Selasa, 21 Maret 2023

PAMER HARTA

By. Satria hadi lubis

KASUS pamer harta yang dilakukan oleh seorang anak pejabat pajak menyita perhatian kita semua. Kalau kita telusuri memang banyak sekali akun media sosial yang isinya orang memamerkan harta. Entah itu dilakukan oleh yang bersangkutan, istrinya atau anak-anaknya.
Dalam Islam sendiri jelas hukumnya bahwa memamerkan harta hukumnya haram, karena termasuk perbuatan riya.
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Qs. Luqman ayat 18).
Secara sosial, pamer harta juga menimbulkan kecemburuan sosial. Menunjukkan orang tersebut kurang peduli dan tidak empati terhadap kebanyakan orang yang hidupnya masih pas-pasan, bahkan fakir.
Bukan berarti seorang muslim tidak boleh kaya, bahkan kekayaan adalah barokah bila didapatkan dan disalurkan secara halal. Namun kekayaan seorang muslim mestinya disumbangkan untuk perjuangan dakwah dan kebaikan lainnya, bukan untuk dipamerkan.
Jadi kaya boleh, tapi bermewahan tidak boleh. Sebab mewah berarti membeli sesuatu sesuai keinginan syahwat dan biasanya untuk pamer, bukan untuk memenuhi kebutuhan.
Jika ada yang bertanya apa ukuran bermewahan? Jawabannya tergantung lingkungan. Di Arab Saudi misalnya, rata-rata mobil penduduknya adalah sekelas Alphard atau BMW karena pendapatan per kapitanya disana tinggi. Tapi di Indonesia, punya Alphard atau BMW sudah termasuk kemewahan karena pendapatan per kapita penduduk Indonesia masih rendah.
Namun sebaik-baiknya muslim terkait dengan pengelolaan kekayaan adalah mencontoh kepada Baginda Nabi Besar Muhammad saw. Beliau jika punya harta berlebih langsung disedekahkan, sehingga beliau terbiasa hidup sederhana. Rumah beliau sederhana, perabotan rumahnya sederhana, pakaiannya juga sederhana. Padahal beliau lebih mulia daripada raja dan presiden, tapi gaya hidupnya sederhana (zuhud). Bahkan beliau saw wafat dalam keadaan tidak meninggalkan harta warisan. Beliau saw memang memiliki kuda terbaik, pedang terbaik dan baju perang terbaik, tapi itu semuanya dalam rangka memenangkan jihad di jalan Allah SWT.
Oleh sebab itu, jika ada di antara muslim yang hidupnya suka pamer harta dan bermewahan seharusnya MALU kepada Rasulullah saw yang namanya ia sebut dalam sholatnya, serta syafa'atnya ia rindukan kelak di yaumul qiyamah.
Cukuplah surat di bawah ini sebagai peringatan tentang haramnya hidup mewah dan memamerkan harta.
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)" (Qs. At Takatsur ayat 1-8).

TAK CUKUP MENJADI ORANG BAIK, HARUS SHOLIH

 

By. Satria hadi lubis
SEKARANG ini banyak orang yang merasa cukup menjadi orang baik. Namun bagi seorang muslim, menjadi orang baik itu tidak cukup, tapi harus meningkat menjadi orang SHOLIH.
Syekh Thahir bin Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir menyebutkan, orang sholih adalah orang (beriman) yang menjaga istiqamah. Sedangkan Tafsir An-Nasafi menyebut orang sholih sebagai orang yang baik lahir dan batinnya.
Perbedaan orang baik dengan orang sholih itu terletak pada niat, cara dan tujuannya. Orang baik niatnya macam-macam, tapi orang sholih niatnya hanya satu, yakni mencari ridho Allah SWT. Orang baik melakukan kebaikannya dengan cara yang dipandang baik oleh lingkungannya, tapi orang sholih melakukan kebaikan dengan cara sesuai syariat Allah. Orang baik tujuannya bisa macam-macam, tapi orang sholih tujuannya hanya satu, yaitu untuk berdakwah (mengajak manusia) kepada Allah SWT.
Perbedaan selanjutnya, orang baik agama dan ideologinya bisa bermacam-macam, tapi orang sholih hanya orang yang beragama Islam saja (muslim). Orang baik tidak bisa masuk surga jika ia kafir, tapi orang sholih pasti masuk surga...insya Allah.
Aisyah Radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Ibnu Juz’an dahulu di masa jahiliyyah selalu menjaga hubungan silaturrahmi dan memberi makan fakir miskin. Apakah itu berguna baginya di akhirat?” Beliau menjawab: “Tidak akan berguna baginya. Karena ia (mati dalam keadaan kafir dan) tidak pernah mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku di Hari Pembalasan nanti” (HR. Imam Muslim dalam Shahih-nya 214).
Dalam prakteknya, ada orang yang citranya sholih, tapi diam-diam ia berbuat buruk atau jahat. Contohnya, seorang yang dikenal lingkungannya sebagai pak haji tapi sebenarnya ia koruptor. Atau orang yang dikenal ustadz tapi ternyata pedofil. Orang-orang "sholih" semacam inilah yang memperburuk citra Islam dan umatnya. "Al Islamu mahjubun bil muslimin (kecemerlangan Islam ditutupi oleh perilaku buruk umat Islam)" ujar Syeikh Muhamad Abduh.
Seorang muslim tak cukup dicitrakan sebagai orang baik saja, tapi ia perlu dikenal sebagai orang sholih, sehingga ia turut berdakwah di jalan Allah 'Ajja wa Jalla.
Semoga kita terus meningkatkan diri menjadi orang sholih dalam artian sebenarnya, dan akhirnya mendapatkan imbalan surga. Aamiin yaa robbal 'aalamin.

TEPO SELIRO

 

Tepo seliro (dalam bahasa Jawa) berarti menenggang perasaan orang lain. Sebuah sikap yang penting dalam pergaulan, berasal dari hati yang lembut dan merupakan bentuk kearifan lokal.
Tepo seliro membuat kita berpikir sebelum berkata. Agar kata-kata yang disampaikan punya efek positif. Konsekuensi selanjutnya, ada pada tindakan yang tertata.
Beberapa contoh sederhana tentang arti tepo seliro terhadap TETANGGA, antara lain :
1. Jika memelihara binatang peliharaan, dan kotorannya mencemari udara / tanah / rumput tetangga agar segera dibersihkan.
2. Membuang sampah tidak di bak sampah tetangga, agar tidak menggangu hak tetangga.
3. Tidak ngebut saat melintas di lingkungan sekitar.
4. Mengklakson mobil hanya jika perlu saja. Bahkan klakson jarang digunakan. Lebih baik berhenti dan menunggu saat ada warga yang melintas.
5. Berusaha untuk bertegur sapa, salam dan senyum saat berpapasan dengan tetangga, baik tua dan muda. Atau minimal memberi anggukan pada tetangga di lingkungan sebagai bentuk respek.
6. Ketika membangun atau merenovasi rumah, datang silaturahim dan permisi ke tetangga terdekat.
7. Mengkonstruksi ulang talang air / aliran kran air yang mengakibatkan kebocoran pada dinding tetangga. Sebaiknya diperhitungkan pula saat membangunnya.
8. Tidak parkir kendaraan 'sembarangan' di depan rumah tetangga tanpa ijinnya. Menghormati hak jalan dan hak ruang terbuka untuk tetangga.
9. Menyantuni anak-anak yatim di lingkungan tetangga dan memberdayakan tetangga yang tidak punya pekerjaan.
10. Berusaha menolong semampunya saat tetangga minta tolong.
11. Tidak membiarkan daun dan ranting tanaman menjulur ke rumah tetangga, sehingga mengotori halaman atau rumah tetangga.
12. Tidak menambah pagar atau bagian rumah tertentu, sehingga memakan jalan atau tanah umum yang bukan miliknya.
13. Jika ada makanan berlebih, utamakan tetangga untuk mendapatkan terlebih dahulu.
14. Jika ada kemungkaran atau kemaksiatan di lingkungan tetangga, gunakan aparat yang berwenang untuk menegurnya.
15. Banyak lagi yang lainnya.
Semoga kita bisa tepo seliro. Oke?
By. Satria hadi lubis

BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

 

Dalam hidup ini, pasti ada saja orang yang tidak suka dengan kita. Jika orang tersebut tak mengganggu, ada baiknya orang-orang semacam ini kita diamkan saja.
Namun kadang mereka cukup menyita pikiran dan hati kita karena berbuat sesuatu yang menyakitkan, baik dari segi ucapan maupun perbuatan.
Maka timbul hasrat hati yang begitu besar untuk membalas perbuatan mereka. Namun apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam?
Allah SWT berfirman: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yg sangat setia” (QS. Fushilat ayat 34).
Menurut ayat diatas, jika ada yang berbuat jahat terhadapmu, terlebih khusus lagi jika mereka adalah kerabatmu, sahabatmu, baik melalui lisan maupun perbuatan, maka balaslah mereka dengan kebaikan.
Jika mereka memutus silaturahim denganmu, maka sambunglah kembali silaturahim tersebut.
Jika mereka berbuat dzalim kepadamu, maka maafkanlah.
Jika lisan mereka mencaci, menghina dan menjelek-jelekanmu, pun maafkanlah! Balaslah dengan kata-kata lembut.
Jika mereka mendiamkanmu dan tidak mau berbicara denganmu maka balaslah dengan mengucap salam dan mulai menyapa dengan kata-kata baik.
Maka jika semua hal itu kamu lakukan, niscaya orang-orang yang selama ini membenci dan memusuhimu akan berbalik menyayangi dan menjadi teman setiamu.
Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak!
Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
Ingatlah bahwa hati manusia ada di dalam kekuasaan Allah SW. Dia berkuasa membolak-balikkan hati. Mengubah benci jadi cinta adalah urusan mudah bagi-Nya.
Mengapa utk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dgn baik oleh orang lain dulu?
Lepaskanlah segala amarah dan gengsi yang membelenggu, yang menahanmu utk memaafkan dan berbuat baik pada orang yang sudah mendzalimimu.
Semoga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang penuh dengan cinta terhadap sesama, bahkan pada mereka yang menyakiti kita.
By. Satria hadi lubis

MEMBUAT TARGET RAMADHAN 1444H

 By. Satria hadi lubis

Sudahkah Anda membuat target di bulan Ramadhan 1444H tahun ini yang sifatnya kuantitatif (terukur)? Misalnya, tarawih dalam sebulan berapa kali, sedekah berapa kali dengan jumlah nominal berapa, tilawah al Qur'an sehari berapa lembar, sholat Dhuha berapa kali, dan lain-lain.
Jangan sampai Ramadhan tahun ini berjalan tanpa makna, hanya diisi dengan kegiatan rutinitas duniawi tanpa ada tekad untuk uzlah memperbanyak ibadah.
Berikut ini ada beberapa "jenis" ibadah yang bisa dipertimbangkan untuk menjadi target harian di bulan Ramadhan :
1. Tahajjud
2. Sahur (afdholnya mendekati azan subuh)
3. Sholat sunnah Fajar sebelum Subuh dan sholat sunnah rawatib lainnya
4. Sholat fardhu berjama'ah di masjid
5. Zikir pagi (Al-Ma'tsurat)
6. Sholat Syuruq (hanya berlaku jika tetap di tempat sholat subuh sampai terbitnya matahari)
7. Tilawah al Qur'an
8. Sholat Dhuha
9. Mencari nafkah halal
10. Menghindari berbohong (meskipun bercanda), berkata ghibah, khurafat, kata-kata makian dan porno
11. Sedekah (dianjurkan sedekah sebelum buka puasa)
12. Silaturahim (minimal WA saudara/teman)
13. Mengajak kepada kebaikan (berdakwah) secara langsung atau via medsos, kepada keluarga atau orang lain
14. Istighfar sebanyak mungkin
15. Zikir sebanyak mungkin
16. Zikir sore (Al Ma'tsurat)
17. Do'a sebelum buka (waktu yang mustajab)
18. Berbuka puasa tanpa menunda (sunnahnya diawali dengan minum air putih dan makan kurma)
19. Sholat Tarawih
20. Mengikuti majelis ilmu secara online (pengajian/liqo')
21. I'tikaf (minimal semalam, jika memungkinkan)
22. Menghapal al Quran
23. Membaca dan/atau menghapal hadist
24. Membaca Terjemahan Al Quran (banyak muslim yang seumur hidupnya belum pernah membaca terjemahan al Quran sampai tamat)
25. Membaca buku agama
26. Berzakat
27. Dll
Pilih dari berbagai kegiatan di atas mana yang akan dijadikan target. Lalu dicatat di hape atau buat di kertas besar agar terlihat mencolok dan mudah diingat. Catat juga realisasinya. Lalu bandingkan apakah target Ramadhan tercapai atau tidak. Jika tercapai, insya Allah keluar dari bulan Ramadhan kita sudah menjadi manusia baru yang lebih bertaqwa dan lebih bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan kita.
Kemudian dari sisi kualitatif (kekhusyukan ibadah), maka sebaiknya kurangi berbagai gangguan yang dapat mengurangi kekhusyukan ibadah Ramadhan kita, seperti menyimpan televisi di gudang, membatasi pemakaian HP (kalau perlu keluar dari grup-grup WA yang kurang manfaatnya), mengurangi kegiatan sia-sia, jangan banyak tidur, dan lain-lain.
Semoga masukan diatas bermanfaat untuk menambah semangat ibadah kita di bulan Ramadhan.
Allahu Akbar!

BAGAIMANA KITA HIDUP BEGITULAH KITA AKAN MATI

 

Bagaimana cara hidup kita, demikianlah cara mati kita.
Orang yang selalu berbuat baik, insya Allah dia akan mati dalam kondisi berbuat baik.
Orang yang selalu berbuat jahat, dia pun akan mati dalam kondisi berbuat jahat.
Orang yang jarang ke masjid, jangan berharap meninggal dalam kondisi beribadah di masjid. Sebagaimana orang yang biasa mendatangi tempat maksiat, besar kemungkinannya ia akan mati di tempat maksiat.
Barangsiapa ingin mati dalam keadaan husnul khatimah, maka selalu lakukan amal-amal yang baik. Niscaya kapan pun maut datang, ia akan mati dalam husnul khatimah.
Sebaliknya, kematian yang su’ul khatimah, biasanya karena terbiasa melakukan perbuatan yang suu’ (buruk). Sebab kita tak pernah tahu ketika sedang bermaksiat, ternyata Malaikat Maut datang dan mencabut nyawa kita.
Allah berfirman : “(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Qs. Al-Mulk ayat 2).
By. Satria hadi lubis

LUPA KEPADA ALLAH


Lupa yang paling tragis adalah lupa kepada Allah.
Lupa yang paling memilukan adalah tak ingat Allah dalam kebanyakan waktu seseorang di dunia.
Lupa yang paling banyak meneteskan air mata adalah dilupakan Allah di hari kiamat.
Lupa yang paling membuat menyesal tapi sudah terlambat adalah tak bisa kembali ke dunia untuk mengingat Allah.
Ya Allah... jadikan kami orang-orang yang mengingatmu di setiap waktu kami, menjalankan ajaran-Mu selalu dan membela syariat-Mu di setiap langkah kami.
"Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari ini (akhirat) Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong" (Q.s. 45 ayat 34).
By. Satria hadi lubis