Minggu, 13 Maret 2022

ISLAM MENGAJARKAN KEBENCIAN?


Islam adalah agama yg mengajarkan  cinta kasih, tapi juga Islam mengajarkan kebencian. 


Coba perhatikan hadits berikut :

Imam al-Bukhari dan Muslim meri-wayatkan bahwa Nabi saw bersabda,


ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فيه وَجَدَ حَلَاوَة الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ الله ورسوله أَحَبَّ إليه مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّه إِلَّا لله ، وَمَنْ كَانَ يَكْرَه أَنْ يَرْجِعَ في الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَه الله منه ، كَمَا يَكْرَه أَنْ يُلْقَى في النَّارِ


“Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya ada pada dirinya ia pasti mendapati manisnya iman: barangsiapa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya; barangsiapa mencintai seseorang, ia mencintainya hanya karena Allah; barangsiapa benci kembali kepada kekafiran setelah Allah mengentasnya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api (neraka).”


Cinta sempurna yang sejati menuntut penyesuaian diri dengan yang dicintai dalam segala yang yang dicintai dan dibencinya, dalam siapa yang diloyali dan dimusuhi. Sudah maklum bahwa barangsiapa yang mencintai Allah ia harus membenci musuh-musuh-Nya dan mencintai apa yang dicintai-Nya.


Namun kebencian tsb tidak boleh mengalahkan sikap adil, karena adil lebih dekat kepada taqwa. 

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS: Al-Maidah Ayat: 8).


Terkait dengan kewajiban mencintai dan membenci ini, manusia diklasifikasi menjadi tiga:


1. Mereka yang wajib dicintai total. Mereka adalah para rasul dan orang-orang yang beriman dengan iman yang murni. Termasuk juga as-Salafush Shalih dan ahlussunnah wal jamaah karena kemurnian akidah mereka dan kebenaran yang mereka pegangi. Juga karena mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.


2. Mereka yang wajib dibenci total. Mereka adalah musuh-musuh Allah.


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.”(Al-Mumtahanah: 1)


“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al-Mujadalah: 22)


3. Mereka yang di satu sisi wajib dicintai namun di sisi yang lain harus dibenci. Mereka adalah orang-orang beriman yang bermaksiat kepada Allah. Cinta dan benci ditujukan kepada mereka secara proporsional sebatas kebaikan dan kejahatan yang ada dalam diri mereka.


“Apabila ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai mereka kembali pada perintah Allah.” (Al-Hujurat: 9)


Jadi, Islam mengajarkan damai dan cinta. Islam juga mengajarkan perang dan benci. Islam mengajarkan kelembutan dan kekerasan. Seorang muslim harus mengambil keduanya. Tidak boleh mengambil yang lembut, tapi menolak yg keras. Atau sebaliknya. Itulah sebabnya ada surga dan neraka. Surga bukti cinta kasih Allah. Neraka bukti kekerasan dan kebencian Allah terhadap mereka yang melanggar aturan-Nya. 


Ada banyak sekali ayat dan hadits yang secara jelas memerintahkan kita—sebagai seorang hamba Allah—untuk perang dan benci. Seorang hamba Allah sejati akan berusaha memenuhi dan mengejawantahkan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak menyepelekan atau bahkan menentangnya. Ada ayat-ayat cinta, ada ayat-ayat benci. Semua datang dari Allah. Allah lebih tahu mengapa kita harus mencintai sesuatu dan membenci sesuatu. Jadi jangan hilangkan rasa cinta dan benci itu jika hal tsb proporsional dan sesuai dgn aturan Allah.


"Cintailah kekasihmu dengan sederhana, boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika. Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sederhana, boleh jadi engkau akan mengasihinya pada suatu ketika." (HR At-Turmuzi). 


By. Satria hadi lubis

Jumat, 04 Maret 2022

DAKWAH : AZAS PERGERAKAN ISLAM

 

By. Satria hadi lubis 


Dakwah sebagai azas pergerakan Islam harus dipahami dalam konteks setiap muslim harus berjama'ah (ada dalam sebuah kelompok pergerakan Islam). Dengan kelompoknya tersebut ia menebarkan dakwah yang rahmatan lil alamin. Bukannya dakwah yang menjauhkan orang dari rahmat Allah swt. Apalagi jika menganggap dakwah dari gerakannya saja yang benar, sedang gerakan dakwah yang lain salah. Kalau sudah menganggap kelompoknya saja yang benar berarti kita sudah terperangkap pada perpecahan yang dilarang Allah swt dalam firman-Nya : 


"dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. 30 ayat 31-32).


Di sisi lain, kita jangan tertipu dengan merasa cukup mengejar kesholihan pribadi saja. Sebab yang dituntut oleh agama itu ada dua : Kesholihan Pribadi dan Kesholihan Berjama'ah (ikut serta dalam sebuah kelompok/pergerakan  dakwah tertentu). 


Kesholihan berjama'ah, salah satunya, didapat dengan mengikuti liqo'/pengajian, sehingga posisi kita sedang didakwahi (menjadi mad'u). Nah ...simultan dengan itu kita wajib berdakwah (Qs 16 ayat 125). Inilah ciri pribadi Robbani sebagaimana yang Allah firmankan : 


"Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab (berdakwah) dan karena kamu mempelajarinya (didakwahi).” (Qs. 3 ayat 79). Di atas tersebut disebutkan ciri pribadi Robbani adalah "karena kamu mengajarkan kitab (berdakwah) dan karena kamu mempelajarinya (didakwahi).”


Dengan hadir dan bertemu rutin dalam pengajian dari sebuah gerakan tertentu maka kita bisa merancang berbagai program bersama untuk kebaikan masyarakat yang lebih besar dan lebih luas, yang tidak bisa kita lakukan jika sendirian. Bisnis saja butuh kerjasama agar bisa tumbuh besar, apatah lagi menjalankan misi agama yang skalanya lebih luas.


Allah dan Rasul-Nya juga menyuruh kita berjama'ah dan melarang kita meninggalkan gerakan Islam.


"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.." (Qs. 3 ayat 103).


"Hendaklah kalian berjama'ah dan jangan bercerai berai, karena syetan bersama dengan orang yang sendirian. Dan dengan dua orang itu lebih baik. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen kepada jama’ah” (HR At-Tirmidzi).


”Dan saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Allah memerintahkan hal tersebut: Mendengar, taat, jihad, hijrah dan jama'ah. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan jama'ah sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka termasuk buih jahannam. Seseorang berkata:” Wahai Rasulullah, walaupun mengerjakan shalat dan puasa. Rasul SAW menjawab:”walaupun shalat dan puasa. Maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamakanmu muslimin, mukminin hamba Allah” (HR Ahmad dan at-Turmudzi).


Ada yang berpendapat bahwa dalil berjama'ah di atas hanya wajib untuk jama'ah muslimin (jama'ah dari seluruh umat Islam saja), yakni ketika nanti ada di dunia kepemimpinan tunggal (khilafah) seperti masa Rasulullah saw dan khulafaur rosyidin.


Kalau begitu pemahamannya berarti saat ini kita tak perlu berjama'ah. Lalu buat apa Rasulullah berjama'ah kalau saat ini kita tidak bisa meneladaninya dan harus menunggu khilafah yang entah kapan terwujudnya? Tentu pendapat ini tak masuk akal dan dapat memperlemah upaya mewujudkan kekuatan Islam yang saat ini sedang lemah dan dikangkangi oleh musuh-musuhnya.


Kaum Islamophobia paling takut dengan dua hal: kekuatan akidah dan persatuan umat Islam, sehingga mereka berupaya memecah belah umat Islam agar lebih suka memikirkan diri sendiri, agar mengejar kesholihan pribadi saja, dan tidak mau berjama'ah (ikut dalam pergerakan Islam). Disebarkan propaganda bahwa berjama'ah itu berarti bid'ah, ta'ashub (fanatisme kelompok), bahkan radikal, sehingga orang takut berjama'ah (mengikuti pergerakan Islam). Yang benar adalah lengkapi kesholihan pribadi dengan kesholihan berjama'ah. 


Maka carilah komunitas di antara sekian banyak pergerakan Islam (jama'ah minal muslimin) yang menurut kita baik, yakni yang mengajarkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif dan tidak radikal. Yang mau bekerjasama antar gerakan Islam. Dan jangan ikuti jama'ah yang menganggap kelompoknya saja yang benar, sedang yang lain salah. Apalagi sampai mengkafirkan sesama muslim (takfiri), seperti kelompok ISIS misalnya. 


Sebab kalau kita hanya sholih secara pribadi tanpa punya gerakan alias berjama'ah berarti kita sebenarnya belum menjadi muslim kaffah (utuh) dan belum berjuang untuk Islam secara amal jama'i (bersama-sama). Kita masih egois dan induvidualistik karena hanya memikirkan kesholihan diri sendiri saja. Hal ini tentu berlawanan dengan prinsip Islam sebagai wihdatul ummah (umat yang satu). "Sesungguhnya ini umatmu umat yang satu, dan aku adalah Rabmu, maka sembahlah Aku” (Qs. 21 ayat 92). 


Dan konsep surga sebagai tempat tinggal bersama bagi orang-orang yang beriman :


"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa" (Qs.3 ayat 133).


Renungkanlah..!

Jika kita cukup hanya sholih secara pribadi saja, lalu apa gunanya ibadah-ibadah yang mengingatkan kita tentang makna berjama'ah, seperti sholat berjama'ah di mesjid, ritual haji, bahkan zakat dan infaq sekalipun?


Bukankah serigala hanya akan menerkam domba yang sendirian?

KOMITMEN UNTUK BERSAMA DI JALAN DAKWAH


By. Satria hadi lubis 


Ketika Khalid bin Walid ra diberhentikan oleh Khalifah Umar ra dari jabatan panglima perang, Khalid tidak membelot dan melawan Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra. Padahal kalau ia mau, ia bisa memobilisir para prajurit yang masih setia kepadanya untuk melawan pemerintahan Umar ra. 


Khalid, si pedang Allah, tetap berperang sampai akhir hayatnya, walau hanya sebagai prajurit biasa. Suatu ketika ia ditanya mengapa tetap berperang walau sudah diberhentikan sebagai panglima perang, beliau menjawab dengan tegas, "Aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Allah!".


Kisah lainnya terjadi pada diri Wahsyi yang pernah membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. Wahsyi akhirnya masuk Islam dan meminta maaf kepada Nabi saw atas perbuatannya yang pernah membunuh Hamzah ra. Nabi memaafkan Wahsyi, namun beliau berkata, "Jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini karena setiap melihatmu terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak dihancurkan olehmu saat itu”


Wahsyi merasa kecewa di dalam hatinya, namun ia tidak membelot dan melawan Nabi saw. Wahsyi sadar akan kedudukannya, ridha menerima ketentuan itu. Dia memperbaiki dirinya dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah swt.


Sebagai penebus atas dosa-dosanya Wahsyi bertekad untuk tidak akan pulang lagi ke Kota Mekah demi untuk merebut cinta kekasih Allah, Muhammad saw. Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan menyebarkan Islam. Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia memeluk kepada Islam, hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab.


Begitulah sikap para sahabat jika mereka diberhentikan atau tak mendapatkan kedudukan penting dalam jama'ah kaum muslimin. Mereka tetap taat dan ikhlas beramal, tidak keluar dari kebersamaan dengan membentuk jama'ah baru, walau sadar tidak lagi memiliki peran yang signifikan dalam jama'ah.


Sikap semacam inilah yang perlu ditiru oleh para aktivis dakwah saat ini jika mereka diberhentikan atau tak lagi memiliki jabatan penting dalam jama'ah. 


Ada yang berdalih, kisah di atas hanya berlaku untuk jama'ah kaum muslimin, bukan untuk jama'ah minal muslimin. Loh...jika itu argumennya lalu dari mana kita belajar berjama'ah? Bukankah generasi sahabat ra adalah teladan dalam segala kebaikan, termasuk dalam berjama'ah? Lalu dari mana kita mengambil dalil untuk berjama'ah di masa sekarang jika tidak dari generasi terbaik (generasi sahabat)? 


Mereka yang tidak istiqomah dalam kebersamaan di jalan dakwah telah tersingkap motifnya seperti yang dijelaskan Allah dalam surah al Kahfi ayat 28, yaitu karena menghendaki dunia. 


"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) MENGHARAPKAN PERHIASAN DUNIA ini; dan JANGANLAH kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."


Mereka dapat mengemukakan 1001 alasan untuk menjelaskan kenapa keluar dari kebersamaan berjama'ah, tapi Allah Maha Tahu niat mereka sebenarnya, yakni cinta dunia.


Sungguh tak elok jika kita sudah diberi hidayah oleh Allah untuk bersama jama'ah dakwah kemudian keluar dan menyempal. Lalu bagaimana nanti kita mengenang perjalanan dakwah selama di dunia jika ada catatan menyempal?


Ketahuilah wahai saudaraku....perjalanan dakwah bukan hanya tentang masalah menang atau kalah, tapi juga sejauh mana konsistensi kita dengan memori perjalanan dakwah waktu dulu kita diberi hidayah untuk berjama'ah, yang tidak semua orang memperolehnya.


Memori di jalan dakwah itu tak bisa dilupakan dan diputus begitu saja. Memutus masa lalu, apalagi masa lalu di jalan dakwah, merupakan kesalahan yang besar. Beda jika dari awal memang tak ada memori kebersamaan di masa lalu. 


Maka bertahannya kita di dalam jamaah, bukan hanya karena tentang komitmen saja, tapi juga demi MENJAGA MEMORI INDAH di jalan dakwah yang akan kita perbincangkan kelak di surga... insya Allah. 


"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. al-Hijr: 47)


Sungguh...menyempal dari jama'ah bukanlah solusi yang bijak, malah menimbulkan masalah baru dan mengusik pertanyaan baru : Begitu rapuhkah janji kebersamaan yang selama ini telah membesarkan kita?


"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)" (Surat Al-Ahzab, Ayat 23).

CITA-CITA JIHAD

By. Satria Hadi Lubis

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :


مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ.


“Barangsiapa yang meninggal dunia dan belum berperang atau belum berniat untuk berperang, (maka) ia meninggal dalam cabang kemunafikan.


Hadits tersebut diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah dan dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya no. 2502. Dan hadits tersebut dishahihkn oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6548. 


Kandungan Hadits :

-Seorang muslim hrs berperang di jalan Allah minimal sekali seumur hidupnya, sehingga hilang dlm dirinya sifat takut dan pengecut thd musuh-musuh Allah.

-Jika kesempatan berperang belum tiba, seorang muslim hrs bercita2 untuk berperang di jalan Allah. Cara yg paling minimal adalah selalu berdoa tuk diberi kesempatan berperang jalan Allah. Selain itu, selalu menyiapkan jiwa dan raga kalau sewaktu2 datang panggilan jihad. Siapkan fisik dgn rajin olahraga dan minimal punya satu keterampilan bela diri.

-Hadits ini juga menjelaskan kpd kita bhw Islam tidak hanya berdiri di atas kelembutan, tapi juga keberanian dan kekuatan. Jangan terpengaruh dgn pendapat sebagian orang yg melulu memandang Islam dari sisi kasih sayang tapi melupakan kekuatannya jika diganggu. 

-Hadits ini juga menumbuhkan kepedulian kpd saudara2 kita yg sedang berperang di jalan Allah. Membangkitkan rasa "iri" kpd mereka krn mereka telah membuktikan bkn termasuk golongan orang munafiq.

-Hadits ini juga menjadi peringatan bagi mereka yg cinta dunia dan harta benda bhw mereka tdk akan pernah punya cita-cita berperang di jalan Allah. Sebab kecintaan kpd harta membuat ketakutan kpd jihad.

-Bagi mereka yg sudah bersungguh2 ingin berperang di jalan Allah tapi ternyata tdk juga memperoleh panggilan jihad (sebab jihad hrs dgn perintah imam) maka nilai kematian mereka di tempat tidur sama dgn nilai jihad di jalan Allah sebagaimana hadits : Daripada Abu Tsabit, ada yang mengatakan, Abu Said, dan ada pula yang mengatakan : Abu al-Walid, Sahal ibn Hunaif, iaitu seorang sahabat yang pernah menyertai Perang Badar (r.a), bahawa Nabi s.a.w bersabda: “Sesiapa memohon kepada Allah Ta’ala kematian secara syahid dengan benar dan jujur, maka dia disampaikannya kepada kedudukan para syuhada’, meskipun dia meninggal dunia di atas katil tidurnya.” (HR. Muslim).

-Sifat munafiq disini maksudnya adalah munafiq asghar (kecil). Namun Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati, demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam). Dan orang yg munafiq tulen ancamannya adalah tinggal di neraka paling bawah (QS. 4 : 145).

ENGKAU SELINGKUH

 


By. Satria hadi lubis


"Engkau selingkuh! Sudah pasti engkau selingkuh!" kata sang istri gusar dan menahan tangis. Sang suami diam saja. Sudah berulangkali ia dituduh selingkuh dan sudah berungkali dijelaskan bahwa ia tidak selingkuh. Tapi istrinya tidak percaya dan tetap menuduhnya berselingkuh.


Ini berawal dari kejadian sepuluh tahun yang lalu. Sang suami chatting dengan bercanda dan terselip kata-kata mesra kepada   teman SMA-nya. Istrinya ternyata tahu. Semenjak itu istrinya sering menuduhnya berselingkuh. Ia tak lagi percaya dengan kesetiaan suaminya. Walau suaminya sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.


Sikap sang istri menjadi berubah. Lebih dingin dan ketus. Ia merasa cintanya telah dikhianati suaminya. Ia juga kerap curiga jika suaminya pulang lebih malam dari biasanya. "Dari mana saja kamu?" Tanyanya dengan nada curiga dan menyelidik. 


Setiap ada kesempatan ia akan memeriksa hp suaminya, sehingga suaminya merasa tidak nyaman dan akhirnya memasang password di hapenya. Kecurigaan sang istri makin bertambah.


Sampai puncaknya, sang istri menggugat cerai karena  ia mendapat pesan di hapenya, pengaduan dari seorang suami yg istrinya dicurigai berselingkuh dgn suami sang istri. 


"Sudah jelas engkau berselingkuh! Ini ada pengaduan dari seorang suami yang istrinya engkau selingkuhi!" Kata istrinya dengan marah. "Aku tidak selingkuh dengan dia," jawab suaminya sabar. "Mungkin itu seorang suami yang marah karena aku menyarankan pada istri tsb untuk bercerai saja karena suaminya sering memukul dia" lanjut suaminya. Namun kekecewaan dan kemarahan sang istri sudah sampai batasnya. Ia tak lagi mendengarkan penjelasan  suaminya karena baginya kecurigaannya sejak lama sudah terbukti bahwa suaminya memang suka berselingkuh.


Perceraian pun terjadi. Tiga orang anak mereka yang masih kecil-kecil ikut sang  istri. Dua tahun setelah bercerai, sang istri menikah lagi. Sang istri hidup bahagia dengan suami barunya dan dikarunia satu anak lagi yang lucu dan pintar.


Lalu bagaimana kabar suaminya? Ia tidak bisa lagi menghubungi ketiga anaknya karena hapenya diblokir. Mereka hidup terpisah satu sama lain tanpa kabar. Waktu berlalu.


Suatu ketika, sang istri yang sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya dan sekarang sudah mempunyai cucu mendapat kabar dari seorang pengacara bahwa mantan suaminya telah meninggal. 


Ia kaget karena sudah lama memang tidak pernah mendengar kabar tentang mantan suaminya tersebut. Kenangan lamanya muncul. Apakah mantan suaminya sudah menikah lagi? Sudah punya anak berapa sekarang dan apakah sudah memiliki cucu seperti dirinya? 


Dengan rasa ingin tahu yang besar, ia datang ke rumah duka suaminya. Dan mendapat fakta disana bahwa mantan suaminya masih hidup sendiri di rumahnya yang megah.


Pengacara suaminya memberikan setumpuk surat serta surat wasiat yg dilampiri berbagai dokumen pengalihan harta warisan kepada sang istri.


Surat-surat tersebut ternyata berisi curahan hati sang suami dan kerinduan dia terhadap mantan istri dan anak-anaknya. Termasuk alasannya kenapa tidak menikah lagi. Ia tak tertarik mendekati wanita lain. Cintanya memang hanya untuk mantan istrinya. Ia menyibukkan diri dengan bekerja dan memperbanyak ibadah hari demi hari. Kadang ia menangis  menyesali nasibnya. Sudah berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya, tapi ternyata sang istri termakan api cemburu dan suka berburuk sangka bahwa ia selingkuh


Sang istri menangis merasakan kerinduan mantan suaminya yang dipendamnya dalam waktu yang lama. Ia menyesal mengapa dulu mudah sekali menuduh suaminya berselingkuh. 


Berburuk sangka ternyata jahat dan memakan korban puluhan tahun.

ISLAM RADIKAL?



By. Satria hadi lubis


Entah sejak kapan istilah radikal dan radikalisme berubah menjadi negatif. Radikal diidentikkan dengan menghalalkan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedang radikalisme adalah pahamnya. 


Padahal menurut asal mulanya, radikal tak ada hubungannya dengan agama. Apalagi agama Islam. Menurut Wikipedia, radikal atau radikalisme berasal dari bahasa Latin, radix yang artinya "akar". Istilah ini pertama kali digunakan pada akhir abad ke-18 oleh pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan ini dimulai di Britania Raya untuk meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Jadi tidak ada hubungannya dengan mengambil jalan kekerasan di luar sistem demokrasi.


Jika istilah radikal mau disandingkan dengan Islam malah kacau pengertiannya. Bisa berarti Islam yang kembali ke akar aslinya (jadi pengertiannya malah positif, karena istiqomah). 


Jika yang dimaksud adalah penganut Islam yang menghalalkan cara-cara kekerasan, maka sebut saja orang atau oknum yang berpaham teror (terorisme). Jadi sebenarnya tak ada hubungannya antara istilah radikal/radikalisme dengan teroris/terorisme.


Namun entah mengapa saat ini berkembang pemahaman bahwa radikal adalah cikal bakal munculnya tindakan teroris. Lebih parah lagi tuduhan radikalisme seringkali ditujukan secara subyektif kepada orang Islam saja. Padahal jika radikal berarti paham kekerasan bukankah non muslim juga bisa bertindak radikal?


Saya lebih setuju jika istilah radikal tak lagi digunakan. Sebab definisinya rancu dan bias. Gunakan saja istilah teror atau terorisme (paham yang menghalalkan tindakan teror). 


Jangan-jangan penggunaan istilah radikal adalah cara orang yang tidak suka dengan kebangkitan Islam yang kini marak dimana-mana. Sebagai agama yang paling pesat pertumbuhannya di dunia, wajar jika ada yang takut dan membenci Islam dan umat Islam. "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (Al Baqaroh ayat 217).


Istilah radikal yang rancu tersebut mungkin sengaja dibuat untuk menakut-nakuti kaum muslimin agar tidak beragama dengan kaffah dan istiqomah. Minder menjadi muslim yang sebenarnya.


Istilah Islam radikal juga untuk  menakut-nakuti kaum muslimin agar menjauhi pengajian-pengajian (ta'lim dan liqo'). Sebab ada tendensi untuk mencurigai orang yang rajin ngaji sebagai cikal bakal orang berpaham radikal. Padahal orang yang rajin ngaji justru menjadi agen of change perbaikan masyarakat Indonesia. 


Justru mereka yang jauh dari pengajian yang rentan bermaksiat, korupsi dan hedon terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. Sebab mereka tidak rutin mengasah iman dan mempelajari ilmu kebenaran yang didapat melalui pengajian-pengajian.


Wallahu'alam.

WISATA SELAMANYA

 


By. Satria hadi lubis 


SEMESTINYA libur panjang akhir Oktober 2020 ini saya dan istri sekeluarga berwisata sekaligus safari dakwah, seperti kebiasaan kami setiap tahun. Namun takdir berkata lain, istri menjadi korban hoax dan sampai sekarang masih ditahan di Mabes Polri.


Wisata biasanya identik dengan jalan-jalan dan bersenang-senang. Namun wisata (rihlah) di dalam Islam bukan hanya sekedar senang-senang, tapi juga perlu ada sarana tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah, ajang silaturahim dan sekaligus berjihad di jalan Allah.


Khusus wisata sebagai jihad ini dinyatakan sendiri oleh Baginda Rasulullah saw dalam sebuah hadits, "Dari Abu Umamah ra bahwa ada seorang pria berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk wisata!” Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya wisata umatku adalah berjihad fi sabilillah”  (Hadis sahih - diriwayatkan oleh Abu Daud).


Maksudnya adalah jika engkau melakukan perjalanan wisata, maka hendaklah engkau berjihad di jalan Allah, karena inilah perjalanan wisata umatku; karena di dalamnya ada usaha untuk menyebarkan agama Allah (dakwah) dan mengukuhkan prinsip serta kaidah-kaidahnya yang agung. 


Jadi kedudukan wisata di dalam Islam tak boleh sekedar bersenang-senang saja, namun ada maksud mulia di dalamnya. Itulah sebabnya istri saya selalu berinisiatif menggabungkan acara jalan-jalan pada libur panjang dengan safari dakwah ke berbagai kota.


Dalam konteks yang lebih luas, hidup seorang mukmin sejatinya memang berpindah dari satu wisata ke wisata lain. Hidupnya selalu asyik dan asyik. Selalu dalam keadaan bahagia dimanapun ia berada. Tak peduli di balik penjara atau di luar penjara sekalipun. Seperti yang dikatakan Nabi Yusuf as, “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Qs. 12 ayat 33-34). Nabi Yusuf as mencontohkan bahwa kita bisa bahagia di manapun, termasuk di balik penjara.


Rasulullah saw juga kagum kepada orang-orang yang beriman yang selalu berada dalam kebaikan dan kebahagiaan, "Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim).


Saya berdoa semoga istri saya, Ustadzah Kingkin Anida, tetap bahagia walau di penjara, dalam kesabarannya. Dan saya berdoa kepada semua orang-orang yang beriman agar selalu bahagia dalam berbagai kondisi. Sebab kalau tidak bahagia, buat apa kita punya Allah??


Saya pernah membaca sebuah buku yang saya lupa judulnya. Disitu ada seorang ulama mengatakan, "Jangan mimpi bisa masuk surga jika engkau belum merasa hidup di dunia ini bagai di surga (bahagia). Sebab hanya orang-orang yang di dunianya berkarakter penghuni surga saja yang bisa betah berada di dalam surga kelak. Orang yang selalu merasa susah (tidak bahagia) dan suka konflik akan sulit menyesuaikan diri dengan kondisi surga yang damai di akhirat nanti. Ia tak akan betah berada di surga. Makanya menjadi bagian dari keadilan Allah swt jika orang yang tidak berkarakter surga ditempatkan di neraka. Sebab dirimu yang sekarang juga adalah dirimu di hari kiamat kelak!"


Hidup orang beriman adalah wisata (bahagia) selamanya. Wisata dengan jihad dan dakwah di dunia. Wisata dengan kesenangan tanpa batas di akhirat kelak.


"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), "Salam, "sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang" (Qs. 36 ayat 55-58).