Minggu, 26 Juli 2026

MA'RIFATULLAH: AWAL DARI KETENANGAN HIDUP

 MA'RIFATULLAH: AWAL DARI KETENANGAN HIDUP


By. Satria hadi lubis


MENGAPA banyak orang memiliki harta, jabatan, dan keluarga yang baik, tetapi tetap gelisah? Mengapa ada yang hidup serba cukup, namun hatinya selalu merasa kurang?Jawabannya bukan karena kurangnya dunia, tetapi karena kurangnya mengenal Allah (ma'rifatullah).


Hati manusia diciptakan oleh Allah. Karena itu, tidak ada yang mampu menenangkan hati selain Dia. Dunia hanya mampu menghibur sesaat, tetapi tidak dapat mengisi kekosongan jiwa. Sebab, kebutuhan terbesar manusia bukan sekadar makan, minum, atau tempat tinggal, melainkan mengenal Rabb yang menciptakannya. Allah Ta'ala berfirman:


"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)


Namun, seseorang tidak akan mampu banyak mengingat Allah jika ia belum mengenal-Nya. Semakin dalam ma'rifatullah, semakin mudah lisan berzikir, semakin khusyuk shalatnya, dan semakin tenang hatinya menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Orang yang mengenal Allah yakin bahwa semua ketetapan-Nya pasti baik. Ia tidak mudah putus asa ketika kehilangan, tidak sombong ketika mendapatkan, dan tidak takut berlebihan terhadap masa depan. Ia percaya bahwa Rabb yang mengatur alam semesta juga sedang mengatur hidupnya dengan penuh hikmah.


Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa luas kasih sayang-Nya, betapa sempurna kebijaksanaan-Nya, dan betapa besar nikmat yang selama ini ia terima. Dari situlah tumbuh mahabbatullah—cinta yang tulus kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman:


"Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu..." (QS. Muhammad: 19)


Perhatikanlah, Allah memulai dengan perintah "ketahuilah". Ilmu dan pengenalan kepada Allah didahulukan sebelum amal. Ini menunjukkan bahwa ma'rifatullah adalah fondasi keimanan.


Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:


"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang memperoleh rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."

(QS. Al-An'am: 82)


Perhatikan, Allah Ta’ala mengaitkan rasa aman dan petunjuk dengan kemurnian Tauhid. Semakin bersih Tauhid seseorang, semakin besar ketenangan yang akan Allah anugerahkan kepadanya. Dan tak mungkin seseorang bertauhid, jika ia tidak mengenal Allah.


Karena itu, jangan hanya sibuk mencari solusi untuk menenangkan pikiran, tetapi sibukkanlah diri untuk mengenal Allah lebih dalam. Pelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, baca dan tadabburi ayat Al-Qur'an, perbanyak zikir, perbaiki shalat, dan jauhi maksiat. Semua itu akan menumbuhkan ma'rifatullah dalam hati.


Ketika hati telah mengenal Allah, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban. Shalat menjadi kebutuhan, Al-Qur'an menjadi teman, doa menjadi tempat kembali, dan ketaatan menjadi sumber kebahagiaan.


Ketenangan sejati bukanlah ketika semua masalah selesai. Ketenangan sejati adalah ketika hati yakin bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.


Maka, jika hari ini hati terasa sempit, jangan hanya bertanya, "Bagaimana masalah ini selesai?" Bertanyalah juga, "Sudah sejauh mana aku mengenal Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya?"


Sebab, ma'rifatullah adalah awal dari semua ketenangan. Semakin kita mengenal Allah, semakin kecil dunia di mata kita, dan semakin besar rasa percaya kepada kehendak-Nya.


Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan merasakan ketenangan dalam setiap takdir yang Dia tetapkan.


"Semakin dalam mengenal Allah, semakin besar cinta kepada-Nya, dan semakin dekat jalan menuju surga-Nya." 🤲🌿

KAMPANYE LGBT: KAMPANYE PERTARUHAN FITRAH

 KAMPANYE LGBT: KAMPANYE PERTARUHAN FITRAH


By. Satria hadi lubis


SIKAP BEM Fakultas Psikologi UI yang baru-baru ini menyebut perilaku LGBT bukan penyimpangan sungguh sangat memprihatinkan kita semua. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai kemenangan kampanye LGBT yang belakangan ini makin masif. 


Ternyata, saat ini kita bukan hanya menghadapi krisis ekonomi, krisis lingkungan, atau krisis politik, tapi juga krisis yang jauh lebih mendasar, yaitu krisis fitrah manusia. Hal itu dapat terlihat dari maraknya kampanye LGBT di berbagai media, lembaga pendidikan, industri hiburan, hingga platform digital.


Yang menjadi persoalan bagi kita bukanlah sekedar keberadaan individu yang memiliki kecenderungan menyimpang dengan menjadi boti. Persoalannya adalah ketika perilaku yang bertentangan dengan fitrah manusia itu dipromosikan, dinormalisasi, dan diperjuangkan agar setara dengan hubungan normal laki-laki dan perempuan.


Padahal Allah SWT hanya menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan.


"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Az-Zariyat: 49)


"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak." (QS. An-Nisa': 1)


Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa keberlangsungan umat manusia bergantung pada hubungan laki-laki dan perempuan. Dari pasangan normal itulah lahir generasi baru yang akan melanjutkan peradaban manusia.


Tak ada satu pun peradaban di sepanjang sejarah manusia yang lahir dari hubungan sesama jenis. Semua peradaban dibangun di atas institusi keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.


Institusi keluarga bukan sekadar sarana memenuhi kebutuhan biologis, tetapi mempunyai tujuan yang lebih mulia sebagaimana firman Allah SWT:


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)


Dalam ayat ini, pernikahan bertujuan menghadirkan ketenangan dan kasih sayang. Dari situ, lahirlah generasi yang baik, nasab yang terjaga, dan masyarakat yang kokoh. 


Lalu ketika hubungan sesama jenis diposisikan setara dengan hubungan normal laki-laki dan perempuan, maka tujuan besar tersebut tak akan dapat terwujud sebagaimana mestinya fitrah penciptaan manusia.


Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah dampak dari normalisasi perilaku menyimpang LGBT terhadap cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda. 


Saat ini saja kita melihat ada anak muda yang tak mau menikah, tak mau punya anak, hingga berdampak pada turunnya angka kelahiran, dan generasi penerus semakin berkurang, seperti yang dialami banyak negara Eropa. Disana terjadi krisis kelahiran, populasi yang menua, dan berkurangnya tenaga produktif. Semua itu menunjukkan betapa berbahayanya jika kampanye boti dibiarkan dan dianggap normal.


Al-Qur'an telah mengingatkan kisah kaum Nabi Luth as sebagai pelajaran tentang keberadaan kaum LGBT yang melanggar fitrah.


"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu, bukan kepada perempuan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf: 81)»


"Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia dan meninggalkan istri-istri yang telah diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Asy-Syu'ara: 165–166)


Kisah Nabi Luth as tidak sekadar menceritakan sejarah, tetapi menjadi peringatan agar manusia tidak boleh menormalisasi perilaku yang bertentangan dengan fitrah yang telah Allah tetapkan.


Jadi ketika hari ini kita menolak kampanye LGBT bukan berarti membenci pelakunya. Kita perlu membedakan antara manusia dan perbuatannya. Sebagai muslim, kita tak boleh menghina, menzalimi, atau merampas hak siapa pun. Namun seorang muslim juga tidak boleh menganggap benar sesuatu yang telah Allah nyatakan sebagai dosa besar.


Oleh karena itu, umat Islam hari ini dituntut untuk menjaga fitrah manusia, menjaga keluhuran berkeluarga, menjaga tumbuhnya generasi bermoral, dan menjaga masa depan peradaban yang baik. Sebaliknya, ketika kampanye LGBT dibiarkan dan penyimpangan seksual dinormalisasi, maka fondasi peradaban akan melemah, bahkan hancur.


Tentu kita tahu bahwa masa depan manusia tak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi. Masa depan manusia sangat bergantung pada kemampuannya menjaga fitrah yang telah Allah Ta’ala tetapkan. 


"Ketika fitrah dijaga, kehidupan akan lestari. Ketika fitrah ditinggalkan, kehidupan akan rusak dan peradaban akan kehilangan arah."

MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENGHUKUM KITA?

 MENGAPA ALLAH TIDAK SEGERA MENGHUKUM KITA?


By. Satria hadi lubis


Seorang murid bertanya pada gurunya,


"Wahai Syeikh, mengapa Allah tidak segera menghukum orang-orang yang bermaksiat dan banyak berbuat dosa?"


Sang guru menjawab,


"Siapa bilang Allah tidak menghukum mereka? Bisa jadi mereka telah dihukum, tetapi tidak menyadarinya.


Ketahuilah...


Tidak semua hukuman Allah berupa musibah, kehilangan harta, sakit, atau kesulitan hidup. Bahkan, hukuman yang paling berat justru terjadi di hati yang hampa dan keras.


Ketika seseorang mulai kehilangan kenikmatan shalat, tidak lagi rindu membaca Al-Qur'an, malas berdzikir, enggan menghadiri liqo' dan majelis ilmu, serta semakin mudah melakukan maksiat tanpa merasa bersalah, bukankah itu hukuman yang sangat besar? Allah SWT berfirman:


"Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka." (QS. Ash-Shaff: 5)


Hati yang berpaling dari Allah adalah hukuman yang sangat menakutkan.

Bukankah pernah berlalu hari-hari tanpa kita menyentuh Al-Qur'an?

Bukankah malam-malam berlalu tanpa satu rakaat pun shalat malam?

Bukankah Ramadhan, enam hari Syawal, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan berbagai musim kebaikan datang lalu pergi, tetapi kita tidak diberi taufiq untuk memanfaatkannya dengan maksimal?


Bukankah terkadang kita merasa berat melangkah ke masjid, tetapi ringan melangkah ke pusat perbelanjaan atau tempat hiburan?

Bukankah lisan terasa mudah untuk bergibah, mengeluh, atau berdusta, tetapi terasa berat untuk berdzikir dan membaca Al-Qur'an?

Bukankah langkah lebih mudah mengejar harta, jabatan, dan popularitas daripada berdakwah mengejar ridho Allah?


Jika itu terjadi, jangan-jangan itulah peringatan dari Allah agar kita segera kembali kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda:


"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Rezeki itu bukan hanya harta. Justru rezeki terbesar adalah iman, taufiq, kelezatan beribadah, hati yang lembut, dan kemudahan melakukan amal saleh dan berdakwah.


Sebaliknya, kehilangan taufiq adalah kehidupan yang sangat merugikan. Allah Ta'ala berfirman:


"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)


Kesempitan hidup bukan hanya soal ekonomi. Hati yang gelisah, galau dan kosong, serta kehilangan arah juga merupakan bentuk kesempitan hidup.


Karena itu, jangan merasa aman hanya karena hidup masih dipenuhi kenikmatan dunia. Bisa jadi Allah sedang menghukum kita, sambil tetap memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat. 


Jadi kenikmatan hidup yang dirasakan oleh mereka yang suka bermaksiat itu bukan berarti Allah SWT meridhoi kemaksiatannya. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda?


"Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang terus-menerus bermaksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj." (HR. Ahmad)


Maka, jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk sholat dengan khusyuk, menikmati tilawah Al-Qur'an, menghadiri liqo' atau majelis ilmu, berdakwah, mudah sedekah, dan ringan melakukan kebaikan, bersyukurlah. Itulah salah satu tanda taufiq dan hidayah dari Allah 'Azza wa Jalla.


Sebaliknya, jika hati mulai keras, ibadah terasa berat, maksiat terasa ringan, jauh dari tempat berkumpulnya orang-orang sholih (majelis ilmu) dan dunia menjadi tujuan utama, segeralah istighfar!


Sebab, hukuman yang paling menakutkan bukanlah berkurangnya harta, turunnya jabatan, pudarnya ketenaran, atau hilangnya kesehatan. Hukuman yang paling menakutkan adalah ketika hati semakin jauh dari Allah, sementara kita tidak menyadarinya."


"Ya Allah, jangan palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran: 8)

SHALAT SUNNAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN RASULULLAH

 SHALAT SUNNAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN RASULULLAH ï·º


✍️ By. Satria Hadi Lubis


BANYAK orang berkata, "Itu hanya shalat sunnah." Seakan-akan karena sunnah, maka boleh dikerjakan sesuka hati atau ditinggalkan tanpa penyesalan.


Padahal, ada shalat-shalat sunnah yang begitu dicintai Rasulullah saw hingga hampir tidak pernah beliau tinggalkan, baik ketika mukim maupun saat safar (bepergian).


Di antaranya adalah:


🌿 1. Shalat Witir

Rasulullah saw selalu menutup shalat malamnya dengan witir. Bahkan beliau berpesan:


"Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah witir."

(HR. Bukhari dan Muslim)


🌿 2. Dua Rakaat Sebelum Subuh (Qabliyah Subuh)

Inilah shalat sunnah yang paling ditekankan. Rasulullah saw bersabda:


"Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." (HR. Muslim)


Bahkan ketika sedang safar pun beliau tetap mengerjakannya.


🌿 3. Shalat Malam (Tahajud/Qiyamul Lail)

Allah memerintahkan Nabi saw:


"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra': 79)


Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah saw senantiasa bangun malam hingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat.


🌿 4. Shalat Rawatib Muakkadah

Rasulullah saw juga sangat menjaga shalat-shalat sunnah rawatib, terutama 12 rakaat dalam sehari semalam. Beliau saw bersabda:


"Barang siapa menjaga dua belas rakaat shalat sunnah dalam sehari semalam, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga." (HR. Muslim)


Shalat sunnah bukanlah tanda kita sudah sempurna. Justru ia menjadi bukti bahwa kita menyadari shalat wajib kita masih penuh kekurangan.


Kelak di yaumil hisab, amalan sunnah akan menjadi penyempurna kekurangan amalan wajib. Karena itu, jangan merasa cukup hanya dengan yang wajib.


Mulailah dari yang paling dijaga Rasulullah saw, yaitu dua rakaat sebelum Subuh, witir setiap malam, lalu perlahan biasakan qiyamul lail dan rawatib.


Seseorang akan semakin dekat kepada Allah bukan hanya karena melakukan yang wajib, tetapi juga karena terus menghiasi hidupnya dengan amalan-amalan sunnah yang dicintai-Nya.


"Barang siapa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, maka Aku akan mencintainya." (Hadis Qudsi, HR. Bukhari)


"Jangan menganggap shalat sebagai beban. Justru Allah menjadikan shalat bagi kita untuk meringankan beban (hidup)."

RESPEK ITU KEBUTUHAN UTAMA SUAMI

 RESPEK ITU KEBUTUHAN UTAMA SUAMI


By. Satria hadi lubis


BANYAK istri yang mengira kebutuhan utama suami adalah makanan yang enak, rumah yang nyaman, atau pelayanan yang baik. Semua itu memang penting. Namun, ada satu kebutuhan yang sering terlupakan padahal sangat menentukan kebahagiaan seorang suami: respek (penghormatan).


Seorang laki-laki bisa bekerja keras siang dan malam, menghadapi tekanan hidup, menanggung berbagai tanggung jawab, karena ia merasa dihargai oleh keluarganya. Sebaliknya, banyak laki-laki yang kehilangan semangat ketika merasa usahanya tidak pernah dihormati dan pengorbanannya tidak pernah dianggap.


Bukan berarti suami ingin dipuja atau dianggap selalu benar. Tidak. Suami juga manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Namun, setiap laki-laki memiliki kebutuhan fitrah untuk merasa dihormati oleh orang-orang terdekatnya, terutama oleh istrinya.


Karena itu, Islam mengajarkan adab yang sangat indah dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman:


"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Akan tetapi para suami mempunyai satu derajat kelebihan atas mereka." (QS. Al-Baqarah: 228)


Kelebihan yang dimaksud bukanlah hak untuk bersikap zalim, melainkan tanggung jawab kepemimpinan yang harus dijalankan dengan amanah. Dan setiap pemimpin membutuhkan dukungan serta respek (penghormatan) agar mampu menjalankan tugasnya dengan baik.


Ketika seorang istri menghargai pendapat suaminya, sering memujinya dengan tulus, menjaga kehormatannya di hadapan orang lain, dan mengakui usaha-usahanya meskipun belum sempurna, maka ia sedang membangun kekuatan besar di dalam jiwa suaminya.


Sebaliknya, istri yang tidak peduli kebutuhan suami berupa respek, dengan sering "menghabisi" upaya suaminya, mengkritik secara kasar, sindiran yang terus-menerus, menjelek-jelekkan suami di depan anaknya, atau membanding-bandingkan suami dengan laki-laki lain dapat meruntuhkan semangat yang selama ini ia bangun dengan susah payah. 


Kadang butuh waktu bagi suami untuk berubah sesuai keinginan istri, namun banyak istri yang tak sabar dengan perubahan lambat suami. Lalu akhirnya semua uneg-uneg istri disampaikan begitu saja tanpa filter. Padahal Rasulullah saw bersabda:


"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya." (HR. Tirmidzi)


Hadis ini mengingatkan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan baik. Namun rumah tangga yang bahagia tidak dibangun oleh satu pihak saja. Suami membutuhkan cinta, dan cinta akan tumbuh lebih kuat ketika disertai respek dari istrinya.


Perlu diingat oleh setiap pasangan, bahwa kelemahan istri adalah di lisannya (KDRT secara psikis), sedang kelemahan suami di tangannya (KDRT secara fisik). Maka berhati-hatilah dengan lisan dan tangan agar tidak sembrono digunakan, yang bisa berujung pada penyesalan.


Pada akhirnya, laki-laki tidak selalu membutuhkan pujian yang besar. Kadang ia hanya membutuhkan kalimat sederhana:


"Terima kasih sudah berjuang untuk keluarga ini."


Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi banyak suami, itulah bahan bakar yang membuatnya sanggup melanjutkan perjuangan hidupnya.


Karena itu, jika cinta adalah cahaya rumah tangga, maka respek adalah tiang yang menopangnya. Ketika keduanya hadir bersama, rumah tangga akan menjadi tempat yang menenangkan, menguatkan, dan membahagiakan bagi suami, istri, dan anak-anak.


"Seorang suami yang dihormati akan semakin kuat mencintai. Dan seorang istri yang dicintai akan semakin mudah menghormati. Dari sinilah lahir keluarga sakinah."

TETAP BAHAGIA DI TENGAH KEBISINGAN HIDUP

 TETAP BAHAGIA DI TENGAH KEBISINGAN HIDUP


By. Satria hadi lubis


HIDUP hari ini terasa semakin bising.


Bukan hanya karena suara kendaraan, keramaian kota, atau padatnya aktivitas. Yang lebih melelahkan adalah kebisingan yang masuk ke dalam hati.


Setiap hari kita dibanjiri informasi. Notifikasi datang silih berganti. Berita buruk bermunculan tanpa henti. Media sosial menampilkan keberhasilan orang lain, sementara kita diam-diam membandingkan hidup sendiri. Tuntutan pekerjaan semakin besar. Masalah keluarga datang bergantian. Belum selesai satu persoalan, muncul persoalan berikutnya.


Seolah-olah hidup tidak pernah memberi jeda. Akibatnya, banyak orang hidup dalam keadaan lelah. Bukan karena tubuhnya kurang istirahat, tetapi karena jiwanya tidak pernah benar-benar tenang.


Ironisnya, di zaman yang serba canggih dan serba mudah ini, justru semakin banyak orang yang kehilangan kebahagiaan.


Islam memandang persoalan ini dengan sangat berbeda. Islam tidak mengajarkan kita untuk lari dari kehidupan. Islam juga tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan hidup tanpa ujian. Justru Allah telah mengabarkan bahwa kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Namun, Islam menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga: KETENANGAN HATI.


Orang yang bertauhid tidak menggantungkan kebahagiaannya pada keadaan. Ia tidak menunggu semua masalah selesai untuk bisa tersenyum. Ia tidak menunggu semua keinginannya terpenuhi untuk merasa damai.


Mengapa? Karena sumber kebahagiaannya bukan dunia, tetapi Allah.


"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)


Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa hati menjadi tenang karena harta yang banyak, jabatan yang tinggi, rumah yang mewah, atau kehidupan yang tanpa masalah. Allah menegaskan bahwa ketenangan hati lahir karena mengingat-Nya. Artinya, sumber ketenangan itu berada di dalam hati, bukan di luar diri kita.


Namun, ada satu hal yang sering luput kita sadari. Kebisingan hidup bukan hanya berasal dari masalah yang kita alami sendiri. Sering kali, kebisingan itu datang dari persoalan orang lain yang tanpa sadar kita bawa masuk ke dalam hati.


Ada teman yang bermasalah. Kita ikut gelisah.

Ada kerabat yang berselisih. Kita ikut terbakar emosi.

Ada rekan kerja yang sedang marah. Suasana hati kita ikut rusak.

Ada berita tentang konflik dan kebencian. Hati kita dipenuhi kecemasan sepanjang hari.


Padahal, tidak semua persoalan harus kita pikul secara emosional. Berempati adalah akhlak yang mulia. Membantu sesama adalah ibadah. Menasihati adalah bentuk kasih sayang. Tetapi kita jangan tenggelam dalam setiap masalah yang ada di sekitar kita.


Orang yang bijaksana mampu membedakan antara peduli dan ikut hanyut.


Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia memberi nasihat dengan kelembutan. Ia mendoakan dengan tulus. Ia membantu sesuai kemampuannya. Namun setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ia tidak membiarkan pikirannya terus-menerus dipenuhi persoalan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.


Inilah salah satu bentuk kedewasaan seorang mukmin.


Ketika menghadapi masalah orang lain, posisikan diri sebagai penolong, bukan sebagai orang yang ikut tenggelam. Jadilah seperti seseorang yang berdiri kokoh di tepi sungai untuk menarik korban yang hanyut. Jangan ikut melompat tanpa pegangan hingga akhirnya sama-sama terseret arus.


Semakin tenang hati kita, semakin jernih pikiran kita. Dan semakin jernih pikiran kita, semakin besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang ikut panik akan sulit menjadi penolong.


Lihatlah para nabi, wabilkhusus Nabi Muhammad saw. Mereka sangat mencintai umatnya. Mereka menangis karena memikirkan keselamatan manusia. Mereka berdakwah dengan penuh kasih sayang. Namun, mereka juga menyadari bahwa hidayah bukan berada di tangan mereka.


"Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Qashash: 56)


Ayat ini mengajarkan bahwa kita memiliki batas. Tugas kita adalah berdakwah, berikhtiar, menasihati, membantu, dan mendoakan. Adapun hasil akhirnya adalah urusan Allah. Jangan mengambil hak Allah dengan memikirkan dan baper segala sesuatu yang berada di luar kendali kita. Jangan biarkan hati kita dipenuhi kebisingan yang sebenarnya tak perlu.


Kurangilah membandingkan hidup dengan orang lain.

Kurangilah menghabiskan waktu mengikuti drama kehidupan orang lain.

Kurangilah membawa pulang semua masalah yang kita dengar setiap hari.


Sebaliknya, perbanyak membaca Al-Qur'an, berdzikir, memperbaiki sholat, memperpanjang doa, dan memperkuat Tauhid. Di sanalah hati menemukan tempat beristirahat.


Dunia memang tidak akan pernah benar-benar tenang. Akan selalu ada ujian, konflik, kehilangan, kegagalan, dan berbagai peristiwa yang mengusik hati.


Tetapi seorang mukmin tetap bisa bahagia.

Bukan karena hidupnya tanpa masalah.

Bukan karena semua orang di sekitarnya baik-baik saja.

Bukan pula karena semua urusannya selalu berjalan sesuai harapan.


Ia bahagia karena hatinya selalu kembali kepada Allah.

Ia peduli kepada sesama, tetapi tidak kehilangan ketenangan.

Ia membantu, tetapi tidak ikut tenggelam.

Ia menasihati, tetapi tidak memikul beban yang menjadi urusan Allah.


Inilah buah dari TAUHID yang benar.


Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, dunia boleh saja tetap bising, tetapi jiwa tetap damai.


"Kebahagiaan sejati bukanlah ketika dunia menjadi sunyi, melainkan ketika hati tetap tenang di tengah kebisingan hidup karena selalu bersama Allah."

KELUARGA ITU RUANG UJIAN TAUHID

 KELUARGA ITU RUANG UJIAN TAUHID


By. Satria hadi lubis


BANYAK orang mengira ujian tauhid hanya terjadi ketika seseorang dihadapkan pada ancaman terhadap akidahnya. Padahal, ujian tauhid yang paling sering datang justru berada di tempat yang paling kita cintai: keluarga.


Suami, istri, dan anak adalah nikmat yang luar biasa. Namun, pada saat yang sama, mereka juga dapat menjadi batu ujian tauhid. Pertanyaannya bukan, "Apakah kita mencintai keluarga?" Islam justru memerintahkan kita mencintai dan menyayangi mereka. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah cinta kepada keluarga masih berada di bawah cinta kita kepada Allah, atau justru telah menggeser posisi Allah di hati kita?


"Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." (QS. At-Taubah: 24)


Ayat ini sangat tegas. Allah tidak melarang mencintai keluarga. Yang dilarang adalah menempatkan cinta kepada mereka lebih tinggi daripada cinta kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka..." (QS. At-Taghabun: 14)


Maksudnya, bukan mereka selalu jahat, tetapi terkadang rasa cinta kepada keluarga membuat seseorang mengabaikan perintah Allah atau melakukan larangan-Nya.


Ada suami yang sangat posesif terhadap istri karena kuatir istrinya main mata dengan pria lain.

Ada istri yang sangat cinta kepada suami, sehingga selalu curiga suaminya selingkuh. 

Ada orang tua yang membela anaknya yang salah karena mencintai anaknya secara berlebihan.

Ada pula seseorang yang rela korupsi karena takut keluarganya kehilangan kenyamanan hidup.


Semua itu menunjukkan adanya rasa cinta dan takut kepada manusia yang mulai mengalahkan rasa cinta dan takut kepada Allah Ta'ala. Padahal Allah berfirman,


"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 165)


"...Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman." (QS. Ali 'Imran: 175)


Rasulullah saw adalah manusia yang paling mencintai keluarganya. Beliau sangat menyayangi istri-istrinya, mencintai putri-putrinya, dan memanjakan cucu-cucunya. Namun, ketika menyangkut ketaatan kepada Allah, beliau tidak pernah berkompromi. Beliau pernah bersabda kepada putrinya, Fatimah binti Muhammad:


"Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang kamu kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat menyelamatkanmu dari azab Allah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Para sahabat juga mendahulukan Allah SWT. Ketika hijrah ke Madinah, banyak sahabat harus meninggalkan rumah, harta, bahkan keluarga demi mempertahankan iman. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra mengorbankan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Mus'ab bin Umair ra yang dahulu hidup bergelimang kemewahan rela kehilangan semuanya karena memilih Islam. Ia bahkan dijauhi keluarganya, tetapi tetap teguh mempertahankan keimanan. Bagi mereka, keluarga sangat dicintai, tetapi Allah tetap yang paling dicintai.


Para ulama juga mendahului Tauhid di tengah keluarganya. Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Keluarga adalah amanah, bukan tujuan akhir. Karena itu, seorang mukmin harus mendidik keluarganya agar bersama-sama menuju surga, bukan saling menarik kepada kelalaian.


Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati manusia tidak akan memperoleh ketenangan sejati kecuali ketika Allah menjadi tujuan utamanya. Jika hati menggantungkan kebahagiaan secara mutlak kepada selain Allah, maka hati itu akan mudah gelisah ketika kehilangan apa yang dicintainya.


Jadi, rumah tangga yang kokoh bukanlah rumah tangga yang menjadikan pasangan dan anak-anak sebagai pusat kehidupan, tetapi rumah tangga yang menjadikan Allah SWT sebagai pusatnya.


Suami mencintai istri karena Allah.

Istri menghormati suami karena Allah.

Orang tua mendidik anak karena Allah.

Anak berbakti kepada orang tua karena Allah.


Ketika Allah menjadi pusat cinta, maka cinta kepada keluarga menjadi lebih bersih, lebih tulus, dan lebih kuat, tidak baper (bawa perasaan) berlebihan. Sebaliknya, jika keluarga menjadi "tuhan kecil" yang selalu harus dituruti meski melanggar syariat, maka keluarga dapat merusak fondasi Tauhid kita. Kita menjadi musyrik (mempersekutukan Tuhan) tanpa kita sadari.


Kesimpulannya...


Rumah tangga bukan hanya tempat berbagi kasih sayang, tetapi juga madrasah tauhid. Di sanalah kita diuji: apakah cinta, takut, harap, dan pengorbanan kita tetap bermuara kepada Allah atau telah bergeser kepada makhluk.


Maka, cintailah pasangan dan anak dengan sepenuh hati, tetapi jangan pernah engkau mencintai mereka melebihi Allah Ta’ala. Sayangilah mereka dengan sebaik-baiknya, tetapi jangan sampai rasa sayang itu membuatmu meninggalkan perintah-Nya. Takutlah kehilangan mereka sebagai fitrah manusia, namun jangan sampai rasa takut itu mengalahkan rasa takutmu kepada Allah SWT.


"Keluarga adalah ruang ujian Tauhid. Dimana taat, cinta, takut, dan harapan kepada keluarga tak boleh melebihi kepada Allah"