Jumat, 25 Februari 2022

PEREMPUAN-PEREMPUAN BERHATI BAJA

 


By. Satria hadi lubis 


SUATU saat saya bertanya kepada istri, "Gimana kondisi ummi di penjara?" Istri saya, Ustadzah Kingkin Anida, menjawab berseloroh, "Anggap aja di Mina bi ....namun waktunya lebih lama hehe...".


Saya tersenyum getir mendengar jawabannya. Bagi yang belum tahu, Mina adalah tempat menginap sehabis jama'ah haji wukuf di Arafah. Di Mina, kondisi tidurnya berdesak-desakkan di tenda, nyaris tanpa jarak. Wajib dilakukan oleh jama'ah haji selama 2 atau 3 malam. Saya dan istri mengalami hal tersebut ketika naik haji bersama tahun 2017 yang lalu.


Begitulah kondisi tidur istri saya di penjara saat ini, berada di sel tahanan yang penghuninya 12 orang di ruangan seluas kira-kira 4x3 meter persegi. Dua puluh empat jam tumplek disitu-situ aja. Makan, minum, tidur, sholat dan buang air. Tidak melihat sinar matahari sama sekali, kecuali kalau keluar rutan karena mengikuti persidangan. Tidur beralaskan triplek dan sajadah, karena kasur tipis juga tidak boleh masuk. Jatah makan pun hanya 2x sehari, kecuali kalau beli sendiri. 


Saya membayangkan, jika hal tersebut terjadi kepada saya mampukah saya menjalaninya? Terus terang, saya belum tentu sanggup menjalaninya. Namun istri saya sanggup dan mampu bertahan selama ini. Tetap tenang, tetap ibadah dan tetap berdakwah seperti yang biasa beliau lakukan selama ini. Sudah hampir lima bulan beliau di dalam penjara karena kasus ITE bernuansa politik. 


Tentu apa yang dialami beliau menjadi beban pikiran bagi saya, sehingga kadang saya sulit tidur. Sedih dan kasihan membayangkan kondisi istri di penjara. Ini juga yang mungkin dialami oleh banyak keluarga ketika salah satu anggota keluarganya, entah anak atau suami/istrinya, sedang di penjara. 


Namun ada teman saya yang pernah di penjara bilang begini, "Jangan terlalu sedih ustadz, orang yang di penjara itu lama-lama kuat mentalnya. Bahkan lebih kuat daripada mereka yang berada di luar penjara (yakni keluarganya). Ustadz yang perlu lebih menjaga kesehatan. Istri ustadz insya Allah kuat disana". 


Mungkin apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya. Bisa jadi orang yang menjalani kehidupan yang sulit lebih kuat mentalnya daripada mereka yang tidak mengalaminya.


Sebab manusia, secara induvidu atau kelompok, memang dibekali oleh Allah SWT kemampuan beradaptasi yang hebat. Sejarah telah membuktikan kemampuan manusia untuk survive dari berbagai bencana, peperangan dan wabah. Termasuk wabah covid 19 yang sedang kita alami saat ini.


Apalagi istri saya seorang perempuan (ya....tentu saja hehe). Biasanya perempuan lebih kuat (mentalnya) daripada lelaki. Itulah sebabnya rata-rata lelaki umurnya lebih pendek daripada perempuan. Itu juga yang mungkin menyebabkan tugas melahirkan diberikan oleh Allah kepada perempuan, karena sakitnya luar biasa. 


Yahh....semoga apa yang saya tulis ini bukan sekedar menghibur diri saja. Tapi memang kenyataannya demikian.   


Menurut saya, lelaki lebih rapuh menjaga kesehatan mentalnya daripada perempuan. Lihat saja di sekeliling kita. Lelaki yang stres lebih banyak daripada perempuan. Memang perempuan lebih banyak mengeluh sebagai katalisator untuk menjaga kesehatan mentalnya. Namun banyak lelaki yang diam dalam stresnya, tahu-tahu berujung pada perilaku yang menyimpang atau penyakit yang kronis. 


Lelaki perlu belajar lebih banyak dari perempuan-perempuan di sekitarnya yang lebih kuat menjalani kesusahan hidupnya. Entah itu ibunya, kakak atau adik perempuannya, atau istrinya. 


Salut saya kepada banyak perempuan berhati baja di luar sana yang mampu menjalani berbagai kesusahan hidupnya. Salut saya kepada istri saya, Ustadzah Kingkin Anida, yang kuat bertahan di dalam sana dengan segala keterbatasannya. Semoga kesabaran kalian dibalas Allah SWT dengan surga seluas langit dan bumi. 

KESHOLIHAN BERJAMA'AH


By. Satria hadi lubis 


Sewaktu saya ceramah tentang keluarga sakinah (bahagia) di Batu Sangkar, Sumatera Barat pekan lalu, ada seorang ibu yang bertanya, perlukah suami isteri sama-sama liqo' (tarbiyah)? Sebab suaminya sudah lama tidak liqo' lagi, tetapi tingkat ibadah dan akhlaqnya baik-baik saja.


Saya menjawab, jika ada seseorang yang dulunya liqo' lalu sekarang tidak liqo' lagi tetapi ibadahnya tetap baik mungkin itu merupakan atsar (bekas) dari hasil didikan tarbiyahnya di masa lalu. Jadi liqo' itu berguna bagi dirinya.


Namun kebanyakan yang terjadi justru sebaliknya, setelah meninggalkan liqo' turun tingkat ibadah dan akhlaqnya karena jauh dari komunitas dakwah yang saling menasehati. Dan komunitas dakwah tak bisa digantikan oleh komunitas di dunia maya yang interaksinya sangat terbatas.


Lalu saya tambahkan, kita jangan tertipu dengan kesholihan pribadi seseorang. Sebab yang dituntut oleh agama itu ada dua : Kesholihan Pribadi dan Kesholihan Berjama'ah (ikut serta dalam sebuah kelompok/komunitas dakwah tertentu). 


Kesholihan berjama'ah, salah satunya, didapat dengan mengikuti liqo' (pengajian). Dengan hadir dan bertemu rutin kita bisa merancang berbagai program untuk kebaikan masyarakat yang lebih besar dan luas yang tidak bisa kita lakukan jika sendirian. Bisnis saja butuh kelompok agar bisa tumbuh besar, apatah lagi beragama dan berdakwah.


Allah dan Rasul-Nya juga menyuruh kita berjama'ah dan melarang kita meninggalkan jama'ah.


"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.." (Qs. 3 ayat 103).


"Hendaklah kalian berjama'ah dan jangan bercerai berai, karena syetan bersama dengan orang yang sendirian. Dan dengan dua orang itu lebih baik. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen kepada jama’ah” (HR At-Tirmidzi).


”Dan saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Allah memerintahkan hal tersebut: Mendengar, taat, jihad, hijrah dan jama'ah. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan jama'ah  sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyah maka termasuk buih Jahannam. Seseorang berkata:” Wahai Rasulullah, walaupun mengerjakan shalat dan puasa. Rasul SAW menjawab:”walaupun shalat dan puasa. Maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamakanmu muslimin, mukminin hamba Allah” (HR Ahmad dan at-Turmudzi).


Ada yang berpendapat bahwa dalil berjama'ah di atas hanya wajib untuk jama'ah muslimin  (jama'ah dari seluruh umat Islam saja), yakni ketika nanti ada di dunia kepemimpinan tunggal (khilafah) seperti masa Rasulullah saw dan khalifah setelahnya.


Kalau begitu pemahamannya berarti saat ini kita tidak perlu berjama'ah. Tentu pendapat ini tak masuk akal dan dapat memperlemah upaya mewujudkan ukhuwah dan persatuan umat Islam yang saat ini sedang terpecah belah.


Kaum Islamophobia paling takut dengan persatuan umat Islam, sehingga mereka berupaya memecah belah umat Islam agar lebih suka memikirkan diri sendiri, agar mengejar kesholihan pribadi saja, dan tidak mau berjama'ah. Disebarkan juga propaganda bahwa berjama'ah itu berarti bid'ah, ta'ashub (fanatisme kelompok) bahkan radikal, sehingga orang takut berjama'ah.


Yang benar adalah lengkapi kesholihan pribadi dengan kesholihan berjama'ah. 


Maka carilah komunitas di antara sekian banyak komunitas muslim (jama'ah minal muslimin) yang menurut kita baik, yakni mengajarkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif dan tidak radikal. Jangan ikuti jama'ah yang menganggap kelompoknya saja yang benar, apalagi sampai mengkafirkan sesama muslim (takfiri), seperti ISIS.  


Sebab kalau kita hanya sholih secara pribadi tanpa punya komunitas (berjama'ah) berarti kita sebenarnya belum menjadi muslim kaffah (utuh) dan belum berjuang untuk Islam secara amal jama'i (bersama-sama). Kita masih egois dan induvidualistik karena hanya memikirkan kesholihan diri sendiri saja. Hal ini tentu berlawanan dengan prinsip Islam sebagai wihdatul ummah (umat yang satu). "Sesungguhnya ini umatmu umat yang satu, dan aku adalah Rabmu, maka sembahlah Aku” (Qs. 21 ayat 92).


Kembali kepada pertanyaan ibu tadi, kesholihan pribadi tidaklah cukup. Setiap muslim juga harus memiliki kesholihan berjama'ah, untuk kebaikan dirinya, umat dan masyarakat luas. Disinilah pentingnya liqo' sebagai sarana untuk berjama'ah itu sendiri. 


Renungkanlah..!

Jika kita cukup hanya sholih secara pribadi saja, lalu apa gunanya ibadah-ibadah yang mengingatkan kita tentang makna berjama'ah, seperti sholat berjama'ah di mesjid, ritual haji, bahkan zakat dan infaq sekalipun?


Bukankah serigala hanya akan menerkam domba yang sendirian?

PENTINGNYA KEAKRABAN

 

By. Satria Hadi Lubis


MENGAPA ada suami isteri yang sama-sama baik tapi akhirnya bercerai? Mengapa ada anak sholih yang terjerumus narkoba? Ada tetangga yang tidak menolong kita? Ada teman yang berburuk sangka dan menjelek-jelekkan kita?


Semuanya itu disebabkan karena KETIDAKAKRABAN.


Sadar atau tidak, ketika kita melakukan hubungan dengan orang lain ada dua variabel yang menjadi penentu kualitas hubungan, yaitu keakraban dan harapan.


Jika kita akrab dengan si A, dan sesuai dengan harapan/keinginan A, maka A akan suka dengan kita. Membela dan menjaga perasaan kita.


Jika kita akrab dengan si A, walau tidak sesuai harapan/keinginan A, maka A masih suka dengan kita. Bahkan tetap membela dan menjaga perasaan kita.


Jika kita tidak akrab dengan si A, tapi masih sesuai dengan harapan/keinginan A, maka A mungkin menyukai (mengidolakan) kita, namun hubungan kita dengan si A tidak timbal balik. A belum tentu mau memenuhi harapan kita, membela dan menjaga perasaan kita. 


Jika kita tidak akrab dengan si A, dan tidak sesuai dengan harapan A, maka A biasa-biasa saja atau tidak menyukai (membenci) kita.


Dari rumus ini, kita mengetahui betapa pentingnya keakraban dengan orang-orang di sekitar kita atau orang-orang yang kita cintai. Misalnya, dengan pasangan, anak, orang tua, teman, atasan, bawahan, tetangga, dan lain-lain.


Berusahalah akrab dengan orang di sekitar kita. Dengan selalu senyum, salam, sapa dan sopan santun (5S). Dengan sikap menerima, empati, dan menghargai mereka. Dengan kata lain, selalu touch their heart dan hadir secara fisik di sekitar mereka.


Dengan hubungan yang akrab, walau kita kurang sesuai harapan mereka (tidak sama dalam hal keinginan, karakter, hobi, agama, suku, latar belakang, dan lain-lain), niscaya orang lain akan tetap menyukai kita, bahkan membela dan menjaga perasaan kita.


Sebaliknya, ketidakakraban dengan orang-orang disekitar kita atau dengan orang-orang yang kita sayangi dapat berdampak pada munculnya masalah bagi kedua belah pihak.


Ya itu tadi....suami istri yang sama-sama baik tapi akhirnya bercerai, anak sholih dan pintar yang terjerumus narkoba, teman yang berkhianat, binaan yang tidak betah liqo', semua itu karena ketidakakraban hubungan. Padahal dalam close relationship keakraban menjadi sangat penting dan menjadi dambaan setiap pihak. 


Maka bila keakraban itu tidak didapatkan, mereka akan mencarinya dari tempat/orang lain yang belum tentu baik tapi bisa akrab dengan mereka. Itu juga yang bisa menjelaskan mengapa ada pelakor/pebinor berhasil merebut suami/istri orang lain. Mengapa ada orang mau menolong orang yang melakukan kejahatan. Semua itu karena keakraban.


Oleh karena itu, walau kita belum sesuai harapan suami/istri/anak atau siapapun orang di sekitar kita, tetaplah sabar berusaha dekat dan akrab dengan mereka, insya Allah mereka akan tetap menyukai, mencintai dan menjaga perasaan kita. Bahkan dalam jangka panjang mungkin malah memenuhi harapan kita.


"Maka berkat rahmat Allah kepadamu, engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu..." (al Qur'an, surat Ali 'Imran, Ayat 159).


JANGKAR KEMATIAN


By. Satria Hadi Lubis


SEORANG murid yang gundah karena merasa banyak dosa bertanya kepada gurunya, "Wahai guru..aku ingin membuat kuburan kosong di kamarku agar aku mudah mengingat mati, sehingga aku selalu bertaubat. 


Sang guru menjawab: "Kuburanmu yang sebenarnya ada di dalam hatimu dan ia akan lenyap bersamaan dengan kekotoran hatimu. Semakin kotor hatimu semakin susah engkau mengingat mati"


Cerita diatas adalah kegundahan seorang murid yang ingin membuat jangkar (anchor) berupa kuburan agar ia bisa selalu mengingat kematian.


Jangkar (anchor) dalam istilah psikologi klasik adalah suatu stimulus yang memicu reaksi khusus. Anchor dapat berupa benda, situasi, orang, bahkan bunyi-bunyian. Anchor dapat terjadi dengan sendirinya (alami), dapat pula diciptakan secara sengaja. Anchor mengingat kematian bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menyimpan suatu benda yang membuat seseorang ingat akan kematiannya.


Kira-kira lima belas tahun yang lalu, saya pernah membuat jangkar agar saya selalu mengingat kematian saya (lihat foto bawah). Jangkar tersebut berupa nisan bertuliskan nama saya dan saya tanam di tembok kamar kerja saya sampai sekarang. Sengaja diletakkan di dekat pintu agar selalu terlihat oleh saya ketika keluar masuk kamar. 


Jangkar berupa nisan itu dibuat untuk membuat saya selalu mengingat kematian, sehingga giat beramal sholih mengumpulkan pahala dan menjauhi perbuatan dosa. Kelak jika saya meninggal, nisan itulah yang akan menghiasi kuburan saya.


Awal-awal anchor tersebut efektif mengingatkan saya akan kematian, tapi lama kelamaan kurang efektif lagi. Persis seperti yang dikatakan oleh sang guru pada cerita diatas, "Kuburanmu yang sebenarnya ada di dalam hatimu dan ia akan lenyap bersamaan dengan kekotoran hatimu. Semakin kotor hatimu semakin susah engkau mengingat mati"


Dengan kata lain, jangkar kematian itu sebenarnya ada di hati kita masing-masing. Kebersihan hati akan membuat kita lebih mudah mengingat mati dan tidak takut menghadapinya. Sebaliknya, kekotoran hati akan membuat kita menolak mengingat mati dan takut menghadapinya.


Namun menurut saya, tidak salah juga jika jangkar kematian itu berupa benda atau barang yang bisa mengingatkan kita akan kematian, seperti yang saya lakukan atau mungkin dilakukan oleh orang lain. Kisah para sahabat atau ulama yang membuat jangkar kematian bertebaran di kitab-kitab klasik. Saya dulu juga pernah punya teman yang menyimpan kain kafan untuk mengingat kematiannya. 


Namun sebaiknya jangkar kematian berupa benda atau barang tersebut diubah-ubah (diganti) agar tetap efektif menjadi jangkar, sehingga bisa efektif menjadi pengingat hati. 


Bagi sebagian orang, tulisan tentang kematian seperti ini mungkin membuat perasaan yang tidak nyaman. Nasehat kematian memang seperti obat, seringkali membuat kita merasa pahit. Namun dibutuhkan untuk kesehatan jiwa kita.


Bahkan Rasulullah saw sendiri menyebut orang yang sering mengingat kematian sebagai orang yang paling cerdas dan paling mulia di dunia. Logika sebaliknya berarti orang yang jarang mengingat mati adalah orang yang paling bodoh dan hina di dunia. 


Umar ibn Khattab pernah berkata: 


أتيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عاشرَ عشرةٍ , فقال رجلٌ من الأنصارِ : من أكيَسُ النَّاسِ وأكرمُ النَّاسِ يا رسولَ اللهِ ؟ فقال : أكثرُهم ذِكرًا للموتِ وأشدُّهم استعدادًا له أولئك هم الأكياسُ ذهبوا بشرفِ الدُّنيا وكرامةِ الآخرةِ .


''Bersama sepuluh orang, aku menemui Nabi SAW lalu salah seorang di antara kami bertanya, 'Siapa orang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?' Nabi menjawab, 'Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat'' (hadits riwayat Ibnu Majah)

JANGAN SEPELEKAN IMAJINASI

 


Jangan sepelekan imajinasi...

Karena penemuan-penemuan terbesar diawali dari imajinasi.

James Watt membayangkan apa jadinya jika uap yg keluar dari teko yang isinya air mendidih menjadi mesin.

Louis Pasteur membayangkan dirinya sebagai virus ketika menemukan vaksin.

Wright bersaudara membayangkan bisa terbang seperti burung ketika menemukan pesawat terbang


Jangan sepelekan imajinasi...

Karena sebagian isi al Qur'an merangsang pembacanya untuk berimajinasi tentang kenikmatan surga dan pedihnya neraka. Contohnya, "Surga yg dibawahnya mengalir sungai-sungai" atau "neraka yg bahan bakarnya adalah manusia dan batu"


Umar bin Khatab ra menangis tiap malam karena membayangkan pedihnya neraka. Sampai-sampai ia berkata, "Wahai...seandainya Umar hanyalah ilalang", lalu ia menangis lagi sampai sajadahnya basah oleh air mata.


Abdullah bin Mas'ud ra suatu ketika melihat besi panas yang sedang ditempa oleh pengrajin alat perang, lalu ia menangis membayangkan besi panas neraka. 


Abdullah bin Rawahah ra sempat gentar sejenak, tapi akhirnya meluncur deras dalam perang Muktah karena membayangkan disambut bidadari surga jika mati di medan perang. Akhirnya beliau mati syahid dengan kewuliaan surga. 


Khabab bin Arts ra sabar dgn segala siksaan yg diterimanya karena Rasulullah saw pernah berkata : "Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antar jemput daging dan tulang-tulangnya dengan sikat, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut, hingga setiap pengembara yang bepergian dari Shana’a ke Hadlramaut, tiada tahut kecuali pada Allah Azza wa Jalla."


Membayangkan kenikmatan surga dan kepedihan neraka serta janji kemenangan dari al Qur'an dan hadits Rasulullah saw membuat orang-orang sholih sepanjang zaman termotivasi memperbaiki diri dan menjayakan Islam ke seantero dunia.


Maka jangan sepelekan imajinasi....


Kini sebagian kita terjebak pada kehidupan rutinitas. Takut membayangkan perubahan di masa depan. Tidak percaya diri dengan kekuatan imajinasi. Bahkan seorang atheis seperti Einstein sampai berkata, "Imagination is more important than konwledge".


Jika pun ada yang berimajinasi, maka imajinasinya lebih tentang kesuksesan dunia. Seperti yg diajarkan oleh motivator-motivator sekuler. Yang dibayangkan adalah harta yg banyak, kedudukan yang tinggi dan ketenaran yg didapat. Sedang untuk akhirat minim imajinasi. Untuk surga dan neraka kabur dan sempit cara membayangkannya. Akhirnya, mereka lbh termotivasi dgn kesibukan dunia daripada mencari berkah akhirat.


Mungkin inilah salah satu sebab mengapa umat Islam saat ini tertinggal dibanding umat lainnya. Miskin imajinasi tentang akhirat. Tidak seperti nenek moyangnya, para sahabat ra dan orang sholih di masa lampau yang menjayakan Islam di muka bumi karena termotivasi berkarya mengejar kenikmatan surga dan menjauhi pedihnya neraka. 


Wahai saudaraku...kaum muslimin hanya bisa maju karena motivasi akhirat. Ini sesuai dengan janji Allah swt. 


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ 


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Qs. 7 ayat 96).


By. Satria hadi lubis

KEKUATAN KEBAHAGIAAN (THE POWER OF HAPPINESS)

 


By. Satria Hadi Lubis


Hidup ini hanya sekali dan singkat. Rugi jika kamu tidak bahagia. Rugi juga jika tidak digunakan untuk beramal bagi hidup bahagia kekal di akhirat kelak. Maka sebelum meninggal, hiduplah bahagia dengan menerapkan 5 (lima) kekuatan kebahagiaan ini.


1. The Power of Passion 

Tugas pertama manusia adalah menemukan apa yang paling diinginkan. Itulah talentanya (passion). Tanpa mengerjakan yang paling diinginkan kamu sulit bahagia. Banyak orang yang sekarang ini hidup dalam program orang lain, sehingga kepribadiannya pecah dan tidak bahagia.


Cara mengetahui apa yang kamu inginkan, tanyalah kepada dirimu pertanyaan ini :  Jika umurmu tinggal 3 bulan apa yang ingin kamu lakukan?


2. The Power of Now

Dari dulu orang tua kita bilang, jangan menunda-nunda pekerjaan. Sebab menunda berarti mengundang datangnya masalah dan mengurangi kesempatan. Akhirnya, yang ada tinggal penyesalan.

Untuk tidak menunda, kamu harus berani menanggung resiko. Resiko adalah investasi pembelajaran dan kegagalan adalah jalan yang harus ditempuh menuju sukses. Penyesalan lebih besar karena tidak berbuat daripada berbuat.


Untuk tahu apa yang sering kamu tunda tanya selalu kepada dirimu : Apa yang aku inginkan, tapi aku tunda terus karena takut mengambil resiko?


3. The Power of Love

Jadilah manusia cinta. Bukan manusia yang ingin mencintai dan dicintai, tapi jadilah cinta itu sendiri. Menjadi titisan dari cinta Allah yang Maha Cinta.


Biasanya cinta menjadi sulit jika kamu sibuk dengan ego diri sendiri atau terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain. Menerima kekurangan orang lain adalah kebijakan tertinggi.


Untuk menjadi cinta, tanyalah pada dirimu sendiri: "Sudahkah aku memperlakukan orang-orang  disekitarku dengan penuh cinta?"


4. The Power of Force

Hiduplah sepenuh hati. Rahasianya, anggap hari ini hari terakhirmu. Diam, renungkan dan syukuri apa yang ada. Nikmati kondisi sekelilingmu dengan memaksimalkan panca inderamu. Amati pernik-pernik kecil di sekelilingmu. Lihat daun-daun di pepohonan, hirup udara segar, dengarkan desiran angin, eratkan jabat tangan, atau serba-serbi bumbu makanan. Niscaya jika kamu hadir utuh (khusyuk) maka engkau akan bahagia seketika itu juga. Kamu sulit bahagia, jika fisik hadir tapi pikiran entah kemana.


Pertanyaan yang perlu kamu lakukan adakah : Apakah aku hari ini telah hidup sepenuh hati atau sekedar melaluinya?


5. The Power of Giving

Banyak yang menyangka menerima itu membahagiakan. Padahal yang tepat itu menyenangkan. Bahagia --yang levelnya lebih tinggi dari senang-- justru didapat dengan memberi, bukan menerima. Jika kami sedang  tidak bahagia, maka lakukanlah sesuatu untuk orang lain. Niscaya kamu bahagia.


Selalu tanyakan pada dirimu: Apa 3 (tiga) kebaikan yang telah aku lakukan pada hari ini?


Lima THE POWER OF HAPPINESS diatas juga hukum kehidupan. Implemantasikan dan jangan tergoda untuk mengabaikannya. Maka engkau akan bahagia dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

DENGAN SIAPA ENGKAU BERGAUL?

 DENGAN SIAPA ENGKAU BERGAUL?


Keberadaan seorang teman sangatlah mempengaruhi kepribadian, akhlak serta agama seseorang. Ketika seseorang bergaul dengan teman yang berakhlak baik maka niscaya ia akan menjadi sosok yang berakhlak baik. Namun sebaliknya, ketika ia bergaul dengan teman yang berakhlak buruk maka ia pun akan menjadi sosok yang berakhlak buruk pula. Maka dari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar selektif dalam memilih teman, khususnya teman dekat atau sahabat karib. Hal itu disebabkan karena agama seseorang itu sangat ditentukan oleh agama teman dekatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ


“(Agama) seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ahmad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 927)


Malik bin Dinar rahimahullah berkata:


وَصَاحِبْ خِيَارَ النَّاسِ تَنْجُ مُسْلِماً – – – – – – وَصَاحِبْ شَـرَّارَ النَّاسِ يَوْماً فَتَنْدَمَا


“Bergaullah dengan orang-orang yang baik, niscaya engkau akan menjadi seorang yang selamat. (Namun) cobalah sehari saja engkau bergaul dengan orang-orang yang jelek, maka niscaya engkau akan menyesal (selamanya).”


‘Adi bin Zaid rahimahullah berkata :


عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَل وَاسْأَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ – – – – – – فَـكُلُّ قَــرِيْنٍ بِالْمُقَـارِنِ يَقْتَــدِيْ


إِذَا كُنْتَ فِيْ قَوْمٍ فَصَـاحِبْ خِيَارَهُمْ – – – – – – وَلَا تَصْحَب الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِيْ


“Tidak perlu engkau tanyakan (tentang) siapa seseorang itu, namun tanyakanlah siapa teman dekatnya”

“Karena setiap orang itu meniru (tabiat) teman dekatnya”


“Jika engkau ada di suatu kaum, maka bertemanlah dengan orang-orang yang baik diantara mereka”

“Dan janganlah berteman dengan orang-orang yang hina (diantara mereka), niscaya engaku menjadi hina bersamanya.”


Apabila kita banyak bergaul dengan orang-orang baik tentunya banyak manfaat yang akan kita peroleh. Diantaranya adalah kita akan mendapatkan ketentraman hati, karena teman yang baik akan senantiasa memberikan nasihat dan motivasi tatkala masalah, musibah, kegundahan dan kesedihan menimpa diri kita. Mereka juga tidak segan-segan untuk mengingatkan kita ketika kita terjatuh dalam kesalahan. Mereka juga akan mengajarkan kepada kita hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita. Mereka juga akan mengajak kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang tentunya akan mendatangkan ridha dan pahala dari Allah Ta’ala.


Seseorang juga bisa diangkat derajatnya lantaran ia bergaul dengan orang-orang yang baik dan shalih. Lihatlah bagaimana seekor anjing milik para pemuda yang shaleh dalam kisah Ashabul Kahfi, anjing tersebut bisa memperoleh derajat mulia (tidak seperti anjing-anjing pada umumnya) karena Allah Ta’ala menyebutnya dalam salah satu ayat suci di dalam Al Quran, Allah Ta’alaberfirman:


وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ


“Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua.” [QS. al-Kahfi: 18]


Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Berkah yang Allah turunkan kepada para pemuda Ashabul Kahfi pun turut meliputi anjing mereka. Anjing tersebut juga ikut mengalami apa yang dialami oleh para pemuda shaleh tersebut, yaitu ikut tertidur (dalam gua selama bertahun-tahun dalam penjagaan Allah). Hal ini merupakan keutamaan dari bergaul dengan orang-orang yang baik. Dan anjing ini pun akhirnya senantiasa disebut dan dikenang (di dalam Al Quran).” (al-Mishbah al-Munir fi Tahdzibi Tafsir Ibni Katsir, Ismail bin ‘Umar bin Katsir, Dar as-Salam, Riyadh 1421 H, Cetakan kedua halaman 625).


Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً


“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi. Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.” (HR. al-Bukhari no. 5534, Muslim no. 2628).


Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan seorang teman yang baik dengan penjual minyak kasturi, dan teman yang buruk dengan tukang pandai besi. Dalam hadits ini juga terdapat keutamaan berteman dengan orang-orang shalih, pelaku kebaikan, orang-orang yang memiliki wibawa, akhlak yang mulia, sifat wara’, ilmu serta adab. Sekaligus juga terdapat larangan untuk bergaul dengan para pelaku kejelekan dan kebid’ahan, serta siapa saja yang suka mengghibah (membicarakan kejelekan orang lain tanpa sepengetahuannya), banyak melakukan keburukan, kebatilan, serta sifat-sifat tercela lainnya.” (Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi, Dar al-Ma’rifah, Beirut 1429 H, Juz 16 halaman 394).