Senin, 01 Januari 2024

ADAB MURID MEWAKILI GURUNYA

 

By. Satria hadi lubis
Seorang murid (mutarobbi) harus paham betul bahwa tindak tanduknya dipandang oleh orang lain sebagai hasil dari didikan gurunya (murobbinya). Bahkan terkadang ada yang memandangnya sebagai tamtsil (tindak tanduk murid menyerupai gurunya).
Makanya banyak guru yang namanya semakin harum karena seorang murid, dan tidak sedikit seorang murid yang merusak nama baik seorang guru dari perilaku dan perbuatannya.
Jika muslim di depan non muslim, mewakili atau memvisualisasikan keislamannya, maka murid di depan orang lain mewakili atau menggambarkan manhaj gurunya (ajaran gurunya).
Jadi bayangkan jika ada murid yang kurang adab kepada orang lain (termasuk kepada gurunya), maka yang jelek juga nama gurunya.
Itulah sebab para ulama terdahulu meyakini bahwa ilmu tanpa adab jadi hilang ilmunya tanpa bekas (atsar) dan tidak bermanfaat. Bahkan bukan lagi tidak bermanfaat, namun bisa jadi mudharat, karena menimbulkan kesombongan maghrur, dan lain sebagainya. Maghrur itu tertipu, menganggap dirinya paling benar dan mulia.
Imam Malik RA pernah berkata; “Belajarlah adab (etika, tata krama) sebelum belajar sebuah ilmu.”
Imam Ibnu Mubarok berkata; “Kami belajar adab (etika) selama 30 tahun, dan baru belajar ilmu lainnya selama 20 tahun.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Mereka tidak menyuruh (mengirimkan) anak-anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama 20 tahun.”
Kemuliaan guru seperti orang tua kita. Namun, rahasia dunia ada pada kedua orangtua, sedang rahasia akhirat ada pada tangan guru (murobbi) kita.
“Law laa murobbi ma aroftu robbi” (Jika bukan karena murobbiku, maka aku tidak akan mengenal Tuhanku).

BUKAN KEKAYAAN YANG KITA KEJAR

 

By. Satria hadi lubis
SALAH besar jika ada yang berpendapat Islam menganjurkan muslim untuk kaya atau miskin!
Islam malah meminta manusia fokus pada usaha mencapai kebahagiaan dan keselamatan.
Kaya atau miskin adalah pemberian Allah. Itu benar-benar rahasia Allah. Dikasih kaya alhamdulillah, dikasih miskin juga alhamdulillah. Yang penting bahagia (di dunia) dan selamat (di akhirat).
Usaha kita hanya fokus pada berbuat baik dan bahagia, sehingga selamat di akhirat.
Tak ada satu pun dalil atau bukti empirik bahwa orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin. Jika pun ada, itu hanya pencitraan yang dibangun media massa pemuja materi.
Coba lihat orang yang paling bahagia di muka bumi, yakni para nabi. Sebagian besar nabi justru ditakdirkan Allah hidup miskin. Namun mereka bahagia.
Para nabi lebih sibuk mencari ridho Allah, sehingga mereka bahagia. Uang dan harta tak mampu menghalangi kebahagiaan mereka.
Mengapa kita tidak mencontoh kehidupan para Nabi, terutama Nabi kita Muhammad saw dengan fokus mencari kebahagiaan?
Doa-doa yang diajarkan Nabi Muhamad saw juga sebagian besar adalah doa untuk bahagia dan selamat, bukan untuk kaya (atau miskin).
Jangan terpengaruh dengan ideologi kapitalisme, materialisme atau apapun namanya, yang memuja kekayaan dan kemewahan, serta menganggap kekayaan sebagai satu-satunya cara bahagia.
Ini ajaran sesat yang menjauhi kita dari tujuan hidup sebenarnya, yakni mencari ridho Allah dan bahagia.
Umat Islam dahulu jaya karena sibuk mencari ridho Allah, sehingga mereka bahagia.
Mereka tak pernah berdalih : "Kita perlu kaya agar bisa naik haji, agar bisa bantu orang lain, agar bisa menguasai ekonomi, atau dalih semisalnya. Namun hebatnya justru mereka diberi Allah SWT kelimpahan dan keberkahan harta serta kekuasaan.
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (Qs. Muhammad ayat 7).
Dan sekarang banyak muslim justru hidupnya susah karena mindsetnya sibuk mengejar kekayaan, bahkan dengan cara tidak halal. Mindsetnya bukan untuk mencari ridho Allah.
"Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan" (Qs. al-Fajr ayat 89:20).
Oleh karena itu, jangan rusak tujuan hidupmu untuk bahagia dan selamat dengan usaha yang salah (yakni sibuk untuk kaya). Sibuklah mencari ridho Allah sehingga engkau bahagia dan selamat. Kaya atau miskin itu kehendak Allah.
Lagipula secara logika, orang yang mencari ridho Allah akan memiliki karakter orang yang baik, dan orang baik pasti didahulukan untuk mendapatkan berbagai peluang kesuksesan dalam pekerjaan, pergaulan dan bisnis.
Yakinlah...mengejar kekayaan seperti mengejar fatamorgana yang akan berujung pada kehampaan.

MALAM YANG MENANGIS

 MALAM YANG MENANGIS

Aku disini sendiri
Terkulai lemah dalam sepi
Atas tekanan dan tikaman
Cacat-cacat kehidupan
Aku mengiringi malam yang menangisi dosa-dosa
Walau bagi aku yang lain itu merayakan dosa
Tak ada cahaya
Kecuali di segelintir rumah
Mereka yang takut dalam bahagianya
Penuh harap dibasuh hatinya
Oleh-Mu ya Robb...
Aku terkapar pasrah
Bersama malam yang menangis
Dalam butanya hati
Dan kerinduan akan oase
Robb....beri cahaya
Untuk aku dan aku-aku yang lain
Agar bumi ini tata dalam tentram
Agar hati-hati ini pasrah dalam cinta bahagia
Jika tidak...ya Robb
Malam akan terus menangis
By. Satria hadi lubis

KETENANGAN YANG MENDAHSYATKAN

 

By. Satria hadi lubis
Di sebuah restoran, ada sebuah poster bertuliskan :
"JADILAH SEPERTI BEBEK. TERLIHAT TENANG PADAHAL MENGAYUH SEKUAT TENAGA."
Maknanya dalam banget, antara lain :
1. Orang yang tenang belum tentu tidak sedang berpikir. Justru ia sebenarnya sedang berpikir keras untuk sukses.
2. Jangan grasa grusu dalam bertindak, lebih baik pecahkan masalah dengan tenang dan sistematik seperti bebek yang mengayuh kakinya dengan kecepatan yang terukur.
3. Jika jadi pemimpin jangan suka membuat sensasi atau ketegangan walau organisasi sedang banyak masalah. Sebab hanya akan membuat anak buah demotivasi. Tenangkan diri dan tenangkan anak buah.
4. Jangan menjadi orang yang suka panik, betapa besarnya pun musibah yang sedang terjadi. Sebab kepanikan tidak menyelesaikan masalah, malah membuat masalah baru.
5. Orang-orang bijak biasanya orang-orang yang tenang, tetapi di dalam dirinya ada ribuan ilmu, yang didapatkannya melalui pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa.
6. Orang yang tenang itu kelihatan lebih anggun dan bahagia, serta menentramkan orang-orang di sekitarnya. Walau sebenarnya ia juga punya masalah. Namun masalah itu sedang diselesaikannya dengan cara yang efektif.
7. Tenang itu ternyata menghanyutkan. Orang yang tenang tampak dewasa dan nyaman untuk didekati. Membuat hati orang lain klepek-klepek. Idaman untuk menjadi calon suami/istri atau calon mantu...
Yang lebih penting adalah ketenangan permanen HANYA didapatkan melalui aktivitas zikir (mengingat Allah) dalam pengertian yang luas. Zikir dengan hati, pikiran, lisan dan perbuatan.
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, HANYA dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" (al Qur'an, Surat Ar-Ra'd, Ayat 28).
Dengan zikir, kita yakin ada Allah yang akan membantu dan memberikan solusi terbaik. Dengan Allah, semua menjadi indah pada akhirnya.
Selain itu, HANYA orang tenang yang dipanggil Allah untuk masuk surga-Nya.
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku" (al Qur'an, Surat Al-Fajr, Ayat 27-30).
Sebab dengan ketenangan, mereka bersusah payah, mengayuh sekuat tenaga untuk mengumpulkan pahala amal sholih.
Sungguh ini merupakan ketenangan yang mendahsyatkan.

SALAH KAPRAH TENTANG KEBAHAGIAAN


By. Satria hadi lubis
BANYAK orang salah kaprah tentang makna bahagia. Dikira bahagia itu senang, padahal tidak selalu bahagia itu berarti kesenangan.
Bahagia (sejati) HANYA diletakkan Allah pada orang-orang yang mencintai-Nya, yang memperjuangkan ajaran-Nya dan rela menanggung segala resikonya (istiqomah), seperti yang dilakukan oleh para nabi, ulama, orang-orang sholih dan para pahlawan kebenaran.
Hidup mereka tak selalu senang. Kadang berbentuk "penderitaan" seperti dipenjara, disiksa, dijauhkan, bahkan dibunuh. Atau berupa kemiskinan, kemalangan, ditimpa berbagai penyakit dan berbagai masalah. Namun mereka bahagia karena mencintai Allah.
Mereka dikagumi di langit dan di bumi serta menjadi mercusuar keteladanan dan keberhasilan hidup sepanjang masa, walau orang-orang kafir dan munafiq mungkin membencinya.
Jadi jangan menaiki tangga pada dinding yang salah dengan meniru kehidupan sebagian artis, selegram, youtuber, orang-orang kaya, para pejabat dan para penikmat hobi tertentu yang hidupnya terlihat sukses. Nanti engkau akan menyesal. Sepertinya mereka bahagia padahal hanya mendapatkan kesenangan semu, yang nanti akan berujung pada penderitaan, kecuali jika mereka cinta kepada Allah dan istiqomah memperjuangkan kebenaran.
Seorang ulama, Ibrahim bin Adham, berkata, “Seandainya para raja mengetahui bagaimana kebahagiaan yang kami rasakan tentu mereka akan berusaha merebutnya, walau dengan menggunakan pedang-pedang mereka.”
Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga seperti yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: "Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga (yakni dengan hidup istiqomah). Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga di akhirat kelak."
Jadi syarat masuk surga di akhirat kelak adalah lebih dulu merasakan surga (bahagia) di dunia dengan hidup mencintai Allah dan membela ajaran-Nya dengan istiqomah.
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istiqomah (teguh pendirian), maka akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu” (Qs. 41 ayat 30).

TUHAN SUBYEKTIF


By. Satria hadi lubis
Jangan menciptakan Tuhan secara subjektif. Misalnya dengan beranggapan :
- Tuhan sudah menentukan nasibku begini.
-Tuhan tidak mungkin memasukkan ke neraka orang kafir yang baik.
-Tuhan tidak adil terhadap saya.
-Mengapa Tuhan membiarkan manusia saling berperang?
-Tuhan mengerti mengapa aku begini (misalnya jadi g4y).
-Tuhan tidak mungkin menyiksa manusia di neraka selamanya.
-Bukankah cinta pemberian Tuhan jadi gpp donk nikah beda agama asal saling cinta?
-Dan kalimat-kalimat lain yang semisalnya.
Maka kenalilah Tuhanmu HANYA melalui Al Qur'an dan al Hadits, bukan melalui akal yang lemah ini atau melalui referensi yang sok ilmiah, padahal batil.
Sebab nanti kita akan menciptakan tuhan menurut subyektivitas masing-masing, sehingga berdampak menjadi melecehkan Tuhan.
Disinilah pentingnya kita terus belajar Islam, berguru kepada para ustadz dan ulama.
Tidak bisa kita mengenal Tuhan dengan cara belajar sendiri (otodidak), karena besar kemungkinan pemahaman kita akan ngaco, subjektif, dan mengikuti hawa nafsu. Sebab tidak ada yang mengoreksi pemahaman kita, jika salah.
Umat Islam sekarang menjadi gampang bingung dan mudah terpangaruh berbagai ideologi perusak (sekulerisme, materialisme, komunisme, liberalisme, dan lain-lain) karena jauh dari ilmu agama, terutama ilmu Mengenal Allah (Ma'rifatullah).
Banyak umat Islam yang saat ini jarang ngaji (liqo'), jauh dari majelis ta'lim, dan tidak berguru kepada ulama (ustadz), bahkan malah sebagian mereka antipati terhadap ulama (ustadz).
Kita malu dengan leluhur kita, para nabi, para sahabat dan orang-orang sholih terdahulu, yang memahami Tuhan (Allah) secara benar melalui antusiasme mereka mempelajari Islam. Mereka hobi dan mencintai pengajian, majelis ta'lim dan liqo'.
Dengan pengenalan yang benar akan Tuhan itulah (ma'rifatullah), leluhur kita tampil percaya diri membangun dan memimpin peradaban dunia. Berhasil membangun umat yang baik dan diridhoi Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur).
"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa" (Qs. 22 ayat 73-74)

RASULULLAH GURU GROWTH MINDSET

 By. Satria hadi lubis

Growth mindset adalah tipikal orang yang tidak mudah menyerah. Mereka yang berada dalam katagori ini condong berpikir positif tentang kemampuan mereka dan mampu memperbaiki diri dengan melihat sisi kelemahannya dalam segala hal. Kebanyakan orang dengan cara berpikir growth mindset percaya bahwa kemampuan seseorang itu adalah dinamis dan bisa diperbaiki dengan usaha yang baik. Sebagai contoh, mereka yang tergolong dalam growth mindset ketika mengalamj kegagalan akan kembali mencoba dan belajar dari kesalahan atas kegagalannya. Motivasi mereka akan muncul karena tingkat kepercayaan akan kemampuan mereka selalu mengarah ke sisi positif.
Rasulullah saw adalah guru terbaik dalam menumbuhkan growth mindset kepada muridnya (baca: sahabat ra). Beliau mampu merubah orang dari minder menjadi percaya diri. Tak tahu potensi menjadi tahu dan mengembangkan potensinya secara maksimal. Merubah orang from zero to hero.
Beliau merubah Bilal bin Rabbah ra dari seorang budak menjadi gubernur Mesir. Merubah Abdullah bin Ummi Maktum ra yang buta menjadi ulama dan mujahid. Merubah Abdullah bin Mas'ud ra yang kakinya cacat menjadi qori terbaik. Merubah Mushab bin Umair ra yang tadinya seorang pemuda hedon menjadi da'i yang produktif, sehingga Madinah terbuka untuk menjadi tempat hijrah Nabi di kemudian hari. Merubah Nusaibah ra menjadi ibu pemberani yang ikut dalam berbagai peperangan. Merubah Asma binti Abu Bakar ra menjadi ibu yang melahirkan para mujahid. Dan masih banyak lagi. Murid terbaik di tangan guru terbaik. "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.." (Qs. 3 ayat 110).
Beberapa contoh cara Rasulullah saw mendidik disebutkan dalam beberapa hadits berikut ini :
-Tentang berbicara yang baik dan jangan menyakiti orang lain.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW, Beliau bersabda,"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia selalu berkata baik atau hendaklah ia diam" (HR. Bukhari-Muslim).
-Tentang selalu ramah dan tersenyum. "Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis" (HR. Muslim).
-Tentang berlaku adil dan perasaan dihargai.
Dari Nu’man bin Basyir, beliau pernah datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Sungguh, aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarah menyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menyaksikannya, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kamu diantara anak-anakmu.” Nu’man pun mencabut kembali pemberiannya.” (HR. Bukhari).
HARI ini...
Kita lihat percakapan di dunia nyata dan di dunia maya penuh dengan percakapan yang justru tidak menumbuhkan iklim growth mindset. Iklim dengan bahasa positif, yang memberikan kesempatan adanya dialog dan feedback, tidak menghabisi orang lain dengan judgement. Yang terjadi lebih banyak fixed mindset, pola pikir yang tidak mau berubah, kekeh dan cenderung keras kepala, dominan berpikir negatif dan menyalahkan orang lain serta suka menghabisi orang lain dengan kata-kata kasar.
Celakanya....fixed mindset justru sering dilakukan oleh seseorang kepada orang yang sebenarnya dicintainya. Orang tua kepada anaknya, suami kepada istrinya atau sebaliknya, kakak kepada adiknya atau sebaliknya, sehingga mereka tumbuh dengan fixed mindset yang menumpulkan potensi mereka.
MARI kita belajar dari guru terbaik Rasulullah saw untuk terbiasa memiliki growth mindset kepada diri sendiri dan orang-orang di sekeliling kita.