Rabu, 22 Juli 2026

BANJIR KEBAHAGIAAN

 BANJIR KEBAHAGIAAN


By. Satria hadi lubis 


YA ALLAH…

hari ini aku tidak tahu harus berkata apa.

Bukan karena sedih, tapi karena terlalu banyak nikmat yang tak mampu kuhitung.


Hatiku penuh, bahkan terasa meluap seperti banjir yang tak terbendung.....banjir kebahagiaan.

Bukan karena hidupku tanpa masalah.

Bukan karena semua keinginanku terpenuhi.

Tapi karena Engkau membuat hatiku merasa cukup.


Dulu aku mengira kebahagiaan itu ketika semua berjalan sesuai rencana.

Ketika rezeki lapang, urusan mudah, dan hidup terasa ringan.

Namun hari ini aku belajar, kebahagiaan bukan tentang keadaan, melainkan tentang siapa yang mengisi hati ini.


Dan ketika Engkau hadir di dalamnya,

segala yang sempit terasa lapang,

segala yang berat terasa ringan.


Ya Allah…yang Maha Penyayang

betapa sering aku lupa, tapi Engkau tetap memberi.

Betapa sering aku lalai, tapi Engkau tetap menutup aibku.

Betapa sering aku menjauh, tapi Engkau tetap membuka pintu kembali.


Nikmat mana lagi yang bisa kudustakan?


Kadang aku menangis…

tapi bukan karena luka,

melainkan karena tak percaya betapa Engkau begitu baik kepadaku.


Air mata ini jatuh bukan karena dunia,

tapi karena rasa haru...

karena aku sadar, aku yang penuh dosa ini masih Engkau peluk dengan rahmat-Mu.


Ya Allah…ya Robb kami

jika ini yang disebut kebahagiaan,

maka aku tidak akan mencarinya di tempat lain.

Cukuplah Engkau sebagai sumber ketenangan.

Cukuplah Engkau sebagai tempat kembali.

Cukuplah Engkau sebagai alasan aku tetap bertahan.


Ajarkan aku untuk tidak sombong dengan nikmat ini.

Ajarkan aku untuk tidak lalai dalam kelapangan ini.

Karena aku tahu, kebahagiaan sejati bukan hanya saat ini,

tetapi ketika aku tetap dekat dengan-Mu sampai akhir hayat nanti.


Ya Allah…Robb yang Maha Pengasih

jangan Engkau cabut rasa bahagia ini dari hatiku.

Rasa cukup, rasa syukur, rasa dekat dengan-Mu.


Jika Engkau beri aku dunia, jadikan ia jalan menuju-Mu.

Jika Engkau uji aku nanti, jangan Engkau cabut ketenangan ini.


Hari ini aku tersenyum…

bukan karena hidupku sempurna,

tetapi karena aku punya Engkau....ya Allah


Ya Robb…

aku banjir kebahagiaan,

karena aku tahu, aku tidak sendiri.

Aku punya Engkau...ya Allah.

HARI LIBUR, HARI UNTUK BERDAKWAH

 HARI LIBUR, HARI UNTUK BERDAKWAH


By. Satria hadi lubis


HARI libur sering kali kita maknai sebagai waktu untuk melepas penat. Tidak salah memang. Tubuh memang butuh istirahat, jiwa pun perlu jeda. Namun bagi seorang muslim, libur bukan berarti kosong dari amal. Justru di sanalah kesempatan emas terbuka lebar. Ketika kesibukan dunia sedikit mereda, ruang untuk mendekat kepada Allah menjadi lebih lapang. Salah satunya dengan berdakwah.


Dakwah bukanlah sekadar pilihan bagi orang-orang tertentu. Ia adalah KEWAJIBAN. Allah SWT berfirman :


“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali ‘Imran: 104)


Bahkan Allah menegaskan kemuliaan aktivitas dakwah dengan firman-Nya :


“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim." (QS. Fussilat: 33)


Maka hari libur bukan alasan untuk berhenti menimba pahala, bahkan momentum untuk menambahkannya. Jika hari kerja kita padat, maka hari libur adalah saat terbaik untuk menunaikan kewajiban dakwah ini dengan lebih tenang dan mendalam. 


Apalagi dakwah tidak selalu harus di mimbar. Ia bisa hadir dalam obrolan santai, dalam pesan singkat yang mengingatkan, dalam ajakan shalat, atau dalam menghidupkan majelis ilmu kecil bersama teman dan keluarga. 


Hari libur juga seharusnya menjadi hari untuk belajar Islam. Menghadiri kajian, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, membuka kitab, atau mendengarkan ceramah. Semua itu adalah untuk keselamatan diri sendiri di dunia dan akhirat. Karena sebelum mengajak orang lain, kita harus terus memperbaiki dan menguatkan diri. Rasulullah saw bersabda:


“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)


Bahkan ketika liburan diisi dengan acara keluarga, nilai dakwah tidak boleh hilang. Liburan bukan sekadar jalan-jalan dan bersenang-senang. Ia bisa menjadi sarana menanamkan iman. Ajak keluarga shalat tepat waktu, cari tempat yang mendukung ibadah, sisipkan nasihat dengan penuh kasih, dan jadikan setiap momen sebagai pengingat akan kebesaran Allah. Sebagaimana perintah Allah:


“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)


Dakwah juga berarti membina. Tidak cukup hanya menyampaikan, lalu selesai. Kita butuh tindak lanjut, mendampingi, mengarahkan, dan membersamai saudara-saudara kita. Inilah dakwah yang hidup dan berdampak keberuntungan jangka panjang. Rasulullah saw bersabda:


“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)


Maka jangan biarkan hari liburmu berlalu tanpa makna. Jangan sampai ia hanya diisi dengan kesenangan yang fana, tanpa bekas untuk akhirat. Jadikan hari libur sebagai ladang amal, sebagai waktu untuk berdakwah, belajar, dan membina.


Karena sejatinya, seorang muslim tidak pernah benar-benar “libur” dari ketaatan. Ia hanya berpindah dari satu amal ke amal lainnya. Dan di situlah letak kebahagiaan yang hakiki.

RAMADHANKU SUKSES?

 RAMADHANKU SUKSES?


By. Satria hadi lubis


Gara-gara Ramadhan, bacaan al Quran-ku makin banyak. Dulu satu ayat saja belum tentu aku baca, sekarang minimal 1 juz al Quran aku baca setiap harinya.


Sekarang aku juga makin rutin sholat tahajjud. Sholat dhuha juga makin sering. Hapalan al Quran aku juga makin bertambah. Dulu....boro-boro.


Gara-gara Ramadhan, aku makin rajin baca buku agama. Dua puluh hari Ramadhan, sudah tujuh buku agama dibaca tuntas.


Datangnya Ramadhan juga membuat hubunganku dengan keluarga makin akrab. Aku makin mengerti dan mengenal apa yang disukai dan tidak disukai setiap anggota keluargaku. Kami makin akrab. Waktu Kumpul Keluarga (WKK) bisa dilakukan makin sering, bahkan ada acara pengajian keluarga juga.....keren khan...hehe


Gara-gara Ramadhan, aku makin punya waktu untuk mengasah otakku. Sepertinya makin cerdas, karena selain banyak membaca buku, aku juga belajar berbagai hal yang tadinya belum aku ketahui. Termasuk makin pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bahkan bisa menikmati hal-hal "kecil" yang tadinya aku abaikan, seperti memasak, menyapu rumah, berkebun, memperbaiki meja yang rusak, dan lain-lain. Home sweet home makin aku rasakan indahnya.


Iya...gara-gara Ramadhan, spritualitas, emosional, intelektual dan kesehatanku makin meningkat. Juga makin pandai bersyukur dan ikhlas. Makin pandai mengatur waktu yang sedikit ini untuk mencari pahala dan kebahagiaan sejati. 


Tapi ...

ITU MIMPI SAYA....


Sedang kenyataannya Ramadhanku berantakan....


Banyak waktu berlalu tanpa arti...

Karena aku sering tunda-tunda.


Tahu-tahu Ramadhan kan berakhir...

Sedang aku belum apa-apa...

Masih sibuk berbagai urusan sana sini

Atau asyik rebahan sambil main hape tiap hari...


Astaghfirullah...

NUZULUL QUR'AN : SAATNYA MENDAKWAHKAN AL-QUR'AN

 NUZULUL QUR'AN : SAATNYA MENDAKWAHKAN AL-QUR'AN 


By. Satria hadi lubis 


RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan turunnya cahaya. Pada bulan inilah Allah menurunkan kitab yang menjadi petunjuk hidup manusia, yaitu Al-Qur'an. Karena itu, kemuliaan Ramadhan tidak bisa dipisahkan dari peristiwa agung yang dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, saat wahyu pertama turun kepada Muhammad melalui malaikat Jibril.


“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)


Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala, tetapi ia adalah petunjuk hidup yang menerangi jalan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Peristiwa Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa manusia tidak dibiarkan berjalan sendiri dalam kehidupan. Allah menurunkan wahyu agar manusia mengetahui tujuan hidupnya, memahami mana yang benar dan mana yang salah, serta memiliki pedoman dalam membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.


Karena itu, sejak dahulu para ulama menjadikan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Mereka memperbanyak tilawah, mentadabburi maknanya, dan menghidupkan ajarannya dalam kehidupan. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, bahkan ada yang setiap malam. Bagi mereka, Ramadhan tanpa Al-Qur’an adalah Ramadhan yang kehilangan ruhnya.


Namun hubungan dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada membaca saja. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk diamalkan dan didakwahkan.


“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Fussilat: 33)


Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak hanya terletak pada ibadah pribadinya, tetapi juga pada kesediaannya mengajak manusia kepada kebaikan, yakni melalui dakwah yang paling mulia, mendakwahkan Al-Qur’an, mengajak manusia kembali kepada petunjuk Allah.


Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)


Hadits ini memberikan pesan yang sangat dalam. Ukuran kemuliaan seseorang dalam Islam bukan hanya pada seberapa banyak ia membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada seberapa besar ia membagikan cahaya Al-Qur’an kepada orang lain.


Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memulai dakwah Al-Qur’an. Hati manusia pada bulan ini lebih lembut. Masjid lebih hidup. Orang-orang lebih mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah. Inilah waktu terbaik untuk mengajak keluarga, sahabat, dan masyarakat kembali dekat dengan Al-Qur’an.


Dakwah Al-Qur’an tidak selalu harus dengan ceramah besar di mimbar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana : mengajak keluarga membaca Al-Qur’an, membina anak-anak agar mencintai Al-Qur’an, mengingatkan teman untuk memperbaiki bacaan, atau membagikan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyejukkan hati.


Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, akhlak yang baik juga merupakan bentuk dakwah Al-Qur’an. Ketika seorang muslim jujur dalam berdagang, lembut dalam berbicara, sabar dalam menghadapi masalah, dan adil dalam bersikap, sebenarnya ia sedang menunjukkan kepada dunia bagaimana Al-Qur’an hidup dalam dirinya.


Rasulullah saw sendiri adalah “Al-Qur’an yang berjalan (The Living Qur'an).” Akhlaknya mencerminkan ajaran Al-Qur’an. Apa yang beliau lakukan adalah penerapan nyata dari wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT.


Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya bukan sekadar acara seremonial. Ia harus menjadi momen untuk bertanya kepada diri sendiri : apakah Al-Qur’an sudah benar-benar hidup dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya membacanya di bulan Ramadhan, ataukah kita juga berusaha menyebarkan nilai-nilainya kepada orang lain?


Jika Ramadhan kali ini kita tidak hanya membaca Al-Qur’an tetapi juga mulai mengajarkannya, menyampaikannya, dan menghidupkan nilainya dalam kehidupan, maka sebenarnya kita sedang melanjutkan misi besar yang dimulai sejak peristiwa Nuzulul Qur’an lebih dari empat belas abad yang lalu.


Maka di tengah dunia hari ini yang bising dengan berbagai informasi dan ideologi, sehingga banyak manusia yang kehilangan arah meskipun memiliki ilmu dan teknologi yang maju. Di tengah situasi seperti ini, Al-Qur’an lebih dibutuhkan untuk menjadi cahaya yang mampu menuntun manusia menuju kebenaran. 


Dan kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk --bukan hanya menjaga Al-Qur’an dalam mushaf-- tetapi juga menghidupkannya dalam dakwah dan kehidupan.

TARAWIH : SENDIRI ATAU BERJAMAAH?

 TARAWIH : SENDIRI ATAU BERJAMAAH?


By. Satria hadi lubis 


MALAM Ramadhan selalu punya suasana yang berbeda. Lampu masjid menyala lebih lama. Anak-anak berlarian kecil membawa sajadah. Orang-orang yang siangnya lelah bekerja, malam itu tetap melangkah menuju rumah Allah.


Lalu muncul satu pertanyaan sederhana, lebih baik tarawih sendiri atau berjamaah?


Di zaman Nabi Muhammad saw, tarawih pernah dilakukan berjamaah beberapa malam. Para sahabat merasakan indahnya berdiri bersama beliau. Namun beliau kemudian tidak keluar lagi, bukan karena tidak suka berjamaah, tapi karena khawatir shalat malam itu diwajibkan atas umatnya. Betapa lembutnya beliau kepada kita.


Setelah beliau wafat, kekhawatiran itu tidak ada lagi. Di masa Umar bin Khattab, kaum muslimin dikumpulkan dalam satu jamaah dengan satu imam, Ubay bin Ka'ab. Sejak saat itu, tarawih berjamaah menjadi syiar yang hidup, dari masjid kecil di kampung hingga masjid besar di kota.


Tarawih berjamaah itu indah. Kita berdiri bersama. Rukuk bersama. Sujud bersama. Hati-hati yang berbeda latar belakangnya, malam itu tunduk pada Tuhan yang sama. Ada pahala besar bagi yang mengikuti imam sampai selesai, seperti shalat semalam penuh.


Namun, tarawih sendiri juga bukan pilihan yang salah. Ada ibu yang harus menidurkan anaknya. Ada ayah yang pulang kerja sangat larut. Ada orang sakit yang tak mampu berjalan jauh. Ada pula jiwa yang lebih mudah menangis ketika sendiri dalam sunyi. Di ruang kecil rumahnya, ia berdiri pelan, membaca ayat demi ayat, mungkin terbata, tapi tulus.


Ramadhan tidak sedang mengadu kita : siapa yang ke masjid, siapa yang di rumah. Ramadhan justru sedang bertanya : siapa yang hatinya paling hidup?


Kalau berjamaah membuat hati kita lebih kuat, maka datanglah ke masjid.

Kalau sendiri membuat hati lebih khusyuk, maka jangan merasa kecil.

Yang terpenting bukan ramai atau sunyi.

Bukan panjang atau pendek.

Bukan cepat atau lambat.


Yang terpenting adalah malam itu kita benar-benar berdiri untuk Allah.


Karena pada akhirnya, tarawih bukan sekadar soal tempat kita shalat. Ia adalah tentang ke mana hati kita menghadap.

JANGAN TERJEBAK MENCARI UANG, WALAU HIDUP SUSAH

JANGAN TERJEBAK MENCARI UANG, WALAU HIDUP SUSAH


By. Satria hadi lubis


HIDUP memang tidak selalu mudah. Harga kebutuhan naik. Tanggung jawab bertambah. Anak butuh sekolah. Orang tua butuh perhatian. Tagihan datang tanpa kompromi. Di titik itu, banyak orang mulai berkata, “Yang penting cari uang dulu. Urusan lain belakangan.”


Lalu tanpa sadar, hidup berubah arah. Bukan lagi mencari ridha Allah, tapi mengejar nominal. Bukan lagi menata hati, tapi menata pemasukan. Bahkan bukan lagi bertanya “halal atau tidak?”, tapi “untung atau tidak?”


Padahal, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita menjadikan uang sebagai tujuan hidup.

Yang Allah perintahkan kepada kita adalah bertakwa, sehingga mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.


“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)


Perhatikan… jalan keluar dulu dengan bertaqwa, baru dapat rezeki. Bukan sebaliknya.


Banyak orang terjebak. Karena merasa hidup susah, ia menghalalkan segala cara. Pinjam sana-sini tanpa niat bayar. Ambil yang bukan haknya.


Bekerja siang malam sampai lupa shalat, lupa keluarga, lupa berdakwah dan ikut tarbiyah, hingga lupa akhirat. Ia kira sedang menyelamatkan hidupnya. Padahal pelan-pelan ia sedang menenggelamkan dirinya sendiri.


Ketahuilah... uang itu alat. Bukan tujuan. Kalau alat dijadikan tujuan, hidup jadi salah arah. Ironisnya, tidak sedikit yang sudah mendapatkan uang banyak, tapi hidupnya tetap gelisah. Sebab ketenangan bukan berasal dari angka di rekening, tapi berasal dari hati yang dekat dengan Allah.


Hidup susah itu ujian. Tapi menghabiskan waktu untuk mencari uang juga ujian. Apalagi dengan menghalalkan segala cara. Ingat… kemiskinan tidak pernah menghinakan seseorang. Yang menghinakan adalah ketika kita menjual iman demi rupiah.


Kalau hari ini hidup terasa berat, perbanyaklah sujud, bukan panik. Perbanyaklah istighfar, bukan nekat. Karena rezeki bukan soal cepat atau lambat. Rezeki soal berkah atau tidak.

Dan sering kali, sedikit yang berkah jauh lebih menenangkan

daripada banyak yang penuh masalah.


Jangan terjebak mencari uang, walau hidup susah.

Carilah Allah, maka uang akan mengikuti sesuai kadar yang Dia tetapkan. Sebab yang kita butuhkan bukan sekadar kaya, tapi selamat dunia akhirat.

Sabtu, 25 April 2026

KEBIASAAN RASULULLAH SAW MENYAMBUT RAMADHAN

 KEBIASAAN RASULULLAH SAW MENYAMBUT RAMADHAN


By. Satria hadi lubis 


RAMADHAN tidak datang secara tiba-tiba dalam kehidupan Rasulullah saw. Bagi Nabi saw, Ramadhan bukan sekadar tanggal di kalender, tapi tamu agung yang dimuliakan. Lalu bagaimana kebiasaan Rasulullah saw menyambut bulan Ramadhan?


1.⁠ ⁠Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban.

Salah satu kebiasaan paling menonjol adalah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Bahkan, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban lebih banyak dibanding bulan-bulan lain, kecuali Ramadhan. Puasa ini bukan sekadar latihan fisik, tapi pemanasan ruhani. Seakan Rasulullah saw mengajarkan : jangan masuk Ramadhan dalam keadaan iman yang dingin.


Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).


2.⁠ ⁠Lebih Intim dengan Al-Qur’an.

Meski Rasulullah saw selalu hidup bersama Al-Qur’an, namun menjelang Ramadhan beliau semakin meninggikan intensitasnya. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, maka Nabi saw mencontohkan umatnya untuk berinteraksi lebih intens dengan al Qur'an sebelum Ramadhan.


Para salaf memberi petunjuk kepada kita untuk memperbanyak membaca Qur’an sejak dari bulan Sya’ban, bukan hanya di bulan Ramadhan. Sebagaimana bulan Ramadhan kita dituntun untuk sibuk dengan Al Qur’an, maka sebagai pemanasan aktivitas mulia tersebut sudah seharusnya dimulai dari bulan Sya’ban.


Salamah bin Kahiil berkata, “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” ‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an.


3.⁠ ⁠Memperbanyak Doa dan Munajat.

Rasulullah saw dikenal sebagai hamba yang paling banyak berdoa. Menjelang Ramadhan, doa dan munajat beliau, terutama di sepertiga malam semakin sering. Ada harap, ada rindu, ada ketundukan. Nabi saw berkata dengan lisannya : "Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan. (HR Imam Baihaqi dan Thabrani).


4.⁠ ⁠Menjaga Hati dan Memperbanyak Sedekah.

Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tapi menjaga hawa nafsu dan hati. Rasulullah saw menyambut Ramadhan dengan memperhalus akhlak, menahan emosi, dan membersihkan hubungan dengan manusia.


Beliau saw juga memperbanyak sedekah, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Ibn Abbas RA berkata: “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya lebih besar lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


5.⁠ ⁠Menata Niat dan Kesungguhan.

Yang paling penting, Rasulullah saw menyambut Ramadhan dengan niat yang lurus dan kesungguhan total. Tidak setengah-setengah. Ramadhan adalah proyek besar keimanan, bukan ibadah sambil lalu. Beliau mempersiapkan diri seakan menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan yang terakhir, tak ada kesempatan pada tahun berikutnya. 


Abu Bakr al-Balkhi Rahimahullah, “Bulan Rajab sebagai bulan penanaman, Sya’ban sebagai bulan penyiraman tanaman, dan Ramadhan sebagai bulan panen hasil.”


Rasulullah saw seakan mengajarkan kepada kita bahwa Ramadhan seyogyanya dimenangkan sebelum bulan Ramadhan datang. Siapa yang serius mempersiapkan diri, dialah yang akan memetik manisnya.


Maka jika hari ini kita masih diberi kesempatan waktu menjelang Ramadhan, jangan sia-siakan. Perbaiki niat. Perbanyak ibadah. Agar ketika Ramadhan tiba, kita tidak hanya hadir dengan tubuh, tapi juga dengan jiwa yang siap kembali pulang kepada Allah.