Senin, 29 Agustus 2022

CINTA YANG DINAMIS



Suatu ketika, seorang sahabat mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra yang waktu itu sedang duduk santai di bawah pohon kurma.


"Wahai amirul mukminin, aku minta izin kepadamu untuk menceraikan istriku" ujar sahabat tersebut kepada Umar ra. "Mengapa engkau ingin menceraikan istrimu?" Umar bertanya. Lalu sahabat itu menjawab, "Karena aku tidak lagi mencintainya". Mendengar jawaban tersebut Amirul Mukminin Umar bin Khatab yang tadinya duduk santai langsung berdiri dan dengan marah ia berkata, "Jika gara-gara tidak lagi mencintai istrimu engkau ingin menceraikannya, maka sungguh akan banyak keluarga lain yang akan melakukannya!" 


Umar ra tidak setuju jika perceraian terjadi hanya gara-gara tidak ada lagi cinta di antara suami isteri. Apalagi jika bercerai itu gara-gara masalah sepele yang kualitasnya di bawah cinta, seperti masalah ekonomi, cara komunikasi, atau karakter yang berbeda. 


Umar paham, di dalam setiap keluarga akan terjadi cinta yang dinamis. Benci dan cinta datang silih berganti, baik kepada pasangan maupun kepada anak. Cinta bergerak fluktuatif tergantung kualitas interaksi anggota keluarga. 


Cinta yang mati masih dapat ditumbuhkan dengan banyak melakukan "setoran" kebaikan, seperti tersenyum, menatap mesra, sentuhan, kata-kata sayang, perbuatan baik, kejujuran, kesetiaan dan penghargaan. Semakin sering dan berkualitas "setoran" kebaikannya maka semakin megah cinta yang akan terbangun. Begitu pun sebaliknya, semakin jarang "setoran" kebaikan maka akan semakin rapuh bangunan cinta tersebut. Bahkan bisa berubah menjadi benci, jika yang dilakukan adalah "setoran" keburukan, seperti berkata kasar, sering mengungkit kekurangan, jarang menyentuh dan berkata mesra, tidak menghargai, berbohong dan tidak setia.


Jika perceraian terjadi hanya gara-gara tidak lagi mencintai pasangan maka berarti kita sudah "mematikan" perasaan cinta yang pada hakekatnya dinamis. Mendahului takdir Allah tentang perasaan cinta dan benci kepada setiap anak manusia, yang mungkin berubah di masa depan. 


Lebih jauh lagi bisa membuat pelakunya menjadi syirik. Sebab benci dan cinta yang permanen dan sampai mati itu hanya kepada Allah SWT. Sedang kepada selain Allah, benci dan cinta itu dinamis. Itulah sebabnya Rasulullah saw bersabda:


"Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya,

boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci.

Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya,

boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai” (HR. Muslim).


By. Satria Hadi lubis

SUAMI ISTERI ITU IBARAT BENTOR MEDAN

 


DI MEDAN, ada kendaraan penumpang bernama bentor (becak motor). Kendaraan khas yang berumur panjang itu mengajarkan banyak hal kepada kita. Salah satunya adalah tentang filsafah hubungan suami isteri.


Ketika kita naik bentor, posisi pengemudinya di sebelah penumpang dengan jarak yang cukup dekat. Begitulah semestinya suami isteri, posisinya berdampingan tanpa ada yang lebih rendah atau tinggi antara satu dengan yang lainnya.


Seperti bentor dimana penumpang di sebelah kiri pengemudi, begitu pulalah isteri (Siti Hawa) berasal dari tulang rusuk lelaki (Nabi Adam as). Isteri itu ibarat tulang rusuk yang menurut sabda Nabi Muhammad saw perlu diperlakukan dengan hati-hati. Jangan terlalu keras untuk diluruskan atau dibengkokkan.


Seperti bentor dimana pengemudi mengendalikan bentornya, begitu pulalah suami mengendalikan keluarganya. Ingatlah! Putih atau hitamnya isteri tergantung suaminya.


Seperti bentor yang bisa memuat banyak tapi diletakkan di bangku penumpang, begitu pulalah isteri dengan beban yang berat mengurus anak di rumah. Jangan engkau remehkan ia sebagai ibu rumah tangga, karena di tangannya terletak pembentukan generasi mendatang.


Seperti bentor yang selalu berjalan pelan, sehingga kadang menggemaskan kendaraan di belakangnya, maka seperti itulah ritme hubungan suami isteri yang butuh kesabaran dengan perubahan. Bahkan sebagian perubahan itu hanya bisa datang dengan perubahan waktu, bukan nasihat.  


NAMUN, jika bentor bergonta ganti penumpang, maka janganlah suami bergonta ganti isteri. Tetaplah setia dan anggap istrimu sebagai takdir satu-satunya dalam jodoh, sehingga engkau mau bersusah payah merawat cintamu kepada isteri, sehingga istrimu membalasnya dengan cinta yang bertambah-tambah.

NIKMAT BERKORBAN TANPA PENGORBANAN

 


Banyak sekali hikmah yang didapat dari Hari Raya Idul Adha, diantaranya hikmah memotong hewan qurban yaitu, mengingatkan kepada kaum muslimin bahwa inti kehidupan ini adalah pengorbanan untuk mencari ridho Allah.


"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya" (Qs. 2 ayat 207).


Mengapa seorang muslim harus berkorban sepanjang hidupnya, baik berkorban  harta, waktu, pikiran, perasaan, tenaga sampai nyawa sekali pun di jalan Allah? Jawabannya karena Allah telah membeli diri dan harta setiap muslim dengan surga.


"Sesungguhnya Allah (telah) membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..." (Qs. 9 ayat 111).


Jadi sejatinya seorang muslim itu tidak memiliki hak lagi untuk mengatur dirinya sesuka hati. Apalagi untuk mengorbankan harta dan dirinya kepada selain Allah, misalnya menghabiskan waktu atau uangnya untuk bermaksiat. Sebab diri dan hartanya sudah dijual kepada Allah dengan keuntungan yang sangat besar, yaitu surga. Bayangkan hanya dengan mengorbankan harta dan jiwa di jalan Allah untuk sementara waktu (hanya dari lahir sampai mati), kita mendapatkan surga untuk selama-lamanya. Bukankah ini jual beli dengan keuntungan yang sangat besar bagi seorang muslim? Bukankah ini pengorbanan yang nikmat? 


"Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui" (Qs. 61 ayat 10-11).


Modal kita untuk berniaga dengan Allah adalah diri dan harta. Namun pertanyaan berikutnya, apakah modal tersebut milik kita? Ternyata tidak! Karena diri dan harta kita sejatinya juga milik Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). Diri ini milik Allah, waktu juga milik Allah, harta juga milik Allah. Lalu apa yang kita miliki? Tidak ada!


Jadi kita melakukan jual beli dengan Allah yang imbalannya surga tanpa modal sama sekali. Bukankah ini pengorbanan tanpa pengorbanan? 


Namun anehnya sebagian besar manusia menolak tawaran jual beli dengan Allah tersebut. Mereka malah melakukan jual beli dengan selain Allah, yaitu kepada hawa nafsunya, orang lain, atau tuhan-tuhan sesembahan selain Allah. Sungguh mereka itulah orang-orang yang akan menyesal kelak.


"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)" (Qs. 2 ayat 165).


Idul Adha (Idul Qurban) mengingatkan kita kembali akan nikmatnya berkorban dengan keuntungan yang besar, yaitu surga. Mengingatkan kita kembali untuk selalu mau berkorban di jalan Allah. Sebab kita berkorban yang pada hakekatnya tidak berkorban. Sebab yang kita korbankan (harta, waktu, pikiran, perasaan dan jiwa) juga milik Allah.


Maha benar Allah dengan segala hikmah-Nya....! 


By. Satria hadi lubis

JANGAN PARSIAL

 


Dalam sebuah ceramahnya, seorang ustadz berkata: "Mereka yang berpolitik itu sudah benar gak sholatnya? Sudah sholat berjamaah tidak di mesjid? Sudah baca Qur'an gak? Perbaiki dulu deh ibadahnya, baru setelah itu berpolitik!"


Ucapan semacam ini sekilas kelihatannya benar, tapi akan lebih benar lagi jika seruannya seperti ini : "Mereka yang berpolitik itu sudah benar gak sholatnya? Sudah sholat berjamaah tidak di mesjid? Sudah baca Qur'an gak? Perbaiki dulu deh ibadahnya SAMBIL berpolitik!"


Ibadah dalam Islam itu luas pengertiannya, meliputi ipoleksosbudhankamrata (ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan rakyat semesta). Semuanya sama-sama penting. Bagi seorang muslim, politik tidak bisa ditinggalkan karena asyik mendahulukan ibadah mahdhoh (khusus). Begitu pun sebaliknya.


Walau tidak berpolitik praktis (dengan menjadi anggota parpol), suka atau tidak suka seorang muslim harus tahu kondisi kaum muslimin, membela kaum muslimin (baca: membela kemanusiaan) dan memahami makar mereka yang membenci Islam. Dan ini berarti berpolitik (high politics). Tidak boleh cuek.


Bukankah Allah sendiri yang memberitahu kita adanya orang-orang yang membenci Islam? "Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya" (Surat Ash-Shaf, Ayat 8).


Semuanya (termasuk berpolitik dan beribadah khusus) hanya ditujukan kepada Allah dan dalam rangka mencari ridho Allah swt. "Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam" (Surat Al-An'am, Ayat 162).


By. Satria hadi lubis

KECERDASAN BERAMAL SESUAI KAIDAH FIQIH


By. Satria hadi lubis 


Dalam kaidah fiqih, apa saja perbuatan seseorang dapat dikategorikan dalam 5 hal, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal makruh ke haram.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal mubah ke haram.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal wajib ke haram.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal mubah ke makruh.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal wajib ke makruh.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal makruh ke mubah.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal wajib ke mubah.


Ada orang yang hidupnya lebih banyak berpindah dari amal wajib ke sunnah.


Dan seterusnya...


Renungkan!

Dimana kamu lebih banyak menghabiskan waktumu dalam setiap hari?


Secerdas-cerdasnya manusia adalah mereka yang lebih banyak menghabiskan waktunya dalam amal wajib dan sunnah, sehingga dosanya semakin sedikit dan pahalanya semakin banyak.


“Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika terdapat suatu kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, “Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki IBADAH SUNNAH yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?” Lalu setiap amal akan diperlakukan sama seperti itu” (HR. Tirmidzi no. 413, An-Nasa’i no. 466, shahih).


“Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku TERUS MENERUS MENDEKATKAN DIRI KEPADA-KU DENGAN AMAL-AMAL SUNNAH, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat; menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang; dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi“ (HR. Bukhari no. 6502). 

OJEK RELIGIUS



By. Satria hadi lubis 


Kemaren naik ojek, ketemu dengan tukang ojek yang religius. Ketika saya tanya, "Tujuannya jauh loh.. pak". Saya tanya begitu karena tukang ojeknya sudah cukup berumur. Eh...malah beliau menjawab, "Sejauh-jauhnya tujuan kan masih di bumi pak", sambil senyum. "Orang kerja aja mau di tempati di Papua...apalagi cuman ngojek," tambahnya sambil tetap tersenyum.


"Saya bukan berdakwah loh pak!" Katanya lagi. Mungkin karena ngeliat jenggot tipis saya kali hehe...Tapi ternyata bapak ini sepanjang perjalanan seperti sudah biasa ngajak ngobrol penumpangnya dengan menyisipkan nilai-nilai dakwah.


Beliau cerita bahwa walau gak punya uang banyak, tapi tetap berusaha sedeqah setiap harinya. Ia juga mengajarkan anaknya kalau punya hajat apa pun sedeqah dulu, walau hanya 2 ribu perak.


Beliau juga selalu berusaha zikir sambil ngojek. Semoga dengan zikir terhindar dari kecelakaan, kata beliau. 


Di jalan juga beliau sopan dan mendahulukan  kendaraan lain. Beliau berprinsip kalau kita begajulan di jalan, maka orang lain akan marah dan mendoakan yang buruk kepada kita. Oleh sebab itu sebaiknya mengalah dan sopan di jalan, sehingga malah kita didoakan oleh orang lain untuk selamat.


Jadi prinsip beliau adalah doa dari orang lain itu penting untuk hidup seorang muslim.


Hebatnya beliau itu ngojek tanpa pakai GPS. Jadi percaya dengan penumpangnya dan selalu minta tolong penumpangnya untuk menunjukkan arah. Mungkin saking tawakalnya kali ya...hehe.


Jarang-jarang saya dapat tukang ojek model gini. Santun, ramah, religius dan tawakal.


Ketika azan berkumandang, dengan sopan ia minta izin kepada saya untuk sholat maghrib berjamaah di mesjid.


Lengkaplah sudah pelajaran hari itu.


Semoga tetap tawakal ya pak...tetap semangat untuk terus mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan yang sederhana tapi penting dalam keberhasilan hablum minannas wa hablum minallah.

HIJRAH ITU SINGKATAN

 


By. Satria hadi lubis 


Tanggal 1 Muharam merupakan momen hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa hijrah Nabi saw.


Tapi, HIJRAH itu juga singkatan. Kepanjangan dari :


H-nya adalah : Hati yang selalu terpaut kepada Allah SWT.


"Dan dari manapun engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu...(Qs. 2 ayat 149).


I-nya adalah : Inisitiaf yang selalu menjauhi dosa. 

"Yaitu orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas Ampunan-Nya" (Qs. 53 ayat 32).



J-nya adalah : Jejak Nabi saw yang selalu menjadi teladan.

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah" (Qs. 33 ayat 21).


R-nya adalah : Ridho yang selalu diharapkan dari Allah.

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya" (Qs. 2 ayat 207).


A-nya adalah : Ambisi yang selalu mencari pahala.

"Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar. (Qs. 4 ayat 114).


H-nya adalah : Husnul khotimah yang selalu menjadi cita-cita tertinggi.

"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti" (Qs. 3 ayat 193).


Tanpa melakukan enam hal tersebut sulit bagi seseorang untuk dapat hijrah (berpindah) dari :


-Kekufuran kepada Islam

-Kegelapan kepada cahaya

-Kebatilan kepada kebenaran

-Keburukan kepada kebaikan 

-Kemunafikan kepada keimanan


"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus" (Qs. 2 ayat 256).


Hijrah itu tiap hari dan harus diupayakan dengan segenap daya upaya.