah indahnya jika para emak-emak bukan hanya "cerewet" dengan pengeluaran rumah tangga, tapi juga "cerewet" dengan pendapatan suaminya.

Dalam sebuah seminar anti korupsi yang pernah saya ikuti, sang pembicara menyampaikan data (sayangnya saya lupa sumber datanya) bahwa isteri yang sering mengeluh  terhadap kekurangan pengeluaran rumah tangga berpotensi membuat suaminya tergoda untuk korupsi. Keluhan yang "cerewet", apalagi diiringi dengan kalimat yang menyentuh harga diri suami, seperti, "suami macam apa kau", "jadi laki koq males sih cari duit", atau yg lebih kejam "kalau begini caranya lebih baik kita pisah aja...aku gak tahan dgn kemiskinan kita" bisa membuat suami gelap mata untuk cari uang demi memulihkan harga dirinya di depan istrinya.

Sebagian emak-emak kurang "cerewet" darimana dan dengan cara apa suaminya mendapatkan uang untuk nafkah keluarga. Malah sebaliknya, langsung gembira dan merasa disayang suami kalau suaminya kasih uang yang banyak. Persis seperti pepatah lama, "Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang".

Padahal ini krusial. Mungkin saja uang yg didapat suami bukan uang yang halalan wat thoyyibah. Kemudian itu menjadi makanan haram yang mengalir dalam darah si suami, isteri dan anak-anaknya, sehingga doa satu keluarga sulit dikabulkan Allah ajja wa jalla, sebagaimana hadits berikut : "Rasulullah bersabda, 'Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh rambutnya kusut, mukanya berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku! Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram maka bagaimanakah akan diterimanya doa itu?” (HR Muslim).

Naudzubillah....Mungkin saja suami yang nyebelin, isteri yang susah dibilangin, anak yang bandel, padahal kita tiap hari berdoa sampai meneteskan air mata agar dikarunia pasangan yang sakinah dan anak yg sholeh, tidak dikabulkan Allah karena beredarnya uang haram di rumah kita sendiri.

Mari kita perbaiki komunikasi dengan pasangan kita, "cerewetlah" dengan darimana suami dapat uang agar keluarga kita selamat dunia akhirat.  Tentu bertanyanya dengan cara yang ma'ruf. Lebih baik lagi jika isteri juga mengurangi keluhannya atas kekurangan nafkah dari suami. Apalagi jika dilihat suaminya sudah rajin cari nafkah, banting tulang siang malam cari uang. Syukur-syukur isteri pengertian lalu mencari tambahan penghasilan atas izin suami.

Di sisi lain, untuk para suami bersabarlah terhadap "kecerewetan" istri atas nafkah. Jangan cepat tersinggung dengan keluhan isteri. Lalu akhirnya gelap mata mencari uang dengan cara yg tidak halal agar bisa dibanggakan isteri dan anak-anak. Ingat selalu ayat berikut ini : “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64: 14- 15).

*Dari fanpage satria hadi lubis

SETIAP KITA PUNYA ISMAIL



Allah swt membuat syariat  Idul Qurban tentu bukan untuk acara seremonial belaka. Tapi ada banyak makna (pelajaran) di dalamnya. Antara lain, kisah penyembelihan Nabi Ismail as.

Sebagaimana kita ketahui, Nabi Ibrahim as diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail sebagai ujian cinta dari Allah swt, apakah Nabi Ibrahim meletakkan cintanya kepada Allah lebih tinggi daripada anaknya atau tidak. Jika lebih tinggi, ia akan  patuh pada perintah Allah walau harus mengorbankan anak yg dicintainya, Ismail as. Terbukti, Nabi Ibrahim lulus dari ujian tsb, sehingga Allah mengganti penyembelihan Nabi Ismail as dengan seekor qibas.

Ujian Nabi Ibrahim bukanlah eksklusif miliknya, setiap kita pasti akan diuji dengan ujian cinta seperti Nabi Ibrahim as. Apakah kita mencintai Allah lebih tinggi atau lebih rendah daripada selain Allah. Ujian ini datang setiap saat dan tidak hanya sekali.

Peristiwa kehilangan yang kita alami sepanjang hidup pada hakekatnya adalah ujian cinta dari Allah. Kehilangan sanak keluarga, harta benda, kekasih bahkan sandal jepit sekali pun adalah ujian tentang kadar cinta kita kepada Allah. Apakah kita bisa move on dan melanjutkan hidup atau tidak. Apakah kita terus melangkah sampai ajal tiba dengan terus mencintai Allah apa tidak. Mereka yang gagal move on akan menyesal. Menyesal karena tidak bahagia hidup di dunia dan akhirat. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)" (Qs. 2 ayat 165).

Itulah sebabnya jika kita kehilangan sesuatu Allah memerintahkan kita untuk mengucapkan dengan lapang dada kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" (Sesungguhnya segala sesuatu milik Allah dan akan kembali kepada Allah) sebagai tanda ketaklukan kita, cinta hanya kepada Allah semata.

Mereka yang lulus ujian cinta ini akan dikasihi Allah dan menjadi kekasih Allah. Sebaliknya, mereka yg tidak lulus ujian ini akan membuat Allah cemburu dan akan diuji lagi dengan lebih keras sampai ia menyerah pasrah dan mengakui bahwa ALLAH satu-satunya puncak cintanya.

Sesungguhnya setiap kita pasti mempunyai "ismail-ismail" yang akan diuji oleh Allah swt seperti Nabi Ibrahim as juga diuji. Jika gagal dalam ujian cinta ini, maka terjadilah tragedi cinta seperti kisah roman "Romeo and Juliet". Atau seperti kisah cinta seorang wanita yang bersumpah tidak akan menikah seumur hidup karena gagal menikah dengan pria yang dicintainya. Mereka rela menghancurkan diri sendiri demi cinta yang tidak proporsional alias bodoh. Bukankah ini tepat disebut tragedi cinta?

Ujian cinta untuk rela mengorbankan "ismail" dalam diri kita adalah untuk kebahagiaan kita sendiri. Sebab Allah, yang memiliki hati, tentu tahu bagaimana caranya membuat manusia bahagia, yakni ketika manusia tsb tenggelam dalam cinta kepada Allah swt semata. "Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah maka hatimu menjadi tenang (bahagia)" (Qs. 13 : 28).

Sayang....sebagian manusia malah memilih jalan tragedi cinta, karena tidak mau mengorbankan "ismail" dalam dirinya.

*Dari fanpage satria hadi lubis

CINTA YANG DINAMIS



Namanya Atikah binti Zaid. Seorang wanita cantik rupawan dan seorang gadis sholihah dari keluarga sangat kaya raya. Hidup di masa Rasulullah saw. Saudaranya, Said bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh orang sahabat Nabi yg dijanjikan masuk surga.

Atikah menikah dengan Abdullah, anak dari Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Abdullah sangat memuliakan, menghormati dan menjaganya. Terlena dengan kecantikan dan cintanya kepada Atikah, Abdullah melalaikan tanggungjawabnya kepada Allah. Masjid tidak lagi dikunjungi tiap kali waktu shalat, meninggalkan shalat berjamaah yang sebelumnya sering dilakukannya, meninggalkan peperangan dan perniagaan.

Pada suatu hari, Abu Bakar lewat di depan rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama shalat di masjid. Namun apabila terlihat olehnya anaknya sedang bermesraan dengan istrinya dengan lembut dan romantis, Abu Bakar membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid. Setelah selesai menunaikan shalat, Abu Bakar sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya . Alangkah kesalnya Abu Bakar apabila beliau mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum menunaikan shalat dimasjid. Kemudian Abu Bakar segera memanggil Abdullah. Dia Bertanya
” Wahai Abdullah, apakah kamu shalat berjamaah?”
Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata,
” Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup, malah dia juga telah melupakan kamu dari shalat fardhu, ceraikanlah dia!”.
Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika mendapati anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya luntur. Tanpa membuat dalih, Abdullah mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan dicintainya. Subhanallah!

Perceraian ini membuat Abdullah sakit. Lalu dia merangkum sebuah syair untuk Atikah. Kemudian Abu Bakar pun menyuruhnya untuk rujuk kembali. Atikah dan Abdullah pun belajar dari kesilapan lalu, supaya tidak meletakkan cinta antara mereka melebihi cinta kepada Allah.

Abdullah ra wafat dalam medan juang, syahid selepas Perang Tha'if, semoga Allah merahmatinya.

Sepeninggal suami yang dicintainya, banyak sahabat yang meminang Atikah tapi semua ditolaknya sampai akhirnya Umar bin Al-Khattab melamarnya. Maka Atikah menikah dengan Umar yang dicintainya sepenuh hati. Umar Al-Khattab akhirnya syahid ditikam seorang Majusi bernama Lu’lu’ ketika sholat.

Setelah Umar meninggal dunia dan habis massa iddahnya, dia menikah lagi dengan Zubair Bin Awwam yang juga dicintainya sepenuh hati. Az-Zubair meninggal dunia, syahid setelah dibunuh secara zalim dalam Perang Jamal di Wadi siba’.

Setelah itu, Atikah dilamar oleh Ali bin Abu Thalib. Kemudian Ali mengatakan :”Siapakah yang menyukai mati syahid di masa mendatang, maka hendaklah dia menikah dengan Atikah” karena memang semua suaminya meninggal dalam keadaan terbunuh. Atikah meminta Ali tidak berperang jika ingin menjadi suaminya. Akhirnya Ali pun urung dan digantikan oleh anaknya Husain. Saat itu, Atikah sudah berusia 50 tahun. Kemudian dia dinikahi Husain bin Ali yang usianya jauh lebih muda darinya. Husain ra juga terbunuh syahid di padang Karbala.

Sungguh tak terbayang kecantikan dan akhlak seorang Atikah sampai Allah menghadiahkannya empat orang suami yang semuanya mati syahid.

Ini karena Atikah mampu menempatkan cintanya secara permanen hanya kepada Allah. Sedang cinta kepada selain Allah itu dinamis. Tidak usah permanen dan lebay. Atikah seorang yg bertauhid dan tidak mau menjadi syirik karena mencintai suaminya lebih dari cintanya kepada Allah.

Selama suaminya masih hidup ia mencintai suaminya dan berbakti kepadanya. Namun ketika suaminya meninggal ia dgn ikhlas melepaskannya dan siap untuk mencintai suami barunya seperti ia mencintai suami terdahulunya.

"Hukum" cinta yang dinamis milik Atikah mungkin tidak akan nyambung dgn kisah cinta "sampai mati" yg dicekoki oleh sinetron/film romantis di zaman sekarang. Dimana seseorang sangat mencintai pasangannya tanpa bisa berpindah ke lain hati. Sampai ada yg rela kesepian seumur hidup karena tidak mau menikah lagi atas nama cinta sejati.

Padahal kalau direnungkan itu bukan cinta sejati, tapi cinta yg tidak proporsional. Sebab yg permanen dan tidak boleh ke lain hati hanya cinta kita kepada Allah swt. Sedang cinta kita kepada selain Allah harusnya dinamis. Cintai dan syukuri ketika ia ada. Lupakan dan cari cinta baru ketika ia pergi. Berani move on..seperti Atikah sang wanita sholehah yang kelak di akhirat akan mendapatkan syafaat dari empat suaminya yang hebat dan mulia itu.

Pelajaran bagi kita semua. Cintai Allah secara permanen dan cintai selain Allah secara dinamis agar kita bertauhid dan bahagia. Bukannya syirik (mempersekutukan Allah) dan sengsara atas nama cinta sejati.

By. satria hadi lubis

THE POWER OF EMAK-EMAK



Sudah berkali-kali saya isi ceramah, pesertanya kebanyakan emak-emak. Apalagi jika temanya tentang keluarga, emak-emak lebih semangat lagi.

Pengajian di komplek-komplek perumahan yang lebih aktif adalah pengajian emak-emak daripada bapak-bapak.

Kalau nganterin anak-anak ke sekolah atau ada acara di sekolah anak, emak-emak juga yang lebih banyak datang.

Di kantor, emak-emak juga dikenal lebih teliti dan lebih tekun dalam menyelesaikan pekerjaan. Itu sebabnya pekerjaan yang detail dan bersifat administratif kebanyakan dipegang emak-emak kantoran.

Siapa yang jadi "kompor" agar reuni jalan dan ikatan alumni dari tingkat TK (kalau ada) sampai perguruan tinggi tetap aktif? Lagi-lagi emak-emak.

Mau nyumbang bagi kegiatan sosial? Emak-emak yang paling aktif mengumpulkan dana dan melaksanakan kegiatan sosial.

Siapa yang lebih survive menjadi single parent? Emak-emak lagi jawabannya.

Nah yang ini agak ilmiah....siapa yang lebih panjang rata-rata usianya? Kakek-kakek atau nenek-nenek? Ternyata nenek-nenek alias emak-emak lagi.

Mau menang pemilu? Ambil suara emak-emak yang bisa mengajak keluarga dan tetangganya dengan semangat agar mencoblos calon dambaannya.

Siapa juga yang getol menginginkan perubahan bangsa? Emak-emak juga ternyata, karena mereka yang langsung merasakan mahalnya isi dapur. Saking semangatnya emak-emak sampai perlu dihalang-halangi seperti yg dialami Bunda Neno.

Jadi jangan sepelekan emak-emak. Mereka adalah gelombang raksasa yang bisa merubah seseorang, keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia.

Rangkul emak-emak. Mengertilah akan mereka. Sebab ia ibumu, istrimu, saudaramu dan anak-anakmu kelak.

Hidup The Power of Emak-Emak! 😀

BEFORE YOU DIE



By. Satria Hadi Lubis

Hidup ini hanya sekali dan singkat. Rugi jika kamu tidak bahagia. Rugi juga jika tidak digunakan untuk beramal bagi hidup bahagia kekal di akhirat kelak. Maka sebelum meninggal, hiduplah bahagia dengan menerapkan 5 (lima) hukum kekuatan ini.

1. The Power of Passion
Tugas pertama manusia adalah menemukan apa yg paling diinginkan. Itulah talentanya (passion). Tanpa mengerjakan yang paling diinginkan kamu sulit bahagia. Banyak orang yg sekarang ini hidup dlm program orang lain, sehingga kepribadiannya pecah dan tidak bahagia.

Cara mengetahui apa yg kamu inginkan tanyalah kepada dirimu pertanyaan ini :  Jika umurmu tinggal 3 bulan apa yg ingin kamu lakukan?

2. The Power of Now
Dari dulu orang tua kita bilang, jangan menunda-nunda pekerjaan. Sebab menunda berarti mengundang datangnya masalah dan mengurangi kesempatan. Akhirnya, yang ada tinggal penyesalan.
Untuk tidak menunda, kamu harus berani menanggung resiko. Resiko adalah investasi pembelajaran dan kegagalan adalah jalan yg harus ditempuh menuju sukses. Penyesalan lebih besar karena tdk berbuat daripada berbuat.

Untuk tahu apa yg sering kamu tunda tanya selalu kepada dirimu : Apa yang aku inginkan, tapi aku tunda terus krn takut mengambil resiko?

3. The Power of Love
Jadilah manusia cinta. Bukan manusia yang ingin mencintai dan dicintai, tapi jadilah cinta itu sendiri. Menjadi titisan dari cinta Allah yang Maha Cinta.

Biasanya cinta menjadi sulit jika kamu sibuk dengan ego diri sendiri atau terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain. Menerima kekurangan orang lain adalah kebijakan tertinggi.

Untuk menjadi cinta,  tanyalah pada dirimu sendiri: "Sudahkah aku memperlakukan orang-orang  disekitarku dgn penuh cinta?"

4. The Power of Force
Hiduplah sepenuh hati. Rahasianya, anggap hari ini hari terakhirmu. Diam, renungkan dan syukuri apa yang ada. Nikmati kondisi sekelilingmu dengan memaksimalkan panca inderamu. Amati pernik-pernik kecil di sekelilingmu. Lihat daun-daun di pepohonan, hirup udara segar, dengarkan desiran angin, eratkan jabat tangan, atau serba-serbi bumbu makanan. Niscaya jika kamu hadir utuh (khusyuk) maka engkau akan bahagia seketika itu juga. Kamu sulit bahagia, jika fisik hadir tapi pikiran entah kemana.

Pertanyaan yang perlu kamu lakukan adakah : Apakah aku hari ini telah hidup sepenuh hati atau sekedar melaluinya?

5. The Power of Giving
Banyak yang menyangka menerima itu membahagiakan. Padahal yg tepat itu menyenangkan. Bahagia --yang levelnya lebih tinggi dari senang-- justru didapat dengan memberi, bukan menerima. Jika kami sedang  tdk bahagia, maka lakukanlah sesuatu untuk orang lain. Niscaya kamu bahagia.

Selalu tanyakan pada dirimu: Apa 3 (tiga) kebaikan yg telah aku lakukan pada hari ini?

Lima (5) The Power of Life ini adalah hukum kehidupan. Juga hukum bahagia. Implemantasikan dan jangan tergoda untuk mengabaikannya. Maka  engkau menjadi rahmat bagi semesta alam.

Hmm....Bila mereka bilang
Siapa yang peduli, bila ada satu lagi cahaya yang hilang?
Di langit dengan jutaan bintang-bintang

Well, aku peduli

MENINGGALKAN KEBENARAN DEMI SAKIT HATI



By. Satria Hadi Lubis

Alkisah, ada seorang anak Jepang yang (maaf) pincang kakinya sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya. Namun si anak tetap terlihat gembira dan terus bermain dengan teman-teman yang mengejeknya. Sampai suatu ketika gurunya bertanya, "Mengapa engkau tidak sakit hati dan sedih walau diejek oleh teman-temanmu?" Sang anak yang kakinya pincang tsb menjawab dgn tersenyum, "Ibu guru, mereka boleh omong apa saja tentang aku. Tapi selama kata-kata ejekan itu tidak aku ijinkan MASUK ke dalam hatiku, maka kata-kata itu tidak ada pengaruhnya untukku".

Cerita tersebut harusnya menjadi prinsip kita dalam bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Berat memang dalam praktek, tapi bisa koq jika dilatih dengan menjaga kebersihan hati dan yakin bahwa kita tidak tergantung dengan penilaian orang lain. Yang penting teruslah berbuat baik dan merangkul orang lain. Nanti lama kelamaan anggapan mereka kepada kita juga akan berubah. Kalau pun tidak berubah, yang penting kita tetap baik di mata Allah.

Hal ini juga berlaku bagi para pembela kebenaran dalam sebuah komunitas (jama'ah).
Sakit hati dalam pergaulan berjama'ah kadang bisa membuat seseorang berbalik arah membenci nilai-nilai kebenaran yang tadi dibelanya. Saking sakit hatinya kadang melupakan akal sehat dan nuraninya, sehingga akhirnya bergabung dengan para pembela kezaliman yang tadinya menjadi musuhnya.

Sakit hati kadang mengubur pikiran-pikiran besar. Mengubur cita-cita besar bersama para pembela kebenaran. Bila diri berjiwa besar, mestinya kita lebih siap mengorbankan perasaan sakit hati tersebut dan memilih tetap bersama para pembela kebenaran. Sebab kebenaran untuk kebaikan semesta jauh lebih mahal nilainya daripada sakit hati perorangan. Itulah yang dipahami Khalid bin Walid ra ketika beliau mengorbankan egonya ketika dipecat oleh Khalifah Umar, walau telah berdedikasi tinggi membela negara. Khalid ra tetap berperang di jalan Allah dan tetap berdedikasi walau tidak lagi menjadi panglima perang.

Sakit hati bersama orang yang membela kebenaran adalah ujian keikhlasan. Apa alasan kita bersama kebenaran?  Karena dihargai atau dimuliakan? Bukan! Tapi karena kesadaran diri bahwa kebenaran harus diperjuangkan bersama, walau kita hanya sekrup di dalam sebuah mesin yang besar.

Saat dirimu kecewa dengan para pembela kebenaran karena tidak menghargaimu,  maka bersikaplah seperti anak kecil dari Jepang pada cerita di atas, sehingga sakit hatimu tidak merasuk ke tulang sumsum yang membuat kita meninggalkan teman-teman seperjuangan.

Buktikan dengan tetap bersama atau minimal berpisah tanpa keinginan untuk menghancurkan organisasi, lembaga atau jama'ah kebenaran tersebut.

Biarkan hatimu kecewa namun jangan pernah mengecewakan tegaknya kebenaran. Karena kebenaran adalah kemaslahatan semua manusia. Sedangkan sakit hati, cara kerdil jiwa melihat dirimu.

"Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoaan Allah" (Qs. 2 ayat 207).

Demi ridho Allah, semuanya --termasuk perasaan-- harus siap untuk dikorbankan.