Senin, 05 Juni 2023

SEMAKIN BERTAMBAH USIA

 By. Satria hadi lubis

Semakin bertambah usia semakin lemah tangan menggenggam...karena Allah sedang mendidik kita agar melepaskan cinta dunia.
Semakin bertambah usia semakin kabur mata kita... karena Allah sedang mencerahkan mata hati untuk melihat akhirat.
Semakin bertambah usia semakin sensitif perasaan kita.... karena Allah sedang mengajarkan bahwa pautan hati dengan makhluk senantiasa menghampakan.. namun hati yang berpaut kepada Allah, tiada pernah mengecewakan.
Semakin bertambah usia semakin gugur gigi-gigi kita....karena Allah sedang mengingatkan bahwa suatu hari kita akan gugur ke dalam tanah selamanya.
Semakin bertambah usia semakin ditarik nikmat kekuatan tulang dan sendi kita....karena Allah sedang mengingatkan bahwa tak lama lagi nyawanya akan diambil.
Semakin bertambah usia semakin putih rambut kita....karena Allah sedang mengingatkan kain kafan putih yang akan kita kenakan.
Begitu pun hati kita...semakin bertambah usia semakin ingin sendirian...karena Allah sedang mendidik kita untuk bersiap sendirian sepi di alam kubur, dan hanya amal yang menemani.
*dalam rangka memperingati Hari Lansia Nasional, 29 Mei 2023

BERSABAR 30 MENIT SAJA

 By. Satria hadi lubis

TAHUKAH kamu bahwa waktu kita untuk mengumpulkan pahala bagi bekal di akhirat rata-rata hanya sepertiga dari usia kita?
Yuk kita hitung...
Jika rata-rata usia manusia Indonesia 60 tahun, maka waktu yang digunakan untuk tidur rata-rata 7-8 jam sehari (sepertiga hari). Dalam 60 tahun berarti sepertiga dari 60 tahun atau 20 tahun digunakan untuk tidur. Jadi sisanya untuk mengumpulkan pahala tinggal 40 tahun (karena jika pun tidur dapat pahala, tapi pahalanya tak banyak. Makanya Allah menyuruh kita selalu bergerak beramal, bukan banyak rebahan).
Lalu dikurangi waktu sebelum aqil baligh dimana kita belum mendapatkan pahala dan dosa. Jika aqil baligh rata-rata usia 15 tahun, maka 40 tahun dikurangi 15 tahun. Sisanya tinggal 25 tahun untuk mengumpulkan pahala.
Lalu dikurangi lagi dengan waktu yang sia-sia atau bahkan berbuat dosa. Jika setiap hari rata-rata kita membuang waktu 2 jam saja untuk hal yang sia-sia, bahkan dosa, berarti dalam 60 tahun (2×365×60) sama dengan 43.800 jam atau sama dengan 5 tahun. Sisa waktu 25 tahun dikurangi 5 tahun, sisa 20 tahun. Itupun jika waktu sia-sia hanya 2 jam sehari. Jika lebih, tentu waktu kita mengumpulkan pahala akan lebih berkurang lagi.
Kesimpulannya....
Hanya 20 tahun waktu kita untuk mengumpulkan pahala jika usia kita mencapai 60 tahun (jadi hanya SEPERTIGA DARI WAKTU HIDUP KITA).
Jika usia kita tidak sampai 60 tahun, maka lebih berkurang lagi waktu kita untuk mengumpulkan pahala.
Sungguh sangat sangat singkat waktu untuk beramal mengumpulkan pahala di dunia ini, yang akan menentukan nasib kita masuk surga atau masuk neraka.
"Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui" (Qs. 23 ayat 112-114).
Belum lagi jika dihitung menurut waktu hakekat. Di dalam surat al Hajj ayat 47 disebutkan bahwa 1 hari di sisi Allah sama dengan 1000 tahun dalam perhitungan manusia. Maka jika kita hidup sampai usia 60 tahun berarti hidup kita sebenarnya hanya kira-kira 1,5 jam saja dalam waktu hakekat di sisi Allah, sehingga waktu untuk mengumpulkan pahala agar bisa masuk surga hanya sepertiga dari 1,5 jam alias 30 MENIT SAJA.
Bayangkan!
Waktu 30 menit yang sangat singkat itu menentukan nasib kita selama-lamanya di akhirat yang abadi. Apakah masuk surga atau masuk neraka!
Jadi jika engkau berlelah-lelah mengumpulkan pahala dengan ibadah dan dakwah....
Jika engkau menahan diri dari maksiat...
Jika engkau tabah dalam kesulitan hidup...
Jika engkau bertahan dengan pasangan yang menyebalkan...
Jika engkau tidak berlaku zalim dan curang karena kekurangan harta...
Jika engkau sabar dengan rasa sakit hati akibat perlakuan orang-orang di sekelilingmu...sehingga semua kesabaran itu mendapatkan pahala, maka itu sebenarnya hanya 30 MENIT SAJA....
Mosok gak kuat bersabar hanya 30 menit saja untuk dapat pahala!
MAKA gunakanlah waktumu yang singkat itu sebaik-baiknya untuk mengumpulkan pahala....
atau kamu akan menyesal kelak.
DI DUNIA KAMU MEMILIH, DI AKHIRAT KAMU DIPILIH!

CINTA TANPA KATA MESRA

By. Satria hadi lubis

SETIAP kali ditanya, "Mbah uti kangen mbah kung ya?" Mbah uti selalu menjawab, "Nggak."
Di masa tuanya, mbah uti dan mbah kung kemana-mana selalu berdua. Setelah pensiun, mereka berdua kembali ke kampung untuk bertani singkong. Maklum keduanya orang desa yang punya kenangan bertani di masa kecilnya.
Setelah makin tua dan mulai sakit-sakitan, mereka kembali ke rumahnya di Jakarta. Sakitnya pun bergantian. Jika mbah kung sakit, mbah uti yang merawatnya, begitu pun sebaliknya.
Hubungan mbah kung dengan mbah uti agak unik. Selalu berdua, tetapi gak pernah saling berkata mesra satu sama lain. Malah yang tampak mereka sering "bertengkar". Kami, anak dan cucunya, suka tertawa kalau melihat mbah kung dan mbah uti saling ngotot satu sama lain untuk hal-hal yang sepele. Biasanya mbah kung yang mengalah dan mengakhiri "pertengkaran" tersebut dengan ketawanya yang khas. Mbah kung memang pribadi yang "ramai", banyak bicara, ramah dan suka tersenyum. Sebaliknya mbah uti lebih pendiam, perhatian dan suka menolong.
Tanggal 1 Januari 2021, mbah kung meninggal dunia di usia 82 tahun. Sepekan sebelum meninggal dunia beliau jatuh di mesjid ketika Sholat Jumat. Dari situ beliau kemudian stroke dan meninggal dengan mudah dalam kondisi tidur di hari jumat berikutnya.
Meninggalnya mbah kung membuat kami, anak cucunya, kehilangan pribadi ramah yang hobinya suka mengunjungi cucu-cucunya. Mbah kung suka bercanda dan menasehati cucu-cucunya dengan senyumnya yang khas.
Tapi yang paling kehilangan tentu mbah uti. Walau mbah uti tidak pernah terlihat sedih dengan meninggalnya mbah kung, apalagi sampai ngomong kangen, tapi bahasa tubuhnya berkata lain.
Perlahan tapi pasti kesehatan mbah uti semakin menurun. Beliau semakin sering sakit dan semakin pendiam. Beliau seperti memendam sesuatu yang susah diceritakan kepada kami, anak cucunya. Dugaan kami, mbah uti kehilangan tempat curhat yang khas, yaitu suasana curhat yang saling ngotot dan "bertengkar" dengan mbah kung. Suasana yang mewarnai "gaya" pernikahan mereka selama puluhan tahun.
Sebulan sebelum meninggal, mbah uti kehilangan selera makan. Tidak bisa lagi dibujuk untuk makan. Kalau dipaksa, beliau muntah. Sudah berbagai upaya dicoba, termasuk membawa beliau ke rumah sakit, namun tetap saja beliau gak bisa makan.
Kondisi kesehatan mbah uti semakin memburuk. Beliau tidak bisa lagi berjalan dan hanya tiduran di kasur. Sampai akhirnya, tanggal 4 September 2021 mbah uti pergi pada usia 75 tahun, menyusul mbah kung yang meninggal 8 bulan lebih dulu.
Mbah uti dan mbah kung adalah contoh pasangan kurang romantis tapi langgeng. Cinta mereka tidak dibalut dengan kata-kata mesra, tapi dibuktikan dengan tindakan, karena mendalam dan dibawa sampai mati.
Banyak sekali pasangan yang mengumbar kemesraan di medsos tapi tiba-tiba terdengar kabar mereka bercerai. Ternyata cinta sejati itu fondasinya bukan kata-kata mesra, tapi bersyukur dan mengerti kekurangan pasangan.
Kata-kata mesra dan romantisme hanyalah bumbu pemanis pernikahan, namun tanpa komitmen yang kuat dan kesabaran yang tinggi tak akan mungkin pernikahan bisa bertahan sampai maut memisahkan sepasang suami isteri.
Semoga mbah kung dan mbah uti tersenyum bersama di alam kubur. Menunggu untuk berkumpul bersama di surga kelak dalam cinta mereka yang abadi.

KEBERKAHAN WAKTU

Rasulullah saw menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. “Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yang membakar daun kurma” (HR. Ahmad-Tirmidzi).

Para ulama hadits seperti Qadhi ‘Iyadh, Al-Nawawi, Ibn Abi Jamrah dan lain-lain menafsirkan singkatnya waktu ini dengan hilangnya keberkahan. Mereka berkata, “Maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja.”
Apa yang dimaksud keberkahan? Secara bahasa, kata “berkah” (barakah) bermakna bertambah (al-ziyadah) dan berkembang (al-nama). Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan “kebaikan yang banyak."
Keberkahan yang paling penting adalah keberkahan di dalam waktu kita. Sebab kita diciptakan untuk sebuah tugas maha penting, dan waktu adalah modal yang paling utama agar dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Tanpa keberkahan dan manajemen waktu yang baik, seseorang tidak akan dapat menunaikan tugas itu dengan sempurna.
Oleh karena itu, bagi hamba-hamba Allah yang sejati, waktu jauh lebih mahal dan lebih berharga daripada uang dan harta benda apapun di dunia ini. Keberkahan dalam waktu menjadi dambaan mereka melebihi yang lainnya.
Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, “Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan: satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?”
Seorang ahli hadits kenamaan Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Imam Ibn Rusyd, ahli fiqih dan filsafat terkenal, juga diceritakan tidak pernah meninggalkan membaca buku dan mengajar sepanjang hidupnya kecuali dua malam saja: yaitu ketika ia menikah dan ketika bapaknya meninggal dunia.
Imam Abdul Wahab Al-Sya’rani bercerita tentang gurunya Syeikh Zakaria Al-Anshari, “Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: ‘Kau telah membuang-buang waktuku.’
Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika “zaman hilang-berkah” seperti saat ini.
Zaid bin Tsabit, misalnya, berhasil melaksanakan perintah Nabi Saw untuk menguasai bahasa Yahudi (Suryaniah) –percakapan dan tulisan- hanya dalam 17 hari saja. Padahal pada saat itu belum ada alat bantu modern audio visual seperti sekarang ini. Bandingkan dengan diri kita yang memerlukan masa bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab atau Inggris tanpa memperoleh hasil yang membanggakan.
Para penulis biografi menceritakan bahwa Al Hafiz Ibn Syahin (seorang ulama hadits kenamaan) menulis 330 judul buku, salah satunya kitab tafsir Al Qur’an setebal seribu jilid. Di akhir hayatnya, ia meminta tukang tinta untuk menghitung berapa banyak tinta yang telah digunakannya untuk menulis. Ternyata jumlahnya mencapai 1800 liter tinta. Sebagian ulama meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Ghaffar Al Qushi menulis sebuah kitab fiqih dalam mazhab Syafii setebal seribu jilid di kota Akhmim. Belum lagi Imam Al-Ghazali yang hanya hidup 55 tahun, dan Al-Nawawi yang hidup hanya 45 tahun, namun berhasil menulis banyak buku berharga berjilid-jilid. Juga Imam Ibn Al-Jauzi yang dikatakan Imam Al-Dzahabi, “Aku tidak mengetahui seorang ulama yang menulis sebanyak tulisan orang ini.”
Mereka memiliki waktu yang sama dengan kita: satu bulan terdiri dari empat minggu, satu minggu terdiri dari tujuh hari, dan satu hari terdiri dari 24 jam. Namun keberkahan dalam waktu memungkinkan mereka berkarya dan membuahkan prestasi lebih banyak dari kita. Keberkahan waktu benar-benar telah hilang pada masa kini, sehingga sering kali waktu terlewat tanpa produktivitas amal yang berarti.
By. Satria hadi lubis

DIMANA WAKTUMU ENGKAU HABISKAN?

 

Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang haram kepada perbuatan haram yang lain.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang haram kepada perbuatan yang makruh.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang makruh kepada perbuatan makruh yang lain.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang makruh kepada perbuatan yang mubah.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang mubah kepada perbuatan mubah yang lain.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang mubah kepada perbuatan yang wajib.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang wajib kepada perbuatan sunnah.
Dan ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang sunnah kepada perbuatan sunnah yang lain.
Karena yang wajib sudah ditunaikan dan yang haram serta makruh sudah ditinggalkan dan yang mubah sudah dikurangi. Inilah posisi orang-orang sholih yang merupakan hamba-hamba Allah.
Renungkanlah!
Dimana posisimu saat ini... wahai diri?
Semoga kita semua dengan bertambahnya usia makin banyak melakukan perbuatan yang sunnah, berpindah dari satu perbuatan pahala kepada perbuatan pahala lainnya, disertai dengan keikhlasan yang makin murni.
By. Satria hadi lubis

MASUK NERAKA GARA-GARA TETANGGA

 

Tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka.
Bahkan indikator iman seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia membuat tetangganya merasa aman.
“Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah saw. ditanya “Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya” (HR al-Bukhari).
Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik.
Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282).
Tetangga yang baik itu jika saling berjumpa minimal melakukan 3S (Senyum, Salam, Sapa).
Dari Abu Dzar ra, beliau berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri” (HR Muslim).
Lalu mana yang perlu diprioritaskan antara tetangga yang jauh dan dekat, misalnya ketika kita ingin membantu atau memberikan hadiah? Tentu saja tetangga yang dekat.
“Dari Aisyah ra: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapakah aku memberikan hadiah?” Beliau (Rasulullah Saw) bersabda: “Yaitu kepada (tetangga) yang paling dekat pintu rumahnya darimu” (HR al-Bukhari).
Dan tidak boleh meremehkan pemberian tetangga, walau pemberiannya itu murah atau yang tidak kita butuhkan sekalipun.
“Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Wahai perempuan-perempuan muslimah, janganlah seorang tetangga yang meremehkan hadiah tetangganya meskipun berupa ujung kaki kambing” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Disunnahkan juga untuk saling memberi, termasuk memberi makanan.
"Jika kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan berikan sebagian pada para tetanggamu” (HR. Muslim).
Hidup bertetangga, terutama di perkotaan, sering membuat kita lupa bagaimana memperlakukan tetangga dengan baik. Hidup menjadi induvidualistis, tak peduli dengan hak tetangga. Misalnya, menyetel musik dengan suara yang keras, parkir sembarangan sehingga mempersulit akses keluar masuk tetangga, menjelekkan tetangga, dan lain-lain.
Padahal gara-gara tidak memperlakukan tetangga dengan baik seseorang bisa masuk neraka, walau ibadah dan amalnya luar biasa.
Dari Abu Hurairah ra ia berkata, ‘Dikatakan kepada Rasulullah saw: ‘Wahai Rasulullah Saw, Fulanah selalu salat malam dan puasa di siang harinya akan tetapi ia sering mencela tetangganya.’ Rasulullah saw bersabda: ‘Ia tidak baik, ia masuk neraka.’ Disebutkan kepada Rasulullah saw bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bersedekah hanya secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.’ Rasulullah Saw bersabda: ‘Ia masuk surga” (HR. Al Hakim).
By. Satria hadi lubis

REZEKI DAN USAHA TAK ADA HUBUNGANNYA

 

By. Satria Hadi Lubis
Rezeki dan usaha adalah dua hal terpisah yang tak ada hubungannya.
Kita berusaha sungguh-sungguh bukan untuk dapat rezeki, tapi dalam rangka menjalankan perintah Allah yang menyuruh kita berusaha sungguh-sungguh dengan halal dan baik. Atau dengan kata lain, ikhlas semata-mata untuk mendapatkan pahala (ridho Allah). BUKAN karena ingin dapat rezeki. "Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (Qs. 9: 105).
Rezeki adalah rahasia Allah yang setiap manusia telah ada jatahnya masing-masing. "Dan tidak ada satu dabbah (binatang melata pun) di bumi ini kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya" (QS. Hud:6). Itulah sebabnya ada orang yang mendapatkan rezeki yang banyak walau usahanya biasa saja. Sebaliknya ada orang yang berusaha sungguh-sungguh tapi seret rezekinya. Semua itu tergantung dari kehendak Allah semata. “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas sebagai berikut, “Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).
Jangan disimpulkan bahwa kalau begitu kita bisa dapat rezeki tanpa usaha. Yang benar, bisa jadi usaha (termasuk berdoa di dalamnya) mampu merubah takdir rezeki yang telah Allah tetapkan kepada kita. Namun sekali lagi, tak ada hubungan yang signifikan antara rezeki dan usaha.
Maka jika ada orang yang percaya akan dapat rezeki tanpa usaha berarti ia mengimani ayat yang satu dan mengingkari ayat yang lain. Wallahu'alam.