Minggu, 19 Maret 2017
SEIMBANGKAH HIDUP ANDA?
Salah satu indikator hidup sukses adalah hidup yang seimbang. Hidup seimbang berarti hidup dengan menjaga dua bentuk keseimbangan, keseimbangan internal dan eksternal.
Keseimbangan internal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak dari diri Anda. Diri Anda memiliki empat dimensi, yaitu dimensi fisik, emosional, mental dan spritual. Masing-masing dimensi perlu dilayani haknya agar diri Anda seimbang. Hak dari dimensi fisik adalah kesehatan tubuh. Hak dari dimensi emosional adalah hati yang bersih. Hak dari dimensi mental adalah pikiran yang jernih. Hak dari dimensi spritual adalah kedekatan dengan Tuhan. Semua itu perlu dipenuhi haknya jika Anda ingi dikatakan hidup dengan seimbang.
Keseimbangan eksternal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak orang-orang di sekitar Anda. Anda mungkin mudah mengtahui bahwa setiap orang pasti memiliki beberapa peran yang berbeda dalam hidupnya. Anda misalnya, mungkin memiliki peran sebagai ayah bagi anak Anda, suami bagi isteri Anda, anak bagi orang tua Anda, mahasiswa jika Anda kuliah, dan juga menjadi warga di dalam lingkungan sekitar Anda. Dalam contoh tadi berarti Anda memiliki 5 peran dalam hidup Anda.
Orang yang hidupnya seimbang melayani semua peran dalam hidupnya dengan baik. Artinya, ia memenuhi semua hak dari setiap peran hidupnya. Ketika Anda dapat memenuhi semua hak tersebut, baik dalam keseimbangan internal maupun eksternal, maka Anda telah berhasil menyeimbangkan hidup Anda. Sebaliknya, jika satu atau lebih dari hak-hak dalam hidup Anda terbengkalai, maka berarti hidup Anda tidak seimbang.
Dampak dari orang yang tidak hidup seimbang
Jika Anda hidup tidak seimbang, maka Anda melawan hukum keseimbangan. Anda tak dapat melawan hukum keseimbangan itu. Cepat atau lambat Anda akan merasakan akibatnya, yaitu :
1. Gelisah terus menerus
Dampak pertama dari hidup yang tidak seimbang adalah kegelisahan yang terus menerus. Anda merasa ada yang tidak lengkap dalam hidup ini. Ada yang tercecer dan yang terabaikan, sehingga Anda sering dilingkupi rasa bersalah (feeling gulty). Mungkin Anda pernah menyaksikan film Leathal Weapon. Film yang berkisah tentang dua orang polisi. Polisi yang satu sudah lama berkarir dan bahagia dengan keluarganya. Sedang polisi yang satu lagi baru berkarir dan rumah tangganya kurang bahagia. Ia bercerai dengan istrinya. Dikisahkan dalam film itu bagaimana konflik batin yang dialami polisi yang bercerai dengan isterinya itu. Ia sering diliputi rasa bersalah dan penyesalan, sehingga hidupnya selalu gelisah. Ia digambarkan sering melakukan tindakan yang ceroboh, nekat, dan emosional dalam menjalankan perannya sebagai polisi. Untung ia selalu didampingi oleh polisi bijak yang keluarganya bahagia, sehingga selalu selamat dari bahaya melawan kekejaman penjahat.
2.Keberhasilan yang selama ini telah dicapai akan berubah menjadi kegagalan.
Kehidupan yang tidak seimbang akan menghancurkan kesuksesan Anda selama ini. Sebagai contoh, ketika Anda sukses berkarir tapi abai menyediakan waktu untuk mengurus isteri/suami Anda, maka cepat atau lambat istri/suami akan ‘merongrong’ keberhasilan Anda dalam karir. Mereka akan menuntut Anda, bahkan mungkin menuntut secara berlebihan sebagai pelampiasan terhadap kewajiban Anda yang selama ini terabaikan. Jika Anda tak dapat memenuhinya, mungkin hubungan Anda dengan isteri/suami akan berakhir dengan perceraian atau pertengkaran terus menerus. Dampak dari kegagalan rumah tangga ini, bisa mengganggu konsentrasi Anda dalam karir, sehingga cepat atau lambat karir Anda yang sukses akan menurun prestasinya, bahkan dapat hancur jika Anda tak mampu mengatasinya. Ini adalah hukum keseimbangan. Hukum yang akan bereaksi ketika Anda hidup tidak seimbang.
3. Menyakiti orang lain
Ketika Anda hidup tidak seimbang, kemungkinan besar akan ada orang lain yang hak dan kewajibannya Anda abaikan. Ia mungkin akan kecewa dan sakit hati dengan Anda. Pada saat itu, Anda telah mengorbankan yang penting dalam hidup Anda, yaitu hubungan baik dengan orang lain. Rusaknya hubungan akan berdampak pada hilangnya kerjasama, bantuan dan ridho dari orang lain. Hal ini jelas akan menyulitkan Anda untuk memperoleh sukses.
4.Tidak bisa menikmati kesuksesan yang lebih besar.
Jika Anda hidup tak seimbang, Anda akan sulit untuk memperoleh kesuksesan lebih besar lagi. Hal ini karena ketidakseimbangan akan menganggu konsentrasi Anda untuk bergerak maju. Waktu, pikiran dan tenaga Anda habis untuk menyelesaikan masalah yang muncul dari ketidakseimbangan itu. Sebagai contoh, Anda sibuk bekerja tapi lupa menjaga kesehatan tubuh. Ketika Anda jatuh sakit, mungkin butuh waktu lama untuk sembuh kembali. Bahkan mungkin sakit itu menjadi kronis dan menahun. Waktu, pikiran dan tenaga Anda jelas akan beralih pada penyembuhan penyakit tersebut. Konsentrasi Anda untuk sukses yang lebih besar lagi akan terganggu. Anda menjadi terhalang untuk memperoleh sukses berikutnya atau sukses yang lebih besar lagi.
5.Mengorbankan sesuatu yang berharga.
Hidup yang tidak seimbang membuat Anda mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidup Anda. Hal itu bisa berupa hubungan baik dengan orang lain yang Anda hancurkan, kesehatan yang Anda abaikan, cita-cita luhur yang Anda lupakan, dan lain-lain. Sesuatu yang berharga itu mungkin baru disadari di kemudian hari, sehingga terlambat dan hanya penyesalan yang didapat. Persis seperti cerita seorang anak yang sibuk berkarir dan lupa kepada ibunya. Suatu ketika, ia mendatangi ibunya yang lama tidak dikunjunginya di rumah jompo. Ia membawa es krim kesukaan ibunya. Es krim itu diterima ibunya dengan sangat gembira. Ibunya berkata, “Sungguh kamu anak baik yang memperhatikan orang lain. Anakku tidak seperti kamu, ia sudah lama melupakanku”. Ternyata mata sang ibu sudah rabun dan telinganya sudah tuli. Ia tidak tahu bahwa yang memberikan es krim itu anaknya sendiri. Seketika itu juga si anak menangis tersedu-sedu. Ia sadar bahwa selama ini telah melupakan ibunya. Ia bertekad untuk lebih memperhatikan ibunya. Namun semua itu terlambat, karena keesokan harinya ibunya telah meninggal.
Hidup seimbang adalah kesuksesan
Mengapa kesuksesan itu berarti hidup seimbang? Paling tidak ada tiga alasan yang mendasarinya :
1. Hidup seimbang membuat Anda terbebas dari berbagai masalah yang tidak perlu terjadi.
Jika hidup Anda seimbang, Anda akan terbebas dari berbagai masalah. Sesungguhnya masalah itu muncul dari ketidakseimbangan. Misalnya, masalah kegemukan muncul karena ketidakseimbangan antara makan dengan olahraga. Masalah keluarga muncul karena ketidakseimbangan antara waktu untuk keluarga dan waktu untuk kegiatan lain. Masalah ekonomi muncul karena ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. Masalah permusuhan dengan orang lain muncul karena ketidakseimbangan antara memahami dan dipahami oleh orang lain. Dengan hidup seimbang Anda bersikap preventif. Mencegah masalah sebelum masalah tersebut terjadi.
2. Hidup seimbang membuat perasaan Anda tenteram dan bahagia.
Perasaan tenteram dan bahagia terkait dengan keseimbangan. Coba Anda lihat pemsma andangan yang indah (karena teksturnya yang seimbang), maka Anda akan merasakan perasaan yang tenteram dan bahagia. Coba Anda dengarkan lagu yang merdu (karena nadanya yang harmonis), maka Anda akan merasa senang. Jika Anda hidup dengan seimbang, alam (hukum alam) akan membantu Anda untuk merasakan ketenteraman dan kebahagiaan. Hal itu karena Anda hidup selaras dengan hukum keseimbangan alam.
3. Hidup seimbang membuat Anda dapat mengembangkan potensi.
Manusia hidup dengan berbagai potensi. Potensi itu dapat berkembang jika disemai dalam ‘tanah’ yang tepat. ‘Tanah’ itu adalah hidup yang seimbang. Persis seperti tanaman yang akan tumbuh subur jika ditanam pada tanah dengan kandungan mineral yang seimbang. Potensi yang berkembang akan membuat Anda merasa lebih puas dan bahagia karena kebutuhan Anda untuk beraktualisasi diri dapat tercapai.
4. Hidup seimbang membuat Anda tidak menyesal meninggalkan dunia.
Jika Anda hidup seimbang, Anda akan mengalami perasaan tenteram dan bahagia sampai Anda dipanggil Tuhan kelak. Anda tidak akan menyesal meninggalkan dunia ini karena Anda tahu telah melaksanakan seluruh hak Anda dengan baik. Tidak ada orang yang Anda sakiti atau Anda abaikan. Anda juga merasa telah menjadi hamba Tuhan yang baik karena tidak menyia-nyiakan umur Anda untuk merusak diri sendiri dan orang lain. Anda akan pulang ke ‘rumah Tuhan’ dengan hati puas dan ridho.
Empat hal inilah yang akan dialami oleh mereka yang hidupnya seimbang. Mereka menjadi orang yang sukses karena hidupnya seimbang. Sebaliknya, orang yang hidupnya tidak seimbang adalah orang yang gagal dalam hidup, walau ia kaya, tenar atau memiliki jabatan yang tinggi. Kekayaan, populeritas dan kedudukan yang tinggi tidak membantu seseorang untuk merasakan keempat hal diatas, jika ia gagal menyeimbangkan hidupnya.
Anda mungkin bertanya, adakah contoh orang yang sukses karena hidupnya yang seimbang? Tentu saja banyak contohnya. Mereka adalah para nabi dan rasul, ulama, orang-orang sholih dan para pahlawan. Kalau kita ingin menyebut namanya, beberapa diantaranya bisa disebutkan disini : Nabi Muhammad, keempat khalifah sepeninggal Nabi Muhammad (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abu Tholib), para ulama seperti : Imam Malik, Syaf’i, Hambali, Hanafi, Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain. Para pahlawan pembela kebenaran, seperti Sholahudin Al Ayyubi, Omar Mukhtar, Sanusi, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, dan lain-lain. Belum lagi dari orang-orang yang tidak terkenal, tapi sebetulnya ada di sekeliling kita karena mereka berhasil hidup dengan seimbang. Ingat! Hidup yang seimbang tidak mengharuskan seorang itu kaya, tenar atau berkedudukan. Bahkan mungkin ia berasal dari orang yang miskin, tidak terkenal atau jabatannya rendah, tapi ia lebih sukses hidupnya daripada orang yang kaya, tenar atau berkedudukan namun hidupnya tidak seimbang.
Orang yang hidupnya seimbang akan mengalami kesuksesan tanpa henti karena sukses bukan lagi dilihat sebagai tujuan, tapi proses. Anda akan jarang sekali mengalami kesuksesan jika sukses itu merupakan tujuan. Apalagi jika sukses itu Anda anggap sebagai tujuan yang besar, seperti memperoleh harta yang banyak, populeritas yang melangit dan jabatan setinggi-tingginya. Namun jika sukses adalah proses, maka Anda akan lebih mudah mencapainya dan akan lebih sering mengalaminya. Bahkan hidup Anda menjadi sukses tanpa henti jika Anda terus menjaga menjaga keseimbangan hidup Anda.##
By. Satria hadi lubis
SARA PHOBIA
Begitu mudah sekarang orang menuduh mereka yang membela agamanya dgn tuduhan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).
Sebuah tuduhan yg mengalamatkan sikap ekstrem kepada orang yang membela agamanya. Sikap tidak toleran, tidak menghormati heterogenitas bangsa Indonesia.
Sampai-sampai sebagian orang takut membela agamanya dan memilih bersikap netral, acuh ketika jelas-jelas agamanya dihina.
Padahal bagi seorang muslim (dan mungkin juga bagi pemeluk agama lain) sikap tidak membela agamanya berarti bisa dipertanyakan keimanannya dan bisa jatuh dalam kemunafikan. "Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat .." (HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84). Dalam hadits lain, "Barangsiapa yang meninggal dunia dan belum berperang atau belum berniat untuk berperang (dalam membela agamanya), (maka) ia meninggal dalam salah satu cabang kemunafikan" (HR. Abu Dawud dalam Sunannya no. 2502. Dishahihkn oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6548).
Jika yang dimaksud SARA itu membela agama secara membagi buta sambil menjelekkan agama lain, serta menyebarkan kebencian dengan kata-kata kotor, maka saya setuju jika itu disebut SARA yang membahayakan kerukunan hidup antar agama.
Namun jika pembelaan itu berupa memberikan opini penyeimbang terhadap berita yang tidak adil tentang agamanya, menyatakan
keberatan terhadap pembangunan rumah ibadah agama lain yg jelas-jelas timpang dgn rasio penduduk di tempat tsb, pembelaan terhadap kaumnya yg dibantai, nabinya yang dihina, Tuhannya yang dihujat, kitab sucinya yang dinista, dan semacamnya maka ini bukan SARA, tapi jeritan iman! Siapa pun akan marah jika melihat kezaliman atau mengetahui simbol-simbol suci agamanya diganggu. Justru aneh jika ada orang yang tdk marah jika agamanya dilecehkan.
Jadi jika setiap pembelaan agama dituduh SARA berarti yang menuduhnya telah mengalami SARA Phobia (ketakutan yang berlebihan terhadap SARA). Sikap yang sama ekstremnya dengan para pelaku SARA itu sendiri. Sikap yang sama berbahayanya dgn para pelaku SARA itu sendiri.
Sikap SARA Phobia justru berbahaya bagi jati diri bangsa Indonesia. Menghilangkan karakter religius dalam budaya luhur bangsa Indonesia yang diakui sejak dulu sangat penting bagi ketahanan bangsa.
Sikap SARA Phobia akan menumbuh suburkan sekulerisme, menjauhkan agama dari kehidupan harian anak-anak bangsa, dan akhirnya meruntuhkan eksistensi budaya bangsa Indonesia itu sendiri.
Ini mungkin yang dimaui musuh-musuh bangsa ini yang tidak ingin bangsa Indonesia menjadi kuat dan perkasa dalam percaturan dunia.
Jargon tuduhan pelanggaran HAM dan SARA diangkat tinggi-tinggi agar orang-orang awam makin takut membela agamanya, sehingga mereka otomatis jadi jauh dari agamanya. Makin jauh juga dari kemanusiannya. Dan makin dekat dengan kehancurannya.
Maka berpegang teguhlah kalian kepada Allah. "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (Qs. 47 ayat 7).
By. Satria hadi lubis
PERBEDAAN GAYA KOMUNIKASI LELAKI DAN PEREMPUAN
Dalam acara training Sekeluarga Menjemput Surga yg diselenggarakan Mommee.org hari ahad lalu (14 Ags 2016), ada seorang ibu yg bertanya mengapa suaminya sering gak nyambung kalau diajak bicara yg ujung-ujungnya menimbulkan suasana tdk nyaman satu sama lain.
Saya memberikan jawaban begini, berdasarkan penelitian yg disebutkan dlm buku Man From Mars and Woman From Venus, ada tiga perbedaan gaya komunikasi lelaki (suami) dan perempuan (isteri).
Yang pertama, lelaki lebih cenderung berbicara umum dan to the point. Perempuan cenderung bicaranya detail dan rinci. Itulah sebabnya kebanyakan lelaki terkesan lbh pendiam dan perempuan lbh cerewet karena perempuan betah bicara hal-hal yg kecil dan rinci.
Yang kedua, lelaki lebih suka bicara yang ada hubungannya dgn status dan kekuasaan. Sebaliknya perempuan lebih suka bicara tentang kedekatan hubungan (keintiman). Pembicaraan sesama lelaki biasanya tentang kerja, politik, olahraga, game perang, dll yg semuanya bermuara kpd persaingan dan kekuasaan. Perempuan jika berkumpul yg dibicarakan tentang keluarga, anak, percintaan, dll yg ada hubungannya dgn keseharian mereka (intim).
Yang ketiga, lelaki cenderung bicara dgn logika. Sebaliknya perempuan bicara dgn perasaan (emosional). Lelaki kadang tdk mengerti dgn argumentasi perempuan yg dipandangnya tidak logis, sehingga kadang meremehkan pendapat perempuan. Sebaliknya perempuan kadang menganggap lelaki kurang berperasaan dan egois. Tidak mengerti perasaan perempuan. Seorang isteri misalnya, lebih menuntut bahasa cinta yg verbal daripada suaminya. Perempuan ingin suaminya romantis. Sebaliknya, bagi suami romantisme itu masa lalu. Yang penting secara logis ia tetap melindungi istri dan anak-anaknya. Contoh lain, perempuan lebih suka nonton film drama cinta daripada film perang karena lbh memuaskan perasaan dan keintiman. Sebaliknya, lelaki lbh suka film perang atau action karena lebih logis dan memuaskan egonya.
Jika lelaki dan perempuan ngotot dengan gaya komunikasinya masing-masing, maka yg terjadi adalah miss communication yg berujung ketidaknyamanan. Pertengkaran suami isteri biasanya berawal dari sini. Dari ketidakmampuan untuk empati pada gaya komunikasi pasangannya.
Begitu pun yg terjadi di luar pernikahan, ketika ada lelaki atau perempuan yg susah bergaul dgn lawan jenis, termasuk susah cari jodoh, mungkin karena mereka kurang empati dgn gaya komunikasi lawan jenisnya dan ngotot dgn gaya bahasanya sendiri.
Kebanyakan masalah yg muncul dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, antara suami dan isteri, biasanya karena ketidakmampuan berkomunikasi yg baik. Itulah sebabnya, al Qur'an menyuruh kita untuk berbicara satu sama lain dgn qoulan karima. "..dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia (baik)” (QS. Al-Isra: 23).***
By. Satria hadi lubis
OMONGAN NGAWUR
"Gak apa-apa seks sebelum married, yang penting suka sama suka"
"Gak apa-apa serumah tanpa nikah, yang penting gak ganggu tetangga"
"Gak apa-apa pakaian seksi atau umbar aurat, yang penting kan gak ganggu orang"
"Gak apa-apa cewek cowok pacaran bebas, yang penting kan niatnya"
"Gak apa-apa lelaki suka lelaki, perempuan suka perempuan, yang penting kan kasih sayang"
"Ga apa-apa jadi orang yang biasa-biasa aja, gak usah fanatik, karena kita bukan hidup di Arab, tapi di Indonesia"
Gak apa-apa..Gak apa-apa..entah berapa banyak lagi omongan ngawur gak apa-apa semacam di atas.
Tumpukan gak apa-apa semakin menggulung. Banyak orang semakin gak peduli, egois, loe-loe gue-gue.
Lalu lahirlah anak-anak alay yang bebas bergaul. Ibu-ibu yang makin jauh dari taat, dan lelaki yang hobi maksiat. Rusak berjama'ah.
Padahal dari kata "gak apa-apa" itu muncullah dampak dashyat berupa kerusakan moral. Mulai dari cinta yang dipermainkan, rasa hormat pada lawan jenis yang berkurang. Kemudian trauma kepada lembaga perkawinan karena banyak yg kawin cerai. Lalu muncullah fenomena orang yang enggan nikah atau nikah tapi sangat terlambat, sehingga susah punya anak. Yang jadi gay atau lesbian --yang saat ini semakin marak-- malah mustahil punya anak.
Menikah dan punya anak malah bikin repot dan membatasi kebebasan. Buat apa nikah toh saya sdh dapat seks, bahkan bisa gonta ganti lagi. Begitulah kira-kira jalan berpikir sebagian besar anak-anak muda di Eropa, Amerika, Jepang dan negara "maju" lainnya.
Apa yg kemudian terjadi? Saat ini penduduk usia muda di negara "maju" berkurang drastis karena jumlah anak sedikit dibanding jumlah orang tua yg tak lagi produktif. Padahal mesin industri harus tetap berjalan, tapi tenaga kerja sedikit. Lalu didatangkanlah imigran dari Afrika, Arab dan Asia yg beda kultur dan agama sehingga lama kelamaan menimbulkan konflik horizontal. Pemerintahnya kalang kabut. Sampai kemudian memberikan insentif bagi yg mau punya anak banyak agar penduduk aslinya tidak punah, seperti di Jerman dan Belanda. Tapi sudah terlambat karena budaya enggan nikah dan gak mau punya anak banyak sudah merajalela. Lambat tapi pasti mereka menuju kepunahan.
Omongan ngawur yang tampaknya ringan seperti di atas itu yang bisa berdampak besar pada kepunahan suatu bangsa.
Inikah yg dimaui para penganjur kebebasan moral di Indonesia atas nama HAM dan anti diskriminasi? Berpikirkah mereka tentang dampak jangka panjangnya? Yakni musnahnya sebuah bangsa, bangsa Indonesia. Selain dampak "sampingan" yang terjadi di depan mata, seperti tingginya kriminalitas, merosotnya kualitas SDM, dan maraknya penyakit kelamin dgn makin banyaknya pengidap HIV/AIDS misalnya.
Yang lebih penting lagi merajalelanya maksiat di masyarakat membuat banjir dosa sebuah negeri. Berkah menjadi hilang, kemajuan sulit diraih. Program apa pun yg dilakukan serba salah dan serba gagal karena tidak ada berkah.
Jika orang Barat maju dulu baru rusak moralnya. Nah.. kita bangsa Indonesia maju belum, tapi moral udah rusak duluan. Ironis! Ini akibat minder dan terpesona dgn Barat, sehingga meniru membabi buta Barat. Kalau pun mau meniru. Mestinya yg ditiru itu semangat keilmuannya, bukan gaya hidupnya yang rusak.
Subhanallah...jadi ngeri membayangkannya. Bergidik memikirkannya. Kita gak mau semua itu terjadi pada bangsa ini di masa depan. Maka tak cukup diri ini berucap "Amit amit..naudzubillah minzalik". Namun perlu aksi nyata dengan amar ma'ruf nahi mungkar semampunya. Mulai dari mencegah kemungkaran di lingkungan rumah masing-masing. Kerjasama dgn RT/RW, tokoh masyarakat dan aparat berwenang untuk tdk membiarkan fenomena seks bebas merajalela. Jangan biarkan ada orang kumpul kebo, pacaran bebas sampai tengah malam, banci dan gay berkeliaran tanpa malu. Mari mulai dari lingkungan terdekat, mulai dari yg kecil dan mulai dari sekarang.
Jangan sampai anak cucu kita menyalahkan kita nanti di depan pengadilan Allah karena abai mencegah kerusakan moral yg dapat memusnahkan sebuah bangsa.
"Atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?" (Qs.7:173).#
By. Satria hadi lubis
MENUTUP AIB SENDIRI DAN ORANG LAIN
Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beserta jamaah untuk menikmati hidangan daging unta di rumahnya. Ketika sedang makan, ada tercium aroma tidak sedap. Rupanya diantara yang hadir ada yang buang angin. Para sahabat saling menoleh. Wajah Rasulullah sedikit berubah tanda tidak senang. Maka tatkala waktu sholat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudhu!". Mendengar perintah Rasulullah tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu. Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.
Aib adalah suatu cela atau kondisi yang tidak baik tentang seseorang jika diketahui oleh orang lain akan membuat rasa malu, rasa malu ini membawa kepada efek sikologi yang negatif jika tersebar.
Namun banyak kita dapati di tengah keseharian kita, pembicaraan dan obrolan itu sepertinya tidak asyik kalau tidak membicarakan aib, cacat dan kekurangan yang ada pada orang lain, padahal obrolan itu bukanlah perkara ringan dalam pandangan Islam.
Ajaran Islam melarang keras aib seseorang diceritakan, dan tidak boleh sekali-kali menyebarkan tentang apa atau bagaimana kondisi yang tidak baik tentang seseorang, bahkan islam mengajarkan untuk menutupinya. Allah berfirman dalam Surat Al Hujarat ayat 12 yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya: "Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya." (HR. at-Tirmidzi)
Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga melarang seseorang untuk membuka aib dirinya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya: "Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhori Muslim)
Sebaliknya, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara-saudara mereka, dengan menutup aib mereka di dunia dan akhirat, seperti dalam hadits shahih: "Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)
Adapun aib yang ada pada seseorang bisa dibagi menjadi dua kategori:
Pertama, aib yang sifatnya khalqiyah, yaitu aib yang sifatnya qodrati dan bukan merupakan perbuatan maksiat. Seperti cacat di salah satu organ tubuh atau penyakit yang membuatnya malu jika diketahui oleh orang lain.
Aib seperti ini adalah aurat yang harus dijaga, tidak boleh disebarkan atau dibicarakan, baik secara terang-terangan atau dengan gunjingan, karena perbuatan tersebut adalah dosa besar menurut mayoritas ulama, karena aib yang sifatnya penciptaan Allah yang manusia tidak memiliki kuasa menolaknya, maka menyebarkannya berarti menghina dan itu berarti menghina Penciptanya. (Imam al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin).
Kedua, aib berupa perbuatan maksiat, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi juga terbagi menjadi dua:
Pertama: Perbuatan maksiat yang hanya merusak hubungannya secara pribadi dengan Allah seperti minum khamr, berzina dll. Jika seorang muslim mendapati saudaranya melakukan perbuatan seperti ini hendaklah ia tidak menyebarluaskan hal tersebut, namun dia tetap memiliki kewajiban untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang menasehati saudaranya dengan tetap menjaga kerahasiaannya berarti dia benar-benar menasehatinya dan memperbaikinya. Sedang yang menasehati tanpa menjaga kerahasiaannya, berarti telah mengekspos aibnya dan mengkhianatinya." (Syarh Shahih Muslim, Imam an Nawawi).
Kedua: Perbuatan maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi merugikan orang lain seperti mencuri, korupsi dan lain sebagainya. Maka perbuatan seperti ini diperbolehkan untuk diselidiki dan diungkap, karena hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan, karena akan lebih banyak lagi merugikan orang lain.
Sebuah kisah masyhur yang ditulis oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab "Tawwabin" dapat dijadikan pelajaran bagi kita untuk menutup aib diri sendiri dan aib orang lain serta mengakuinya dihadapan Allah dengan bertaubat atas dosa tersebut.
Disebutkan bahwa pada zaman nabi Musa 'alaihis salam, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata , "Wahai Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami." Maka berangkatlah nabi Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
Musa berdoa, "Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud."
Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, "Wahai Tuhanku berilah akmi hujan".
Allah pun berfirman kepada Musa, "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian. "
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun."
Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Ia berkata dalam hatinya, "Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun. "
Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes, sambil berdoa kepada Allah, "Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku. "
Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa pun keheranan dan berkata, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia."
Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun."
Musa berkata, "Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."
Allah berfirman, "Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!"
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya, maka suatu aib yang ada pada seseorang dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk dapat belajar dan memperbaiki diri agar tidak melakukan hal serupa yang akan menimpa dirinya dan orang lain akibat perbuatannya tersebut.
Maka beruntung dan berbahagialah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dari disibukkan dengan aib orang lain. Begitulah Rasulullah Saw menyampaikan dalam sabdanya: "Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain." (HR Al-Bazzar dengan Sanad hasan).
Sungguh indahnya ajaran Islam yang menuntun kita agar menjaga aib kita sendiri dan menjaga aib orang lain, dan terus berupaya memperbaiki diri. Wallahu a'lam bishowab.
By. Satria hadi lubis
KEGUNDAHAN SEORANG AYAH
Menjelang ajalnya, lelaki tua itu merasa gundah dan gelisah. Air matanya mengalir membayangkan hisab yang akan diterimanya kelak. Tak henti-hentinya ia berzikir dengan suara bergetar diliputi rasa takut dan harap bahwa ia telah menjalankan amanah kehidupan ini dengan baik.
Ada satu yang masih mengganjalnya yang membuatnya begitu gundah untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Lelaki tua yg sepanjang hidupnya selalu berjuang membela kebenaran ini kemudian mengumpulkan anak-anaknya. Lalu terjadilah dialog yang Allah abadikan di dalam surah al Baqarah ayat 133:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
Lelaki tua itu adalah Nabi Yaqub as. Kegundahan beliau bukan karena masa depan materi anak-anaknya, tapi masa depan iman dan tauhid anak-anaknya. Subhanallah....inilah kegundahan seorang ayah yang paham betul apa makna warisan sesungguhnya. Bukan harta atau materi yang perlu dikuatirkan sebagai warisan untuk masa depan anak-anaknya, tapi iman dan tauhid.
Kegundahan Nabi Yaqub as adalah kegundahan setiap ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kegundahan yang membuat seorang ayah berdoa siang dan malam dan menangis di sepertiga malam memikirkan iman anak-anaknya. Gelisah...apakah ia sudah menjadi ayah yang benar. Apakah upayanya sudah maksimal untuk mendidik anak-anaknya. Ia takut anak-anaknya akan menyeretnya ke neraka, karena belum maksimal mendidik anak-anaknya.
Kegundahan seorang ayah yang hanya bisa dijawab dengan iman dan tauhid dari anak-anaknya. Kegundahan yang hanya bisa dijawab dengan perbuatan sholih anak-anaknya, baik ketika ia masih hidup maupun sesudah meninggal.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, prestasi seabreg anaknya belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kebaikan dan kecintaan anak-anak kepadanya di masa tua belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan warisan harta benda yang membuatnya kuatir menelantarkan anak-anaknya sepeninggalnya, tapi warisan iman dan tauhid.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan balas jasa materi yang ia harapkan dari anak-anaknya. Tapi doa dari anak yang sholih. Baik ketika ia baru meninggal, maupun sesudah lama ia meninggal. Ia yakin doa anak-anaknya akan mengurangi siksa kuburnya.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidurnya menjadi tidak nyenyak karena di kepalanya terus terngiang-ngiang ayat Allah berikut:
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kebahagiaan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (Qs. 4 : 9).
Wahai anak-anakku....jika engkau mencintai ayahmu buatlah ia tenang dan bangga dengan iman dan tauhidmu. Bukan oleh prestasi semu, yang hanya menipumu dan menipunya. Bukan oleh prestasi semu yang tidak berguna di hari keabadian, bagimu dan baginya.
By. Satria hadi lubis
Sabtu, 18 Maret 2017
KEBAHAGIAAN VS KESENANGAN
Banyak orang yang tak tahu perbedaan kebahagiaan dengan kesenangan. Padahal keduanya paradoks dan saling menisbikan satu sama lain. Jika kita ingin bahagia, maka tinggalkanlah kesenangan. Sebaliknya jika ingin senang, maka kebahagiaan sulit diperoleh. Tidak bisa seseorang mendapatkan keduanya, bahagia dan senang pada saat bersamaan.
Dalam bahasa Inggris, bahagia adalah happy atau happiness (kebahagiaan). Sedang kesenangan adalah pleasure atau fun. Jika dalam bahasa Arab, bahagia itu sa'adah atau sakinah. Sedang kesenangan itu syahwat atau mata'. Biasanya al Qur'an menggunakan istilah syahwat atau mata' untuk hal yg negatif. Misalnya, dalam surah ali Imran ayat 14 : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang disenangi, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
"Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya" (Qs. 3:198).
Setiap anak manusia ketika ditanya, hidup untuk apa? Mereka pasti menjawab untuk mencari kebahagiaan (padanannya mencari ridho Allah, berguna bagi orang banyak, masuk surga, dan semacamnya). Namun apakah benar hidupnya untuk mencari bahagia? Jangan-jangan bukan kebahagiaan yang dicari tapi justru kesenangan yang negatif dan menyengsarakan.
Oleh karena itu agar tidak terjebak pada pencarian semu (yakni mencari bahagia tapi justru malah terperangkap pada kesenangan yg menyengsarakan) mari kita pelajari apa perbedaan antara kebahagiaan dan kesenangan.
1. Dilihat dari sasarannya. Bahagia itu sasarannya kepuasan hati. Senang sasarannya kenikmatan jasmani.
Bahagia adalah hati yang tenang dan puas. Sedang senang itu letaknya pada kenikmatan jasmani. Misalnya, makan enak itu senang. Tidur di kasur empuk itu senang. Naik mobil mewah yang nyaman itu senang. Tapi sholat khusyu' itu bahagia. Shaum itu bahagia. Membantu orang lain itu bahagia. Jadi bahagia adalah bahasa hati yang seringkali tidak ada hubungannya dengan kenikmatan jasmani. "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" (Qs. 13:28).
2. Dilihat dari dampaknya. Bahagia itu berdampak pada ketenangan. Senang berdampak pada ketagihan.
Orang yang bahagia akan merasa tenang dan tenteram. Sebuah perasaan yang damai dan merasa puas terhadap apa yang didapat. Tidak menagih dan kecanduan. Sedang senang akan membuat orang yang mengalaminya ketagihan. Ia ingin mengulangi hal tsb terus menerus, bahkan dengan dosis yang lebih tinggi. Contoh, memakai narkoba akan menyebabkan orang senang dan kesenangan tsb menjadi candu yang menuntut penambahan dosis sampai taraf yang membahayakan dan sulit dihentikan. Begitu juga kesenangan-kesenangan lainnya cenderung membuat ketagihan untuk menambah dosisnya yang berujung kepada kerusakan dan kesengsaraan.
3. Dilihat dari waktunya. Bahagia itu langgeng (lebih lama). Senang itu temporer.
Bahagia yang dirasakan seseorang biasanya berjangka panjang. Jika pun diulang seperti sholat yang dilakukan berulang-ulang maka hal itu adalah cara seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan jangka panjang. Sebaliknya, senang itu sangat temporer. Contohnya, ketika seseorang berhubungan seksual. Nikmatnya hanya berlangsung singkat. Setelah itu rasa nikmat dan senang itu sudah hilang. Dan harus diulang lagi untuk mendapatkan kesenangan serupa, bahkan kalau bisa menambah dosisnya agar memperoleh efek kesenangan yang sama. Itulah sebabnya saat ini makin banyak penyimpanan seksual yang terjadi karena mereka mencari kesenangan yang menuntut dosis kecanduan yang lebih tinggi lagi.
4. Dilihat dari faktanya. Bahagia itu belum tentu terlihat nyaman. Senang pasti berupa kenyamanan.
Orang yang bahagia belum tentu hidup kaya raya dan tinggal di alam bebas, tapi bisa juga kebahagiaan diperoleh oleh mereka yang hidup kekuarangan secara materi atau bahkan hidup di dalam penjara seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as, Nabi Isa as atau bahkan Nabi Ayub as yang terus menerus sakit.
Namun kesenangan pastilah berupa suasana yang nyaman dan enak, seperti tinggal di rumah mewah atau memakai baju yang mahal dan bagus.
5. Dilihat dari akhirnya. Bahagia berakhir dengan kesenangan dan ketenangan. Senang berakhir dengan kesedihan dan kesengsaraan.
Bagi orang yang mencari bahagia, kesenangan tetap akan diperolehnya tapi di surga kelak sebagai akhir yang baik. Sebaliknya bagi orang yang mengejar kesenangan, maka hidupnya akan berakhir dengan kesedihan dan nanti di akhirat akan masuk neraka sebagai kesengsaraan abadi. Naudzubillah.
Kesimpulannya, mari kita mencari kebahagiaan bukan kesenangan. Prinsipnya, semakin bersenang-senang semakin jauh kita dari kebahagiaan. Sebaliknya, semakin ingin bahagia maka semakin harus menjauhi banyak kesenangan. Bukan berarti kita tidak boleh bersenang-senang, tetapi harus membatasi kesenangan. Persis seperti garam dalam makanan. Sedikit tapi tetap diperlukan. Wallahu'alam.
By. Satria hadi lubis
Langganan:
Postingan (Atom)