Senin, 05 Juni 2023

DIMANA WAKTUMU ENGKAU HABISKAN?

 

Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang haram kepada perbuatan haram yang lain.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang haram kepada perbuatan yang makruh.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang makruh kepada perbuatan makruh yang lain.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang makruh kepada perbuatan yang mubah.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang mubah kepada perbuatan mubah yang lain.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang mubah kepada perbuatan yang wajib.
Ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang wajib kepada perbuatan sunnah.
Dan ada orang yang sehari-hari berpindah perbuatannya dari yang sunnah kepada perbuatan sunnah yang lain.
Karena yang wajib sudah ditunaikan dan yang haram serta makruh sudah ditinggalkan dan yang mubah sudah dikurangi. Inilah posisi orang-orang sholih yang merupakan hamba-hamba Allah.
Renungkanlah!
Dimana posisimu saat ini... wahai diri?
Semoga kita semua dengan bertambahnya usia makin banyak melakukan perbuatan yang sunnah, berpindah dari satu perbuatan pahala kepada perbuatan pahala lainnya, disertai dengan keikhlasan yang makin murni.
By. Satria hadi lubis

MASUK NERAKA GARA-GARA TETANGGA

 

Tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka.
Bahkan indikator iman seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia membuat tetangganya merasa aman.
“Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah saw. ditanya “Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya” (HR al-Bukhari).
Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik.
Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282).
Tetangga yang baik itu jika saling berjumpa minimal melakukan 3S (Senyum, Salam, Sapa).
Dari Abu Dzar ra, beliau berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri” (HR Muslim).
Lalu mana yang perlu diprioritaskan antara tetangga yang jauh dan dekat, misalnya ketika kita ingin membantu atau memberikan hadiah? Tentu saja tetangga yang dekat.
“Dari Aisyah ra: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapakah aku memberikan hadiah?” Beliau (Rasulullah Saw) bersabda: “Yaitu kepada (tetangga) yang paling dekat pintu rumahnya darimu” (HR al-Bukhari).
Dan tidak boleh meremehkan pemberian tetangga, walau pemberiannya itu murah atau yang tidak kita butuhkan sekalipun.
“Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Wahai perempuan-perempuan muslimah, janganlah seorang tetangga yang meremehkan hadiah tetangganya meskipun berupa ujung kaki kambing” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Disunnahkan juga untuk saling memberi, termasuk memberi makanan.
"Jika kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan berikan sebagian pada para tetanggamu” (HR. Muslim).
Hidup bertetangga, terutama di perkotaan, sering membuat kita lupa bagaimana memperlakukan tetangga dengan baik. Hidup menjadi induvidualistis, tak peduli dengan hak tetangga. Misalnya, menyetel musik dengan suara yang keras, parkir sembarangan sehingga mempersulit akses keluar masuk tetangga, menjelekkan tetangga, dan lain-lain.
Padahal gara-gara tidak memperlakukan tetangga dengan baik seseorang bisa masuk neraka, walau ibadah dan amalnya luar biasa.
Dari Abu Hurairah ra ia berkata, ‘Dikatakan kepada Rasulullah saw: ‘Wahai Rasulullah Saw, Fulanah selalu salat malam dan puasa di siang harinya akan tetapi ia sering mencela tetangganya.’ Rasulullah saw bersabda: ‘Ia tidak baik, ia masuk neraka.’ Disebutkan kepada Rasulullah saw bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bersedekah hanya secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.’ Rasulullah Saw bersabda: ‘Ia masuk surga” (HR. Al Hakim).
By. Satria hadi lubis

REZEKI DAN USAHA TAK ADA HUBUNGANNYA

 

By. Satria Hadi Lubis
Rezeki dan usaha adalah dua hal terpisah yang tak ada hubungannya.
Kita berusaha sungguh-sungguh bukan untuk dapat rezeki, tapi dalam rangka menjalankan perintah Allah yang menyuruh kita berusaha sungguh-sungguh dengan halal dan baik. Atau dengan kata lain, ikhlas semata-mata untuk mendapatkan pahala (ridho Allah). BUKAN karena ingin dapat rezeki. "Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (Qs. 9: 105).
Rezeki adalah rahasia Allah yang setiap manusia telah ada jatahnya masing-masing. "Dan tidak ada satu dabbah (binatang melata pun) di bumi ini kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya" (QS. Hud:6). Itulah sebabnya ada orang yang mendapatkan rezeki yang banyak walau usahanya biasa saja. Sebaliknya ada orang yang berusaha sungguh-sungguh tapi seret rezekinya. Semua itu tergantung dari kehendak Allah semata. “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas sebagai berikut, “Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).
Jangan disimpulkan bahwa kalau begitu kita bisa dapat rezeki tanpa usaha. Yang benar, bisa jadi usaha (termasuk berdoa di dalamnya) mampu merubah takdir rezeki yang telah Allah tetapkan kepada kita. Namun sekali lagi, tak ada hubungan yang signifikan antara rezeki dan usaha.
Maka jika ada orang yang percaya akan dapat rezeki tanpa usaha berarti ia mengimani ayat yang satu dan mengingkari ayat yang lain. Wallahu'alam.

Minggu, 21 Mei 2023

TIPS MELAWAN KONSUMERISME

 By. Satria hadi lubis

Seringkali ketika menyesal setelah membeli barang. Bukan karena barang itu jelek mutunya, tapi ternyata barang itu tidak begitu kita butuhkan, sehingga barang itu teronggok tak terpakai.
Untuk melawan karakter buruk konsumerisme pada diri kita sehingga kita susah berhemat, maka masukkan ke dalam daftar sukses harian kita :
"Aku sukses jika hari ini aku dapat mengendalikan keinginanku untuk tidak membeli sesuatu".
Membeli apa yang diinginkan (want) berarti membeli apa yang tidak dibutuhkan (need). Kebutuhan bersifat primer, tapi keinginan bersifat konsumtif. Misalnya, beli sepatu karena sepatu satu-satunya rusak adalah kebutuhan. Tapi membeli sepatu lagi padahal sepatu yang ada masih bagus maka itu sifat konsumtif (yang buruk).
Jika godaan membeli masih terus ada, ajukan pertanyaan berikutnya tiga kali dengan jeda waktu yang cukup untuk menganalisa,
"Seberapa penting aku membeli barang tersebut?"
"Adakah alternatif yang lain sehingga aku tidak harus membelinya?".
Betapa banyak orang yang susah menabung (untuk investasi) karena pemboros dan jiwa konsumerisnya meledak-ledak.
"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya" (Qs. Al Isro' ayat 27).

APRESIASI UNTUK SEMUA KELUARGA YANG BERUSAHA TETAP HARMONIS

 


By Satria hadi lubis


Alhamdulillah... Saya senang sekali jika bisa mengisi seminar/ceramah tentang Ketahanan Keluarga.
Sebab saya berkeyakinan, baik atau buruknya negara tergantung dari baik dan buruknya keluarga, sebagai pondasi dari masyarakat itu sendiri.
Iblis saja, sebagai raja setan, "mengapresiasi" anak buahnya paling tinggi ketika anak buahnya berhasil mencerai beraikan sebuah keluarga (Hadits riwayat Muslim No. 2813 dari jalur Jabir bin Abdillah).
Maka bagi saya mengharmonisasikan keluarga seakan berperang melawan setan yang terkutuk. Selain tentu untuk kebahagiaan keluarga itu sendiri.
Maka saya sangat senang bisa bertemu dengan keluarga-keluarga yang terus berusaha menjadi keluarga harmonis.
Ada perasaan kangen juga untuk bisa mengisi acara secara offline dan bertemu dengan keluarga-keluarga Muslim, sehingga acaranya lebih interaktif, meriah dan mengharukan.
Barakallahu fiikum....
Untuk keluarga yang yakin tentang tanggung jawabnya mencetak anak-anak sholih demi masa depan bangsa. Yang semua itu dimulai dari harmonisasi suami isteri.
Keluarga yang resah dan senangnya bersama turun dan naiknya iman dan amal di tengah-tengah maraknya anasir penghancur keluarga.
Keluarga yang keteguhannya terhadap agama lebih utama daripada cinta serta kekurangan pasangan dan anak-anaknya.
Keluarga yang optimis dengan surga yang akan diraih.
Semoga Allah memberkahi antum semua.
Aamiin...

MENIKAH DIAM-DIAM

 

By. Satria hadi lubis
Saya termasuk yang tidak setuju jika seorang suami menikah lagi dengan cara diam-diam (sirri) dan diawali dengan kebohongan. Padahal berbohong diawal akan diikuti dengan berbohong berikutnya untuk menemui istri sirrinya secara diam-diam. Dosa berbohong berkali-kali akan membuat si pelaku dicatat sebagai pembohong sejati, sehingga berhak masuk neraka. Rasulullah saw bersabda: "..Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (pembohong)" (HR. Bukhari).
Biasanya suami yang menikah diam-diam, 90 persen diawali oleh perselingkuhan, mulai dari selingkuh hati sampai selingkuh kelamin. Ini berarti sudah mengawali sesuatu yang suci (pernikahan) dengan maksiat. Padahal Allah berfirman: "Janganlah engkau mendekati zina" (Qs. 17 ayat 32). Wajar jika isterinya marah dengan pernikahan diam-diam tersebut karena diawali dengan perselingkuhan (tidak setia).
Jika seorang suami tidak bisa memberikan pemahaman kepada istrinya untuk bersedia dipoligami, maka ia sebenarnya ditakdirkan Allah untuk tidak berpoligami. Bersyukur sajalah dengan satu istri.
Jika masalahnya di syahwat, tahanlah sebentar. Toh hidup di dunia ini hanya singkat. Hanya 60 tahun saja, yang sebanding dengan 1,5 jam dalam hitungan waktu hakikat di sisi Allah (lihat surat 22 ayat 47). Mosok sabar sebentar aja gak bisa?!
Gimana caranya menahan syahwat? Jawabannya klasik, banyak ibadah, dakwah, puasa, memperbaiki pola hubungan seksual dengan istri, dan lain-lain.
Jangan "menjebak" isteri dengan menikah dulu baru bagaimana nanti kalau ketahuan. Lalu meminta isteri menerima apa yang sudah terjadi dengan alasan takdir, walau istrinya tetap tidak menerima. Atau mengancam istri jangan menentang ayat Allah tentang poligami padahal itu cara ngeles karena ketahuan.
Bukankah Allah mengisyaratkan takdir seseorang itu dengan halangan dan kemudahan yang diterimanya? Apalagi jika istrinya kemudian marah karena suaminya ketahuan poligami diam-diam, lalu terpaksa menerima dengan alasan takdir, tapi hubungan tidak lagi hangat, lalu muncul pertengkaran berulang-ulang dalam sisa perjalanan pernikahan, yang akhirnya ada yang bercerai, bukankah itu pertanda Allah sebenarnya mentakdirkan suami tersebut untuk monogami saja?
Wahai para suami...janganlah engkau "memaksa" Allah untuk memindahkan takdirmu yang baik menjadi takdirmu yang buruk.

WAHAI DIRI....RAMADHAN SEGERA PERGI

 

By. Satria hadi lubis
Ramadhan segera pergi...
Dan aku belum apa-apa...
Sedih...
Wahai diri...
menangislah...
Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal hatimu. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tilawah Qur'anmu tak juga beranjak pada juz empat.
Wahai diri...menangislah
Jika itu merupakan awal tekad untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lail-mu yang bolong-bolong.
Menangislah..wahai diri!
Biar butir air mata itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum Ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib Ramadhan... tapi
sampai menjelang akhir Ramadhan masih juga menggunjingkan kekhilafan temannya, masih juga tak bisa menahan ucapan tak bermanfaat, masih juga bermain kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah. Bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.
Menangislah…
Karena Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhanmu tahun depan, apakah kamu masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa hari lagi.
Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai kepada Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan.
Menangislah ...
untuk Ramadhanmu yang akan hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usia.
Menangislah...wahai diri!
Untuk dosa-dosa yang belum tentu diampuni, tapi kamu masih juga menambah dengan dosa baru. Berapa kali sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kamu perbuat. Kamu bilang tak sengaja?
Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran?!
Tangisilah dirimu...wahai diri!
Dan tuntaskan semuanya di sini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhanmu semakin berlari.
Tahu-tahu sudah hari-hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk
itikaf. Dan lembar-lembar al Qur'an menunggu untuk dikhatamkan. Dan
lembar mata uang menunggu disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat dan ibadah tambahan.
Sekarang...!
Atau mungkin tak ada lagi sama sekali kesempatan bagimu...
@Nasehat untuk diri sendiri