Minggu, 13 Maret 2022

MENUA BERSAMAMU

 

 

By. Satria hadi lubis 


Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku 


Aku yang lemah dan banyak khilaf ini

Aku yang egois dan tak sabar untuk memahamimu 

Aku yang hanya satu dari seribu manusia yang bisa engkau pilih untuk menjadi pasanganmu 


Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku 


Engkau yang baik dan pengertian 

Engkau yang dalam doa diammu dan dalam teriak sayangmu hanya ingin agar aku bahagia 

Engkau yang dalamnya lautanpun tak dapat mengalahkan dalamnya lautan cintamu kepadaku


Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku 


Walau sering tidak terucap. 

Namun tatapan mata kita.. sentuhan raga kita..

Berkata jujur tentang cinta di antara kita

Canda dan serius kita dilumuri oleh rasa syukur karena saling sayang di antara kita

Bahkan benci dan marahan kita pun tak dapat mengalahkan rindu dan kangen kita


Terima kasih karena engkau mau menua bersamaku


Bersama tubuh ringkih ini 

Bersama wajah yang makin keriput ini

Bersama masa lalu yang penuh suka dan duka

Bersama masa depan yang akan menunggu ajal 


Terima kasih kekasih...engkau tetap mau di sisiku

Menghabiskan asa yang tersisa 

Meniti jalan ke surga 

Meninggalkan warisan generasi sholih


Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku

Semoga Tuhan sang pemilik cinta  memberi karunia cinta ini sepanjang jaman 


Sekali lagi.. 

Terima kasih kekasih karena engkau mau menua bersamaku.

MITOS SEKOLAM HAMIL



By. Satria hadi lubis


Akhir-akhir ini ramai diberitakan pernyataan seorang anggota KPAI yang kontroversial dan ngaco, bahwa perempuan bisa hamil jika sekolam dengan laki-laki.


Memang parah pernyataannya. Semestinya sekelas pejabat publik semacam itu tak lagi mengeluarkan pernyataan yang merupakan mitos, tanpa disertai data atau  referensi ilmiah yang shohih.  


Apalagi jika itu dilakukan oleh seorang pembina perlindungan anak sekaligus pendidik anak, seperti KPAI atau guru, orang tua dan para pendidik lainnya.


Mitos (sesuatu yang dianggap benar padahal salah) memang perlu diberantas dalam dunia pendidikan. 


Sebab berdampak pada cara mendidik yang salah dan membuat anak berkembang dalam kedunguan.


Beberapa contoh mitos pendidikan anak yang ada di sebagian masyakarat adalah :


-Bisa membaca pada usia dini adalah tanda-tanda anak genius.

-Mendengar Mozart atau musik klasik yang lain selama usia awal bisa meningkatkan kecerdasan.

-Kecerdasan intelegensi (IQ) sudah tetap dan tak mungkin berubah.

-Bermain edu-toy dan menonton edu-video bisa membuat anak-anak lebih cerdas.

-Suplemen bisa melejitkan kecerdasan anak.

-dll


Ada juga mitos yang terkait takhayul, seperti :

- Anak akan sial jika makan di depan pintu.

-Mempercayai horoscope  sebagai cara membaca kepribadian diri dan orang lain.

-Tidak boleh potong kuku malam.

-Jangan foto bertiga.

-Jangan menyapu pada malam hari.

-Jika ada kupu-kupu akan kedatangan tamu.

-Mimpi gigi tercabut akan ada orang dekat yang meninggal.

-Dll.


Disinilah pentingnya belajar dan terus belajar. Menuntut ilmu sepanjang hidup. Tidak malas membaca dan berpikir kritis, sehingga tidak mudah dibodohi dan membodohi.


"Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." (HR Tabrani). 

KEBEBASAN IBADAH


By. Satria hadi Lubis


DI BUKU-BUKU motivator sekuler seringkali disebutkan bahwa puncak kesuksesan seseorang adalah keberhasilan memperoleh kebebasan finansial (financial freedom). Istilah yang menggambarkan seseorang sudah kaya raya, sehingga bisa membeli apa saja yang diinginkannya.


Bagi kita kaum muslimin, puncak kesuksesan tertinggi bukan kebebasan finansial, tapi KEBEBASAN IBADAH (prayer freedom). Suatu istilah yang menggambarkan seorang muslim bisa bebas beribadah kapan pun dan dimana pun. Tidak terhalang oleh waktu kesibukan yang lain. Bisa berlama-lama beribadah, baik yang wajib maupun sunnah. Bisa memperbanyak ibadah dan meningkatkan kekhusyukannya. Termasuk bisa bebas berlomba-lomba dalam kebajikan alias berdakwah dengan niat dan cara yang ikhlas semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah. Sebab bukankah kita diciptakan semata-mata untuk ibadah kepada Allah? "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).


Inilah yang disebut dengan kedewasaan berpikir seorang muslim. Ketika ia mengejar kebebasan beribadah sebagai cita-cita tertingginya. Ia sadar sebentar lagi akan mati dan bekalnya hanya amal ibadahnya. Ia menjadi cerdas seperti yang disabdakan Rasulullah saw : "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas” (HR. Ibnu Majah).


Sebaliknya, ketika seorang muslim tidak sadar. Atau sadar tapi kalah dan pasrah, bahkan candu pada kesibukan duniawi dengan segala perniknya, maka ia menjadi muslim yang tak pernah dewasa. Ia kekanak-kanakan dan bodoh. Sebab telah "lupa" dengab asal usul penciptaannya, yakni untuk ibadah kepada Allah SWT. "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al Hasyr: 19).


Langkah teknis untuk menjadi muslim dewasa yang cerdas tersebut adalah dengan kecerdasan mengelola waktu (time intellegence). Selalu merencanakan, menjadwal dan mengevaluasi kegiatan harian kita. Apakah hari-hari kita sudah produktif apa tidak. Produktif dalam artian kebebasan ibadah tadi, bukan kebebasan finansial atau materi. Sebab orang yang bebas finansial belum tentu sadar untuk bebas beribadah, tapi sebaliknya orang yang sadar untuk bebas ibadah tak perlu menunggu bebas finansial lebih dahulu. Kuncinya adalah kemauan untuk mengatur waktu dan selalu bertanya apakah waktu saya sudah produktif dalam perspektif ibadah atau tidak.


Lagi pula kalau kita renungkan lebih dalam, kebebasan ibadah adalah kunci kesuksesan lainnya, termasuk kunci kesuksesan finansial yang berkah. Bukankah kalau orang sudah dekat kepada Allah, maka Allah membantunya dan memberikan jalan keluarnya? 


"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (Qs at Taghabun: 4).


Semoga kita semua diberikan kemampuan dan kemauan untuk menjadi orang yang cerdas dan dewasa mensikapi kehidupan ini sebagai tempat untuk beribadah. 


By. Satria hadi lubis

MEMANTASKAN DIRI



By. Satria hadi lubis


Seringkali kita gusar dan gelisah untuk tampil pantas di hadapan manusia. Apakah saya sudah tampil pantas di depan si A yang akan saya jumpai? Apakah dandanan saya layak untuk acara itu? Apakah saya orang baik di mata teman-teman saya? Dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya.


Saking gusarnya kadang ada yang berhari-hari memikirkannya sampai tidak bisa tidur nyenyak untuk tampil pantas di hadapan manusia.


Hmm....jika sekiranya hal yang sama kita lakukan untuk tampil pantas di hadapan Allah 'ajja wa jalla, sungguh telah damailah bumi ini. Tentramlah hidup manusia.


Tampil pantas di hadapan Allah yang Maha Melihat membuat kita akan hati-hati bertindak. Takut berbuat semaunya dan meremehkan dosa, terutama di kala sendirian. Sebab dosa terbanyak justru adalah dosa ketika sendirian. Tersembunyi berupa aib. Sering orang yang tampil pantas di hadapan manusia, justru tampil berantakan di hadapan Allah, saking banyaknya dosa-dosa aibnya.


Sayangnya..tampil pantas di hadapan Allah tidak nyata sanksinya, sehingga membuat banyak orang tertipu dan meremehkannya. Mereka lebih sibuk untuk tampil pantas di hadapan manusia. Sebab nyata dan seketika sanksinya. 


Akhirnya, ketidakpedulian untuk selalu tampil pantas di hadapan Allah berujung tragedi.

Lebih sibuk dengan pencitraan manusia daripada sibuk memperbaiki diri di kala sepi dan ramai berbuntut nestapa. Seperti firman-Nya yang membuat orang yang peduli terisak ketakutan 😂.


"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa". (QS. 6 ayat 44).


Wahai diri....jika ayat di atas tak mampu membuat engkau berubah, maka dengan apa lagi engkau bisa dinasehati?. 

TIPE KELUARGA


By. Satria hadi lubis 


Dalam keluarga yang sakinah, suami isteri memiliki kewajiban untuk saling memberdayakan satu sama lain. Juga memberdayakan anak-anak mereka sehingga semakin lama semakin bertaqwa, sebagaimana yg diperintahkan Allah swt : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam' (Q.s 3:102).


Keluarga sebagai sebuah entitas kebahagiaan tentu harus memberdayakan penghuninya, bukan mengkerdilkan potensi penghuninya. Pemberdayaan tersebut diawali dengan suami yang memberdayakan isterinya. Isteri juga memberdayakan suaminya. Kemudian suami isteri kompak memberdayakan anak-anak mereka. 


Dalam kenyataannya, ada suami atau isteri yang setelah menikah malah semakin kerdil kualitasnya. Faktor penyebabnya banyak, tapi salah satunya karena pasangan tidak membantu pemberdayaan suami atau isterinya. Ada suami misalnya semakin minder setelah menikah, tidak mau bergaul dengan tetangga. Setelah ditilik ternyata karena si suami suka dilecehkan isterinya. Atau sebaliknya, isteri menjadi kurang kecerdasannya karena tidak didukung suami untuk ikut pengajian. Padahal si isteri dahulu adalah aktivis dakwah yang cerdas.


Ada juga suami isteri yang menurun kualitasnya bukan karena tidak didukung pasangannya, tapi karena ia sendiri yang tidak mau mengembangkan diri karena terjebak dengan rutinitas mengurus keluarga dengan segala tetek bengeknya. Terjebak dengan zona nyaman berkeluarga dan lupa mengembangkan diri agar lebih berguna bagi masyarakat dan Allah swt.


Paling tidak ada lima tipe keluarga yang bisa dijumpai. Keluarga Anda termasuk yang mana?


1. Keluarga Kuburan 

Pemberdayaan yang perlu dilakukan di dalam keluarga paling tidak meliputi empat unsur: spritual, intelektual, emosional dan jasmani. Ada keluarga yang lemah di bidang spritual. Misalnya, bapaknya tidak sholat atau anaknya tidak pernah baca Qur'an. Inilah keluarga kuburan karena kering spritual. Persis seperti sabda Nabi saw: "Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan" (HR. Al Bukhari no. 432, 1187, Muslim no. 777). Nabi saw melarang menjadikan rumah seperti kuburan karena penghuninya jarang sholat atau kering secara spritual.


2. Keluarga Bioskop

Ada juga rumah yang kering secara intelektual, walau mungkin spritual, emosional dan jasmaninya bagus. Inilah keluarga tipe bioskop. Keluarga yang penghuninya asyik menonton film di televisi, ketagihan hape atau anak-anaknya asyik bermain games, sehingga otaknya tidak kritis dan hanya mengekor apa yang ditonton. Lawannya adalah keluarga buku, yakni keluarga yang penghuninya rajin baca buku, belajar dan mengaji, sehingga mereka kritis dan cerdas mensikapi gaya hidup yang materialistik dan tidak mengekor budaya barat.


3. Keluarga Terminal

Lalu ada juga tipe keluarga yang kering emosionalnya, yakni keluarga terminal. Persis seperti terminal bis, dimana bis hanya sekedar mampir di terminal untuk istirahat sebentar saja. Keluarga tipe terminal adalah keluarga yang penghuninya menjadikan rumah sekedar tempat istirahat tanpa interaksi mendalam dari penghuninya. Anggota keluarga tidak akrab satu lain karena sibuk sendiri-sendiri. Rumah seperti tempat kos yang penghuninya asing satu sama lain. Kadar emosional anggota keluarga tipe ini juga rendah. Selain tidak akrab satu sama lain, emosional mereka juga rapuh dari penyakit hati. Suka marah, mengumpat, menjelekkan satu sama lain, kurang sabar, sering galau, dan berbagai perasaan buruk lainnya.


4. Keluarga Rumah Sakit

Yang berikutnya adalah keluarga tipe rumah sakit karena penghuninya lemah dalam kualitas jasmani. Rumah yang penghuninya tidak memperhatikan kesehatan jasmani. Entah karena rumah tersebut jorok atau karena penghuninya kurang memperhatikan makanan bergizi atau olahraga, sehingga penghuninya sering sakit-sakitan secara bergantian.


5. Keluarga Surga 

Keempat tipe keluarga di atas --keluarga kuburan, keluarga bioskop, keluarga terminal dan keluarga rumah sakit-- tidaklah ideal dalam Islam. 


Keluarga yang Islami adalah keluarga yang seimbang dalam pemberdayaan empat hal tersebut, yakni spritual, intelektual, emosional dan jasmaninya. Inilah keluarga Nabi Muhammad saw, sehingga beliau dengan bangga menyebut keluarganya sebagai baiti jannati (rumahku surgaku). Inilah keluarga surga, keluarga bahagia, atau keluarga sakinah, dimana penghuninya berdaya dalam empat hal, yakni spritual yang baik, intelektual yang tinggi, emosional yang matang dan jasmani yang sehat.


Yang menarik, ternyata keluarga surga tidak ada hubungan secara langsung dengan kekayaan keluarga tersebut. Rasulullah saw mengucapkan keluarganya adalah keluarga surga ketika dalam kondisi rumahnya yang sederhana dan tidak luas. Rumah Rasulullah saw beserta isterinya Aisyah ra seperti yang disebutkan dalam hadits sangat sederhana. Lantainya terbuat dari tanah, tempat tidur Nabi saw saja terbuat dari semacam jerami kering. Rumah Nabi saw juga sempit.  Dikisahkan jika Rasulullah saw sholat tahajud di rumah Aisyah ra sering bersentuhan dengan kaki Aisyah ra yang sedang tidur saking sempitnya rumah tersebut. Kalau kita ke makam Rasulullah saw di Masjid Nabawi, yang dulu merupakan rumah beliau bersama Aisyah ra, maka kita akan lebih mengerti betapa sempitnya rumah Nabi saw. Tidak lebih dari ukuran 8x4. Di rumah semacam itulah Nabi yang mulia dengan bangga menyebutkan rumahnya adalah surganya.


Bandingkan, dengan keluarga-keluarga modern sekarang ini. Bahkan yang kaya sekalipun. Beranikah penghuninya mengatakan keluarganya adalah surganya? Mungkin malah sebaliknya, diam-diam mengatakan dalam hati bahwa keluargaku adalah nerakaku. Sebab penghuninya jauh dari nilai-nilai spritual. Intelektualnya (kualitas berpikirnya) kurang Islami. Emosionalnya kering atau jasmaninya tidak sehat, sehingga sulit tercapai kebahagiaan lahir dan batin di rumah tersebut.


Oleh karena itu, keluarga surga adalah keluarga yang seimbang dalam spritual, intelektual, emosional dan jasmani. Keluarga yang seimbang tersebut disebut juga dengan keluarga qurrota a'yun seperti yang disebut al Qur'an dalam surah al Furqon ayat 74: " Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".


Ayat 74 surah al Furqon ini bukan saja sebagai doa yang harus sering dibaca setiap keluarga muslim atau mereka yang hendak mencari jodoh agar mendapatkan jodoh yang baik, namun ayat ini juga mengandung visi dan misi keluarga Islam. 


Menurut ayat 74 surah al Furqon, visi keluarga Islam adalah menjadikan seluruh anggota keluarga sebagai qurrota a'yun (yang menyenangkan mata batin dan lahiriah). Dengan kata lain, menjadi keluarga bahagia yang seimbang spritual, intelektual, emosional dan jasmaninya. Sedang misi keluarga Islam termaktub dalam kalimat terakhir dari ayat tersebut, yakni  "jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". Artinya, misi keluarga Islam adalah memberdayakan seluruh anggota keluarga agar menjadi iman (pemimpin). Bahkan bukan sembarang pemimpin, tapi pemimpin dari kumpulan orang-orang yang bertaqwa.


Bayangkan...ada kumpulan orang bertaqwa dan yang memimpin adalah keluarga kita! Bukankah ini merupakan perintah Allah yang jelas agar kita memberdayakan keluarga kita secara luar biasa? Bukan main-main, tapi serius memberdayakan keluarga menuju puncak ketaqwaannya? 


Semoga dengan uraian di atas membuat kita semakin termotivasi untuk memberdayakan keluarga kita, sehingga menjadi keluarga hebat bukannya malah saling menjatuhkan potensi masing-masing anggota keluarga kita.  


Ya Allah...jadikanlah keluarga-keluarga kami menjadi keluarga yang menjadi imam bagi orang-orang bertaqwa. Waj'alna lil muttaqina imama.

JUNDI MAJHUL



By. satria hadi lubis 


Ketika Sayyid Quthb ingin masuk menjadi anggota jama'ah Ikhwanul Muslimin, semua anggota Ikhwan setuju, kecuali adiknya Muhammad Quthb. Beliau berkata, "Engkau sudah terkenal wahai Sayyid. Engkau terlalu besar untuk masuk ke dalam jama'ah ini." 


Sayyid Quthb menjawab, "Wahai adikku, tidak bolehkah aku menjadi jundi majhul (prajurit yang tidak dikenal) di dalam jama'ah ini? Biarlah aku mengabdi sebagai jundi di dalam keternalanku."


Subhanallah....Sayyid Quthb yang waktu itu sudah terkenal di Mesir memilih masuk ke dalam jama'ah Ikhwanul Muslimin yang baru berdiri karena menyadari : berjuang untuk Islam tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi HARUS BERSAMA-SAMA. 


Seakan beliau melaksanakan wasiat Umar bin Khatab ra : "Tidak ada Islam tanpa jama'ah, tidak ada jama'ah tanpa qiyadah (pemimpin), tidak ada qiyadah tanpa jundi, tidak ada jundi tanpa ketaatan, tidak ada ketaatan tanpa keikhlasan."


Sayyid Quthb paham bahwa setiap muslim seharusnya menjadi jundi dalam barisan dakwah. Walau untuk itu ia harus menukar populeritas yang telah diraih dengan menjadi jundi yang tak terkenal.


Dan untuk menjadi jundi majhul tidaklah mudah. Mampu menekan ego, tidak menganggap paling berjasa, bisa mengelola kekecewaan, berani mengakui salah ketika berhadapan dengan keputusan qiyadah yang berbeda dengan pendapatnya, serta menempatkan tsiqoh (kepercayaan) dan husnu dzhon (sangka baik) kepada qiyadah adalah syarat untuk menjadi jundi majhul.


Merekalah yang dipuji Rasulullah dalam sebuah haditsnya sebagai yang diceritakan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Ketika kami di majlis Rasulullah Shallallahu 'Aalaihi Wa Sallam, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu 'Aalaihi Wa Sallam bersabda: "Besok pagi akan ada seorang ahli syurga yang shalat bersama kamu." Abu Hurairah berkata: "Saya berharap semoga sayalah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah Shallallahu 'Aalaihi Wa Sallam itu. Maka pagi-pagi saya shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu 'Aalaihi Wa Sallam dan tetap tinggal di majlis setelah orang-orang pada pulang. Tiba-tiba ada seorang budak hitam berkain compang-camping datang berjabat tangan pada Rasulullah Shallallahu 'Aalaihi Wa Sallam sambil berkata: "Wahai Nabi Allah! Do’akan semoga hamba mati syahid." Maka Rasulullah Shallallahu 'Aalaihi Wa Sallam berdoa, sedang kami mencium bau kasturi dari badannya. Kemudian saya bertanya: "Apakah orang itu wahai Rasulullah?" Jawab Nabi: "Ya benar. Ia seorang budak dari bani fulan." Abu Hurairah berkata: "Mengapa engkau tidak membeli dan memerdekakannya wahai Nabi Allah?" Jawab Nabi: "Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, sedangkan Allah akan menjadikannya seorang raja di syurga. Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya di syurga itu ada raja dan orang-orang terkemuka, dan ini salah seorang raja dan terkemuka. Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya Allah mengasihi, mencintai makhluknya yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambut, yang kempes perut kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk kepada raja tidak diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak akan diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan ia meninggal tidak dihadiri jenazahnya."


Benarlah engkau wahai Nabi!


Keinginan terkenal telah membuat seorang muslim sulit bersatu dalam amal jama'i (aktivitas bersama). Ingin bergerak sendiri dan berada di depan. Sulit menundukkan ego untuk kebersamaan jama'ah umat Islam. 


Padahal mobil pun bisa berjalan jika ada kerjasama antar komponen. Bahkan yang menjadi jantung dari kendaraan (mesinnya) justru tidak terlihat dari luar, menjadi jundi majhul dari sebuah mobil.


Membentuk jiwa jundi majhul adalah keharusan seorang muslim yang ingin melihat Allah dan Rasul-Nya ridho kepada dirinya. Yang ingin melihat kejayaan Islam dan bangsanya. 


Tanpa kejundian kekuatan umat Islam akan terserak tanpa arti. Kalah dibandingkan kekuatan musuh-musuhnya yang rapi bersatu. 


Semoga kita tidak lupa dengan ayat ini : 


وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ


"Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang" (Surat Ash-Shaffat, Ayat 173)

RENCANA SETENGAH KEBERHASILAN



Rencana adalah setengah dari keberhasilan. Sebaik-baiknya rencana adalah merencanakan hidup kita masing-masing. Sungguh ironis melihat banyak orang bekerja di kantor modern dgn perencanaan canggih, tapi karyawannya sendiri tdk memiliki rencana hidup bagi dirinya sendiri. 


Untuk membuat rencana hidup (life plan), langkah-langkah yg perlu dilakukan sbb:


1. Membuat visi dan misi hidup. 

Visi adalah tujuan yg terukur. Buat visi seumur hidup (misalnya sampai dgn usia 60 thn). Contohnya: menjadi pengusaha dgn omzet 3 triliun atau menjadi pegawai dgn jabatan terakhir Dirut. Sebaiknya visi hidup mencakup aspek karir, keluarga, keuangan dan agama/sosial. 


Setelah itu, membuat misi hidup yaitu pedoman hidup yg dipegang teguh dlm mencapai visi hidup. Misi hidup berguna untuk membuat kita konsisten dgn visi hidup. Membuat hidup terarah dan tdk plin plan. 


2. Langkah selanjutnya membuat peta kehidupan (life mapping) yg berisi rencana hidup setiap tahunnya sampai dgn usia tertentu (misal 60 thn). Life mapping bersifat global dan strategis tentang apa yg harus ditempuh setiap tahunnya untuk mencapai visi hidup. Jika ada tahun yg kosong biarkan saja, nanti akan terisi jika rencana sdh berjalan. 


3. Membuat Target Peran yg dibuat setiap awal tahun. Agar hidup seimbang maka buat target untuk setiap peran dlm hidup kita. Mslnya, peran sbg karyawan apa targetnya, sbg anak apa targetnya, sbg pengurus organisasi tertentu apa targetnya dan seterusnya. Tanpa mencantumkan peran biasanya kita akan terjebak untuk menghabiskan waktu pd kegiatan utama saja dan lupa bhw ada peran lain yg terbengkalai. Target setiap peran hrs terukur. Contoh: peran sbg mahasiswa targetnya memperoleh ipk 3,7. Peran sbg anak adalah mengirimkan uang ke ortu 500 ribu per bulan. Contoh yg tdk terukur: menjadi karyawan yg baik, menjadi anak sholih, menjadi warga yg bermanfaat, dll.


4. LAKUKAN dgn konsisten menjadi langkah-langkah bulanan, mingguan, dan harian yg mengacu pada target peran tahunan. Jangan hidup terlalu spontan, tapi sebaliknya jangan terlalu sibuk dgn satu peran saja. Beri ruang juga untuk fleksibilitas rencana. Insya Allah jika dilakukan konsisten, hidup kita akan maju beberapa langkah dan kita punya alat untuk mengevaluasi apakah hidup kita sdh sesuai dgn visi misi hidup atau tdk (on the track atau tidak). 


Jangan putus asa jika rencana belum tercapai. Lakukan lagi dan lagi sambil berdoa. Jika gagal, yang penting kita sdh berusaha. Di mata Allah kita sdh tercatat sbg orang sukses. Sebab yg dilihat Allah adalah usaha kita, bukan hasilnya. Sesungguhnya yg membedakan pemimpi dgn pemimpin adalah tindakan. Pemimpi menuai penyesalan. Pemimpin menuai sukses! 


Jika Anda peduli dgn keberhasilan diri Anda dan keberhasilan orang lain silakan tulisan ini di-share.


(By: Satria Hadi Lubis).

[11.14, 13/3/2022] Satria Hadi Lubis: ISLAM MENGAJARKAN KEBENCIAN?


Islam adalah agama yg mengajarkan  cinta kasih, tapi juga Islam mengajarkan kebencian. 


Coba perhatikan hadits berikut :

Imam al-Bukhari dan Muslim meri-wayatkan bahwa Nabi saw bersabda,


ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فيه وَجَدَ حَلَاوَة الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ الله ورسوله أَحَبَّ إليه مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّه إِلَّا لله ، وَمَنْ كَانَ يَكْرَه أَنْ يَرْجِعَ في الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَه الله منه ، كَمَا يَكْرَه أَنْ يُلْقَى في النَّارِ


“Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya ada pada dirinya ia pasti mendapati manisnya iman: barangsiapa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya; barangsiapa mencintai seseorang, ia mencintainya hanya karena Allah; barangsiapa benci kembali kepada kekafiran setelah Allah mengentasnya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api (neraka).”


Cinta sempurna yang sejati menuntut penyesuaian diri dengan yang dicintai dalam segala yang yang dicintai dan dibencinya, dalam siapa yang diloyali dan dimusuhi. Sudah maklum bahwa barangsiapa yang mencintai Allah ia harus membenci musuh-musuh-Nya dan mencintai apa yang dicintai-Nya.


Namun kebencian tsb tidak boleh mengalahkan sikap adil, karena adil lebih dekat kepada taqwa. 

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS: Al-Maidah Ayat: 8).


Terkait dengan kewajiban mencintai dan membenci ini, manusia diklasifikasi menjadi tiga:


1. Mereka yang wajib dicintai total. Mereka adalah para rasul dan orang-orang yang beriman dengan iman yang murni. Termasuk juga as-Salafush Shalih dan ahlussunnah wal jamaah karena kemurnian akidah mereka dan kebenaran yang mereka pegangi. Juga karena mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.


2. Mereka yang wajib dibenci total. Mereka adalah musuh-musuh Allah.


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.”(Al-Mumtahanah: 1)


“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al-Mujadalah: 22)


3. Mereka yang di satu sisi wajib dicintai namun di sisi yang lain harus dibenci. Mereka adalah orang-orang beriman yang bermaksiat kepada Allah. Cinta dan benci ditujukan kepada mereka secara proporsional sebatas kebaikan dan kejahatan yang ada dalam diri mereka.


“Apabila ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai mereka kembali pada perintah Allah.” (Al-Hujurat: 9)


Jadi, Islam mengajarkan damai dan cinta. Islam juga mengajarkan perang dan benci. Islam mengajarkan kelembutan dan kekerasan. Seorang muslim harus mengambil keduanya. Tidak boleh mengambil yang lembut, tapi menolak yg keras. Atau sebaliknya. Itulah sebabnya ada surga dan neraka. Surga bukti cinta kasih Allah. Neraka bukti kekerasan dan kebencian Allah terhadap mereka yang melanggar aturan-Nya. 


Ada banyak sekali ayat dan hadits yang secara jelas memerintahkan kita—sebagai seorang hamba Allah—untuk perang dan benci. Seorang hamba Allah sejati akan berusaha memenuhi dan mengejawantahkan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak menyepelekan atau bahkan menentangnya. Ada ayat-ayat cinta, ada ayat-ayat benci. Semua datang dari Allah. Allah lebih tahu mengapa kita harus mencintai sesuatu dan membenci sesuatu. Jadi jangan hilangkan rasa cinta dan benci itu jika hal tsb proporsional dan sesuai dgn aturan Allah.


"Cintailah kekasihmu dengan sederhana, boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika. Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sederhana, boleh jadi engkau akan mengasihinya pada suatu ketika." (HR At-Turmuzi). 


By. Satria hadi lubis