Minggu, 21 Mei 2023

DARI PERANG FISIK MENJADI PERANG PEMIKIRAN

 

By. Satria hadi lubis
Dulu para pendahulu kita berjihad dengan berperang melintas lembah dan gunung, menaklukan orang-orang yang ingkar kepada Allah.
Kini medan jihad kita berbeda. Bukan lagi berperang secara fisik (kecuali di negara tertentu), tapi "berperang" secara pola pikir (ghozwul fikri). Ghozwul fikri inilah yang membuat kaum muslimin menjadi bodoh dan minder terhadap agamanya.
Setiap muslim harus memahami berbagai bentuk ghazwul fikri dan bahayanya dalam kehidupan. Kita tidak boleh terpedaya dan tertipu dengan upaya-upaya pihak tertentu yang dapat merusak fikroh Islamiyah yang kita miliki menjadi fikrah jahiliyah.
Perang pemikiran (ghozwul fikri) sangat berbeda dengan perang secara fisik. Daya rusaknya tidak kalah bahkan lebih besar daripada perang fisik. Namun, karena banyak kaum muslimin yang tak menyadari adanya perang pemikiran (ghazwul fikri) di tengah-tengah mereka, maka mereka terlena dan tanpa terasa telah bobol "benteng-benteng" pemikirannya bahkan yang paling berbahaya sampai merusak "benteng" akidahnya.
Berbagai sarana telah digunakan oleh musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kaum muslimin secara halus dan perlahan. Mereka menggunakan media massa dan media sosial untuk membentuk mind set masyarakat agar terbentuk opini bahwa zaman telah berubah dan terus berkembang, sehingga sudah tidak tepat lagi jika agama dijadikan pijakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Mereka gaungkan nilai-nilai sekularisme, liberalisme, feminisme, atheisme, dan isme-isme lainnyan yang terlihat lebih modern, baik di bidang pendidikan, pergaulan, pekerjaan, bahkan di bidang perundang-undangan.
Untuk itu marilah kita simak ayat-ayat berikut :
"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya" (Qs. 61 ayat 9)
.
"...Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka mampu. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Qs. 2 ayat 217).
Kewaspadaan terhadap ghozwul fikri harus selalu dilakukan oleh kaum muslimin, terutama oleh para da'i dan ulamanya, sehingga ajaran Islam tidak tercerabut dari akar-akarnya yang asli (asholah) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
Allah SWT memberitahukan kepada kita bagaimana cara menghadapi ghozwul fikri :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (Qs. 8 ayat 45 dan 46).
Caranya adalah dengan meneguhkan hati, memperbanyak zikir (mendekatkan diri kepada Allah), dan jangan berselisih di antara sesama muslim serta bersabar.
Semoga kita tidak terpengaruh oleh berbagai ghozwul fikri yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam, sehingga kita tetap berada dalam ke-Islaman yang benar dan asli.

AGAR TIDUR BERNILAI PAHALA

 

By. Satria hadi lubis
HIDUP ini singkat, sehingga seharusnya kita jeli menggunakan waktu yang singkat ini untuk memburu pahala sebanyak-banyaknya bagi bekal akhirat.
Sayangnya, misi mengumpulkan pahala ini bisa terbuang percuma jika kita tak pandai memanfaatkan waktu.
Salah satunya pandai memanfaatkan waktu tidur untuk bisa tetap mengumpulkan pahala (tidur yang berpahala).
Tahukah Anda, waktu tidur kita adalah sepertiga dari usia kita? Sebab rata-rata manusia tidur dalam sehari (24 jam) itu 7-8 jam. Jadi jika usianya 60 tahun berarti ia menghabiskan waktu 20 tahun untuk tidur. Sayang sekali jika waktu tidur yang lama tersebut tak digunakan untuk mendapatkan pahala. Tidurnya (dalam hukum fiqih) hanya bersifat mubah, tak mendapatkan pahala dan tidak mendapatkan dosa.
Agar tidur kita tetap dapat mengumpulkan pahala, maka lakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Niatkan untuk mencari ridho Allah.
"Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuatu sesuai niatnya" (HR. Bukhari-Muslim).
2. Berwudhu sebelum tidur dan lebih banyak tidur menyamping ke kanan.
"Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk salat. Lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu" (HR. Bukhari No. 247 dan Muslim no.2710).
3. Membaca Surah An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas.
"Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan Qul huwallahu ahad (surah Al-Ikhlash), Qul a’udzu birobbil falaq (surah Al-Falaq) dan Qul a’udzu birobbin naas (surah An-Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali" (HR. Bukhari no. 5017).
4. Membaca Ayat Kursi.
"Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah dan setan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi." Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu setan" (HR. Bukhari no. 3275).
5. Membaca surat Al Mulk.
"Siapa yang membaca surat Al Mulk setiap malam, Allah SWT akan menghindarkannya dari siksa kubur dengan surat tersebut" (HR. An Nasa'i).
6. Membaca doa harian sebelum dan setelah bangun tidur.
"Ketika Rasulullah SAW pergi tidur, beliau biasa mengucapkan, "Allahumma bismika ahya wa amut." Dan saat bangun di pagi hari beliau terbiasa mengatakan, "Alhamdulillahi lladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihi nnushur" (HR Bukhari).
Semakin banyak sunnah di atas kita lakukan, semakin banyak pahalanya.
Semoga kita tetap bisa memburu pahala walaupun dalam kondisi tidur.

JANGAN MENYALAHKAN ORANG LAIN

 By. Satria hadi lubis

Al Qur'an mengecam mereka yang suka menyalahkan orang lain akibat kesesatannya atau kegagalannya.
"Atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat terdahulu?" (QS. 7 : 173).
Betapa banyak kita lihat orang-orang yang "pengecut" seperti ayat di atas.
Mereka suka menyalahkan orang lain sebagai sebab kegagalannya.
Sebaliknya, menepuk dada dan lupa bahwa ada andil orang lain ketika ia berhasil.
Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab, karena memang lebih mudah menyalahkan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri.
Allah mengecam dan tidak menerima alasan semacam itu nanti di yaumul hisab.

JANGAN LAKUKAN INI KEPADA PASANGAN ANDA

By. Satria hadi lubis

1. Jangan membentak pasangan.
Membentak berarti menggunakan nada-nada tinggi dengan emosi. Dengan atau tanpa kata-kata kasar atau kotor.
Sebaiknya suami isteri berkomunikasi dengan nada yang rendah (nada do-re), sehingga terdengar lebih pelan dan lembut, sehingga komunikasi suami isteri berjarak intim (berdekatan).
Rasulullah saw sendiri tidak pernah membentak istrinya. Beliau kalau marah malah memeluk istrinya atau beliau diam menjauhi istrinya.
Diriwiyatkan dalam sebuah kisah bahwa Rasulullah pernah ada perasaan marah kepada Aisyah (istri Rasulullah) akibat terus menerus cemburu pada Khadijah (istri pertama Rasulullah yang pada waktu itu telah meninggal dunia), kemudian beliau berkata dan memerintahkan kepada Aisyah “Tutuplah matamu”. Maka Aisyah pun menutup matanya. Ketika dalam posisi tersebut beliau mendekat dan memeluk Aisyah sambil berkata “Ya Humairaku, marahku telah pergi setelah aku memelukmu” (HR Muslim).
2. Jangan melakukan KDRT kepada pasangan.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah tangga) adalah perbuatan melanggar hukum dalam hukum positif kita.
Walau Al Qur'an membolehkan seorang suami memukul ringan dan tidak berbekas kepada istrinya seperti yang disebutkan dalam surat An Nisa' ayat 34 : "Istri-istri yang kalian khawatirkan melakukan pembangkangan (tidak memenuhi hak suami), maka nasehatilah mereka, diamkan mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Bila mereka menaati kalian, maka jangan kalian cari jalan untuk merugikan mereka” (Surat An-Nisa’ ayat 34). Namun Rasulullah saw sendiri tak pernah memukul istri-istrinya.
Beliau saw bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku” (HR Ibnu Majah).
3. Jangan mengancam pasangan.
Maksudnya, jangan sering mengancam untuk menjatuhkan talaq (cerai) kepada istri atau mengancam khulu' (gugat cerai) kepada suami. Baik dengan vulgar atau dengan kata-kata kiasan.
Ada suami isteri yang jika pertengkarannya makin memanas "royal" mengancam-ancam pasangannya. Dan ketika perceraian betul-betul terjadi, mereka menyesal di kemudian hari.
Menahan diri (diam) atau menjauh agar tidak terpancing melontarkan kata-kata ancaman adalah solusi terbaik.
Semoga "Tiga Jangan" ini menjadi prinsip dalam hubungan setiap suami isteri, sehingga terwujud keluarga sakinah mawaddah war rahmah.

MARAKNYA FILM HOROR

 

By. Satria hadi lubis
Maraknya film horor saat ini dengan jumlah penonton yang banyak seharusnya berdampak pada semakin takutnya para penonton tersebut kepada Allah.
Bukankah kalau kita takut kepada berbagai hantu maka cara yang ampuh menjauhi kita dari hantu adalah berlindung kepada Allah SWT?
Bukankah hantu (jika ada) juga ciptaan Allah, sehingga melawannya perlu meminta bantuan kepada Allah yang menciptakan hantu?
Sungguh aneh jika ada orang takut hantu, tapi tidak takut kepada Allah (dalam artian semakin bertaqwa kepada Allah).
Sungguh tak masuk akal jika ada orang percaya adanya hantu, tapi tak percaya adanya Allah. Padahal keduanya sama-sama hal yang ghaib.
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar" (Qs. 67 ayat 12).
Saya membayangkan mereka yang pulang dari menonton film horor hijrah menjadi orang-orang yang semakin sholih dan sholihah karena semakin dekat kepada Allah SWT.
Jika maraknya film-film fiksi horor tak mampu membuat para penontonnya lebih dekat kepada Allah sebagai tempat bergantung dan memohon perlindungan, malah makin takut kepada hantu melebihi takutnya kepada Allah SWT, maka yang terjadi sebenarnya adalah propaganda kemusyrikan.
Aqidah Islam menandaskan kita tak boleh takut kepada siapa pun (termasuk hantu), kecuali hanya takut kepada Allah SWT.
Jika kita takut kepada hantu maka kita telah melakukan dosa syirik yang membuat pelakunya bisa masuk ke dalam neraka jahanam. Na'udzubillah.
"Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman" (Qs. 3 ayat 175).

WARISAN BERMAKNA

 By. Satria hadi lubis

Mengapa Rasulullah saw wafat tanpa meninggalkan warisan harta?
Sebab beliau sedang mengajarkan kepada kita bahwa warisan bermakna lebih penting daripada warisan harta.
Warisan bermakna beliau berupa ajaran Islam dan teladan yang luhur, yakni Al Quran dan al Hadits.
Untuk kita, warisan bermakna itu berupa sedeqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang selalu mendoakan orang tuanya.
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).
Rasulullah tahu warisan bermakna lebih kekal secara turun temurun dan bermanfaat bagi peradaban. Sedang harta itu fana dan pasti didapatkan oleh anak cucunya sesuai janji Allah bahwa setiap orang sudah ada rezekinya.
Kini banyak orang berpikir sebaliknya, mengutamakan warisan harta daripada warisan bermakna. Lebih kuatir anak cucunya miskin daripada hidup mulia, sampai berani mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara yang haram. Ini merupakan kesalahan prioritas dan gagal paham.

BOSAN HIDUP

 

Suatu hari seorang pengusaha bertanya kepada seorang ustadz.
"Ustadz...kenapa ya kok saya merasa bosen dengan hidup saya yang gini-gini terus, hambar, gak ada variasinya, gak ada nikmatnya. Bosen saya ustadz. Pengen bahagia tapi kok sulit ya?"
Sang ustadz pun menjawab :
"Owh...mungkin saat ini Allah juga lagi bosen sama abang."
"Allah bosen sama saya? Maksudnya gimana pak ustadz?" tanya si pengusaha kembali.
Ustadz menjelaskan :
"Mungkin Allah capek nyari abang gak pernah ketemu-ketemu. Dicari diantara ahli dhuha, abang gak ada. Dicari diantara ahli tahajud juga gak ada. Dicari diantara ahli puasa sunnah juga gak ada. Dicari diantara ahli sedekah juga gak keliatan. Dicari diantara ahli Qur'an, situ juga gak ada. Dicari diantara yang menuntut ilmu apalagi. Terus Allah mesti nyari abang kemana lagi untuk membuat abang bahagia..?"
Lalu...
menangislah si pengusaha tersebut sambil mengusap air mata nya, dia beristighfar.
Segeralah kembali kepada Allah, mendekatlah kepada Allah.
Hanya Allah satu-satunya yang bisa menenteramkan hidup kita, membuat hati bahagia.
Edited by. SHL