Jumat, 23 Januari 2026

TIPS MAMPU MEMAAFKAN ORANG LAIN

 TIPS MAMPU MEMAAFKAN ORANG LAIN


By. Satria hadi lubis 


DALAM Islam, memaafkan orang lain adalah akhlak mulia yang sangat dianjurkan, bahkan sering dikaitkan dengan derajat tinggi di sisi Allah. 


Berikut beberapa tips untuk mampu memaafkan orang lain:


1.⁠ ⁠Ingat bahwa Allah Maha Pemaaf


"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?" (Qs. 24 ayat 22)


Kalau kita ingin diampuni (dimaafkan) Allah, maka kita harus belajar memaafkan orang lain. Allah yang Maha Perkasa saja bisa mengampuni orang yang berdosa, maka kita sebagai manusia yang lemah seharusnya bisa memaafkan orang lain.


2.⁠ ⁠Sadari bahwa semua manusia punya kekurangan


Nabi saw bersabda: "Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat." (HR. Tirmidzi)


Mungkin orang yang menyakiti kita saat itu sedang khilaf atau dalam keadaan sulit, sehingga perlakuannya kepada kita menjadi emosional dan melampaui batas.


3.⁠ ⁠Pahami bahwa memaafkan itu melindungi hati kita sendiri


Memaafkan bukan berarti membenarkan perbuatan salah, tapi membebaskan diri dari dendam yang bisa menggerogoti hati. Dendam hanya membuat hati lelah dan jiwa gelisah.


"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (Qs. 42 ayat 40)


4.⁠ ⁠Berdoa untuk orang yang menyakiti kita


Nabi saw mengajarkan agar kita mendoakan kebaikan bagi orang yang berbuat buruk kepada kita. Ini membantu mengikis rasa marah dan mengubah energi negatif menjadi doa yang positif.


"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (Qs. 41 ayat 34)


5.⁠ ⁠Ingat pahala besar memaafkan


"Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Tetapi jika ada yang memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya dari Allah." (QS. 42 ayat 40)


Pahala memaafkan datang langsung dari Allah, tanpa batas.


6.⁠ ⁠Latih diri dengan memaafkan hal-hal kecil lebih dulu


Mulailah dari perkara ringan (ucapan menyakitkan, kesalahan kecil) agar hati terbiasa berlapang dada. Lama-lama, hati menjadi lebih kuat menghadapi ujian besar.


7.⁠ ⁠Ambil hikmah dari kejadian


Tanyakan pada diri: "Apa yang bisa aku pelajari dari kejadian (menyakitkan) ini?"


Bisa jadi, kejadian itu adalah cara Allah mendidik hati kita untuk lebih tenang, sabar dan ikhlas.

SURGA HANYA UNTUK ORANG YANG BAHAGIA

 SURGA HANYA UNTUK ORANG YANG BAHAGIA


By. Satria hadi lubis 


SURGA hanya untuk orang yang hidupnya sudah bahagia ketika di dunia.


Karena itulah Allah SWT memanggil para calon penghuni surga dengan sebutan "Jiwa yang tenang (bahagia)."


"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,

dan masuklah ke dalam surga-Ku" (Qs. Al Fajr ayat 27-30).


Tidak peduli apakah ia kaya atau miskin, tenar atau tidak tenar, berpangkat atau tidak berpangkat. Yang penting jiwanya tenang dan bahagia ketika hidup di dunia.


Sebaliknya, mereka yang jiwanya tidak tenang, hatinya selalu dengki dan sombong, gelisah dan suka galau, walau kaya, tenar dan berpangkat, maka mereka belum memenuhi syarat untuk masuk surga. 


"Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat” (QS. Qaf ayat 23-26).


Sifat-sifat yang disebutkan pada ayat di atas adalah sebagian dari sifat orang-orang yang tidak bahagia hidupnya di dunia, sehingga akhirnya masuk neraka.


Oleh sebab itu jika ingin masuk surga (yang isinya ketenangan dan kebahagiaan), maka kita harus menyiapkan diri lebih dahulu untuk menjadi orang yang jiwanya tenang (bahagia) ketika hidup di dunia. 


Lalu apakah ciri orang yang hidupnya di dunia tenang dan bahagia? Cirinya adalah : 


1.⁠ ⁠Beriman dan beribadah kepada Allah


2.⁠ ⁠Berdakwah dan memberikan manfaat kepada orang lain (beramal sholih)


3.⁠ ⁠Sabar dan bersyukur


4.⁠ ⁠Istiqomah (konsisten, tidak plin plan dan tidak oportunis)


5.⁠ ⁠Selalu berdoa untuk mendapatkan kematian yang baik (husnul khotimah)

TENTANG KEBENARAN

 TENTANG KEBENARAN


By. Satria hadi lubis 


-Nilaimu yang sebenarnya adalah mana-mana yang membuatmu semakin mulia.


-Jangan jatuhkan dirimu ke  dalam kebinasaan, yaitu ketika engkau hidup tanpa berjuang menegakkan kebenaran.


-Berbuat baik itu biasa. Berbuat benar itu baru luar biasa.


-Berbuat baik membutuhkan kelembutan hati. Berbuat benar membutuhkan ketegaran hati.


-Seringkali atas nama kebaikan seseorang mengorbankan kebenaran.  Padahal tidak ada kebaikan tanpa kebenaran.


-Kebenaran itu ibarat tubuh yang telanjang, sedang kebaikan adalah pakaiannya.


-Kebaikan adalah kebenaran. Kebenaran adalah kebaikan. Tidak ada yang namanya kebaikan, jika meninggalkan kebenaran.

NARASI SESAT TERHADAP ORANG TUA

 NARASI SESAT TERHADAP ORANG TUA


By. Satria hadi lubis 


AKHIR-akhir ini narasi tentang wajibnya berbakti kepada orang tua dan narasi wajibnya merawat orang tua di kala mereka sudah uzur, mendapat "perlawanan" dari narasi-narasi yang menyebutkan : 


1.⁠ ⁠Bahwa anak tidak pernah minta dilahirkan. Orang tualah yang menginginkan adanya anak, sehingga bukan salah anak kalau anak tak peduli dengan orang tuanya.


2.⁠ ⁠Anak bukan investasi, orang tua jangan menuntut balas jasa karena telah membiayai anak.


3.⁠ ⁠Bukan hanya ada anak durhaka, tapi ada juga orang tua yang durhaka.


4.⁠ ⁠Tak perlu berbakti kepada orang tua yang telah menelantarkan anaknya di waktu kecil.


5.⁠ ⁠Sebab utama seseorang melakukan kejahatan dan kerusakan moral adalah orang tuanya yang salah dalam mendidik anaknya. 


Narasi-narasi semacam ini bersliweran di berbagai medsos, juga di film-film remaja. Seakan logis dan benar. Padahal narasi tersebut adalah narasi sesat yang mungkin dibuat oleh mereka yang ingin agar hubungan orang tua dan anak saling membenci dan mendendam, sehingga hancurlah ikatan keluarga sebagai garda terdepan moralitas bangsa. 


Anak dengan mudah terjerumus pada pergaulan bebas. Mereka tak mengindahkan lagi ajaran moral yang ditanamkan dengan susah payah oleh orang tuanya.


Ilmu pengetahuan boleh berkembang dan mungkin memaklumi dengan penjelasan yang rasional dan ilmiah mengapa ada anak yang jauh dan membenci orang tuanya. 


Namun aturan Allah tentang bakti anak kepada orang tua  sudah dibuat dan ditulis. Tak akan berubah sampai akhir jaman.


Ketahuilah....

Anak memang tak minta dilahirkan, tapi orang tua juga tak bisa memilih anak seperti apa yang akan dilahirkan. Allah SWT semata yang menghendaki kelahiran anak. Ada orang tua yang sudah berusaha punya anak tapi ternyata belum diberikan juga oleh Allah SWT.


Ketahuilah...

Anak memang bukan investasi di hari tua, tapi berbuat baik kepada orang tua itu wajib dan wajar.


Ketahuilah...

Tak ada istilah orang tua durhaka. Yang ada orang tua yang tidak baik, karena melalaikan kewajibannya. Namun anak tetap harus berbakti dan patuh kepada orang tua yang kurang baik akhlaqnya, selama perintahnya tak bertentangan dengan perintah Allah SWT. Urusan orang tua yang tidak baik itu urusan dia dengan Tuhannya. Urusan anak tetap berbakti kepada orang tuanya.


Ketahuilah...

Orang tua bukan penyebab utama kerusakan moral anaknya yang telah dewasa. Ketika anak belum aqil baligh memang orang tua yang bertanggung jawab. Namun setelah aqil baligh, anak sendiri yang bertanggung jawab atas dirinya. Seorang anak tak boleh dan tak bisa terus menerus menyalahkan orang tuanya jika sudah dewasa. Bukankah seorang yang dewasa sudah punya pilihan bebas? 


"Atau agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?" (Qs. 7 ayat 173)


Allah SWT mengecam mereka yang suka menyalahkan orang tua atau kakek neneknya sebagai akibat perbuatan salahnya.


Yang lebih utama adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya hidupnya menjadi barokah. Sebaliknya, anak yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya menjadi susah.


"Sungguh rugi, sungguh rugi, dan sungguh rugi! Seorang yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya pada usia lanjut atau kedua-duanya, namun ia tidak masuk surga (lantaran tidak berbakti kepada orang tuanya)." (HR. Muslim)


"Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendak-Nya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturrahim. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” (HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 459 )

WASPADA TINGKAT TINGGI

 WASPADA TINGKAT TINGGI


By. Satria hadi lubis 


HIDUP ini jangan terlalu enak nanti lupa kepada Allah


Fir'aun terlalu enak jadi penguasa sampai lupa diri mengaku Tuhan, akhirnya ditenggelamkan!


Qorun terlalu enak jadi milyarder sampai dirasuki kejumawaan, akhirnya dihempaskan!


Haman terlalu enak menjadi pejabat sampai menjilat tanpa malu, akhirnya dicampakkan!


Maka....Segeralah turun sejenak dari ketinggian!


"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," sabda Rasulullah saw ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akhirat, "air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akhirat".


Bersiaplah untuk menyelam di "lautan akhirat" dan tinggalkan duniamu. 


Dunia mampu membuatmu terkutuk jika tidak waspada.


"Dunia ini terkutuk, semua isinya terkutuk, kecuali mereka yang berzikir dan semisalnya. Mereka yang mengajar dan belajar" (al Hadits)


Bukan engkau tak boleh kaya, tapi bila kekayaanmu telah menghinakanmu, maka engkau tengah menjadi budak dunia. 


Bukan engkau tak boleh mendapat jabatan tinggi, tapi bila jabatanmu membuat engkau zalim dan korup, maka engkau telah menjilat rakus kotoran dunia. 


Bukan engkau tak boleh berdandan cantik atau tampan, tapi bila kecantikan atau ketampananmu membuatmu maksiat, maka engkau telah mengerdilkan akhiratmu.


Selalu waspada dengan kewaspadaan tingkat tinggi agar tak jatuh tergelincir. 


Banyak yang tergelincir tanpa sadar, bahkan masih merasa di jalan yang benar karena setan dan nafsu pandai menipu.


"Tetapi engkau lebih memilih kehidupan dunia. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal" (QS al-A'la: 16-17)

BAHAGIAKAH KAMU KETIKA DOA TAK DIKABULKAN?

 BAHAGIAKAH KAMU KETIKA DOA TAK DIKABULKAN?


By. Satria Hadi Lubis 


BAHAGIAKAH kamu ketika doamu tak dikabulkan Allah SWT?


Jika tidak, mungkin perkataan di bawah ini perlu direnungkan : 


"Jika doaku terkabul, aku bahagia karena itu memang keinginanku. Namun aku lebih bahagia jika doaku tak terkabul, karena itu berarti yang terjadi adalah keinginan-Nya." (Ali bin Abu Thalib ra)


Perkataan ini pasti muncul dari ketawakalan yang luar biasa dari seorang sahabat Nabi saw. Ketawakalan yang digambarkan oleh ayat berikut : 


"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. 2 ayat 156-157)


Mereka yang meyakini kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di dunia ini hanyalah milik Allah.


Mereka itulah akan memperoleh ampunan dan rahmat (kebahagiaan) dari Allah, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk karena mengetahui kebenaran.


Akankah keimananmu sampai seperti yang dikatakan oleh sahabat Ali Bin Abu Thalib ra di atas? Yang lebih bahagia jika kehendak Allah yang terjadi, walau tidak sesuai keinginanmu?


Subhanallah....justru ada sebagian manusia yang rusak imannya, bahkan menjadi atheis, ketika doanya tak dikabulkan Allah. Ia kecewa dan protes kepada Allah.


Padahal mungkin saja Allah SWT tidak mengabulkan doanya karena menghendaki kejadian (takdir) yang lebih baik untuknya yang belum terungkap hikmahnya. 


Ketahuilah....bahwa mereka yang berhubungan dengan Allah hanya karena mengharapkan imbalan yang nyata dan konkrit, seperti kekayaan, kesenangan, kemasyhuran, dan lain-lain, telah dikecam oleh Allah SWT dalam ayat berikut :


"Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku." (Qs. 89 ayat 15-16)


Allah SWT telah mengungkap modus dari mereka yang menyembah dan beribadah kepada-Nya hanya semata mengharapkan timbal balik berupa imbalan materi.


Seharusnya kita malu jika menyembah Allah karena ada modusnya. Hal ini berarti kita menjadikan Allah yang Maha Besar sebagai "budak" dari keinginan kita. Kita merasa dimuliakan Allah jika keinginan kita terwujud dan merasa dicampakkan Allah jika keinginan dan doa kita tak terwujud. 


Padahal...bukankah kita, manusia, yang seharusnya menjadi budak dari keinginan Allah dengan menyembah-Nya? Sebab hanya begitu maksud penciptaan dari manusia tercapai, yang akhirnya akan membuat manusia itu bahagia seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abu Thalib ra di atas.


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku" (Qs. 51 ayat 56)

UKURAN TARAF HIDUP ITU APA?

 UKURAN TARAF HIDUP ITU APA?


By. Satria hadi lubis 


ADA seorang murid bertanya kepada gurunya : 


"Selama menjalani hidup, kadang saya merasa iri dengan kehidupan teman-teman saya yang taraf hidupnya lebih tinggi daripada saya. Padahal sebelumnya mereka tingkatnya setara dengan saya. Bagaimana agar saya bisa menata hati untuk selalu bersyukur ...ustadz?"


Dengan panjang lebar, sang guru menjawab :


"Ukuran taraf hidup menurut antum itu apa? Jika harta atau duniawi lainnya itu bukan ukuran taraf hidup yang sebenarnya. 


Ukuran taraf hidup itu adalah taqwa. Jika kita iri dengan teman kita yang lebih bertaqwa walau miskin berarti kita sudah benar irinya, tapi kalau sebaliknya berarti kita masih keliru mengukur taraf hidup yang sebenarnya. 


Jadi memang kita perlu lebih banyak bersyukur dengan ukuran taqwa, bukan ukuran harta atau duniawi lainnya. Mungkin ada orang yang hartanya lebih banyak dari kita, tapi sedih dan aibnya juga banyak. Hebatnya orang kaya itu biasanya pandai menyembunyikan kesedihan dan kegelisahan hatinya. 


Kita sendiri juga pandai melihat kesuksesan seseorang dari sisi materi, tapi tidak pandai melihat kegagalan seseorang dari sisi iman dan taqwa.


Jadi bersyukurlah masih punya iman, Islam dan gairah untuk bertaqwa. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk alasan kita selalu bersyukur."


"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.S. Al-Hujurat: 13)