Selasa, 25 April 2023

CIRI ORANG-ORANG MUNAFIK

 By. Satria hadi lubis

ORANG munafik adalah orang yang paling berbahaya di muka bumi. Sebab ia merusak Islam dari dalam, menjadi musuh dalam selimut. Kelihatan seperti teman dengan identitas yang sama (muslim), tapi ternyata menikam dari belakang. Tujuannya ingin merusak dan menghancurkan dinul Islam. Mereka sangat phobi dengan ajaran Islam dan syi'arnya (Islamophobia).
Oleh sebab itu pantaslah jika mereka kelak di tempatkan pada keraknya neraka, tempat yang paling panas dan paling pedih azabnya. Na'udzubillah min dzalik.
إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا
"Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka" (Qs. 4 ayat 145).
Beberapa ciri orang munafik yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah :
1. Mereka sholat dengan malas, suka dipuji manusia (riya') dan jarang mengingat Allah.
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali" (Qs. 4 ayat 142).
2. Mereka enggan berkorban, maunya beribadah dan beramal sholih yang gampang-gampang saja serta jika ada keuntungan materinya (berupa harta, tahta, dan wanita).
"Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami akan berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta" (Qs. 9 ayat 42).
3. Mereka bermuka dua, tidak punya prinsip hidup dan cenderung mengatakan dirinya netral (tidak mau membela Islam).
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka berkata: “Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka berjumpa kembali dengan setan-setan mereka berkata: “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok” (Qs. 2 ayat 14).
4. Mereka dengki dengan kejayaan umat Islam, sebaliknya (diam-diam) bergembira jika umat Islam kalah.
“Jika kamu memerolah kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikitpun. Sungguh Allah Maha meliputi segala apa yang mereka kerjakan” (Qs. 3 ayat 120).
5. Mereka sangat pandai memutarbalikkan fakta, membuat hoax dan menipu orang.
“Dan bila dikatakan kepada mereka “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (Qs. 2 ayat 11-12).
Sebenarnya masih banyak lagi ciri orang munafik di dalam al Qur'an dan al Hadits, seperti suka ingkar janji, suka berdusta, tidak amanah, bangga berbuat dosa, cenderung pelit berinfaq, dan lain-lain.
Semoga kita terhindar dari ciri-ciri orang munafik di atas, sehingga terhindar dari azab api neraka jahanam yang disediakan Allah untuk orang-orang munafik.

RAMADHANKU BERANTAKAN

 By. Satria hadi lubis

Gara-gara Ramadhan, bacaan al Quran-ku makin banyak. Dulu satu ayat saja belum tentu aku baca, sekarang minimal 1 juz al Quran aku baca setiap harinya.
Sekarang aku juga makin rutin sholat tahajjud. Sholat dhuha juga makin sering. Hapalan al Quran aku juga makin bertambah. Dulu....boro-boro.
Gara-gara Ramadhan, aku makin rajin baca buku agama. Dua puluh hari Ramadhan, sudah tujuh buku agama dibaca tuntas.
Datangnya Ramadhan juga membuat hubunganku dengan keluarga makin akrab. Aku makin mengerti dan mengenal apa yang disukai dan tidak disukai setiap anggota keluargaku. Kami makin akrab. Waktu Kumpul Keluarga (WKK) bisa dilakukan makin sering, bahkan ada acara pengajian keluarga juga.....
keren
khan...hehe
Gara-gara Ramadhan, aku makin punya waktu untuk mengasah otakku. Sepertinya makin cerdas, karena selain banyak membaca buku, aku juga belajar berbagai hal yang tadinya belum aku ketahui. Termasuk makin pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bahkan bisa menikmati hal-hal "kecil" yang tadinya aku abaikan, seperti memasak, menyapu rumah, berkebun, memperbaiki meja yang rusak, dan lain-lain. Home sweet home makin aku rasakan indahnya.
Iya...gara-gara Ramadhan, spritualitas, emosional, intelektual dan kesehatanku makin meningkat. Juga makin pandai bersyukur dan ikhlas. Makin pandai mengatur waktu yang sedikit ini untuk mencari pahala dan kebahagiaan sejati.
Tapi ...
ITU MIMPI AKU....
Sedang kenyataannya Ramadhanku berantakan....
Banyak waktu berlalu tanpa arti...
Karena aku sering tunda-tunda.
Tahu-tahu Ramadhan kan berakhir...
Sedang aku belum apa-apa...
Masih sibuk berbagai urusan sana sini
Atau asyik rebahan sambil main hape tiap hari...
Astaghfirullah...

BEDA IKHLAS DENGAN RELA

 By. satria hadi lubis

Di sebuah pengajian, saya ditanya adakah perbedaan antara ikhlas dengan rela (tulus)?
Saya jawab, ada perbedaannya. Ikhlas itu artinya berniat melakukan sesuatu semata-mata karena Allah. Sedang rela artinya melakukan sesuatu dengan senang dan tanpa paksaan, serta belum tentu karena Allah.
Orang yang rela belum tentu ikhlas. Misalnya, ketika seseorang mentraktir temannya dengan senang hati tapi niatnya untuk mempererat pertemanan semata. Tidak dihubungkan dengan perintah Allah untuk melakukan silaturahim.
Sebaliknya, ada juga orang yang ikhlas tapi tidak (belum) rela. Misalnya, seorang anak muda yang melakukan sholat subuh dalam kondisi mengantuk tapi dipaksakan juga untuk bangun. Ia tidak rela, karena memaksa diri untuk bangun, namun ia ikhlas karena melakukannya dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Dalil ikhlas yang model begini adalah al Qur'an surat at Taubah ayat 41 : "Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".
Lalu ada juga orang yang tidak rela dan tidak ikhlas. Ini misalnya ketika kita bekerja untuk sesuatu yang tidak disenangi, tapi harus dikerjakan untuk mendapatkan uang.
Kesimpulannya, sebaik-baiknya amal adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan rela (tulus). Contohnya, sholat subuh yang sudah menjadi kebiasaan, maka akan dilakukan dengan senang hati (rela) dan ikhlas (semata-mata melaksanakan perintah Allah swt). Inilah yang disebut Allah 'ajja wa jalla dalam al Qur'an surah al Bayyinah ayat 5 : "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)."
Jadi sebaik-baiknya perbuatan adalah yang ikhlas dan rela (tulus). Sebab dapat pahala dan dilakukan dengan senang hati (tidak terpaksa). Sebaliknya, seburuk-buruk perbuatan adalah yang tidak ikhlas dan tidak rela. Hal itu karena kita tidak mendapatkan pahala dan terpaksa, yang akan menjadi penyesalan disebabkan waktu berlalu tanpa tabungan pahala. Wallahu'alam.

KISAH NYATA KEAJAIBAN REZEKI

 By. Satria hadi lubis

SEBAGAI ibu rumah tangga tanpa penghasilan yang tetap, Markonah adalah perempuan da'iyah yang rajin silaturahim dan menolong orang lain.
Markonah dikenal sebagai orang yang tulus dan ringan tangan. Bahkan sering dianggap kurang peduli dengan keperluan dirinya sendiri. Jika punya uang, ia langsung menghabiskannya untuk membantu orang lain atau untuk keperluan primer keluarganya.
Semangat silaturahim Markonah sangat tinggi. Jika mendengar ada orang yang dikenalnya sakit atau meninggal dunia, maka Markonah sebisa mungkin hadir untuk mendoakannya.
Hasilnya ajaib, rumah Markonah tak pernah sepi dengan berbagai kiriman dari banyak orang, baik yang dikenalnya atau tidak. Ada yang kirim makanan, baju, buku-buku, obat-obatan, sembako, dan lain-lain. Apalagi jika terdengar kabar Markonah kena musibah atau sakit, maka makin deras saja berbagai bantuan yang masuk ke rumahnya atau ke rekeningnya. Belum lagi rezeki berupa perjalanan ke LN, ke haji dan umroh yang berkali-kali dengan biaya bukan dari kantong pribadi.
Memang, Markonah tidak menjadi kaya raya karena bantuan tersebut, tapi ia juga tak pernah miskin dan tak punya hutang.
Bahkan kalau dihitung-dihitung, jumlah berbagai rezeki yang diterima Markonah lebih besar dari gaji suaminya yang merupakan karyawan tetap.
Markonah memang manusia ajaib, sehingga rezekinya juga ajaib.
Figur seperti Markonah sebenarnya ada di sekeliling kita untuk membuktikan kebenaran janji Allah bahwa orang yang bertaqwa akan mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (Qs. Ath-Thalaq : 2-3).
Kekuatan Markonah sehingga banyak rezeki adalah ia suka menolong, rajin silaturahim, dan ibadahnya khusyu' (yakin banget akan pertolongan Allah).
"Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi" (HR. Muslim).
"Shalat dapat mendatangkan rezeki, menjaga kesehatan, menolak bencana, menjauhkan penyakit, menguatkan hati, menyinari wajah, mengistirahatkan jiwa, dan menghilangkan kemalasan” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Kitab Zaadul Ma’ad, 4/304).
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu mengatakan “Pancing rezekimu dengan sedekah.“ Siapa yang banyak memberi, maka ia juga akan banyak menerima.
Masya Allah...ternyata janji Allah tentang keajaiban rezeki benar adanya. Tinggal kita mau apa tidak memenuhi syarat-syaratnya.

DIMANA ENGKAU DI AKHIR RAMADHAN?

 

Berbahagialah... mereka yang mengisi hari-hari terakhir Ramadhannya di masjid
Tidak sibuk dan tidak galau karena baju baru, tapi ia sibuk dan galau karena mengejar sisa tilawahnya yang masih sedikit.
Berbahagialah... mereka yang mengisi hari-hari terakhir Ramadhannya di masjid
Tidak lelah dan tidak perlu merasakan padatnya jalan mudik, tapi ia malah bersama Al-Qur'an dan merasakan ketenangan di hatinya
Berbahagialah... mereka yang mengisi hari-hari terakhir Ramadhannya di masjid
Tidak usah bingung mencari diskon sampai 80 %, tapi justeru ia bingung kalau dosa-dosanya yang lalu tidak Allah maafkan 100 %
Berbahagialah... mereka yang mengisi hari-hari terakhir Ramadhannya di masjid
Tidak akan banyak berkurang uangnya karena dibelanjakan ini itu, sehingga ia bisa mengalokasikan uangnya dengan zakat dan infaq
Berbahagialah... yang mengisi hari-hari terakhir Ramadhannya di masjid
Karena sebaik-baik tempat di muka bumi adalah masjid. Dan seburuk-buruk tempat di muka bumi adalah pasar (mall)
Di mesjid, engkau hanya akan merasakan ketenangan dan ampunan
Mengakhiri Ramadhan dengan keberkahan dan --insya Allah-- memperoleh gelar taqwa.
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR. Thabrani).
By. Satria hadi lubis

YANG TERSISA DARI RAMADHAN

YANG tersisa dari Ramadhan adalah penyesalan karena merasa diri ini tak pantas menjadi tuan rumah yang baik sejak awal kedatanganmu....wahai Ramadhan

Yang tersisa dari Ramadhan adalah rendah diri karena merasa ibadah dan amal tak sebesar yang semestinya engkau terima....wahai Ramadhan
Yang tersisa dari Ramadhan adalah harapanku yang besar agar amal dan ibadahku yang sedikit ini bisa menghapus dosa-dosaku yang besar berkat limpahan keberkahanmu....wahai Ramadhan
Yang tersisa dari Ramadhan adalah janji untuk konsisten menjaga amal dan ibadahku di bulan-bulan lainnya, sehingga setiap bulan adalah bulanmu...wahai Ramadhan
Yang tersisa dari Ramadhan adalah kerinduan untuk bertemu Ramadhan tahun depan dengan semangat untuk menyambutmu lebih baik dari tahun ini....wahai Ramadhan
Selama jalan Ramadhan....
tinggalkan kami dengan keberkahanmu yang melimpah
Karena aku tahu tanda keberhasilan Ramadhanku adalah aku lebih baik dan lebih bertaqwa daripada sebelum datangnya engkau....wahai Ramadhan

TIDAK SAMA ORANG YANG DUDUK DENGAN ORANG YANG BERJIHAD

 

By. Satria hadi lubis
Konon katanya Bill Gates lebih suka menerima pegawai yang pernah salah di tempat kerjanya yang lama daripada yang tak pernah melakukan kesalahan. Alasannya simpel, karena pegawai yang tak pernah salah berarti kurang kreatif dan tidak produktif.
Sebab orang yang berani berbuat, resikonya akan tersandung (berbuat salah). Sebaliknya yang diam saja tidak akan tersandung, tapi juga tidak akan bergerak maju.
Allah menyebut dengan istilah "tidak sama orang yang duduk dengan orang yang berjihad di jalan Allah."
"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar" (Qs. 4 ayat 95).
Disinilah kita perlu respek terhadap mereka yang berdakwah, yang berani melakukan amar ma'ruf nahi munkar, walau resikonya dibenci, di-bully, bahkan dianggap membuat gaduh, daripada mereka yang diam saja mencari aman membiarkan kemungkaran merajalela.
Disinilah kita perlu salut dengan para pahlawan, para ulama, da'i dan ustadz serta pembela kebenaran lainnya di sepanjang sejarah dunia yang berani melawan kezaliman dengan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, harta dan nyawanya daripada orang-orang yang diam saja menjadi penonton, sambil teriak-teriak menyalahkan para pahlawan tersebut. Misalnya dengan ucapan, "Dakwahnya kurang hati-hati sih....kurang bijak sih...", "Udah tau penguasanya otoriter koq dilawan...akhirnya di penjara deh," "Salah sendiri...cari penyakit aja...," "...Kaya dirinya udah benar aja", dan ucapan sejenisnya lainnya.
Padahal tanpa keberanian para pahlawan dalam menanggung resiko tak akan ada perubahan. Sengsara terus, entah sampai kapan.
Itulah sebabnya Allah memuji para nabi (sebagai pejuang kebenaran tertinggi) yang berani menanggung resiko melakukan perubahan pada kaumnya, sebagai teladan untuk kita semua. Allah SWT tetap memuji para nabi walau diantara mereka ada yang dicaci, dikucilkan, disiksa bahkan dibunuh. Allah 'Azza Wajalla tidak menurunkan "pangkat" para nabi menjadi manusia biasa karena ada yang gagal dalam berjuang.
وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ
"Dan selamat sejahtera bagi para rasul" (Qs. 37 ayat 171).
Maka sikap kita terhadap para pejuang kebenaran adalah menghormati mereka, mendukung, serta meneladani mereka. Sambil terus mengambil hikmah untuk penerapannya di masa kini dalam memperjuangkan kebenaran.
Bukan malah bisanya hanya menyalahkan dan mencaci mereka, bahkan ikut-ikutan memusuhi mereka. Na'udzubillah.
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang besar" (Qs. 9 ayat 111).