Senin, 05 Juni 2023

KEINTIMAN DENGAN ALLAH

 Pada mulanya seorang mencari ALLAH, mendekat pada ALLAH, haus dan rindu mendengar suara ALLAH.

Sejalan dengan waktu, kehidupannya tambah makmur. ALLAH melimpahinya dengan apa yang menyenangkan hatinya.
Tetapi bersamaan dengan itu... rasa haus kepada ALLAH bergeser menjadi rasa haus akan berbagai karunia (pemberian) ALLAH, berupa materi dunia.
Akhirnya, ia kehilangan apa yang paling penting bagi dirinya. Yaitu KEINTIMAN kepada ALLAH itu sendiri.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat..." (Qs. 2 ayat 186).
Kesibukannya dalam mencari berbagai karunia ALLAH justru membuatnya menjauh dari ALLAH.
Ia lupa bahwa tanpa "kunci" itu, yaitu keintiman dengan ALLAH, semua karunia dari ALLAH hanyalah debu...
Ketika ia kehilangan apa yang sejatinya paling berarti yaitu keintimannya dengan ALLAH, maka apa yang dianggapnya paling berarti, yaitu karunia ALLAH ternyata hanya DEBU ...
"Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan" (Qs. 25 ayat 23).
Edited by. Satria hadi lubis

PESAN UNTUK ANAKKU DI KALA TUAKU

 

Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil? Aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang imajinasimu.
Ketika saatnya tiba dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku...
Maaf...kalau aku tak sengaja mengompol atau membuat berantakan di sana sini...
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku, aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama lagi...
Ketika waktu kematianku tiba, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan dengan menuntun tahlil untukku...
Semoga engkau selalu mendoakanku di dalam ketiadaanku. Sebab doamu sungguh berarti bagiku di alam kuburku. Bahkan bisa dikatakan merupakan satu-satunya balasan yang kuharapkan dengan membesarkanmu.
Ketika aku bertemu dengan Sang Kholiq... aku akan berbisik pada-Nya untuk selalu memberikan keberkahan kepadamu, karena kamu selalu mencintai ayah dan ibumu...
Terima kasih nak... atas segala perhatianmu.
By. Satria hadi lubis

RUH KELUARGA DAKWAH

 

By. Satria hadi lubis
RUH keluarga dakwah adalah keluarga yang sejak awal berkomitmen untuk menjadikan semua anggota keluarga menjadi pemimpin dalam kebaikan.
Ruh keluarga dakwah adalah keluarga yang sibuk dengan masalah besar (menegakkan nilai-nilai agama) dan tidak meributkan masalah kecil (masalah di luar agama, seperti kekurangan ekonomi, sifat yang berbeda, dan lain-lain). Pantang bubar hanya karena masalah kecil. Saling mengalah dan sabar menjadi keseharian kasih sayang mereka.
Ruh keluarga dakwah adalah keluarga yang selera serta perasaannya disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Tidak merasa ingin memiliki dan menguasai, serta tidak mendewakan subyektivitas cinta dan cemburu, kecuali seperti apa yang diperintahkan Allah SWT.
Ruh keluarga dakwah adalah keluarga yang senangnya adalah dakwah dan gelisahnya adalah jauh dari dakwah. Jihad jalan hidup mereka dan mati syahid di jalan Allah cita-cita tertinggi mereka.
Ruh keluarga dakwah adalah keluarga yang mengkader anak dan keturunannya agar menjadi pejuang tauhid. Bangganya bukan terletak pada kekayaan, ketenaran dan kepangkatan, tapi pada seberapa besar dan seberapa banyak anak dan keturunannya berkontribusi bagi umat dan bisa menyelamatkan anggota keluarganya masuk surga bersama-sama.
Ruh keluarga dakwah adalah keluarga jihad dan harapan. Peluh dan daya perlu digesa untuk meraihnya tanpa kenal putus asa. Sepanjang hayat di kandung badan. Sepanjang jalan kebahagiaan abadi.

BAHAGIA ITU SEDERHANA

 

By. Satria hadi lubis
Bahagia itu sederhana
Yakni bisa menikmati hal-hal kecil di sekitar kita dan melihat sisi indahnya
Bahagia itu sederhana
Dengan bersyukur dengan kebaikan kecil di sekitar kita dan melihat hikmah dari setiap peristiwa
Bahagia itu sederhana
Dengan hadir utuh jiwa dan raga pada setiap yang kita lakukan detik demi detik
Bahagia itu sesederhana
Sesederhana ketika anak berlari menyambut kita pulang ke rumah dengan girang dan melompat-lompat
Bahagia itu sederhana
Sesederhana suami isteri main tebak-tebakan dan tertawa bersama
Bahagia itu sederhana
Sesederhana menyapa dan tersenyum terhadap satpam di kantor kita
Bahagia itu sederhana
Tak serumit yang dibayangkan
Tak perlu kaya, tenar dan berpangkat lebih dahulu
Bahagia itu sederhana
Sesederhana mengangkat tangan saat ini juga dan bersyukur sambil mengucapkan "alhamdulillah" terhadap nikmat-nikmat "kecil" yang tanpa sadar beruntun kita terima hari ini.

BERTEMAN KARENA ALLAH

 

By. Satria hadi lubis
Bila kau berteman karena kelebihan yang dimiliki temanmu...
Sungguh, suatu saat kau akan kecewa dengan kekurangannya.
Bila kau berteman karena kebaikan yang dimiliki temanmu...
Sungguh, suatu saat kau akan kecewa dengan keburukannya.
Bila kau berteman karena kesamaan pikiran yang kalian miliki...
Sungguh, suatu saat kau akan kecewa dengan perbedaan pemikirannya.
Bila kau berteman karena temanmu menyenangkan...
Sungguh, suatu saat kau akan kecewa dengan sikapnya yang menyebalkan.
Tetapi bila kau berteman denganya karena Allah, maka kau akan sadar bahwa temanmu hanya manusia biasa.
Yang bisa benar dan bisa juga salah, kadang juga bisa khilaf. Punya kelebihan dan kekurangan, karena tidak ada manusia sempurna.
Bila kita mencari teman dan sahabat yang sempurna, maka yang ada hanyalah kekecewaan. Karena kita juga bukan malaikat tanpa cela...
Selama mereka tidak berbuat yang merugikanmu...
Selama mereka tidak mengkhianatimu...
Selama mereka tidak memfitnahmu, mengumbar aibmu, atau melakukan perbuatan keji lainnya, maka mereka adalah teman dan sahabatmu...
Maafkan kekurangan mereka, karena kita juga sangat suka apabila orang lain memaafkan kesalahan kita...

PERGI SENDIRIAN

 

Baru berapa saat saya naik angkot, seorang ibu tua di depanku berkata : "Kiri sep..."
Mobil pun minggir. Sopirnya masih muda, mungkin belum sampai 25 tahun usianya.
Sopirnya bertanya : "Ibu turunnya bisa? Pelan- pelan aja bu..." katanya. Si ibu menjawab, "Turunnya mah bisa pelan-pelan sep, tapi nyeberangnya ibu takut..."
Sopir pun turun dari mobil angkot menuju pintu belakang penumpang, "Sini bu..saya tolongin," katanya.
Sopir itu membimbing ibu tua itu turun, lalu membantu menyeberangkan jalan pelan-pelan karena ibu tua itu jalannya tertatih-tatih.
Setelah kembali ke mobil, saya iseng bertanya : "Ibunya mas?"
"Bukan.." jawabnya.
"Oh.. saya kira ibunya, manggilnya sep.. saya kira masnya namanya Asep," kataku ringan.
"Baik banget mas mau ngurusin sampai nyebrangin segala..." kata saya
Sopir itu menjawab : "Kalau itu ibu saya, gak bakalan saya biarin pergi sendirian. Kalau jatuh, ketabrak, atau sakit di jalan gimana coba? Saya suka sedih lihat ibu-ibu tua pergi sendirian.
Padahal dulu pasti waktu mudanya anaknya selalu dibawa ketika pergi, dijagain takut anaknya jatuh, diurusin siang dan malam kalau anaknya sakit...ya gak pak?" tanyanya.
"Iya..." jawab saya singkat (tenggorokan terasa terkunci).
Sopir itu melanjutkan, "Orang sekarang kadang gak menghargai ibunya... kalau senang lupa, kalau susah pasti nyari ibunya.... Padahal pak.. saya ini gak punya ibu. Ibu saya meninggal dari saya kecil. Saya diasuh oleh orang lain. Barangkali kalau saya punya ibu, nasib saya gak begini... karena pasti ada ibu yang ngedoain saya anaknya supaya jadi orang sukses. Orang lain di doain ibunya aja, belum tentu juga inget dan sadar kalau rezekinya itu hasil doa dan jerih payah ibunya selama ini... betul gak pak??" kata supir tersebut.
"Iya.." jawab saya lemah... "Kiri depan yaa mas... saya doain semoga mas dimudahkan rejekinya dan bisa sukses. Jangan lupa doain ibunya selalu... makasih ya mas!" Sambil saya lebihkan uang bayar ongkos angkotnya.
Setelah turun, saya buru-buru mengambil hape : "Asalamualaikum...mama lagi apa? sehat ya ma? sama siapa di rumah? Kalau mama mau pergi keluar beritahu saya ya ma...siapa tahu saya bisa anterin..."
Edited by. Satria hadi lubis

SETIAP KELUARGA PUNYA TAWA DAN TANGISNYA MASING-MASING

By. Satria hadi lubis
"Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di rumah sendiri". Begitu kira-kira pepatah mengatakan. Artinya, kadang kita melihat suami atau istri orang lain lebih baik daripada suami atau istri sendiri. Begitu pun keluarga orang lain lebih baik daripada keluarga sendiri. Dampaknya, kita lupa bersyukur terhadap pasangan atau keluarga kita sendiri.
Suatu ketika seorang sahabat mengadu kepada Khalifah Umar bin Khatab ra karena istrinya cerewet dan sering mengomel. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Dari kisah tersebut kita mendapat pelajaran bahwa "rumput tetangga tak selalu indah." Setiap rumah tangga tak bisa dibandingkan secara naif satu sama lain. Sebab di setiap keluarga punya suka dan dukanya masing-masing.
Ada keluarga yang sukanya terdapat pada pasangannya yang setia, rajin ibadah, saling mesra satu sama lain. Anaknya pintar, hapal al Qur'an, dan berbakti kepada orang tua.
Namun di balik keberhasilan tersebut ada duka yang terselip. Misalnya, di balik sosok suami yang setia ternyata nafkahnya kurang, di balik istri yang rajin ibadah ternyata buruk sangkanya luar biasa, di balik kemesraan pasangan ternyata ada perselingkuhan, di antara sekian anaknya yang sholih terdapat satu anaknya yang bandel.
Seakan Allah mentakdirkan di setiap rumah itu tak ada yang sempurna. Di setiap keluarga ada ruang ujian, yaitu ujian tentang kesabaran, keikhlasan, syukur dan tauhid.
Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh (ujian) bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka" (Qs. 64 ayat 14).
Di dalam setiap rumah ada ujian kesabaran berupa tidak mudah putus asa, apalagi mudah bercerai, ketika menghadapi berbagai masalah. Ujian keikhlasan terhadap takdir Allah berupa kekurangan yang ada. Ujian syukur berupa rasa puas terhadap pemberian Allah tanpa membanding-bandingkan dengan keluarga lain. Ujian tauhid berupa apakah cinta kita kepada Allah masih lebih tinggi daripada cinta kita kepada pasangan dan anak-anak.
Ruang ujian ini membuat sebuah keluarga menjadi dinamis dalam suka dan duka. Maka rumah tangga yang sukses adalah mereka yang lulus dalam empat ujian tersebut, sabar, ikhlas, syukur dan bertauhid sampai akhir hayat.
Karena itu, nikmatilah perjalanan keluarga kita masing-masing sebagai ujian tanpa membanding-bandingkan dengan keluarga yang lain.
Ternyata, rumput tetangga tak lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Sebab di setiap keluarga ada tawa dan tangisnya masing-masing.