Senin, 30 Mei 2022

ADA APA DENGAN KADRUN?



By. Satria hadi lubis 


Peristiwa ditolaknya Ustadz Abdul Shomad (UAS) berlibur ke Singapura oleh pemerintah Singapura menimbulkan pro kontra di dalam negeri. Ada yang pro UAS dan menuntut agar pemerintah Indonesia bersikap lebih tegas kepada pemerintah Singapura yang bersikap Islamophobia. Ada juga yang kontra, bahkan senang dengan ditolaknya UAS oleh pemerintah Singapura dengan alasan UAS memang penceramah radikal dan intoleran. 


Istilah "kadrun" (kadal gurun) kembali mengemuka. Seakan tanpa istilah kadrun tidak sah untuk membenci orang-orang yang dianggap radikal, intoleran, dan dianggap memakai kedok agama untuk tujuan politiknya.


Setahu saya, "kadrun" adalah istilah untuk menggantikan sebutan "kampret" bagi mereka yang  tidak mendukung Presiden Jokowi di masa pemilu. Istilah kampret digantikan dengan kadrun mungkin sebuah strategi agar sasaran tembaknya lebih luas, yaitu kepada segala sesuatu yang berbau Arab. Dan secara tersirat mengandung makna kebencian terhadap Islam yang datang dari Arab, termasuk dalam penampilan dan syi'ar Islam seperti jenggot, gamis, jilbab, cadar, celana cingkrang, azan, dan lain sebagainya.


Bahkan sebagian mereka menarik garis yang lebih jauh bahwa kadrun identik dengan orang-orang radikal yang ingin mengubah negara Indonesia berdasarkan Pancasila menjadi negara khilafah.


Mengidentikkan sebagian umat Islam (yang ingin melaksanakan ajaran Islam secara sungguh-sungguh) dengan istilah kadrun adalah tindakan gegabah yang berbahaya. Identifikasi bodoh semacam ini hanya akan meruncingkan perpecahan antar anak bangsa.


Jangan-jangan penggunaan istilah kadrun adalah cara orang-orang yang tidak suka dengan kebangkitan Islam yang kini marak dimana-mana. Sebagai agama yang paling pesat pertumbuhannya di dunia, wajar jika ada yang takut dan membenci Islam dan umat Islam. "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup" (Al Baqaroh ayat 217).


Istilah kadrun mungkin sengaja dibuat untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak beragama dengan kaffah (total) dan istiqomah (konsisten). MINDER menjadi muslim yang sebenarnya.


Istilah kadrun mungkin juga untuk  menakut-nakuti kaum muslimin agar menjauhi pengajian-pengajian (ta'lim dan liqo'). Sebab ada tendensi untuk mencurigai orang yang rajin ngaji sebagai cikal bakal orang berpaham radikal dan berhak disebut kadrun. Padahal orang yang rajin ngaji justru merekalah yang paling getol memperbaiki diri. Merekalah agen of change perbaikan moral masyarakat Indonesia. Justru merekalah yang paling konsisten mempertahankan nilai-nilai Pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari.


Sebaliknya, mereka yang jauh dari pengajian (baca : agama) justru yang paling getol bermaksiat, melakukan korupsi dan hedon terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. Sebab mereka tidak rutin mengasah iman dan mempelajari ilmu kebenaran dan kebaikan yang didapat melalui pengajian-pengajian.


Jadi sebenarnya siapa yang merusak dan siapa yang membangun negeri ini?


"Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya. (Qs. Surat Al-Baqarah, Ayat 11-12).

KHILAFIYAH, BUKAN INTOLERAN

 

By. Satria hadi lubis 


Khilafiyah adalah perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hukum sesuatu di dalam Islam.


Khilafiyah adalah toleransi antar umat Islam. Silakan mempraktekkan yang mana saja asalkan ada dalilnya (fatwanya).


Praktek khilafiyah jangan dianggap sebagai intoleran. Sebab intoleran berarti menolak atau menghalangi praktek dari keyakinan yang berbeda dengan dirinya.

Khilafiyah tidak begitu.


Jadi memakai celana cingkrang atau tidak itu bukan intoleran, apalagi ciri radikal. Itu perkara khilafiyah.


Begitu pula pemakaian cadar atau tidak..

Berjenggot (lebat) atau tidak...

Mengucapkan selamat natal atau tidak...

Bersalaman dengan lawan jenis atau tidak...

Sholat di mesjid awal waktu atau tidak...

Itu semua perkara khilafiyah, bukan perkara intoleran, apalagi radikal. 


Jika ada muslim yang meninggalkan rapat tanpa izin ketika azan berkumandang untuk sholat maka itu bukan ciri radikal. Tapi ciri muslim yang tak tahu sopan santun. Jadi yang harus diperbaiki bukan pemahaman agamanya, tapi sopan santunnya agar minta izin ketika meninggalkan rapat.


Sebuah kebodohan yang dungu apabila seseorang mencurigai masalah khilafiyah sebagai ciri intoleransi. Apalagi radikal.


Mengapa bodoh? Karena ia tak tahu perbedaan antara khilafiyah dan intoleransi.


Mengapa dungu? Karena ia justru menjadi intoleran disebabkan menolak orang yang berbeda dengan dirinya. Bukankah hal itu menyalahi prinsip bhineka tunggal ika dan hak azasi manusia?


Itulah gunanya kita belajar agama agar pandangan menjadi luas dan bisa menerima keragaman dalam khazanah Islam.


Semakin malas belajar agama, semakin mudah kita mencurigai orang lain yang sedang mempraktekkan agamanya dengan baik.


Semakin menjadi Islamophobia...

Yakni, ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam.


Padahal Islam adalah indah dan penuh kebaikan. Padahal Islam adalah rahmatan lil alamin.

ISLAM AJARAN BERBUAT BAIK

 


ALLAH memberikan perintah untuk berbuat baik, “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS. Al-Qashash ayat 77). 


Dalam ayat ini, Allah memerintahkan untuk hal yang juga Dia lakukan. Hal ini menunjukkan keutamaan berbuat baik. Kita pun  menaati perintah Allah tersebut dengan berbuat baik secara ikhlas karena Allah.


Hendaknya kita selalu berbuat baik kepada orang lain dan tidak merisaukan meskipun orang tersebut tidak peduli. Keinginan agar banyak orang mengetahui dan mendengar kebaikan kita tersebut juga harus dihindari. Sebab, hal itu  dikhawatirkan  menjurus pada riya karena mengesampingkan ikhlas dalam beramal. 


Berbuat baik merupakan akhlak mulia yang bisa diwujudkan pada berbagai hal. Misalnya memberikan pertolongan, menasihati untuk kebaikan (berdakwah), berbagi ilmu, atau memperlakukan seseorang/sesuatu dengan baik, terutama untuk orang-orang terdekat, yaitu orang tua, suami, istri, anak, dan kerabat.


Dalam hal ini, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik, sebagaimana termaktub dalam beberapa ayat Alquran di bawah ini.


"Dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik"(QS Al-Baqarah: 195). 


"Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS Al-A'raf: 56). 


Ayat di atas menerangkan janji Allah untuk orang-orang yang berbuat baik, yaitu dicintai-Nya dan memperoleh rahmat-Nya. Itulah sebabnya, kita antusias untuk berbuat baik dengan ikhlas dan mengharap ridho-Nya secara istiqomah. 


Nabi Muhammad saw bersabda :


"Barangsiapa menolong saudaranya yang sedang dalam kebutuhan, maka Allah akan menolongnya dalam kebutuhannya" (HR Bukhari dan Muslim). 


"Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan" (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). 


Sabda Nabi Muhammad SAW di atas mendorong kita untuk selalu berusaha menolong orang lain dan untuk berbuat baik kepada orang lain tanpa meremehkan sedikit pun untuk hal-hal yang mudah dan kecil. Misalnya memperlihatkan wajah tersenyum. 


Apa balasaannya untuk orang yang berbuat baik? Ini janji Allah, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah) dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam serta tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus ayat 26). 


Jadi jika demikian baiknya ajaran Islam, maka sungguh heran jika ada orang yang membenci Islam (Islamophobia). 


Dapat dimaklumi jika yang mereka benci itu "oknum" orang Islam yang melakukan kekerasan (terorisme), tapi sungguh tak dapat dimaklumi jika yang mereka benci itu adalah al Qur'an dan Nabi Muhammad saw serta para ulama yang hanif. Mereka begitu mudah menuduh radikal, kadrun, intoleran kepada kaum muslimin tertentu.


Mungkin mereka dengki dengan ajaran Islam yang mengajarkan kebaikan, karena mereka tak bisa mengumbar hawa nafsunya, sebagaimana firman Allah : 


"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya" (QS. Ali Imran ayat 19).

MEMBAHAS LAGI ISTILAH "KAFIR"

 


By. Satria hadi lubis 


Kasus Ustadz Abdul Shomad (UAS) yang dilarang masuk ke Singapura karena (salah satu alasannya) menyebut non muslim dengan istilah "kafir" mencuatkan kembali wacana istilah "kafir."


Kafir berasal dari kata dasar yang terdiri dari huruf kaf, fa' dan ra'. Arti dasarnya adalah "tertutup" atau "terhalang". Secara istilah, kafir berarti "terhalang dari petunjuk Allah". Orang kafir adalah orang yang ingkar (tidak mengikuti) petunjuk Allah SWT karena petunjuk tersebut terhalang darinya. Kafir adalah lawan dari kata iman (percaya).


Apakah seorang non muslim adalah kafir? 

Jawabannya tegas...Iya! Jika menurut bahasa al Qur'an atau menurut pemahaman seorang muslim yang benar.


Menurut Islam, semua non muslim adalah kafir. Allah berfirman :

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab (Kristen dan Yahudi) dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk" (Qs. 98 ayat 6).


Mengapa sebagian non muslim marah dan menolak disebut kafir oleh orang Islam? Karena mereka memakai terminologi sendiri yang berbeda dengan terminologi ajaran Islam. 


Kalau orang Islam mengartikan kafir sebagai orang yang bukan beragama Islam. Tetapi orang non muslim (Kristen) mungkin mengartikan kafir sesuai dengan Al Kitab, yakni orang yang tidak bertuhan dan jahat.


Inilah masalahnya. Sampai kapanpun tidak akan ketemu jika terminologi kata dalam sebuah agama dipaksakan untuk dipahami dengan terminologi kata (istilah) dalam agama lain.


Semestinya non muslim tidak usah marah dikatakan kafir oleh orang Islam karena artinya "hanya" orang yang bukan beragama Islam (non muslim). Dan dalam keyakinan Islam, orang kafir pasti masuk neraka. Istilah "seburuk-buruknya makhluk" dalam ayat diatas adalah kiasan karena mereka ingkar kepada Allah dan Nabi Muhammad saw. Mereka sudah diberikan akal namun tidak digunakan untuk mencari agama yang benar.


Jadi demi menjaga kerukunan antar umat beragama, toleransi dan kebhinnekaan, kata kafir jangan diartikan menurut agamanya jika digunakan oleh pemeluk agama lain. Biarlah muslim menggunakan kata "kafir" sesuai dengan terminologi agamanya yang ada di dalam al Qur'an. Yang non muslim tidak usah ikut campur dan tersinggung, apalagi marah.


Sebaliknya orang Islam juga jangan menggunakan kata "kafir" secara demonstratif di depan non muslim  karena sadar mereka mempunyai arti yang berbeda tentang kata kafir. Gunakan saja kata "non muslim" atau "yang beragama selain Islam".


Namun jika di kalangan internal sesama muslim afdholnya memang menggunakan kata "kafir" untuk menyebut non muslim. Sebab itu adalah bahasa Al Qur'an. Kewajiban setiap muslim untuk menjaga bahasa (istilah) Al Qur'an. 


Jangan takut dan minder memasyarakatkan bahasa Al Qur'an di kalangan sesama muslim. Seperti kata kafir, jangan "diperhalus" dengan istilah lain yang tidak berasal dari Al Qur'an demi menyenangkan orang yang tidak menyukainya. Nanti bisa jadi kata "kafir" yang ada pada ratusan ayat di dalam al Qur'an harus dihilangkan gara-gara benci dengan istilah "kafir". Sungguh ini suatu hal yang mustahil.


Maka wahai kaum muslimin....! takutlah kepada Allah dengan cara mempertahankan bahasa atau istilah Al Qur'an untuk selama-lamanya.


"Katakanlah : "Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Bagimu agamamu, bagiku agamaku" (Qs. Al Kafirun ayat 1-6).

PURA-PURA BAHAGIA

By. Satria hadi lubis


Di sebuah kajian saya pernah ditanya, setelah saya menjelaskan bahwa menjadi muslim yang istiqomah maka kita akan bahagia, sesuai dengan firman Allah : 


"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu” (Qs. 41 ayat 30).


Tiga imbalan istiqomah yang disebut ayat tersebut, yaitu tidak takut, tidak bersedih dan masuk surga adalah kata lain dari bahagia. Sebab sumber ketidakbahagiaan itu adalah lawan dari tiga imbalan tersebut, yakni ketakutan, kesedihan dan masuk neraka.


Pertanyaan dari salah seorang peserta dalam kajian itu adalah apakah seorang yang istiqomah itu betul-betul bahagia atau pura-pura bahagia?


Saya menjawab, bahwa memang orang yang istiqomah itu betul-betul bahagia, bukan pura-pura bahagia. 


Orang yang pura-pura bahagia itu hanya lahirnya saja tampak bahagia, misalnya suka  tersenyum, wajahnya ceria, atau penampilannya cantik dan rapi. Namun batinnya kosong dan kesepian karena merasa sendirian, sehingga mudah sedih, mudah takut kehilangan, dan merasa tidak aman (insecure).


Orang yang istiqomah justru merasa kaya batinnya, tidak membutuhkan apa pun kecuali Allah, sehingga ia tidak takut dan tidak mudah bersedih. Ia yakin semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ia yakin Allah akan memberikannya hidayah kebaikan dan ujung hidupnya juga akan menjadi baik (masuk surga).


Orang yang istiqomah betul-betul bahagia karena mengagungkan Allah semata. Walau jalan hidupnya penuh dinamika, kadang sulit kadang mudah, kadang ditimpa musibah seperti yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang sholih, tapi mereka bahagia dengan pilihan hidupnya yang hanya tergantung kepada Allah SWT.


Jadi betul-betul bahagia itu bukan berarti hidup kita selalu enak dan nyaman secara lahiriah, tetapi bisa juga hidup yang penuh ujian, tetapi hatinya tidak takut dan tidak bersedih, karena yakin ada Allah yang selalu meridhoi perbuatannya.


Seperti yang dikatakan para ulama salaf tentang kebahagiaan mereka.


لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ


“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan (kebahagiaan) yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang (untuk merebutnya)” (Rawai’ut Tafsir Ibnu Rajab 2/134, Darul ‘Ashimah, cet.I, 1422 H, Syamilah).


Sebaliknya, orang yang pura-pura bahagia adalah orang-orang yang mengambil jalan-jalan selain jalan para nabi dan rasul, serta orang-orang sholih. Mereka pura-pura bahagia, yang menipu orang lain dan menipu diri mereka sendiri. Wallahu'alam. 

BOLEHKAH KITA MENILAI ORANG LAIN?

 

By. Satria hadi lubis


Suatu ketika khalifah Umar ra pernah menghukum seorang pencuri, beliau berdoa : 


"Ya Allah...kami menghukum dia dari apa yang tampak saja, sedang hatinya urusan-Mu ya Allah"


Amirul mukminin berkata begitu karena sadar bahwa menilai hati orang lain sangatlah sulit. 


Yang bisa dinilai dari orang lain adalah perbuatannya. 


Apakah kita boleh menilai perbuatan orang lain? 


Dan apakah menilai perbuatan orang lain bisa menggambarkan tingkat keimanan dan kemunafikan orang tersebut? 


Jawabannya, bisa! 


Sebagaimana hadits Rasulullah saw : 


"Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat" (HR. Al- Bukhari).


"Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan sholat" 

(HR. Muslim).


Bahkan di dalam al Qur'an banyak sekali ciri-ciri perbuatan orang beriman, kafir atau munafik sebagai patokan kita untuk menilai orang lain.


Salah satunya tentang ciri orang beriman:


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah 

mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, 

dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya 

kepada mereka, 

bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan 

mereka bertawakal" 

(Surat Al-Anfal, Ayat 2).


Jadi, setiap kita sesungguhnya bisa menilai perbuatan orang lain. 


Yang dari perbuatan tersebut bisa menggambarkan tingkat keimanan, kemunafikan dan kekafiran orang lain.


Masalahnya tinggal apakah penilaian kita benar atau tidak?


Disinilah letak perdebatannya. Disinilah letak ruang diskusi untuk menilai mana yang lebih mendekati kebenaran. 


Dalam Islam, ukuran kebenaran adalah mana yang paling sesuai dengan dalil naqli (al Qur'an dan Hadits).


Lalu setelah itu mana yang sesuai hukum/norma positif yang tidak bertentangan dengan dalil naqli. 


Baru terakhir, mana yang paling sesuai dengan logika sehat.


Silakan berbeda pendapat dalam menilai sesuatu. 


Tapi jangan kita mengatakan "siapa elo yang berhak menilai". 


Ini perkataan khas orang sekuler yang terpengaruh ideologi relativisme. 


Sebuah ideologi yang menganggap semua nilai itu relatif, sehingga tidak ada yang benar atau salah. 


Dari relativisme inilah muncul ideologi yang sekarang menguasai dunia, ideologi liberalisme. 


Ada yang berkata,

"jangan soklah menilai orang lain karena kebenaran hakiki hanya milik Allah" 

atau 

"urus aja diri loe. 

Elu aja belum bener, udah berani menilai orang lain" atau "emang surga hanya milik kamu!" 

atau perkataan semisalnya, yang membuat orang menjadi tidak percaya diri 

untuk menilai orang lain, sehingga berkembanglah budaya induvidualistik 

yang tidak peduli dengan kelakuan menyimpang orang lain. 


Tidak berani menegur tetangganya yang kumpul kebo, 

temannya yang gay,  

bapaknya yang korupsi, dll.


Lalu kerusakan merajalela seperti yang kita lihat sekarang ini. 


Jangan heran jika turun bencana di tengah-tengah kita, seperti firman-Nya : 


"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; 

Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, 

agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" 

(Surat Ar-Rum, Ayat 41).


Tugas kita sebagai muslim adalah berani menilai perbuatan orang lain (disamping terus memperbaiki diri). 


Allah murka kepada manusia yang telah diberikan mata, pendengaran dan hati, 

tapi tidak digunakan untuk menilai mana yang benar dan salah.


"Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak 

dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, 

tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami

(ayat-ayat Allah) dan 

mereka memiliki mata 

(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat 

(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan 

(ayat-ayat Allah).

Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai" 

(Qs. 7 ayat 179).


Tugas kita mendekati  kebenaran hakiki milik Allah dengan cara terus menilai dan belajar dari kesalahan. 


Repot kalau kita tidak boleh menilai. 

Nanti kita galau dan bingung terus terhadap perilaku di sekitar kita.  

Itulah yang sebenarnya dimaui musuh-musuh Islam agar umat Islam meninggalkan budaya amar ma'ruf nahi mungkar.


Sebab mereka tahu amar ma'ruf nahi mungkar akan membuat umat Islam kembali kepada kejayaannya.

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, 

(karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, 

dan mencegah dari yang mungkar, 

dan beriman kepada Allah" 

(Qs. 3 ayat 110).


Ketahuilah...netralitas itu sesungguhnya tidak ada.


Sebab orang yang netral sebenarnya berpihak juga. Minimal berpihak pada ideologi bingungisme (nihilisme).


Dalam Islam, hanya ada dua pilihan nilai : 

hak dan batil. 


Apalagi untuk hal-hal yang prinsip dan fundamental.

"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya" 

(Qs. 2 ayat 42).


Di akhirat saja hanya ada surga dan neraka. 


Surga untuk kelompok hak dan neraka untuk kelompok batil.


Tidak ada tempat untuk orang yang netral dan tidak berani menilai. 


Jangan terpengaruh dengan lagu galau, 

seperti "engkau milik orang lain, tapi jangan salahkan rasa cinta ini". 


Atau film yang ujungnya-ujungnya galau, karena endingnya tokoh yang benar jadi jahat dan tokoh yang jahat jadi baik, 

sehingga kita empati dengan orang jahat.


Jadi jangan terpengaruh dengan ideologi relativisme yang membuat seseorang tidak berani menilai perbuatan orang lain. 


Jika kita beda pendapat dalam menilai orang lain itu wajar.


Silakan terus belajar dan terus diskusi mana yang paling benar. 


Lalu berani mengakui kesalahan jika kita salah dan berani memperjuangkan kebenaran jika kita benar.


Wallahu'alam.

BUANGLAH "SAMPAH" PADA TEMPATNYA

 BUANGLAH "SAMPAH" PADA TEMPATNYA 


By. Satria hadi lubis


Beberapa kali tulisan saya di medsos dipersepsikan berbeda, sehingga ada orang yang tersinggung dan marah. 


Sering saya membalasnya untuk meluruskan mispersepsi tersebut, tetapi lebih sering lagi saya diamkan. Prinsip saya "tiga kali tektok". Satu kali saya balas, dia balas lagi, saya balas lagi, dan kalau dia balas lagi maka saya tidak akan membalasnya, walau kata-kata terakhirnya mungkin menyakitkan.


Bagi saya, medsos bukanlah tempat berdebat kusir. Apalagi sampai keluar kata-kata kasar bin sadis. Begitu banyak kemungkinan salah persepsi jika berdebat di medsos. Mendingan ketemu aja biar lebih jantan hehe, sekaligus mengecilkan resiko salah persepsi. Sebab tulisan sangat terbatas untuk memahami maksud seseorang.


Diamnya saya bukan berarti setuju atau "kalah" dengan kata-katanya di medsos. Namun jika seseorang memberimu sesuatu, tetapi kamu tidak mau menerimanya dengan diammu, menjadi milik siapakah pemberian itu? Tentu saja menjadi milik si pemberi itu. 


Begitu pula dengan kata-kata kasar jika tidak dilayani ia akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyadari, bahwa nanti dia akan menanggung akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Energi yang muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, atau perbuatan negatif hanya akan membuahkan penderitaan hidup bagi orangnya sendiri.


Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.


Nasehat bagi saya dan untuk sahabat semua, jika di luar sana ada orang yang marah-marah kepada kita, biarkan saja, karena mereka sedang menyebarkan SAMPAH HATI mereka. Jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri. Tetapi jika engkau tanggapi, berarti engkau menerima sampah tersebut. Hatimu menjadi kotor seperti hatinya.


Hari ini begitu banyak orang yang hidup dengan membawa sampah di hatinya. Sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, sampah dendam, sampah merasa diperlakukan tidak adil, dan lainnya. Sampah yang seharusnya dibuang di tempatnya, yakni di "tempat sampah hati", bukan dibuang sembarangan, seperti di medsos, di jalanan atau kepada sembarang orang. 


Dimanakah tempat yang tepat untuk membuang sampah hati ini? 


Di haribaan-Nya...

ketika engkau bersimpuh sujud sambil mengaduh, memohon, dan merenung mengapa hatimu gundah. Minta kepada Dia agar diberi kekuatan dan hikmah di balik rasa gundahmu. Yang akhirnya engkau menjadi IKHLAS dan MEMAAFKAN. Sebab sejatinya Ia telah memberimu jauh lebih banyak pertolongan dan nikmat daripada petaka. Dan tidak ada seorangpun yang bisa mencelakakanmu tanpa seizin-Nya hingga engkau lebih tawakal. 


Inilah saatnya bagiku, bagimu, dan bagi kita semua di saat ini untuk instrospeksi diri seberapa banyak sampah hati kita dan sudahkah kita bersihkan dengan cara menunduk patuh di haribaan-Nya.