Sabtu, 22 September 2018
SAYYID QUTB
Siapa yang tidak kenal Sayyid Qutb? Seorang pejuang Islam yang akhirnya mati di tiang gantungan oleh rezim durjana Mesir pimpinan Gamal Abdel Nasser pada tahun 1966.
Setiap muslim yang concern dengan pergerakan Islam pasti mengenal beliau dan buku-bukunya yang mencerahkan, menggerakan, menggugah dan memotivasi.
Bacalah buku-bukunya agar kamu tahu bagaimana jalan hidup para pahlawan. Agar kamu tahu betapa berharganya hidup ini untuk memperjuangkan sebuah keyakinan. Sebaliknya, betapa ruginya hidup ini tanpa memperjuangkan sebuah keyakinan (yang mulia).
Kalau tidak salah ada 24 buku beliau, termasuk novel, kritik seni sastra dan buku pendidikan. Antara lain bukunya yang berjudul Keadilan Sosial Dalam Islam dan Ma'alim fi-l-Tariq (Petunjuk Jalan). Serta buku tafsir beliau yang fenomenal, Fi Zilal al-Qur'an (Dalam Naungan al Qur'an).
Anak muda di zaman now harus banyak membaca buku-buku pergerakan Islam agar mereka tidak mudah galau, sedih dan terombang ambing dalam kehidupan, sehingga mudah disetir oleh ideologi hedon yang absurd dan tidak membahagiakan. Agar anak muda berpikir besar bak pahlawan, bukannya berpikir sempit di seputar cinta picisan, games dan mencari fulus recehan.
Ada nasehat beliau --selain yang saya jadikan meme di bawah-- yang relevan dengan kondisi sekarang ketika aktivis dakwah banyak yang terpukau dengan hasil.
، فلا يجوز أن يحسب حملة الدعوة حساب هذه النتائج. إنما يجب أن يمضوا على نهج الدعوة الواضح الصريح الدقيق، وأن يدعوا نتائج هذه الاستقامة لله. ولن تكون إلا خيراً في نهاية المطاف
"Dengan demikian tidak selayaknya bagi para aktifis dakwah menjadikan hasil akhir sebagai tolok ukur dan tujuan utama dakwah mereka. Kewajiban mereka hanyalah menegakkan dakwah di atas manhaj yang lurus dan bersih dari berbagai penyimpangan, seraya bertawakkal dan menyerahkan seluruh hasil usaha yang telah dilakukan dengan penuh istiqomah kepada Allah Azza Wa Jalla wa Jalla. Jika ini telah dilakukan, niscaya kebaikan lah yang akan diperoleh, apapun hasil yang dicapai.
Sayyid Qutb sering dituding sebagai cikal bakal pemikiran radikalisme dalam Islam. Ini tuduhan yang keji dan fitnah terhadap seorang pahlawan Islam. Sedang yang menuduhnya belum tentu telah berbuat banyak untuk Islam.
Yang benar, pemikiran beliau telah menghidupkan banyak pemuda Islam dari tidur panjangnya. Termasuk menyadarkan saya yang di waktu SMA hanya melihat Islam sebagai budaya dan tradisi menjadi yakin bahwa Islam adalah manhaj (pedoman hidup) yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan sejati.
Beberapa hari sebelum syahid di tiang gantungan, beliau berpesan kepada para ikhwan. Pesan ini saya kira perlu menjadi prinsip hidup kita bersama : "Di akhir perjalanan hidupku ini, baru kusadari bahwa kebahagiaan bukan terletak pada seberapa banyak kita mendapatkan, tapi dari seberapa banyak kita memberi". Beliau telah membuktikan, hidupnya untuk kemaslahatan manusia. Jiwanya untuk Islam.
Semoga Allah memuliakan beliau di sisi-Nya, meluaskan kuburnya dan menghidupkan ruh perjuangannya pada dada para pemuda Islam sampai akhir zaman.
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Ali Imron ayat 168-170).
*Dari fanpage FB satria hadi lubis
BEA CUKAI SEMAKIN BAIK
Jum'at tgl 10 Agustus 2018 yg lalu, saya berkesempatan menjadi moderator dari kuliah umum mahasiswa jurusan Bea Cukai - Politeknik Keuangan Negara STAN yang disampaikan oleh orang nomor 1 di Bea Cukai, Bapak Heru Pambudi, selaku Dirjen Bea Cukai.
Banyak yang disampaikan beliau yang sarat dgn makna. Antara lain adalah tentang pentingnya disiplin mengatur waktu yang dimulai dengan sholat subuh. "Jangan terlambat sholat subuh", kata beliau kepada mahasiswa. "Sebab kesuksesan berawal dari sholat subuh tepat waktu", lanjutnya.
Saya salut dengan pejabat yang selalu mengingatkan tentang pentingnya nilai agama dan korelasinya dengan bekerja. Sebab memang agama adalah awal dan akhir dari segalanya. Tanpa agama, apa pun yang kita kerjakan tidak ada harganya dan sia-sia.
Beliau juga mendukung penuh berbagai kegiatan agama di Bea Cukai, termasuk kegiatan mentoring dari semua agama untuk para pegawainya (bukan hanya mentoring untuk agama Islam saja). Berdasarkan literatur dan pengalaman saya, mentoring agama (liqo') memang efektif untuk membentuk karakter para pesertanya.
Bukan hanya religius, Bapak Heru Pambudi juga dikenal sebagai Dirjen Bea Cukai yang disiplin, profesional dan anti korupsi. Tahun 2017, pak Heru Pambudi mendapatkan Bung Hatta Award, sebuah penghargaan untuk mereka yang gigih memberantas korupsi. Di tahun 2017, pencapaian pendapatan bea dan cukai secara nasional juga melampaui target yang diharapkan.
Tak terasa tiga jam lebih beliau memberikan nasehat dan berbagi pengalaman dengan mahasiswa PKN STAN jurusan Bea dan Cukai. Tampak sekali semangat dan rasa memiliki beliau yang tinggi terhadap masa depan bea cukai, yang kelak akan dipimpin oleh generasi muda mahasiswa PKN STAN.
Seusai acara, beliau menyempatkan diri berfoto selfie dengan mahasiswa. Kesannya akrab dan kebapakan.
Saya terkesan dengan acara tersebut, bukan karena saya menjadi moderatornya hehe, tetapi
karena saya bertemu dengan pejabat yang "hidup" jiwanya.
Saya jadi teringat dengan yel-yel yang beliau minta saya lantangkan kepada mahasiswa.
"Bea cukaiii...!"
"Makin baikkk..!!"
KECERDASAN WAKTU
Sandiaga Salahuddin Uno yang sibuknya bukan main ternyata masih sempat sholat dhuha rutin setiap hari. Beliau juga punya kebiasaan melakukan puasa nabi Daud.
Seorang pejabat yang saya kenal juga punya kebiasaan membaca al Qur'an 2 juz per hari, sholat dhuha dan tahajjud setiap hari. Beliau juga kalau sholat fardhu selalu berjamaah di mesjid di awal waktu. Dari mana saya tahunya? Dari laporan evaluasi yaumiahnya...hehe.
Inilah contoh dua orang yang pandai mengatur waktu, sehingga kesuksesan duniawi diiringi dengan kesuksesan ukhrowi karena tetap rajin ibadah.
Bandingkan dengan sebagian kita yang dgn cepat memaafkan dirinya untuk malas ibadah dengan alasan sibuk kerja. Bahkan dikalahkan oleh kesibukan hura-hura, seperti main game, pacaran, kongkow-kongkow, dan hura-hura lainnya. Ada juga yg berdalih kerja itu kan ibadah juga sebagai alasan untuk melalaikan ibadah khusus seperti sholat, baca Quran, shaum, dan yang lainnya.
Selama ini ada kekeliruan di kalangan sebagian kaum muslimin bahwa hidup ini harus seimbang antara duniawi dan ukhrowi. Anggapan ini keliru, karena yang benar ukhrowi harus lebih utama dibanding dunia. "Dan sesungguhnya hari akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (dunia)" (Q.s. 93 ayat 4).
Renungkan ayat berikut ini jika ingin tahu hakekat mengatur waktu dan mana yg harus diprioritaskan.
"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi" (Q.s. 17 ayat 18-20).
Allah swt akan memberikan kesuksesan seseorang sesuai dgn orientasinya. Jika ia orientasinya dunia, maka Allah bisa memberikan kesuksesan dunia tsb (itulah sebabnya orang kafir bisa kaya raya) karena kemurahan Allah. Namun ia akan mengakhiri hidupnya dengan tragedi.
Sebaliknya, jika orientasi hidup seseorang ke akhirat maka Allah akan berikan dunia kepadanya asalkan untuk akhirat (ibadah) dia bersungguh-sungguh. Tidak tergoda dan lalai dgn kesibukan dunia.
Itulah sebabnya orang seperti Sandiaga Uno dan pejabat yg saya kenal tsb bisa sukses duniawi karena orientasi mereka ke ukhrowi dengan rajin beribadah.
Inilah kecerdasan mengatur waktu (time intellegence) yang benar. Kecerdasan waktu yang perlu dimiliki setiap orang, terutama generasi milenial, sehingga mereka tidak menghamburkan waktunya untuk hal sia-sia dan berujung penyesalan.
Sebuah kecerdasan yg paling penting di dunia ini. Jauh lebih penting daripada berbagai bentuk kecerdasan lainnya. Bahkan semua kecerdasan yang dimiliki seseorang tak berguna jika ia tidak memiliki kecerdasan mengatur waktu seperti yang disebutkan Allah dalam surat Al Isro' (17) ayat 18-20 di atas.
Kita semua akan pergi...
Pergi menuju keabadian akhirat
Beruntunglah mereka yang menyiapkannya sejak dini
Merugilah mereka yang menunda dan melalaikannya...
*Dari fanpage FB satria hadi lubis
"CEREWET" DENGAN PENDAPATAN SUAMI
"Pak..! Mosok uang belanja gak naik-naik sih! Padahal kebutuhan harian makin bengkak nih..!" Kata emak pertama kepada suaminya. Lalu ia merinci dengan semangat apa saja yang harusnya dipenuhi suaminya agar uang nafkah menjadi cukup.
"Papah....tolong bisa ngerti donk! ...pengeluaran kita makin banyak nih", lalu si emak kedua nyerocos merinci dengan detail apa saja kebutuhan yg harus dipenuhi suaminya. Dari uang sekolah anak sampai uang ke salon agar si emak tetap kinclong.
"Koq uang yang kemaren dikasih sudah habis sih mi?" Kata seorang suami. Lalu si emak ketiga alias si ummi ini merinci pengeluarannya sebagai laporan keuangan kepada sang suami agar laporannya mendapat predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian)...hehe. Lalu ditutup dengan resolusi agar uang belanja ditambah....hehe lagi.
Begitulah dinamika sebagian rumah tangga. Suami pulang cape-cape langsung mendapat "serangan darat" dari istrinya yang mengeluh tentang berbagai pengeluaran rumah tangga.
Alangkah indahnya jika para emak-emak bukan hanya "cerewet" dengan pengeluaran rumah tangga, tapi juga "cerewet" dengan pendapatan suaminya.
Dalam sebuah seminar anti korupsi yang pernah saya ikuti, sang pembicara menyampaikan data (sayangnya saya lupa sumber datanya) bahwa isteri yang sering mengeluh terhadap kekurangan pengeluaran rumah tangga berpotensi membuat suaminya tergoda untuk korupsi. Keluhan yang "cerewet", apalagi diiringi dengan kalimat yang menyentuh harga diri suami, seperti, "suami macam apa kau", "jadi laki koq males sih cari duit", atau yg lebih kejam "kalau begini caranya lebih baik kita pisah aja...aku gak tahan dgn kemiskinan kita" bisa membuat suami gelap mata untuk cari uang demi memulihkan harga dirinya di depan istrinya.
Sebagian emak-emak kurang "cerewet" darimana dan dengan cara apa suaminya mendapatkan uang untuk nafkah keluarga. Malah sebaliknya, langsung gembira dan merasa disayang suami kalau suaminya kasih uang yang banyak. Persis seperti pepatah lama, "Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang".
Padahal ini krusial. Mungkin saja uang yg didapat suami bukan uang yang halalan wat thoyyibah. Kemudian itu menjadi makanan haram yang mengalir dalam darah si suami, isteri dan anak-anaknya, sehingga doa satu keluarga sulit dikabulkan Allah ajja wa jalla, sebagaimana hadits berikut : "Rasulullah bersabda, 'Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh rambutnya kusut, mukanya berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku! Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram maka bagaimanakah akan diterimanya doa itu?” (HR Muslim).
Naudzubillah....Mungkin saja suami yang nyebelin, isteri yang susah dibilangin, anak yang bandel, padahal kita tiap hari berdoa sampai meneteskan air mata agar dikarunia pasangan yang sakinah dan anak yg sholeh, tidak dikabulkan Allah karena beredarnya uang haram di rumah kita sendiri.
Mari kita perbaiki komunikasi dengan pasangan kita, "cerewetlah" dengan darimana suami dapat uang agar keluarga kita selamat dunia akhirat. Tentu bertanyanya dengan cara yang ma'ruf. Lebih baik lagi jika isteri juga mengurangi keluhannya atas kekurangan nafkah dari suami. Apalagi jika dilihat suaminya sudah rajin cari nafkah, banting tulang siang malam cari uang. Syukur-syukur isteri pengertian lalu mencari tambahan penghasilan atas izin suami.
Di sisi lain, untuk para suami bersabarlah terhadap "kecerewetan" istri atas nafkah. Jangan cepat tersinggung dengan keluhan isteri. Lalu akhirnya gelap mata mencari uang dengan cara yg tidak halal agar bisa dibanggakan isteri dan anak-anak. Ingat selalu ayat berikut ini : “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64: 14- 15).
*Dari fanpage satria hadi lubis
SETIAP KITA PUNYA ISMAIL
Allah swt membuat syariat Idul Qurban tentu bukan untuk acara seremonial belaka. Tapi ada banyak makna (pelajaran) di dalamnya. Antara lain, kisah penyembelihan Nabi Ismail as.
Sebagaimana kita ketahui, Nabi Ibrahim as diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail sebagai ujian cinta dari Allah swt, apakah Nabi Ibrahim meletakkan cintanya kepada Allah lebih tinggi daripada anaknya atau tidak. Jika lebih tinggi, ia akan patuh pada perintah Allah walau harus mengorbankan anak yg dicintainya, Ismail as. Terbukti, Nabi Ibrahim lulus dari ujian tsb, sehingga Allah mengganti penyembelihan Nabi Ismail as dengan seekor qibas.
Ujian Nabi Ibrahim bukanlah eksklusif miliknya, setiap kita pasti akan diuji dengan ujian cinta seperti Nabi Ibrahim as. Apakah kita mencintai Allah lebih tinggi atau lebih rendah daripada selain Allah. Ujian ini datang setiap saat dan tidak hanya sekali.
Peristiwa kehilangan yang kita alami sepanjang hidup pada hakekatnya adalah ujian cinta dari Allah. Kehilangan sanak keluarga, harta benda, kekasih bahkan sandal jepit sekali pun adalah ujian tentang kadar cinta kita kepada Allah. Apakah kita bisa move on dan melanjutkan hidup atau tidak. Apakah kita terus melangkah sampai ajal tiba dengan terus mencintai Allah apa tidak. Mereka yang gagal move on akan menyesal. Menyesal karena tidak bahagia hidup di dunia dan akhirat. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)" (Qs. 2 ayat 165).
Itulah sebabnya jika kita kehilangan sesuatu Allah memerintahkan kita untuk mengucapkan dengan lapang dada kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" (Sesungguhnya segala sesuatu milik Allah dan akan kembali kepada Allah) sebagai tanda ketaklukan kita, cinta hanya kepada Allah semata.
Mereka yang lulus ujian cinta ini akan dikasihi Allah dan menjadi kekasih Allah. Sebaliknya, mereka yg tidak lulus ujian ini akan membuat Allah cemburu dan akan diuji lagi dengan lebih keras sampai ia menyerah pasrah dan mengakui bahwa ALLAH satu-satunya puncak cintanya.
Sesungguhnya setiap kita pasti mempunyai "ismail-ismail" yang akan diuji oleh Allah swt seperti Nabi Ibrahim as juga diuji. Jika gagal dalam ujian cinta ini, maka terjadilah tragedi cinta seperti kisah roman "Romeo and Juliet". Atau seperti kisah cinta seorang wanita yang bersumpah tidak akan menikah seumur hidup karena gagal menikah dengan pria yang dicintainya. Mereka rela menghancurkan diri sendiri demi cinta yang tidak proporsional alias bodoh. Bukankah ini tepat disebut tragedi cinta?
Ujian cinta untuk rela mengorbankan "ismail" dalam diri kita adalah untuk kebahagiaan kita sendiri. Sebab Allah, yang memiliki hati, tentu tahu bagaimana caranya membuat manusia bahagia, yakni ketika manusia tsb tenggelam dalam cinta kepada Allah swt semata. "Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah maka hatimu menjadi tenang (bahagia)" (Qs. 13 : 28).
Sayang....sebagian manusia malah memilih jalan tragedi cinta, karena tidak mau mengorbankan "ismail" dalam dirinya.
*Dari fanpage satria hadi lubis
CINTA YANG DINAMIS
Namanya Atikah binti Zaid. Seorang wanita cantik rupawan dan seorang gadis sholihah dari keluarga sangat kaya raya. Hidup di masa Rasulullah saw. Saudaranya, Said bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh orang sahabat Nabi yg dijanjikan masuk surga.
Atikah menikah dengan Abdullah, anak dari Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Abdullah sangat memuliakan, menghormati dan menjaganya. Terlena dengan kecantikan dan cintanya kepada Atikah, Abdullah melalaikan tanggungjawabnya kepada Allah. Masjid tidak lagi dikunjungi tiap kali waktu shalat, meninggalkan shalat berjamaah yang sebelumnya sering dilakukannya, meninggalkan peperangan dan perniagaan.
Pada suatu hari, Abu Bakar lewat di depan rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama shalat di masjid. Namun apabila terlihat olehnya anaknya sedang bermesraan dengan istrinya dengan lembut dan romantis, Abu Bakar membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid. Setelah selesai menunaikan shalat, Abu Bakar sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya . Alangkah kesalnya Abu Bakar apabila beliau mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum menunaikan shalat dimasjid. Kemudian Abu Bakar segera memanggil Abdullah. Dia Bertanya
” Wahai Abdullah, apakah kamu shalat berjamaah?”
Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata,
” Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup, malah dia juga telah melupakan kamu dari shalat fardhu, ceraikanlah dia!”.
Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika mendapati anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya luntur. Tanpa membuat dalih, Abdullah mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan dicintainya. Subhanallah!
Perceraian ini membuat Abdullah sakit. Lalu dia merangkum sebuah syair untuk Atikah. Kemudian Abu Bakar pun menyuruhnya untuk rujuk kembali. Atikah dan Abdullah pun belajar dari kesilapan lalu, supaya tidak meletakkan cinta antara mereka melebihi cinta kepada Allah.
Abdullah ra wafat dalam medan juang, syahid selepas Perang Tha'if, semoga Allah merahmatinya.
Sepeninggal suami yang dicintainya, banyak sahabat yang meminang Atikah tapi semua ditolaknya sampai akhirnya Umar bin Al-Khattab melamarnya. Maka Atikah menikah dengan Umar yang dicintainya sepenuh hati. Umar Al-Khattab akhirnya syahid ditikam seorang Majusi bernama Lu’lu’ ketika sholat.
Setelah Umar meninggal dunia dan habis massa iddahnya, dia menikah lagi dengan Zubair Bin Awwam yang juga dicintainya sepenuh hati. Az-Zubair meninggal dunia, syahid setelah dibunuh secara zalim dalam Perang Jamal di Wadi siba’.
Setelah itu, Atikah dilamar oleh Ali bin Abu Thalib. Kemudian Ali mengatakan :”Siapakah yang menyukai mati syahid di masa mendatang, maka hendaklah dia menikah dengan Atikah” karena memang semua suaminya meninggal dalam keadaan terbunuh. Atikah meminta Ali tidak berperang jika ingin menjadi suaminya. Akhirnya Ali pun urung dan digantikan oleh anaknya Husain. Saat itu, Atikah sudah berusia 50 tahun. Kemudian dia dinikahi Husain bin Ali yang usianya jauh lebih muda darinya. Husain ra juga terbunuh syahid di padang Karbala.
Sungguh tak terbayang kecantikan dan akhlak seorang Atikah sampai Allah menghadiahkannya empat orang suami yang semuanya mati syahid.
Ini karena Atikah mampu menempatkan cintanya secara permanen hanya kepada Allah. Sedang cinta kepada selain Allah itu dinamis. Tidak usah permanen dan lebay. Atikah seorang yg bertauhid dan tidak mau menjadi syirik karena mencintai suaminya lebih dari cintanya kepada Allah.
Selama suaminya masih hidup ia mencintai suaminya dan berbakti kepadanya. Namun ketika suaminya meninggal ia dgn ikhlas melepaskannya dan siap untuk mencintai suami barunya seperti ia mencintai suami terdahulunya.
"Hukum" cinta yang dinamis milik Atikah mungkin tidak akan nyambung dgn kisah cinta "sampai mati" yg dicekoki oleh sinetron/film romantis di zaman sekarang. Dimana seseorang sangat mencintai pasangannya tanpa bisa berpindah ke lain hati. Sampai ada yg rela kesepian seumur hidup karena tidak mau menikah lagi atas nama cinta sejati.
Padahal kalau direnungkan itu bukan cinta sejati, tapi cinta yg tidak proporsional. Sebab yg permanen dan tidak boleh ke lain hati hanya cinta kita kepada Allah swt. Sedang cinta kita kepada selain Allah harusnya dinamis. Cintai dan syukuri ketika ia ada. Lupakan dan cari cinta baru ketika ia pergi. Berani move on..seperti Atikah sang wanita sholehah yang kelak di akhirat akan mendapatkan syafaat dari empat suaminya yang hebat dan mulia itu.
Pelajaran bagi kita semua. Cintai Allah secara permanen dan cintai selain Allah secara dinamis agar kita bertauhid dan bahagia. Bukannya syirik (mempersekutukan Allah) dan sengsara atas nama cinta sejati.
By. satria hadi lubis
THE POWER OF EMAK-EMAK
Sudah berkali-kali saya isi ceramah, pesertanya kebanyakan emak-emak. Apalagi jika temanya tentang keluarga, emak-emak lebih semangat lagi.
Pengajian di komplek-komplek perumahan yang lebih aktif adalah pengajian emak-emak daripada bapak-bapak.
Kalau nganterin anak-anak ke sekolah atau ada acara di sekolah anak, emak-emak juga yang lebih banyak datang.
Di kantor, emak-emak juga dikenal lebih teliti dan lebih tekun dalam menyelesaikan pekerjaan. Itu sebabnya pekerjaan yang detail dan bersifat administratif kebanyakan dipegang emak-emak kantoran.
Siapa yang jadi "kompor" agar reuni jalan dan ikatan alumni dari tingkat TK (kalau ada) sampai perguruan tinggi tetap aktif? Lagi-lagi emak-emak.
Mau nyumbang bagi kegiatan sosial? Emak-emak yang paling aktif mengumpulkan dana dan melaksanakan kegiatan sosial.
Siapa yang lebih survive menjadi single parent? Emak-emak lagi jawabannya.
Nah yang ini agak ilmiah....siapa yang lebih panjang rata-rata usianya? Kakek-kakek atau nenek-nenek? Ternyata nenek-nenek alias emak-emak lagi.
Mau menang pemilu? Ambil suara emak-emak yang bisa mengajak keluarga dan tetangganya dengan semangat agar mencoblos calon dambaannya.
Siapa juga yang getol menginginkan perubahan bangsa? Emak-emak juga ternyata, karena mereka yang langsung merasakan mahalnya isi dapur. Saking semangatnya emak-emak sampai perlu dihalang-halangi seperti yg dialami Bunda Neno.
Jadi jangan sepelekan emak-emak. Mereka adalah gelombang raksasa yang bisa merubah seseorang, keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia.
Rangkul emak-emak. Mengertilah akan mereka. Sebab ia ibumu, istrimu, saudaramu dan anak-anakmu kelak.
Hidup The Power of Emak-Emak! 😀
Langganan:
Postingan (Atom)