Selasa, 03 Januari 2023

PERJALANAN KE SEMERU



By. Satria hadi lubis 


MUNGKIN banyak yang tidak tahu, salah satu hobi saya adalah menyetir mobil. Pernah seorang biker ditanya apa sih asyiknya hobi motor, ia menjawab "Yaa...asyiknya itu ketika mengendarai motor, terutama ketika touring ke luar kota". Jika biker merasa asyik mengendarai motor besarnya, saya merasa asyik ketika menyetir mobil.


Hobi menyetir mobil itu saya salurkan dengan sering keluar kota, terutama jika ada panggilan dakwah di pulau Jawa, Bali dan sebagian Sumatera. Biasanya saya datang ke tempat-tempat dakwah tersebut dengan mengendarai mobil, sambil ditemani istri dan/atau anak.


Alhamdulillah...sambil nyetir mobil, saya bisa banyak berzikir dan berdoa. Ada momen dalam safar untuk memperbanyak doa. Rasulullah saw bersabda :  "Tiga waktu dikabulkannya doa yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang terzalimi, doa orang dalam perjalanan (musafir), dan doa orang tua pada anaknya” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862).


Bagi saya boleh saja seseorang mempunyai hobi, tapi kalau bisa hobi tersebut dijalani dengan menyertakan dakwah, ibadah dan zikir, sehingga dari hobi tersebut kita juga mendapat pahala, keberkahan dan kesenangan. Jadi jangan hanya mengejar kesenangan saja, tapi tidak menghubungkannya dengan Allah dan kemanfaatannya bagi orang lain.


Saat ini pun, saya sedang menyalurkan hobi saya dalam perjalanan ke Lumajang-Semeru untuk menemani istri, Ustadzah Kingkin Anida, menyerahkan sedikit sumbangan yang dikumpulkan istri dari berbagai donatur bagi penyintas erupsi Gunung Semeru.


Doakan ya teman-teman semoga perjalanannya lancar dan selamat. 


Bagi sahabat FB yang mau ikutan jadi donatur program BERBAGI UNTUK SEMERU dapat melalui Rekening Bank Muamalat no rek : 3030052503 

An. Sumiati. Konfirmasi Donasi ke 0819 0711 8623 (Sumi) atau 0812 8046 5150 (Anna).


Mari bersama membantu penyintas Semeru, hadirkan bahagia penuh cinta...🥰


Salam hangat, 

Satria Hadi Lubis-Kingkin Anida 

MEMPERBANYAK MEMBACA AL QUR'AN ATAU MEMPERBANYAK DOA?

 


By. Satria hadi lubis


Ada sebuah hadits yang menunjukkan bahwa orang yang sibuk membaca al Qur'an lebih baik daripada sibuk berdoa. Bahkan akan mendapatkan lebih baik dari apa yang ia minta.


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : "Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur'an dan dzikir kepada- Ku sehingga lupa meminta (sesuatu) dari-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta. Dan perumpamaan Kalam Allah (al Qur'an) dibandingkan semua kalam adalah seperti keutamaan Allah dibandingkan semua makhluk-Nya" (HR. Tirmidzi). 


Hadits ini termasuk bagian dari hadits-hadits yang memotivasi kita untuk BANYAK membaca (tilawah) al Qur'an.


Memang dalam membaca al Quran rumusnya adalah SEBANYAK-BANYAKNYA membaca al Qur'an, baik mengerti atau tidak mengerti apa yang dibaca. Lancar atau terbata-bata. "Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, maka dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur'an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala” (Al Bukhari 4937, Muslim 244).


Itulah yang dicontohkan oleh  para sahabat dan ulama ketika mereka membaca al Qur'an. Contohnya, Al Aswad bin Yazid, seorang ulama tabi'in, biasa mengkhatamkan al Quran setiap enam hari sekali. Qatadah bin Da'amah setiap tujuh malam sekali. Ibu Asakir setiap tujuh malam sekali. Sedang Imam Syafi'i biasa mengkhatamkan al Quran 30x dalam sebulan. Masya Allah...


Jangan ada dalih, "Ngapain banyak-banyak membaca al Quran kalau tidak mengerti dan menghayati artinya. Mendingan sedikit baca al Qur'an tapi mengerti"


Aktivitas untuk mengerti dan menghayati bacaan al Quran adalah aktivitas lain yang disebut Tadabbur al Quran. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (tadabbur) al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS:Muhammad:24). “Apakah mereka tidak memperhatikan (tadabbur) al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah,tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS:an-Nisa:82).


Jadi selain aktivitas tilawah, seorang muslim juga harus melakukan aktivitas tadabbur al Qur'an. Bahkan ada aktivitas yang lain, yakni menghapal al Qur'an (tahfidz), mengamalkannya (tatbiq) dan mengajarkan al Qur'an (ta'lim).


Namun, BUKAN berarti berdoa itu tidak penting. Sebab Allah swt berfirman, "Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): 'Tuhanku tidak menghiraukan kamu andai bukan karena doa-doamu.” (QS.Al-Furqon:77). 


Jadi berdoalah secukupnya, lalu perbanyaklah membaca al Qur'an sebagaimana firman-Nya : "Wahai orang- orang yang beriman berzikirlah kamu semuanya dengan sebanyak-banyak zikir” (QS. Al Ahzab (33) : 41). Dan sebaik-baiknya zikir adalah membaca al Qur'an.


Janganlah kita puas dengan bisa berdoa saja, tapi jarang membaca al Quran. Sediakan waktu dan tingkatkan keterampilan untuk bisa memperbanyak membaca al Qur'an. 


َ“Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Al Quran ini dan merendahkan juga karenanya (Al Quran)” (HR. Muslim).


“Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).


“Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari Al Qur’an laksana sebuah rumah yang runtuh.”

(Riwayat Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)


Wallahu'alam.

UJIAN SEBAGAI WUJUD CINTA ALLAH


Pada hakikatnya ujian mencerminkan kasih sayang dan keadilan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Allah SWT "tidak rela" menimpakan azab yang tidak terperi sakitnya di akhirat kelak, hingga Ia menggantinya dengan azab dunia yang "sangat ringan dan sedikit" berupa ujian kehidupan. 


"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan SEDIKIT ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Qs. 2 ayat 155).


Hebatnya, semakin Allah cinta pada seseorang, maka ujian yang diberikan kepadanya juga semakin berat. Karena ujian tersebut akan semakin menaikkan derajat dan kemuliaannya di hadapan Allah, serta menggugurkan dosa-dosanya. 


Orang yang paling dicintai Allah adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang yang paling berat menerima ujian semasa hidupnya. Rasulullah saw bersabda : “(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)


Ujian para nabi sangat berat melebihi ujian yang diberikan kepada manusia lainnya. Contohnya Nabi Ayub AS. Allah SWT mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit yang sangat berat selama berpuluh-puluh tahun, tapi ia tetap sabar.


Setelah para Nabi dan Rasul, orang yang ujiannya sangat berat adalah para shalihin dan para ulama (da'i). Demikianlah secara berurutan, hingga Allah SWT menimpakan ujian yang ringan kepada orang-orang yang awam. Yang pasti, setelah seseorang mengikrarkan dirinya beriman, maka Allah akan menyiapkan ujian baginya untuk mengangkat derajatnya atau untuk memberi peringatan kepadanya.


Dalam Al Qur'an tertulis janji Allah, ''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta'' (QS Al Ankabut: 2-3).


"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari Kiamat'' (HR Imam Ahmad, At Turmidzi, Hakim, Ath Thabrani, dan Baihaqi).


Suatu ketika seorang laki-laki bertemu dengan seorang wanita yang disangkanya pelacur. Dengan usil, lelaki itu menggoda si wanita sampai-sampai tangannya menyentuh tubuhnya. Atas perlakuan itu, si wanita pun marah. Lantaran terkejut, lelaki itu menoleh ke belakang, hingga mukanya terbentur tembok dan ia pun terluka. Pascakejadian, lelaki usil itu pergi menemui Rasulullah dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya. Rasulullah SAW berkomentar, ''Engkau seorang yang masih dikehendaki oleh Allah menjadi orsng baik''. Setelah itu, Rasul mengucapkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mughaffal.


Dalam riwayat At Turmidzi, hadis itu disempurnakan dengan lafadz sebagai berikut, ''Dan sesungguhnya Allah, jika Dia mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Jika mereka ridha, maka Allah ridha kepadanya. Jika mereka benci, Allah membencinya''. Kecintaan Allah kepada suatu kaum di dunia tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pemberian materi atau kenikmatan lainnya. Kecintaan Allah bisa berbentuk musibah.


Jadi, musibah yang ditimpakan Allah kepada manusia dapat dilihat dari tiga perspektif : 


Yang pertama, sebagai ujian dari Allah untuk memuliakan derajatnya dan menggugurkan dosa-dosanya. "Tidaklah menimpa seorang mukmin sebuah musibah, duri atau musibah yang lebih besar dari itu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya” (HR. Al-Bukhary dan Muslim, dan lafadznya milik Imam Muslim).


Kedua, sebagai tadzkirah atau peringatan dari Allah kepada manusia yang lalai agar ia kembali kepada Allah yang mencintainya. “Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti" (Qs. 17 ayat 59).


Ketiga, sebagai azab (hukuman) bagi orang-orang fasiqin, munafiqin, ataupun kafirin. Kalau ia menemui kematian dalam musibah tersebut, maka ia mati dalam keadaan tidak diridhai Allah. "Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan" (Qs. 29 ayat 40).


Semoga Allah menjadikan kita sabar terhadap berbagai ujian kehidupan dan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana mengangkat derajat kita di hadapan Allah SWT.


By. Satria hadi lubis

AKHIR MENGERIKAN

 


By. Satria Hadilubis


Saya termenung Lama membaca quote Seno Gumira Ajidarma di bawah ini. 


Renungan yang juga saya aLami puLuhan tahun LaLu, yang sampai sekarang juga masih saya perjuangkan untuk tidak bernasib mengerikan seperti yang disebutkan Seno : "hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa".


Memang mengerikan bekerja habis-habisan seakan terjebak dengan rutinitas dan akhirnya benar-benar habis di masa tua. PerLu daya dobrak dan mentaL revoLusioner untuk meLawan "takdir" seperti yang diramaLkan sang seniman itu.


Ada beberapa haL yang perLu diLakukan agar tak bernasib maLang seperti yang dikatakan Seno daLam quotenya :


1. MiLiki tujuan hidup yang terukur dan sesuai dengan passion (bakat). Jika bakat beLum tahu, jaLani saja apa yang kita sukai asaLkan tidak bertentangan dengan agama dan norma. 


2. Komitmen dengan pencapaian tujuan hidup dan jangan tergoda untuk mengubah-ubah tujuan hidup hanya karena ada peLuang yang menggiurkan.


3. MiLiki misi hidup yang seimbang antara peran-peran hidup, sebagai pekerja, keLuarga, warga masyarakat, dan Lain-Lain. Jangan sampai keberhasiLan daLam peran tertentu membuat peran kita yang lain gagaL. SeimbangLah.


4. MiLiki waktu untuk mengasah inteLektuaL, emosionaL, sprituaL dan fisik kita. Jangan dengan bertambahnya usia tapi kuaLitas hidup kita daLam 4 dimensi tersebut tidak meningkat.


5. Jangan sibuk mencari uang tapi sibukLah mendekati Sang Pemberi Uang (الله swt), dengan sebisa mungkin meLaksanakan segaLa perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya. Nanti uang akan datang dengan sendirinya, bahkan dari arah yang tak disangka-sangka.


7. Jangan kebeLet ingin kaya dengan cara busuk yakni korupsi atau mencari uang haram. Lebih baik hidup berkecukupan daripada kaya tapi keLak menjadi santapan api neraka.


8. MiLiki kecerdasan finansiaL, yakni kecerdasan untuk bisa mencari rezeki dengan kreatif dan hidup hemat minimaLis serta rajin menabung.


Insya ALLah dengan menjaLankan haL-haL di atas kita bisa pensiun dengan kekayaan yang cukup dan tabungan pahaLa yang banyak, sehingga tidak menyesaL hidup berLama-Lama di dunia.

Senin, 02 Januari 2023

KACAMATA KUDA

 By. Satria Hadi Lubis

Jika engkau ingin bertahan dari celaan orang-orang yang suka mencela, pakai kacamata kuda.


Jika engkau ingin mencapai rencana hidupmu dan tak tergiur untuk melenceng, pakai kacamata kuda.


Jika engkau ingin lurus pada jalan yang benar dan bertahan dari pencitraan duniawi, pakai kacamata kuda.


Jika engkau ingin setia dengan pernikahan dan persahabatan, pakai kacamata kuda.


Jika engkau ingin berprestasi di tengah-tengah ejekan dari orang yang ingin engkau biasa saja, pakai kacamata kuda.


Jika engkau ingin tekun dalam ibadah dan dakwah tanpa kenal lelah dan takut, pakai kacamata kuda.


Jika engkau ingin merasakan manisnya iman dan lezatnya zikir serta tidak terlena dengan narasi kemaksiatan, pakai kacamata kuda.


Seperti kuda yang memakai kacamata untuk kuda, sehingga matanya fokus ke depan. Tetap tenang dan mantap melangkah di tengah hiruk pikuk dan bunyi klakson kendaraan. Begitulah kita, jika ingin tidak tergoda dan tetap di jalan yang lurus. 


Pakai kacamata kuda

GODAAN LELAKI DAN PEREMPUAN

 By. satria Hadi Lubis  


Lelaki tergoda dengan kecantikan perempuan. 

Perempuan tergoda dengan kekayaan lelaki.


Lelaki tergoda ingin menguasai  banyak perempuan. 

Perempuan tergoda ingin menguasai satu lelaki.


Lelaki tergoda dengan seks dan permainan.

Perempuan tergoda dengan cinta dan rayuan gombal.


Lelaki tergoda untuk mengecilkan masalah apa saja.

Perempuan tergoda untuk membesarkan masalah apa saja.


Lelaki tergoda untuk tidak berperasaan.

Perempuan tergoda untuk tidak berlogika.


Lelaki tergoda untuk memperhatikan hal-hal yang umum saja. 

Perempuan tergoda untuk  memperhatikan hal-hal yang kecil saja.   


Lelaki tergoda untuk melirik perempuan lain.

Perempuan tergoda untuk melirik barang lain.


Lelaki tergoda menghabiskan waktunya mencari uang.

Perempuan tergoda menghabiskan waktunya membelanjakan uang.


Lelaki tergoda untuk mudah marah dan main tangan.

Perempuan tergoda untuk mudah sedih dan main hati.


Godaan-godaan tersebut perlu dilawan dan dikendalikan, jika lelaki dan perempuan ingin bahagia.

TIGA CIRI ANAK YANG SHOLIH

 TIGA CIRI ANAK YANG SHOLIH


By. Satria Hadi Lubis


Di akhir tahun ini, mari kita mengevaluasi sampai sejauh mana kita telah menjalankan amanah sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak yang sholih. 


Paling tidak ada tiga ciri anak yang sholih : 


Pertama, mendoakan orang tua. 

Anak yang sholih pasti selalu mendoakan orang tuanya. Sedang anak yang mendoakan orang tuanya belum tentu anak yang sholih, karena ia mendoakan orang tuanya hanya pada momen tertentu saja, misalnya ketika ortunya sakit atau meninggal. Tapi anak yang sholih akan selalu mendoakan orang tuanya tanpa putus, baik ketika orang tuanya masih hidup maupun sudah meninggal lama.


Harapan tertinggi orang tua kepada anaknya bukanlah agar anaknya itu menjadi orang sukses atau membalas budi di masa tuanya ketika sudah sepuh, tapi mendoakan orang tuanya terus menerus agar selamat dunia dan akhirat.


Rasulullah saw bersabda, "

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).


Orang tua akan meninggal tapi pahala akan terus mengalir kepada orang tua kita jika kita selalu mendoakan mereka. Inilah harapan tertinggi setiap orang tua kepada anak-anaknya.


Kedua, bermanfaat bagi orang lain. 

Ciri kedua anak yang sholih adalah bermanfaat bagi orang lain. Ini sesuai dgn hadits Nabi saw, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yg memberikan manfaat bagi orang lain".


Seorang anak yang sholih akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, terutama di lingkungan terdekatnya; keluarga, teman-teman dan tetangganya. 


Cara yang paling efektif memberikan manfaat bagi orang lain adalah menjadi pemimpin di lingkungannya, sehingga mempengaruhi lingkungan dengan kebaikan.


Itulah sebabnya Allah swt memerintahkan kita berdoa agar keluarga kita menjadi keluarga pemimpin sebagai salah satu tujuan pembentukan keluarga Islam :


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا


"Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al-Furqan, Ayat 74).


Ketiga, teguh beriman sampai mati. 

Ciri anak sholih yang ketiga adalah anak yang teguh beriman sampai mati. Ini seperti kisah pemuda Ashabul Kahfi yang teguh menjaga imannya dari kemurtadan walau harus uzlah ke dalam goa selama 300 tahun lebih (lihat kisahnya di surat al Kahfi).


Juga sesuai dengan pesan taqwa yg selalu diulang-ulang oleh khotib Jum'at, 

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS.Ali Imran:102).


Anak yang sholih selalu menjaga estafeta keislaman dari nenek moyangnya yang muslim sejak dulu. Tidak akan terpengaruh oleh godaan kemurtadan. Tidak akan menikah dengan orang yang beda agama karena haram hukumnya dan dosa besar. Anak yang sholih akan berusaha menjaga agar keluarga besarnya tetap muslim sampai cucu cicit, sehingga kelak mereka bisa berkumpul bersama di surga. Bukan keluarga pelangi yang anak dan bapak ibunya beda agama. Bahkan bangga dengan kepelangian keluarganya, bukannya malah sedih. 


“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23).


Anak yang sholih akan berusaha menjadi generasi da'iyah seperti orang tuanya yang juga menjadi da'iyah. Menjadi anak yang suka dengan ta'lim (belajar agama) sebagaimana orang tuanya yang suka dengan ta'lim atau liqo'. Bukan sebaliknya menjadi the lost generation (generasi yang hilang, tersesat). Orang tuanya menjadi da'i tapi anaknya jauh dari dakwah dan Islam, sehingga terputuslah regenerasi dakwah. Seperti yang digambarkan Allah :


فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا

"Kemudian datanglah setelah mereka (generasi) pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan tersesat" (QS. Maryam : 59).


Itulah tiga ciri anak yang sholih yang perlu kita perjuangkan di dalam pendidikan anak-anak kita. Semoga tahun-tahun mendatang kita tetap semangat dan sabar mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholih-sholihah.