Jumat, 04 Maret 2022

PROGRAM BESAR TARBIYAH

 


"Jangan sampai perhatian kita kepada politik mengalahkan perhatian kita kepada tarbiyah", Begitu ujar Syekh Musthafa Masyhur.


Beliau mengingatkan kita betapa tarbiyah itu urgen dan penting. Memang, tarbiyah bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dan berakhir dengan tarbiyah. 


Tarbiyah adalah ruh gerakan dakwah. Tarbiyah adalah jiwa dalam amal dakwah. Sekali kita menggeser tarbiyah menjadi kegiatan sekunder dan tak penting, maka kita menjauhkan dakwah ini dari tujuannya sekaligus membuat dakwah rapuh dan jauh dari kemenangan. 


Program besar tarbiyah bertujuan mencetak kader berkualitas sebanyak-banyaknya. Dalam istilah Al-Qur’an disebut Ribbiyuuna Katsiir (Qs. 3 ayat 146).


Ada lima hal yang perlu dilakukan dalam program besar tarbiyah:


1. Membudayakan tarbiyah dzatiyah.


Tarbiyah dzatiyah di sini bukan sebatas membaca buku atau mengembangkan pemahaman dan ilmu secara mandiri, tetapi yang paling mendasar adalah meningkatkan ibadah yaumiyah. Tarbiyah dzatiyah berarti upaya personal kader dakwah untuk bermujahadah (sungguh-sungguh) membiasakan ibadah-ibadah sunnah. Mulai dari tilawah, qiyamullail, shalat sunnah, dzikir, hingga puasa sunnah. Tarbiyah dzatiyah seperti itu akan membuat ikhwah lebih imun terhadap godaan, mencegahnya dari kemaksiatan dan membuatnya istiqamah di medan perjuangan.


Liqo' sudah memiliki program berupa muhasabah (laporan) ibadah yaumiah (harian), maka hal ini harus terus dihidupkan agar ada fastabiqul khoirot dan saling menasehati di antara peserta.


2. Penyegaran liqo'/halaqah. 


Yakni dengan terus memperbaiki dinamika dan produktivitas liqo'. Dinamisasi liqo' bertujuan agar liqo' tidak menjemukan, sehingga peserta antusias untuk hadir dengan semangat saling berbagi.


Produktivitas liqo' maksudnya adalah liqo' bukan sekedar “dinikmati” dan dirindukan tiap pekan, tetapi juga mampu mencapai tiga tujuan utama liqo', yakni : membentuk muwashafat (sifat-sifat) yang baik pada diri peserta, mencetak peserta menjadi murabbi dan mengembangkan potensi peserta secara maksimal. 


3. Mencetak para muwajih (penceramah).


Karena tidak semua muslim langsung tertarik dengan liqo', maka menghidupkan majelis taklim menjadi hal yang penting sebagai sarana antara untuk menuju liqo'.


Saat ini minat terhadap majelis taklim dengan berbagai bentuknya semakin meningkat seiring hausnya masyarakat modern dengan nilai-nilai spritual. 


Namun, ketersediaan muwajih majelis taklim masih sangat terbatas sehingga agenda untuk mencetak muwajih menjadi sangat penting. 


4. Mencetak para murabbi.


Sebagaimana liqo' merupakan sarana paling efektif dalam kaderisasi dakwah, ketersediaan murabbi juga sangat penting.


Selain menyelenggarakan daurah atau program lain untuk menyiapkan murabbi, sebaiknya juga ada semacam "sertifikasi" murabbi untuk memacu ikhwah menjadi murabbi yang handal.


5. Mengokohkan fikrah dakwah. 


Di era milenial ini tantangan dakwah semakin beragam, sehingga menjaga asholah fikrah (keaslian pola pikir) dakwah menjadi sangat penting agar komitmen dakwah tidak tergerus pada diri kader dakwah. 


Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah secara rutin mengkaji dan membaca kembali buku-buku mufakir dakwah generasi awal.


Dengan mengoptimalkan segala program tarbiyah seperti tersebut diatas, insya Allah dakwah akan berkembang dan Islam yang rahmatan lil alamiin akan terwujud.


Terakhir, renungkanlah kalimat bijak dari Syekh Hasan al Banna berikut ini :    


“Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya ditengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan dan kehidupan yang baik bagi tanah air dibawah naungan Islam yang hanif. Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka ia pun berseru, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah swt dan tiada sekutu baginya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa??"


By. Satria hadi lubis

BIMBINGAN MENTAL

 

Bimbingan mental (bintal) di kantor, termasuk di kantor pemerintah, sering dianggap remeh. Kerjaan mereka hanya seremonial dan ritual belaka. Mendampingi pengangkatan sumpah pejabat yg dilantik, mengadakan perayaan hari-hari besar agama dan lomba-lomba serta mengatur khotib jumat di mesjid-mesjid kantor.


Padahal sesuai dgn namanya (bimbingan mental) seharusnya bintal dapat berperan jauh lebih strategis dan penting, yakni turut serta membangun mental (jiwa) para karyawan. Menjadi bagian dari pengembangan SDM, yakni membentuk capacity building berbasis agama.


Dari literatur manajemen yg saya baca, trend kantor zaman now adalah kehidupan seimbang (life balance) para karyawannya. Ini berarti kantor yg tdk melulu mengejar target kerja jangka pendek, tapi juga menjadikan karyawan sebagai investasi jangka panjang. Caranya, menjadikan karyawan memiliki kepribadian tangguh (adversity intellegence), berjiwa gaul dan membaur (emotional intellegence), dan kreatif serta menyukai tantangan (creativity intelligence). Jadi bukan hanya intelektual dan keterampilan teknis saja yg perlu ditingkatkan. Hypercompetetion saat ini membutuhkan karyawan yg lengkap kemampuan hardskills dan softskillsnya. Kalau tidak, kantor atau perusahaan akan mati perlahan-lahan.


Semua kecerdasan yg saya sebutkan di atas berawal dari kecerdasan spritual (spritual intellegence). Sebab kecerdasan spritual inilah basic instinct (dasar karakter) manusia seperti yg banyak telah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Jadi sebuah perusahaan/kantor akan mengalami suitanable development (pertumbuhan terus menerus) jika memperhatikan pertumbuhan spritual intelligence karyawannya.


Inilah yg saya lihat ketika mengisi acara Pembinaan Mental Nasional di Dirjen Bea Cukai yg dihadiri oleh ratusan pegawai dan pejabat Bea Cukai seluruh Indonesia. Di kantor yg strategis dan sarat godaan ini, bagian bintalnya berusaha untuk keluar dari pakem bintal pada umumnya. Tidak lagi mengurusi seremonial keagamaan tapi melangkah maju untuk ambil peran dalam capacity building SDM-nya


Didukung oleh pak Dirjen dan pimpinan lainnya, para pegawai bea cukai suka atau tidak suka akan "dipaksa" untuk mengikuti kegiatan long life education (pendidikan jangka panjang) dalam sebuah kegiatan mentoring (mereka menyebutnya micro learning center). Tidak sekedar kegiatan hit and run yg kurang efektif. Yg muslim akan ikut mentoring Islam, yg Kristen, Hindu dan Budha juga begitu. Saya sebut "dipaksa" karena kegiatan ini akan masuk dalam kondite para pegawai. Dan diawasi secara formal dalam kedinasan. Prioritas pertama yg ikut program ini adalah pegawai bea cukai muda (generasi mileneal) yg paling rentan terpapar virus liberalisasi moral.


Ini semua berangkat dari keyakinan para pimpinannya bahwa jika seorang pegawai cerdas secara spritual (taat pada agamanya masing-masing), maka moral hazzard akan jauh berkurang. Baik di tempat kerja, keluarga, maupun kehidupan bermasyarakat. Ujung-ujungnya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengurangi bahaya radikalisme karena agama dijadikan sebagai cara untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.


Semoga program yg hebat ini bisa berjalan lancar dan sukses di Bea Cukai dan kemudian diikuti oleh seluruh kantor-kantor pemerintahan dan swasta. 


Sungguh para pejuang kebaikan harus yakin bahwa barangsiapa semakin dekat kepada Tuhan dan ajaran agamanya maka ia akan semakin bermanfaat bagi orang lain dan lebih bahagia, serta membahagiakan orang lain.


Justru yang merusak negara ini adalah orang-orang yang jauh dari Tuhannya. Tuhan yang telah menciptakan mereka dan memberikan kehidupan kepada mereka.


By. Satria hadi lubis

MEMBERSAMAIMU DALAM IBADAH

 

By. Satria hadi lubis 


"Allah memberi rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun di waktu malam, lalu sholat dan membangunkan istrinya. Jika ia enggan, maka laki-laki itu memercikan air ke wajahnya, begitu pula sebaliknya" (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).


Suami istri yang cerdas, bukan hanya bekerjasama untuk sukses di dunia, tapi juga bekerjasama untuk sukses di akhirat.


Begitulah yang dilakukan baginda nabi saw, beliau senantiasa membangunkan istrinya untuk sholat tahajud sebagai salah satu bentuk cinta nabi saw kepada istrinya, yakni beribadah bersama. Sukses bersama.


Begitu pun juga yang dilakukan para suami isteri di luar sana yang mereka saling bekerjama dalam ibadah. Tahajud bersama, beribadah bersama. Berkasih-kasihan dalam taat kepada Allah, sinergi dalam beribadah. 


Begitu pun yang dilakukan saya dan istri saya, Ustadzah Kingkin Anida. Jika saya bangun duluan, biasanya saya mengingatkan istri untuk tahajud. Begitu pun sebaliknya. Namun biasanya istri yang lebih sigap membangunkan saya. Saya sendiri malah yang kadang lupa, sehingga istri jadi cemberut kalau saya lupa membangunkannya untuk tahajud. 


Cara istri membangunkan saya tahajud biasanya dengan mengelus-elus kaki saya atau mengguncangkan badan saya dengan lembut. Atau mencium pipi saya, sambil bilang, "Bi....tahajud yuk...". Belum pernah istri saya sampai memercikkan air ke wajah seperti yang disebutkan pada hadits di atas. Apalagi sampai berteriak dengan nada keras. Selama 30 tahun usia pernikahan kami, tidak pernah sekali pun istri saya mengumpat dan berkata kasar kepada saya, apalagi sampai membentak saya.


Kini untuk sementara waktu, tak ada lagi sentuhan lembut dari istri untuk membangunkan saya sholat tahajud. Tak ada lagi suara beliau membaca al Qur'an sehabis sholat tahajud untuk  menyelesaikan target ibadah yaumiah. Sering kami saling bersahut-sahutan membaca Al Qur'an masing-masing di tengah sunyinya malam. Secara tak tertulis, seakan ada kesepakatan di antara kami untuk fastabiqul khoirot dalam pencapaian target ibadah harian.


Dalam suratnya dari penjara, istri saya sudah lapor ke saya bahwa disana ibadahnya makin meningkat. Sudah punya tiga orang mad'u, yaitu ibu-ibu anggota KAMI yang ditangkap untuk kasus yang sama. Pasti saya sekarang kalah banyak dan kalah khusyu' dibandingkan dengan istri dalam pencapaian target ibadah harian.


Saat-saat bersama dalam ibadah kini menjadi hal yang saya kangenkan dari istri saya, Ustadzah Kingkin Anida. Kangen yang insya Allah akan membuat saya semakin tegar dan yakin bahwa makar Allah tak mampu dikalahkan oleh makar manusia.


Demikianlah....momen-momen kebersamaan kami memang lebih banyak dalam ibadah dan dakwah daripada dalam pekerjaan dan bisnis. Profesi saya memang berbeda dengan istri. Saya dosen dan istri adalah ibu rumah tangga yang tidak berbisnis.


Oleh karena itu...berbahagialah kalian wahai suami isteri di luar sana....yang bisa tetap bersama dalam ibadah. Dalam sholat malam dan dalam ibadah lainnya. Nikmatilah kebersamaan tersebut, dan kenanglah dengan manis. 


Jika kalian bertengkar, redakanlah pertengkaran itu dengan mengenang yang manis-manis dari kebersamaan kalian. Tak ada gunanya berlama-lama dalam kesal dan marah kepada pasangan. Sebab Allah telah mempersatukan kalian dalam pernikahan yang suci dengan segala dinamikanya. Jangan patahkan pernikahan tersebut dengan mengikuti ego masing-masing.


Sungguh setan berupaya merusak kehidupan manusia dengan mengawalinya dari merusak sebuah keluarga, dan merusak sebuah keluarga berawal dari merusak keindahan hubungan antara suami isteri.


Ibadah adalah kunci dari keharmonisan hubungan suami istri. Sekaligus sumber dari cinta sejati antara suami istri yang akan menghubungkan mereka di langit dan bumi.

BANGGANYA BAPAK DAN IBU

 

SELAMA INI, saya dan istri sepakat untuk tidak memberitahukan kondisi istri (Ustadzah Kingkin Anida) yang sedang di penjara kepada kedua orang tua kami. Sikap ini dilakukan agar orang tua kami tidak stres, sehingga mengganggu kesehatan mereka di masa tuanya. Dan sikap ini didukung penuh oleh keluarga besar kami masing-masing.


Sampai bapak Ustadzah Kingkin Anida meninggal tanggal 1 Januari 2021 lalu, kami juga belum memberitahukan bahwa anaknya sedang dipenjara karena menjadi korban hoax UU Cipta Kerja. Alhamdulillah ....istri sempat diizinkan keluar dari penjara waktu itu. Walau agak terlambat karena ayahnya sudah dikuburkan. 


Di hari itulah, istri saya untuk pertama kalinya bertemu dengan ibunya setelah hampir tiga bulan tidak bertemu. Namun anehnya, ibu tidak menanyakan mengapa istri saya datang terlambat dan mengapa baru sekarang menjenguk orang tuanya. Sebab biasanya minimal sebulan sekali istri saya menjenguk orang tuanya. 


Saya sendiri heran juga.... koq tidak ada nada protes dari ibu terhadap istri saya. Sebab biasanya orang tua akan bertanya jika anaknya yang biasa menjenguk tidak datang-datang. Bapak yang biasanya menelpon istri (waktu beliau masih hidup) juga tidak pernah menelpon selama istri di penjara. Keheranan itu terus menggantung dalam diri saya sampai hari kemaren.


Peristiwanya, kemaren adik istri menjenguk ibunya bersama suami dan anak-anaknya, sekaligus ziarah ke makam bapak. Disitu ibu baru cerita bahwa ia sebenarnya sudah tahu bahwa anaknya sedang di penjara. Ada tetangga yang bilang kata ibu. Ternyata respon ibu luar biasa, katanya: "Ibu ngga sedih anak ibu ditahan, karena dia bukan maling, bukan penjahat, bukan koruputor. Tapi ia sedang membela agamanya. Ibu dan bapak malah bangga." 


Terkuak sudah "misteri" mengapa ibu dan bapak tak pernah bertanya kepada saya, juga kepada istri ketika datang melayat bapak. Ternyata ibu dan bapak sudah tahu dan mengerti mengapa kami tidak memberitahukan kepada mereka. 


Saya menyimpulkan bahwa bapak meninggal dalam keadaan bangga kepada anaknya yang sedang dipenjara karena membela agamanya. Bapak memang paling dekat kepada istri saya, anak pertamanya. Selama hidupnya beliau sering membanggakan Ustadzah Kingkin di depan keluarga besar kami. Bangga karena anaknya tak pernah diam melihat kezaliman dan selalu membela nasib rakyat kecil. Bangga karena anaknya terus berdakwah membela agama Allah. 


Sampai tulisan ini dibuat, saya belum memberitahukan kepada istri bahwa ibu dan bapak sebenarnya sudah tahu dan mereka bangga dengan anaknya yang dipenjara karena membela agamanya. 


Semoga nanti setelah saya beritahu, istri saya semakin kuat dan senang di dalam sana. Di dalam penjara yang semestinya hanya untuk orang-orang jahat. Di dalam penjara yang berdesak-desakan, tidur beralaskan triplek dan sajadah. Tanpa alat pendingin, entah sampai kapan. Wallahu'alam.


Semoga engkau terus kuat dan tabah di dalam sana wahai istriku....seperti yang telah engkau tunjukan selama ini. Love u forever....Allahu ma'ana.

KEBEBASAN ITU MAHAL

 

BAGI Bilal bin Rabbah ra, kebebasan itu mahal harganya. Sebagai mantan budak, beliau pernah hampir terbunuh karena dijemur di panas teriknya gurun pasir oleh majikannya yang kejam, Umayyah bin Khalaf, hanya karena ingin bebas menyembah Allah saja.


Kesadaran akan mahalnya kebebasan itu juga yang ditanamkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Mereka menyebar ke seluruh penjuru dunia sepeninggal wafatnya nabi saw, bersusah payah untuk membebaskan manusia dari penjajahan manusia lainnya.


Al Qur'an menyebut misi membebaskan manusia ini dengan misi Tauhid "Laa ilaha illa Llah" (Tiada tuhan kecuali Allah). "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (Qs. 20 ayat 14). Sebab hanya dengan menyembah Allah semata manusia benar-benar bebas dari tuhan-tuhan yang lain. Bebas dari penjara pikiran dan hati untuk menuju kepada kebahagiaan sejati. 


Dalam konteks ini, maka barangsiapa ada yang menghalangi kebebasan manusia dan memenjarakan fisiknya bukan karena kejahatannya dapat disebut sebagai suatu kezaliman yang pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.  


**


Dalam persidangan Ustadzah Kingkin Anida pada hari selasa pekan lalu, dua saksi dari pimpinan serikat buruh mengatakan bahwa postingan hasil copy paste dari WA grup ke FB beliau bukanlah kejahatan (bukan hoax). Apa yang diposting tersebut hampir sama dengan kajian mereka terhadap draft UU Cipta Kerja saat itu. Bahkan mereka berterima kasih kepada Ustadzah Kingkin Anida karena ikut berpartisipasi memposting aspirasi buruh.


Dua saksi buruh tersebut juga mengatakan bahwa mereka tidak setuju jika postingan Ustadzah Kingkin dituduh menimbulkan keonaran. Sebab demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada tanggal 6, 7 dan 8 Oktober 2020 memang sudah menjadi agenda berbagai serikat buruh dalam rangka menolak UU Cipta Kerja, bukan karena terpancing postingan Ustadzah Kingkin untuk membuat keonaran. 


Hari selasa ini tanggal 2 Februari 2021, insya Allah sidang ke-9 akan dilanjutkan dengan menghadirkan saksi yang meringankan dari ahli hukum. Mereka akan memberikan pendapatnya terkait apakah postingan Ustadzah Kingkin bisa disebut sebagai postingan hoax atau tidak. 


Sungguh mengikuti persidangan ini merupakan perjuangan yang masih panjang bagi kami, masih ada beberapa kali sidang lagi sampai akhir Februari untuk sampai pada vonis hakim. Apakah hakim akan menjatuhkan vonis bebas atau hukuman penjara yang lebih lama kepada Ustadzah Kingkin Anida.


Perjuangan yang bagi saya bukan hanya tentang nasib Ustadzah Kingkin Anida sebagai istri saya, tapi juga merupakan simbol perjuangan kebebasan kemanusiaan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada setiap anak manusia.


Perjuangan yang  membutuhkan ketabahan, baik dari Ustadzah Kingkin sendiri yang sudah mendekam selama lebih kurang 4 bulan di sel sempit ukuran 4x4 meter persegi bersama 8 orang tahanan lainnya, maupun dari saya dan keluarga. Juga ketabahan dari para penasehat hukum beliau, teman, para sahabat serta orang-orang yang mencintai beliau, baik yang kenal secara langsung atau tidak dengan Ustadzah Kingkin Anida.


Ketabahan yang harus tersimpan kuat dalam tekad dan usaha, bukan dengan tangis dan keputusasaan. Ketabahan yang diucapkan oleh Fina, anak saya paling kecil (usia 9 tahun). Yang ketika saya tanya kepadanya, "Koq.. Fina gak kelihatan sedih sih ummi gak pulang-pulang karena dipenjara?" Dengan lugas Fina menjawab, "Kata abi kan kita harus tabah." Jawaban yang mengejutkan bagi saya dan membuat mata saya berkaca-kaca. 


Saya sendiri lupa pernah berkata seperti itu kepada Fina, tapi ia menanam kuat pesan itu dan mengingatkan saya kembali agar tak pernah berhenti untuk tabah menghadapi berbagai cobaan hidup yang pasti dialami oleh setiap manusia dengan cara yang berbeda-beda.


Kebebasan itu memang mahal harganya. Semahal ketabahan yang perlu dimiliki untuk memperjuangkannya. Semahal rasa syukur kepada Allah SWT bagi kita yang berada di luar penjara, sehingga perlu mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. 


By. Satria hadi lubis

COBALAH MENGERTI... (Versi Suami)



Cobalah mengerti..

Jika suami banyak diam dan menjaga jarak, itu bukan karena ada pelakor, tapi ia sedang berusaha memecahkan masalah. Lelaki itu memecahkan masalah dengan banyak diam, bukan banyak curhat. Jadi istri yang baik bukan banyak tanya, tapi banyak doa dan membiarkan suaminya masuk ke dalam "gua" dengan masalahnya. Nanti ia akan keluar dari "gua" dengan sendirinya setelah ada titik terang.


Cobalah mengerti...

Jika suami tidak ekspresif dalam kemesraan bukan berarti dia tidak mencintai, tapi karena ia memang lugu dan tak tahu cara mengekspresikan cinta. Lelaki itu perlu diajarkan oleh istrinya bagaimana cara mengekspresikan cinta versi istri.


Cobalah mengerti...

Jika suami selingkuh itu bukan karena hawa nafsu belaka, tapi ia mencari pengakuan dari egonya, dan ironisnya hal itu tidak dilakukan oleh istrinya, tapi malah oleh selingkuhannya. Lelaki akan setia jika ia disanjung dan dihormati oleh istrinya.


Cobalah mengerti...

Jika suami melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) itu karena akumulasi kemarahannya yang sudah disimpan sekian lama. Lelaki itu susah tersinggung, kecuali jika pasangannya mengulang-ulang mencelanya. 


Cobalah mengerti...

Jika suami pelit memberi nafkah, mungkin ia sedang menabung untuk masa depan keluarganya. Bagi lelaki mempunyai rahasia itu merupakan kehormatannya, tapi percayalah hal itu hanya untuk kebaikan keluarganya. 


Cobalah mengerti... 

Jika suami itu paling tidak suka digurui istrinya, sehingga istri yang baik menasehati suaminya dengan sindiran dan jika diminta. Lelaki itu biasanya peka dengan sindiran. Jika pun tidak peka, biarkan ia sadar setelah "kepentok" akibat perbuatannya. 


Cobalah mengerti...

Jika suami hanya butuh kepercayaan dan dukungan (penerimaan) istrinya jika ia punya masalah. Lelaki itu sudah stres dengan banyak masalah di luar sana. Dunianya seluas ambisinya yang mendunia.


Cobalah mengerti...

Jika suami minder dan tak berkembang, itu mungkin akibat perkataan istrinya yang suka "menghabisinya". Isterinya cerewet dan cermat melebih-lebihkan kekurangannya dan mengurang-ngurangi kelebihannya. Ketahuilah...di lubuk hatinya yang terdalam lelaki itu suka dipuji, dan ia akan bangkit jika tahu istrinya memujanya.


Cobalah mengerti...

Jika suami menjadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), maka bukan hanya dia yang salah membimbing istrinya, tapi istri juga salah karena tidak mendewasakannya. Allah dan Rasul-Nya juga marah dengan suami yang tak mampu memimpin istrinya bergandengan tangan menuju surga (Qs. 66 ayat 6).


Cobalah mengerti...

Bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda. Dengan perbedaan itu hidup menjadi indah bak pelangi.


"..Wa laisa dzakaru ka al-untsa (laki-laki itu tidak sama dengan perempuan)" (Qs. 3 ayat 36).

COBALAH MENGERTI... (Versi Istri)

 


Cobalah mengerti..

Jika istri itu banyak diam dan menjaga jarak, ia sedang kecewa dan kesepian, sehingga butuh diangkut suaminya. Perempuan itu butuh keintiman yang ekspresif dan berulang-ulang, sehingga suami yang baik akan berusaha romantis,  walau mungkin ia merasa hal tersebut lebay dan tidak logis.


Cobalah mengerti...

Jika istri tidak ekspresif dalam melayani kebutuhan biologis suami, bukan berarti ia frigid, tapi karena ia tak tahu bagaimana cara melayani suami. Perempuan itu pada dasarnya pemalu mengekspresikan kebutuhan biologisnya, kecuali jika suami aktif memulai dan mengajarinya.


Cobalah mengerti...

Jika istri selingkuh itu bukan karena hawa nafsu belaka, tapi lebih kepada kecewa dan mencari pelarian. Perempuan itu lebih pandai berselingkuh, tapi lebih berat untuk memulai selingkuh karena ia harus melibatkan hatinya yang setia. 


Cobalah mengerti...

Jika istri cerewet dan cermat menjelekkan suaminya, itu bukan karena benci. Namun ia ingin suaminya bangkit dan berubah semakin baik. Perempuan itu bangga dengan prestasi pasangannya. 


Cobalah mengerti...

Jika istri suka meminta tambahan nafkah, itu belum tentu boros, bisa jadi itu memang untuk kebutuhan anak dan keluarga. Perempuan itu konsumsinya lebih tinggi daripada lelaki. Tak adil jika suami menuntut istrinya cantik, tapi tak membiayai istrinya untuk berdandan.


Cobalah mengerti... 

Jika istri mencari nafkah dan berkarir, itu bukan untuk menyaingi suaminya. Perempuan itu sigap dan tangguh untuk menolong pasangannya, jika ia didukung.


Cobalah mengerti...

Jika istri energik untuk mengurus anak dan melayani suami, maka itu bersumber dari perhatian dan kasih sayang suami. Perempuan itu paling bete kalau tidak diperhatikan dan paling senang jika dipuji dan dipuja.


Cobalah mengerti...

Jika istri minder dan tak berkembang, itu mungkin akibat suaminya sibuk dengan dirinya sendiri. Ketahuilah...istri itu paling suka dibimbing dan diatur. Apalagi disertai dengan alasan yang logis untuk kebahagiaan keluarga. 


Cobalah mengerti...

Jika istri tak lagi mencintaimu, itu karena sudah sering disakiti. Perempuan itu tak mudah menata hatinya untuk mencintai, tapi tak mudah juga untuk membenci.


Cobalah mengerti...

Semakin istri mencintai suami, semakin mudah ia sakit hati dengan perilaku suaminya yang dianggapnya mengecewakan. Perempuan itu perlu dibimbing agar kecewa dan sedihnya sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.


Cobalah mengerti...

Bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda. Dengan perbedaan itu hidup menjadi indah bak pelangi.


"..Wa laisa dzakaru ka al-untsa (laki-laki itu tidak sama dengan perempuan)" (Qs. 3 ayat 36).