Rabu, 11 Januari 2017
NIKMAT SUJUD
Orang tua itu susah payah untuk bisa sujud. Penyakit punggung yg telah menderanya sekian lama membuatnya tidak bisa sujud saat sholat. Jika dipaksakan, ia akan kesakitan sampai mengaduh. Matanya berkaca-kaca karena tidak bisa sempurna untuk menjalankan sholat. Terlebih lagi, ia baru saja bertobat untuk menjalankan sholat lima waktu ketika usianya sudah senja.
Subhanallah. ..sungguh nikmat sholat itu justru ketika kita bisa berlama-lama sujud sambil berdoa dan meminta ampun kepada Allah swt. Menyungkurkan wajah yg angkuh ini sambil menangis mengakui kekurangan dan kebodohan atas rahmat-Nya yg tak terkira.
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu" (Qs. 17:107).
Namun lelaki tua yang saya jumpai itu tak lagi dapat melakukannya. Ia telah kehilangan salah satu nikmat Allah, bisa bersujud.
Padahal sujud adalah saat dimana seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya. “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya)” (HR. Muslim).
Di saat sujudlah, seorang hamba bisa mengadu, berkeluh kesah dan meminta bantuan atas berbagai cobaan hidup yg dialaminya. Saat sujud, rasa galau berganti menjadi ketenangan. Pesimis berganti menjadi optimis. Tangis putus asa berganti menjadi senyum harapan.
Namun nikmat sujud itu hilang dari lelaki yang saya jumpai di mesjid itu. Posisi yang paling dekat antara dia dengan Tuhan yang Maha Pengasih telah hilang dan menjadi cobaan baginya. Walau dipaksakan sampai merintih kesakitan untuk sujud, tetap ia tak bisa melakukannya.
Sungguh manusia butuh sujud. Saya tak dapat membayangkan betapa sedihnya hati ini jika suatu ketika saya tak bisa sujud seperti lelaki tua itu. Hilang sudah saat-saat indah berdekatan dgn Allah. Hilang sudah kenikmatan berlama-lama menyungkur pasrah menguatkan jiwa seperti yg dilakukan Umar ra atau orang besar lainnya. Dengan berbekal sujud, mereka tampil perkasa di panggung dunia.
Sayangnya.. nikmat sujud ini justru sering diabaikan oleh mereka yang masih mampu bersujud. Sujud mereka kilat dan tak sempurna. Hal itu bukan saja membuat sholat tidak khusyuk, tapi juga membatalkan sholat. “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak mengenakan hidungnya ke tanah sebagaimana kenanya dahi.” (HR. Ad Daruquthni, no. 1335 dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalah).
Lebih celaka lagi jika ada orang yg mengabaikan kenikmatan sujud dengan jarang melakukan sholat. Sholat lima waktu diabaikannya. Inilah orang yang kufur atas nikmat sujud dan sombong terhadap Allah.
Wahai saudaraku ....belumkah tiba bagimu waktu untuk bersyukur dengan nikmat sujud? Apakah engkau baru sadar setelah tak mampu lagi bersujud? Atau baru menyesal setelah Allah memaksamu bersujud (dengan kematian yang menyakitkan)? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُون
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami) mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri" (Qs. 32:15).##
By. Satria Hadi Lubis
KUMPULAN PUISI
Hidup Ini Keras Nak
Hidup ini keras nak..
Itulah sebabnya engkau diajarkan agama dan budi pekerti sbg benteng jati dirimu.
Lalu kau tanam itu susah payah di dlm dirimu untuk mendapatkan buahnya kelak.
Hidup ini keras nak....
Itulah sebabnya engkau dihujat atau dipuji saat dewasa.
Lalu engkau menanggung sendiri akibatnya, tanpa bisa berlindung atau membanggakannya di hadapan ayah dan ibumu yg telah tiada.
Hidup ini keras nak..
Berdirilah dgn tegar dan bangunlah terus jiwa muliamu!
(By : satria hadi lubis)
--------
Menua Bersamamu
By: satria hadi lubis
Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku
Aku yang lemah dan banyak khilaf ini
Aku yang egois dan tak sabar untuk memahamimu
Aku yg hanya satu dari seribu manusia yg bisa engkau pilih untuk menjadi pasanganmu
Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku
Engkau yang baik dan pengertian
Engkau yang dalam doa diammu dan dalam teriak sayangmu hanya ingin agar aku bahagia
Engkau yang dalamnya lautanpun tak dapat mengalahkan dalamnya lautan cintamu kepadaku.
Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku
Walau sering tidak terucap.
Namun tatapan mata kita.. sentuhan raga kita..
Berkata jujur tentang cinta di antara kita.
Canda dan serius kita dilumuri oleh rasa syukur karena saling sayang di antara kita.
Bahkan benci dan marahan kita pun tak dapat mengalahkan rindu dan kangen kita.
Terima kasih karena engkau mau menua bersamaku.
Bersama tubuh ringkih ini
Bersama wajah yg makin keriput ini
Bersama masa lalu yg penuh suka dan duka
Bersama masa depan yg akan menunggu ajal
Terima kasih kekasih..engkau tetap mau di sisiku
Menghabiskan asa yg tersisa
Meniti jalan ke surga
Meninggalkan warisan generasi sholih
Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku.
Semoga Tuhan sang pemilik cinta memberi karunia cinta ini sepanjang jaman.
Sekali lagi..
Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku.
-------
PEMUDA : DULU DAN KINI
Pemuda
Dulu idealis
Kini materialis
Pemuda
Dulu moralis
Kini hedonis
Pemuda
Dulu berani sendirian
Kini berani keroyokan
Pemuda
Dulu berani mati
Kini takut mati, takut hidup
Pemuda
Engkau dimana?
By satria hadi lubis, 28 Oktober 2015
-------
Palestina Matahari Jihad
Palestina matahari jihad kami..
Dari Izzudin al Qassam sampai Muh. Farhat
Bertabur pahlawan yang murka akan kezaliman
Dari merekalah kami belajar apa artinya mati
Palestina matahari jihad kami...
Dari Ismail Haniyah sampai pemuda nanar tanpa takut
Yang bersiaga di baris depan al Quds
Dari merekalah kami belajar apa artinya hidup
Palestina matahari jihad kami..
Tentang ibu yang kehilangan putranya, tentang istri yang kehilangan suaminya, tentang anak yang kehilangan bapaknya
Dari merekalah kami belajar apa arti jadi wanita dan anak yang sesungguhnya
Wanita dan anak yang siap mengganti dan menabur semangat jihad tak kunjung mati
Palestina matahari jihad kami..
Mungkin itulah maksud Allah mengapa engkau tak kunjung merdeka
Agar engkau terus membakar kami dengan jihadmu di segala musim ketika banyak manusia mabuk akan dunia
Agar engkau terus menjadi monumen kebanggaan orang-orang berani di sepanjang masa
Agar engkau menjadi bukti benarnya iman dan kebahagiaan sejati
Agar engkau mengajarkan betapa mulianya hidup dengan jihad dan mati dengan syahid
Agar engkau mengajarkan harga diri itu adalah jihad bagimu dan bagi kami
Palestina oh Palestina
Engkaulah matahari jihad kami..
Tanpamu...kami bukan apa-apa.
By. Satria hadi lubis (20/10/2015)
-------
Senin, 04 April 2016
MENJADI PRIBADI YANG BERINTEGRITAS
Oleh
: Satria Hadi Lubis
(Widyaiswara
Madya STAN)
Pendahuluan
Sebagai sebuah institusi yang
memegang peranan vital dalam mengelola keuangan negara dan menentukan jatuh
bangunnya Republik Indonesia, Kementerian Keuangan membutuhkan jajaran sumber
daya aparatur yang berkualitas dan kompeten.
Berbagai upaya strategis terus menerus dilakukan untuk memperbaiki kinerja dan
meningkatkan kompetensi, baik hard skills
yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas dan fungsi unit di Kementerian Keuangan, maupun soft skills yang dipersyaratkan dalam
JPM (Job Person Match). Sementara
itu, salah satu dari 35 soft skills sebagaimana
disebutkan di dalam Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan (Persekjen) No
55/SJ/2008, yaituintegritas menjadi salah satu karakter khusus di Kementerian
Keuangan yang harus dimiliki dan menyatu dalam ucapan, pikiran, dan perbuatan
setiap pegawainya.
Integritas juga menjadi salah satu
nilai-nilai Kementerian
Keuangan yang idealnya harus terwujud dalam diri setiap pegawai Kementerian
Keuangan. Integritas menurut nilai-nilai Kementerian Keuangan diartikan sebagai
berpikir, berkata, berperilaku dengan baik dan benar serta memegang teguh kode
etik dan prinsip-prinsip moral.
Teori tentang Integritas
Integritas berasal dari bahasa latin
“integrate” yang artinya komplit atau
tanpa cacat, sempurna, tanpa kedok. Maksudnya adalah apa yang ada di hati sama
dengan apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan (Bertens, 1994).
Integritas
(integrity) adalah bertindak
konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik
profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya. Secara
sederhana, integritas menunjukkan
keteguhan sikap, menyatunya perbuatan dan nilai-nilai moral yang dianut oleh
seseorang. Orang yang memiliki integritas tidak akan tergoyahkan oleh godaan
untuk mengkhianati nilai-nilai moral yang diyakini.
Pribadi
berintegritas adalah pribadi yang mempertahankan tingkat kejujuran dan etika
yang tinggi dalam perkataan dan tindakannya sehari-hari. Mereka adalah
orang-orang yang kompeten, teliti dan handal dalam berperilaku, dapat dipercaya oleh
rekan kerjanya, bawahan dan atasannya serta pihak luar. Mereka juga
memperlakukan orang lain dengan adil.
Beberapa
pendapat tentang integritas dan pribadi yang berintegritas adalah sebagai
berikut :
1.
Henry
Could
Orang-orang yang menjadi pemimpin atau
yang benar-benar sukses cenderung memiliki tiga kualitas. Kualitas dimaksud
menurut Henry Cloud (2006),
yaitu memiliki perangkat kemampuan tertentu, membangun hubungan saling menguntungkan
(lebih dari sekedar networking), dan
berkarakter. Setidaknya, karakter yang dimaksud di sini adalah mencakup etika
dan integritas. Kesuksesan
seorang pemimpin tidak
hanya dilihat dari seberapa besar kemampuannya dalam bidang tertentu, tetapi
yang lebih penting adalah seberapa besar integritas dirinya dalam mengelola dan
menggunakan kemampuannya tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang
diyakininya.
2.
Dr.
Phill Pringle
Beberapa penjelasan mengenai
integritas menurut Dr. Phill Pringle (2001)
dalam
bukunya Top 10 Qualities of A Great
Leader
adalah sebagai berikut :
1.
Integritas berasal dari
sikap tidak mementingkan diri sendiri.
2.
Integritas dibangun di
atas dasar disiplin.
3.
Integritas adalah
kekuatan moral yang terbukti tetap benar di tengah api godaan.
4.
Integritas adalah
kemampuan untuk bersabar ketika hidup ini tidak berjalan mulus.
5.
Integritas adalahtahan
uji yang memerlukan perilaku yang dapat diduga.
6.
Integritas adalah
kekuatan yang tetap teguh sekalipun tidak ada yang melihat.
7.
Integritas adalah
menepati janji-janji, bahkan ketika merugikan Anda.
8.
Integritas, tetap setia
kepada komitmen, bahkan ketika itu tidak nyaman.
9.
Integritas, tetap teguh
pada nilai-nilai tertentu meskipun dirasakan lebih populer untuk
mencampakkannya.
10.
Integritas, hidup
dengan keyakinan, ketimbang dengan apa yang disukai.
11.
Integritas adalah
pondasi dari kehidupan, jika integritas baik, maka kehidupan baik, begitupun
sebaliknya.
12.
Integritas dibentuk
melalui kebiasaan.
3.
Stephen
R. Covey
Pendapat yang disampaikan oleh Stephen
R. Covey (1997) yang
dekat dengan integritas adalah “begin
with the end mind”, yaitu selalu bertanya, “Apa yang Anda inginkan agar
orang lain tetap mengingat Anda setelah Anda meninggal dunia?”. Tentu saja kita
ingin nama baik menjadi hal yang tersisa di dunia ini setelah kita meninggal
dan hal ini akan membuat kita menjadi orang yang berintegritas.
4.
Billy
Boen
Menurut Billy Boen (2009), image, reputasi atau nama baik adalah hal penting yang menjadi
target seseorang yang ingin sukses dalam pekerjaan. Salah satu cara untuk
menjaga nama baik adalah memperhatikan diri sendiri yang sesungguhnya. Tidak
bermuka dua, artinya mengatakan satu hal kepada seseorang, lalu mengatakan hal
yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakan itu kepada orang lain. Cara
ini adalah dengan mengucapkan dan melakukan apa yang diyakini benar. Jangan
katakan dan bertindak apa yang sudah diyakini salah. Cara seperti ini merupakan
ciri orang yang berintegritas. Integritas tidak dapat dipisahkan dengan jujur. Jadi, jika kita
melakukan pekerjaan secara tidak jujur, artinya kita tidak memiliki integritas. Tidak
bergosip adalah salah
satu cara mudah untuk menjaga integritas. Jika kita membicarkan seseorang di
belakangnya, kemungkinan besar kita juga akan membicarakan orang yang kita ajak
bicara tadi di belakangnya.
Billy Boen (2009) juga mengatakan, jika
seseorang sudah tahu apa keinginannya, semua perilaku dan
tindakannya akan mengupayakan agar keinginan itu terwujud. Pada umumnya,
tindakan untuk mencapai keinginan tersebut memerlukan integritas. Dengan
integritas, seseorang akan melakukan segala sesuatunya secara positif dan konsisten.
5.
Zig
Ziglar
Seorang motivator dunia, Zig Ziglar (2007) berkata, “Seberapa jauh
prestasi yang Anda capai dalam kehidupan Anda, bukan yang ditentukan dari apa
yang terjadi pada diri Anda, melainkan dari apa yang Anda perbuat selama hal
itu terjadi pada diri Anda.” Maksudnya, hasil
akhir bukanlah satu-satunya yang dinilai, tetapi
bagaimana
kita bersikap dan bertindak selama proses untuk menuju kepada hasil. Dengan
adanya integritas diri, sikap dan tindakan tersebut akan sesuai dengan sistem
norma. Integritas diri akan membentuk komitmen, yang nantinya prestasi yang
kita raih akan dihargai oleh orang lain.
6.
Wuryanano
Integritas merupakan salah satu
prinsip dari 21 prinsip dalam buku The 21
Principles to Build and Develop Fighting Spirit karangan Wuryanano (2011). Menurutnya, orang
yang mempunyai integritas adalah orang yang menerapkan sistem norma untuk
menilai kehidupan, sehingga kehidupannya seperti “buku yang terbuka”. Ia tidak
punya apapun untuk disembunyikan maupun untuk ditakuti. Integritas diri punya
pengaruh yang tinggi pada kehidupan setiap orang. Integritas diri akan
membentuk reputasi atau prestasi diri yang kuat pada diri masing-masing. Orang
yang terarah kehidupannya akan lebih jauh dan lebih cepat prestasinya di dalam seluruh
bidang kehidupan dibandingkan dengan yang tidak terarah. Integritas diri
bukanlah sebatas apa yang kita lakukan, tetapi lebih banyak menunjukan siapa
diri kita sesungguhnya.
Jadi dapat dikatakan bahwa
integritas adalah suatu sikap dan perilaku konsisten untuk menjunjung tinggi
etika kerja dan etika profesi. Integritas mensyaratkan adanya godaan atau
peluang untuk melakukan perbuatan tercela. Namun orang yang berintegritas tidak
melakukan perbuatan tercela tersebut karena ia memiliki keyakinan akan
pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur di lingkungannya.
Bagaimana Membangun
Pribadi Berintegritas
Untuk membangun pribadi
berintegritas sebenarnya tidak susah karena sekurang-kurangnya cukup dengan
melakukan tiga langkah
penting. Pertama, Anda
harus membangun konsep diri positif, yaitu memiliki pandangan dan perasaan yang
positif mengenai diri sendiri yang akan membuat seseorang menjadi manusia yang
optimis dalam menyelesaikan masalah. Kemudian merasa setara dengan orang lain,
menganggap pujian sebagai kewajaran, menyadari bahwa kita tidak bisa
menyenangkan semua orang dan memiliki kemampuan untuk mengubah diri. Disamping
itu, kunci untuk hidup dalam integritas diantaranya adalah memiliki karakter
jujur, hati yang tulus, tidak munafik, tidak menyimpan kesalahan atau konflik,
pandai menjaga lidah, berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab terhadap
komitmen yang telah kita buat kapan dan dimanapun kita berada.
Kedua,
Anda harus melihat integritas sebagai “ integritas seluruh bagian”. Menurut
Henry Cloud (2006),
ada enam aspek integritas, yaitu :
1.
Kemampuan terhubung
secara autentik (yang mengarah pada rasa percaya).
2.
Kemampuan berorientasi
pada kebenaran (yang mengarah pada penemuan kenyataan dan bekerja sesuai
kenyataan).
3.
Kemampuan bekerja
dengan cara yang menghasilkan dan selesai dengan baik (yang mengarah pada
pencapaian sasaran, laba,
atau misi)
4.
Kemampuan terlibat dalam
menghadapi hal negatif (yang mengarah pada penyelesaian atau perubahan
masalah).
5.
Kemampuan untuk
berorientasi pada pertumbuhan (yang mengarah ada peningkatan).
6.
Kemampuan untuk menjadi
transenden (yang mengarah pada
perluasan gambaran yang lebih besar dari diri sendiri).
Ketiga, Anda harus mengenali
konsep dari integritas tersebut. Menurut Henry Cloud (2006), ada empat konsep integritas,
yakni :
1.
Sebagai keterampilan
Integritas merupakan sebuah keterampilan
yang harus dilatih terus-menerus. Ia bukan sesuatu yang ada dalam kepribadian
seseorang . Integritas diajarkan dan dipelajari sepanjang hidup.
2.
Sebagai pedoman
Integritas merupakan “benchmark”, rujukan atau tujuan yang
digunakan dalam membuat keputusan yang berdasarkan pada kebenaran dan
kejujuran.
3.
Sebagai bangunan yang
kokoh
Integritas harus dibangun dan
dilestarikan sepanjang hidup. Integritas merupakan suatu bangunan di dalam hati
seseorang, dimulai ketika orang itu masih muda. Integritas harus dipelihara
terus menerus, jika tidak maka bangunan yang sudah dibuat selama hidup dapat
runtuh dalam waktu singkat.
4.
Sebagai benih
Integritas ibarat sebuah benih yang ditanam
sejak kecil, disirami dan akan berbunga di saat dewasa. Semakin rajin dirawat,
akan lebih cepat tumbuh dan berbunga. Jika tanaman kita mati, harus segera
menanam yang baru dan disirami tiap hari. Perlu diingatkan bahwa tanaman tidak
bisa langsung berbunga, perlu waktu untuk kembali seperti semula.
Kesimpulan
Integritas adalah bertindak konsisten sesuai dengan
nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi dan etika kerja,
walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya. Integritas sangat penting
untuk dimiliki oleh setiap orang. Orang yang memiliki integritas tinggi mampu
menghadapi setiap godaan yang akan merusak integritasnya. Dia akan hidup dengan
keyakinan yang kuat dan berpegang teguh pada nilai-nilai yang diyakininya.
Integritas yang tinggi akan melahirkan orang-orang yang disiplin dan peduli
terhadap lingkungan sekitarnya. Pribadi yang berintegritas akan tetap pada
komitmennya dan tahan terhadap
ujian yang akan menggoncangkan komitmen tersebut.
Mengingat pentingnya integritas, maka
setiap pegawai Kementerian
Keuangan harus berusaha untuk menjadi pribadi yang berintegritas. Selama ada
Republik Indonesia, maka Kementerian
Keuangan harus terus berdiri sebagai sebuah institusi yang mempunyai cita-cita,
integritas, kompetensi, dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Keempat karakter
dasar tersebut di atas bisa menjadi ciri dari Kementrian Keuangan, sekaligus
perekat dari organisasi.
Daftar Bacaan :
Lubis,
Satria H. 2011. Bahan Ajar KSPK II.
STAN, Tangsel.
Cloud,
Henry. 2006. Integritas : Keberanian
Memenuhi Tuntutan Kenyataan. Gramedia, Jakarta.
Pringle,
Phill. 2001.
Top 10 Qualities of A GreatLeader. Pearson
Horizon Editions, Canada.
Covey,
Stephen R. 1997. Seven Habits of Highly
Effective People. Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Boen,
Billy. 2009. Young On Top : 30 Rahasia Sukses di Usia Muda. Gagas Media,
Jakarta.
Wuryanano. 2011. The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit. Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Ziglar,
Zig. 2007. Gods Way is Still The Best Way.
Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.
Bertens,
K. 1994. Etika, Gramedia,
Jakarta.
.................
Kompilasi PidatoMenteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati, Sekretariat Jendral, Kementrian Keuangan. 2010.
Basalamah,
Anies S. Artikel : “Mengenali Motivasi
untuk Meningkatkan Kinerja “. 2010.
Aspek-Aspek Etos Kerja dan Faktor yang Mempengaruhinya
Oleh : Satria Hadi Lubis
(Widyaiswara Madya STAN)
Isu tentang pentingnya meningkatkan
etos (etika) kerja pada organisasi pemerintah dan swasta semakin mencuat
akhir-akhir ini. Hal itu disebabkan semakin disadarinya pentingnya pemahaman
etos kerja sebagai solusi untuk memecahkan masalah, terutama yang terkait
dengan moral hazard di tempat kerja.
Artikel ini mencoba untuk
menjawab apa yang dimaksud tentang etos kerja, aspek dan faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi terwujudnya etos kerja di sebuah organisasi.
Pengertian Etos Kerja
Menurut K. Bertens (1994), secara etimologis istilah etos berasal
dari bahasa Yunani yang berarti “tempat hidup”. Mula-mula tempat hidup dimaknai
sebagai adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos
berevolusi dan berubah makna menjadi semakin kompleks. Dari kata yang sama
muncul pula istilah ethikos yang berarti “teori kehidupan”, yang kemudian menjadi
“etika”.
Dalam bahasa Inggris, etos dapat diterjemahkan menjadi
beberapa pengertian antara lain starting
point, to appear, disposition hingga disimpulkan sebagai character. Dalam bahasa Indonesia kita dapat
menterjemahkannya sebagai “sifat dasar”, “pemunculan” atau “disposisi (watak)”.
Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Etos
adalah keyakinan yang menuntun seseorang, kelompok atau suatu institusi.
Sedangkan dalam The
American Heritage Dictionary of English Language, etos diartikan dalam dua
pemaknaan, yaitu:
1.
The disposition, character, or attitude peculiar to a
specific people, culture or a group that distinguishes it from other peoples or
group, fundamental values or spirit, mores. Disposisi, karakter, atau sikap khusus orang, budaya atau
kelompok yang membedakannya dari orang atau kelompok lain, nilai atau jiwa yang
mendasari, adat-istiadat.
2. The governing or central principles in a
movement, work of art, mode of expression, or the like. Prinsip utama atau pengendali dalam suatu pergerakan,
pekerjaan seni, bentuk ekspresi, atau sejenisnya.
Dari sini dapat kita peroleh pengertian bahwa etos
merupakan seperangkat pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang secara
mendasar mempengaruhi kehidupan, menjadi prinsip-prinsip pergerakan, dan cara
berekspresi yang khas pada sekelompok orang dengan budaya serta keyakinan yang
sama.
Menurut Anoraga (2009), etos kerja merupakan suatu
pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. Bila
individu-individu dalam komunitas memandang kerja sebagai suatu hal yang luhur
bagi eksistensi manusia, maka etos kerjanya akan cenderung tinggi. Sebaliknya
sikap dan pandangan terhadap kerja sebagai sesuatu yang bernilai rendah bagi
kehidupan, maka etos kerja dengan sendirinya akan rendah.
Menurut Sinamo (2005), etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada
keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang
integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas
menganut paradigma kerja, mempercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja
tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas.
Itulah yang akan menjadi budaya kerja.
Sinamo (2005) juga memandang bahwa etos kerja merupakan fondasi dari sukses yang
sejati dan otentik. Pandangan ini dipengaruhi oleh kajiannya terhadap
studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan
penulisan-penulisan manajemen dua puluh tahun belakangan ini yang semuanya
bermuara pada satu kesimpulan utama bahwa keberhasilan di berbagai wilayah
kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian
orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja. Sinamo lebih
memilih menggunakan istilah etos karena menemukan bahwa kata etos mengandung
pengertian tidak saja sebagai perilaku khas dari sebuah organisasi atau
komunitas, tetapi juga mencakup motivasi yang menggerakkan mereka,
karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode
perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip,
dan standar-standar.
Melalui berbagai pengertian diatas baik secara etimologis
maupun praktis dapat disimpulkan bahwa etos kerja merupakan seperangkat sikap atau pandangan mendasar
yang dipegang sekelompok manusia untuk menilai bekerja sebagai suatu hal yang
positif bagi peningkatan kualitas kehidupan,
sehingga mempengaruhi perilaku kerjanya.
Aspek-Aspek Etos (Etika) Kerja
Menurut Sinamo (2005), setiap manusia
memiliki spirit (roh) keberhasilan, yaitu motivasi murni untuk
meraih dan menikmati keberhasilan. Roh inilah yang menjelma menjadi perilaku
yang khas seperti kerja keras, disiplin, teliti, tekun, integritas, rasional,
bertanggung jawab dan sebagainya. Lalu perilaku yang khas ini berproses menjadi kerja yang
positif, kreatif dan produktif.
Dari ratusan teori sukses yang beredar di masyarakat
sekarang ini, Sinamo (2005)
menyederhanakannya menjadi empat pilar teori utama. Keempat pilar inilah
yang sesungguhnya bertanggung jawab menopang semua jenis dan sistem
keberhasilan yang berkelanjutan (sustainable success system) pada semua
tingkatan. Keempat elemen itu lalu dikonstruksikan dalam sebuah konsep besar
yang disebutnya sebagai Catur Dharma Mahardika (bahasa Sansekerta) yang berarti
Empat Darma Keberhasilan Utama, yaitu:
1. Mencetak prestasi dengan motivasi superior.
2. Membangun masa depan dengan kepemimpinan visioner.
3. Menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif.
4. Meningkatkan mutu dengan keunggulan insani.
Keempat darma ini kemudian dirumuskan menjadi delapan aspek
etos kerja sebagai berikut:
1. Kerja adalah rahmat. Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar
sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat,
seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.
2. Kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang
dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar
dan penuh tanggung jawab. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan
tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
3. Kerja adalah panggilan. Kerja merupakan suatu darma yang sesuai
dengan panggilan jiwa sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. Jadi, jika
pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri
sendiri, “I’m doing my best!”. Dengan begitu kita tidak akan
merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.
4. Kerja adalah aktualisasi. Pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk
mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras
dengan penuh semangat. Apa pun pekerjaan kita, entah dokter,
akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat
kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi
diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan
daripada duduk termenung tanpa pekerjaan.
5. Kerja adalah ibadah. Bekerja merupakan bentuk bakti dan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga melalui
pekerjaan manusia
mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang
Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas,
bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
6. Kerja adalah seni. Kesadaran
ini akan membuat kita bekerja dengan perasaan senang seperti halnya melakukan
hobi. Sinamo mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel.
Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi
itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.
7. Kerja adalah kehormatan. Seremeh apa
pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan
dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita.
Sinamo mengambil
contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap
bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas.
Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, semua novelnya menjadi
karya sastra kelas dunia.
8. Kerja adalah pelayanan. Manusia bekerja bukan hanya
untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh
kerendahan hati. Apa pun pekerjaan kita,
pedagang, polisi, bahkan penjaga mercusuar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.
Anoraga (2009) juga memaparkan secara eksplisit beberapa sikap
yang seharusnya mendasari seseorang dalam memberi nilai pada
kerja, yang disimpulkan sebagai berikut:
1. Bekerja adalah hakikat kehidupan manusia.
2. Bekerja adalah suatu berkat Tuhan.
3. Bekerja merupakan sumber penghasilan yang halal dan tidak amoral.
4. Bekerja merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan
berbakti.
5. Bekerja merupakan sarana pelayanan dan perwujudan kasih
Dalam tulisannya, Kusnan (2004) menyimpulkan
pemahaman bahwa etos kerja mencerminkan suatu sikap yang memiliki dua alternatif,
positif dan negatif. Suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan
memiliki etos kerja yang tinggi apabila menunjukkan
tanda-tanda sebagai berikut:
1. Mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja
manusia,
2. Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat
luhur bagi eksistensi manusia,
3. Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi
kehidupan manusia,
4. Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan
sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita,
5. Kerja dilakukan sebagai bentuk ibadah.
Bagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki etos
kerja yang rendah, maka akan ditunjukkan ciri-ciri yang sebaliknya (Kusnan,
2004), yaitu :
1. Kerja dirasakan sebagai suatu hal yang membebani diri,
2. Kurang dan bahkan tidak menghargai hasil kerja manusia,
3. Kerja dipandang sebagai suatu penghambat dalam memperoleh
kesenangan,
4. Kerja dilakukan sebagai bentuk keterpaksaan,
5. Kerja dihayati hanya sebagai bentuk rutinitas hidup.
Dari berbagai aspek yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki etos kerja tinggi akan terus
berusaha untuk memperbaiki dirinya, sehingga nilai pekerjaannya bukan hanya
bersifat produktif materialistik tapi juga melibatkan kepuasaan spiritualitas
dan emosional.
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Etos Kerja
Etos (etika) kerja dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:
1.
Agama
Dasar pengkajian kembali makna etos
kerja di Eropa diawali oleh buah pikiran Max Weber.Salah
satu unsur dasar dari kebudayaan modern, yaitu rasionalitas (rationality) menurut Weber (1958) lahir
dari etika Protestan. Pada dasarnya agama merupakan suatu sistem nilai. Sistem
nilai ini tentunya akan mempengaruhi atau menentukan pola hidup para penganutnya.
Cara berpikir, bersikap dan bertindak seseorang pastilah diwarnai oleh ajaran
agama yang dianutnya jika ia sungguh-sungguh dalam kehidupan beragama. Dengan
demikian, kalau ajaran agama itu mengandung nilai-nilai yang dapat memacu
pembangunan, jelaslah bahwa agama akan turut menentukan jalannya pembangunan
atau modernisasi.
Weber memperlihatkan bahwa doktrin predestinasi dalam
protestanisme mampu melahirkan etos berpikir rasional, berdisiplin tinggi,
bekerja tekun sistematik, berorientasi sukses (material), tidak mengumbar
kesenangan --namun hemat dan bersahaja (asketik), dan suka menabung serta berinvestasi,
yang akhirnya menjadi titik tolak berkembangnya kapitalisme di dunia modern.
Sejak Weber menelurkan karya tulis The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958), berbagai
studi tentang etos kerja berbasis agama sudah banyak
dilakukan dengan hasil yang secara umum mengkonfirmasikan adanya korelasi
positif antara sebuah sistem kepercayaan tertentu dengan kemajuan
ekonomi, kemakmuran, dan modernitas (Sinamo, 2005).
2.
Budaya
Luthans (2006) mengatakan bahwa sikap mental, tekad, disiplin dan semangat
kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya. Kemudian etos budaya ini secara operasional juga
disebut sebagai etos kerja. Kualitas etos kerja ditentukan oleh sistem
orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat yang memiliki
sistem nilai budaya maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang
konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah, bahkan bisa sama sekali tidak
memiliki etos kerja.
3.
Sosial politik
Menurut Siagian (1995), tinggi atau rendahnya
etos kerja suatu masyarakat dipengaruhi juga oleh ada atau
tidaknya struktur politik yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan
dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan penuh.
4.
Kondisi lingkungan (geografis)
Siagian(1995) juga menemukan
adanya indikasi bahwa etos kerja dapat muncul dikarenakan faktor kondisi
geografis. Lingkungan alam yang mendukung mempengaruhi manusia yang berada di
dalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat, dan
bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan
tersebut.
5.
Pendidikan
Etos kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya
manusia. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos
kerja keras. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada
pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan
pendidikan, keahlian dan keterampilan, sehingga semakin meningkat pula
aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi (Bertens, 1994).
6.
Motivasi intrinsik individu
Anoraga (2009) mengatakan bahwa individu memiliki etos kerja yang tinggi adalah individu
yang bermotivasi tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap, yang
tentunya didasari oleh nilai-nilai yang diyakini seseorang. Keyakinan ini
menjadi suatu motivasi kerja, yang mempengaruhi juga etos kerja
seseorang.
Menurut Herzberg (dalam Siagian, 1995), motivasi yang
sesungguhnya bukan bersumber dari luar diri, tetapi yang tertanam (terinternalisasi) dalam diri sendiri,
yang sering disebut dengan motivasi intrinsik. Ia membagi faktor pendorong
manusia untuk melakukan kerja ke dalam dua faktor yaitu faktor hygiene dan faktor motivator. Faktor hygiene
merupakan faktor dalam kerja yang hanya akan berpengaruh bila ia tidak ada,
yang akan menyebabkan ketidakpuasan. Ketidakhadiran faktor ini dapat mencegah
timbulnya motivasi, tetapi ia tidak menyebabkan munculnya motivasi. Faktor ini disebut juga faktor ekstrinsik, yang termasuk
diantaranya yaitu gaji, status, keamanan kerja, kondisi kerja, kebijaksanaan
organisasi, hubungan dengan rekan kerja, dan supervisi. Ketika sebuah
organisasi menargetkan kinerja yang lebih tinggi, tentunya organisasi tersebut
perlu memastikan terlebih dahulu bahwa faktor hygiene tidak menjadi penghalang dalam upaya menghadirkan motivasi
ekstrinsik.
Faktor yang kedua adalah faktor motivator sesungguhnya, yang mana ketiadaannya bukan berarti
ketidakpuasan, tetapi kehadirannya menimbulkan rasa puas sebagai manusia.
Faktor ini disebut juga faktor intrinsik dalam pekerjaan yang meliputi pencapaian
sukses (achievement), pengakuan (recognition),
kemungkinan untuk meningkat dalam karier (advancement), tanggungjawab (responsibility),
kemungkinan berkembang (growth
possibilities), dan pekerjaan itu sendiri (the work itself). Hal-hal
ini sangat diperlukan dalam meningkatkan performa kerja dan menggerakkan pegawai
hingga mencapai performa yang tertinggi.
Dengan memahami apa itu etos kerja, serta
aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan etos kerja serta faktor-faktor yang mempengaruhinya
diharapkan sebuah organisasi (termasuk organisasi Kementerian Keuangan) akan meningkat produktifitas dan profesionalitas kerjanya.
Indonesia sangat membutuhkan peningkatan
etos kerja di semua lini organisasi pemerintahan dan swasta, sehingga di masa depan dapat terwujud bangsa Indonesia yang maju dan disegani masyarakat internasional.
****
Daftar Bacaan :
Lubis,
Satria Hadi. 2011. Bahan Ajar Etika
Profesi PNS. STAN, Tangsel.
Bertens, K. 1994. Etika.Gramedia,
Jakarta.
Sinamo,
Jansen. 2005. Delapan Etos Kerja Profesional:
Navigator Anda Menuju Sukses. Grafika Mardi Yuana, Bogor.
Anoraga, Pandji. 2009. Manajemen Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta.
Kusnan, Ahmad. 2004. Analisis
Sikap, Iklim Organisasi, Etos Kerja dan Disiplin Kerja dalam menentukan
Efektifitas Kinerja Organisasi di Garnisun Tetap III Surabaya. Tesis.
Universitas Airlangga, Surabaya.
Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi. Andi, Yogyakarta.
Siagian,
Prof. Dr. Sondang P.1995. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)