Jumat, 11 Oktober 2024

DAMPAK DOSA DI MASA DEPAN

 By. Satria hadi lubis

WAHAI saudaraku...
jangan pernah meremehkan dosa, terutama dosa hablum minannas (dalam hubungannya dengan sesama manusia).
Sebab ia akan berbalas walau masanya lama. Mungkin 40 tahun kemudian baru dirasakan efeknya.
"Janganlah tertipu ketika engkau tidak melihat dampak dari dosamu pada saat engkau melakukannya. Terkadang dampak dosa tersebut baru engkau rasakan setelah 40 tahun" (Imam Ibnu Qoyyim dalam Ad Dauwad Dawa hal. 130).
Ada kisah tentang seorang pengusaha yang bangkrut usahanya, ia menangis sedih karena teringat dosanya 40 tahun lalu yang pernah melecehkan seseorang dengan sebutan, "Hai...orang bangkrut!"
Maka sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah) bahwa perbuatan buruk akan berbalas kesialan di masa depan.
Ada orang yang memfitnah temannya di tempat kerja, lalu masa tuanya sakit-sakitan. Hidup susah, mati pun susah.
Ada suami yang suka selingkuh di masa mudanya, lalu tuanya berlama-lama kena stroke sampai meninggal.
Ada isteri yang suka merendahkan suaminya, lalu diceraikan dan susah cari jodoh lagi. Masa tuanya miskin dan kesepian.
Ada anak yang durhaka kepada orang tuanya, lalu susah cari kerja dan jomblo sampai tua dalam kefakiran.
Benarlah Rasulullah saw yang bersabda :
"Setiap dosa-dosa, Allah Ta’ala mengakhirkan (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari dosa-dosa itu hingga hari kiamat. Kecuali durhaka kepada kedua orang tuanya, sesungguhnya Allah menyegerakan (balasan) nya bagi pelakunya saat ia hidup di dunia sebelum wafatnya.” (Riwayat At Thabarani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Hakim dan As Suyuthi)
Entah sudah begitu banyak sebenarnya bukti-bukti di sekeliling kita tentang dampak dosa yang berbalas di masa depan.
Sayang...kebanyakan manusia tidak jeli mengamatinya dan lalai introspeksi diri. Malah menyalahkan orang lain dan lingkungan sebagai sebab kesusahannya.
Lalu bagaimana agar dosa tidak berdampak di masa depan?
Jawabannya adalah dengan taubatan nasuha. Bersungguh-sungguh bertaubat dengan tidak mengulanginya. Lalu menebusnya dengan berbuat baik, banyak ibadah, dan sebisa mungkin meminta maaf kepada orang yang pernah dizaliminya.
Jika tidak, takdirnya di masa depan akan ditulis oleh tinta Ilahi sebagai orang yang susah dan sengsara.
"Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti); agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (Qs. As Sajdah ayat 21).

Kamis, 10 Oktober 2024

MENUA DALAM IBADAH BERSAMA

 By. Satria hadi lubis

"Allah memberi rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun di waktu malam, lalu sholat dan membangunkan istrinya. Jika ia enggan, maka laki-laki itu memercikan air ke wajahnya, begitu pula sebaliknya" (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
Begitulah yang dilakukan baginda Nabi Muhammad saw, beliau senantiasa membangunkan istrinya untuk sholat tahajjud sebagai salah satu bentuk cinta Nabi saw terhadap istrinya.
Suami istri yang cerdas, bukan hanya bekerjasama untuk sukses di dunia, tapi juga bekerjasama untuk sukses di akhirat, yakni dengan ibadah bersama. Tahajud bersama, shaum sunnah bersama, baca al Qur'an bersama. Kalau perlu buat target ibadah bersama dan saling berlomba untuk mencapainya. Fastabiqul khoirot!
Dengan ibadah bersama, maka pertengkaran rumah tangga akan mereda. Sebab keduanya melibatkan Allah dalam suka duka berumah tangga. Lagi pula tak ada gunanya berlama-lama dalam kesal dan marah kepada pasangan. Allah telah mempersatukan suami isteri dalam pernikahan yang suci. Redakan pertengkaran dengan mengenang masa-masa yang manis dalam kebersamaan kalian....wahai suami isteri. Jangan patahkan pernikahan dengan mengikuti ego masing-masing.
Sungguh setan berupaya merusak kehidupan manusia dengan mengawalinya dari merusak sebuah keluarga, dan merusak sebuah keluarga berawal dari merusak keindahan hubungan suami isteri.
Apalagi usia terus menua. Anak-anak juga akan pergi. Sibuk dengan prioritasnya masing-masing. Kuliah, bekerja dan menikah. Tak ada lagi suara anak-anak di rumah. Tinggal "kau, aku dan Allah" yang ada, sehingga tak perlu lagi ada drama-drama berujung sakit hati. Atau keisengan dan pemborosan waktu yang tak perlu.
Fokuslah pada bekal akhirat. Karena hidup hampir finish. Karena yang ada hanya "Aku, kau dan Allah" di rumah. Nikmati waktu tersisa dengan ibadah bersama. Jangan biarkan Allah bertepuk sebelah tangan dalam mencintaimu di ujung usiamu.
Maka berbahagialah kalian wahai suami isteri yang sholih dan sholihah....yang bisa tetap bersama dalam ibadah sampai menua bersama. Dalam sholat malam dan dalam ibadah lainnya.
Nikmatilah kebersamaan ibadah tersebut, dan kenanglah dengan manis ketika pasanganmu telah tiada. Kenanglah terus sebagai ikatan cinta abadi kalian sebagai suami isteri di dunia, di alam kubur dan di akhirat kelak.
“Dan di antara tanda-tanda kebesarannya ialah dia menciptakan pasangan-pasangan (jodoh) untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dia menjadikan diantara kamu rasa kasih dan sayang. Yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir” (al Quran surat Ar-Rum ayat 21).

MAU UANG ATAU TIDAK BISA BANGUN?

 MAU UANG ATAU TIDAK BISA BANGUN?

By. Satria hadi lubis
Ada dua orang sahabat ngobrol.
"Loe mau gak...gue kasih uang 1 milyar", kata Juned.
Temannya juned, bernama Tomi menjawab, "Ya..maulah!. Gue akan berterima kasih banget kalau dikasih 1 M"
"Tapi setelah loe dapat 1 M...besoknya loe gak bisa bangun alias mati", kata Juned.
"Ya..gak maulah! Ngapain dapat I M tapi besoknya gue gak bisa bangun. Mendingan gue gak usah dapat 1 M asal besok bisa bangun" jawab Tomi.
"Selama ini loe tiap hari bisa bangun....tapi koq gak ngucapin terima kasih kepada Tuhan," jawab Juned.
Tomi terdiam....spechless.
Ya begitulah kita...merindukan apa yang belum didapatkan, tapi melupakan dan tidak bersyukur kepada Allah dengan apa yang telah didapatkan.
Jadi sesungguhnya bisa hidup saja sudah merupakan kekayaan yang tak terhingga. Apalagi jika masih diberikan hidayah iman dan kesehatan untuk terus beraktivitas.
Allah berfirman :
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al-Baqarah: 152).
Dalam hadits qudsi disebutkan :
"Wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” (HR Thabrani).
Cara bersyukur bukan hanya sadar dengan berterima kasih kepada Allah, misalnya dengan mengucapkan "alhamdulillah," tapi juga membuktikan dengan perbuatan yang semakin taat kepada Allah SWT.
Abu Hazim juga berkata,
وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” .
“Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2 : 84).
Hanya orang bersyukur kepada Allah SWT yang akan merasakan hari-harinya selalu indah, apapun kondisinya.
Khalil Gibran berkata: "Buatlah sendiri hari-hari indahmu, dan jangan mengharapkan hari indah dari siapa pun."

Minggu, 19 Mei 2024

NENEK MOYANGKU BUKAN SEORANG PELAUT

 

By. Satria hadi lubis
Nenek moyang kita bukan seorang pelaut. Itu judul lagu.
Nenek moyang kita adalah para nabi, para sahabat Nabi saw, ulama, dan orang-orang sholih sebelum kita. Sebab kita disatukan oleh iman yang sama.
Nenek moyang kita pernah menguasai dunia selama 1400 tahun (abad 6 sd 1924 M). Semenjak Nabi saw diutus sampai runtuhnya Khilafah Turki Utsmani.
Sedangkan Amerika baru menguasai dunia sejak 1945 setelah menang perang dunia kedua. Eropa baru sekitar abad 15 jaya.
Jadi nenek moyang kita lebih lama dari Amerika dan Eropa dalam menguasai dunia. Mereka lebih hebat.
Rahasianya adalah hidup mereka bagai kuda pacuan. Mereka berlomba berprestasi dan sangat produktif. Disamping itu mereka hanya takut kepada Allah dan mencintai kematian.
Jadi, jika umat Islam ingin kembali jaya maka hiduplah seperti nenek moyangnya. Yakni, berlomba berprestasi dan produktif, jangan takut kepada selain Allah, jangan mencintai kehidupan (dunia) dan berani mati.

ORANG TUA YANG MANDUL

 

By. Satria hadi lubis
PENGERTIAN mandul menurut Nabi yang mulia, Muhammad saw, adalah orang tua yang punya anak tapi anaknya tidak memberi manfaat kepada orang tuanya.
Rasulullah saw bersabda : "Tahukah engkau siapakah yang mandul?” Para sahabat menjawab : “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”. Lalu Baginda Rasulullah saw bersabda: “Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia” (HR. Ahmad).
Yang jadi pertanyaan, apa KRITERIA ANAK YANG MEMBERI MANFAAT agar orang tuanya tidak disebut mandul?
Pertama, anak yang memberi manfaat kepada orang tuanya adalah anak yang MEMBERI MANFAAT KEPADA ORANG LAIN. Anak yang memberi kontribusi positif bagi agama, bangsa dan negaranya, bahkan dunia, sesuai profesi atau talentanya masing-masing. Anak yang tidak menjadi sampah masyarakat karena menyusahkan orang banyak, seperti menjadi koruptor, teroris, bandar narkoba, penipu, dan lain-lain.
Jika orang tuanya sudah meninggal, si anak tetap memberikan kontribusi positif kepada masyarakatnya, serta tak lupa menyambung hubungan kasih sayang (silaturahim) kepada teman-teman orang tuanya.
"Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seorang anak melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya" (HR. Muslim No. 4629).
Kedua, anak yang tetap teguh beriman dan MENYEBARKAN DAKWAH ISLAM. Karena pengertian mandul berarti terputus. Dan putus yang paling menyedihkan adalah ketika anak-anak tidak bisa melanjutkan dakwah Islam ke generasi berikutnya agar Islam tetap eksis sampai hari kiamat. Ketika orang tuanya berdakwah dan tarbiyah, anaknya tidak ikut berdakwah dan tarbiyah, sehingga terputuslah estafeta dakwah.
"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)" (Qs. Luqman ayat 17).
Ketiga, anak yang memberi manfaat kepada orang tua adalah anak yang RUTIN MENDOAKAN ORANG TUANYA. Walau orang tuanya sudah lama meninggal mereka terus mendoakan orang tuanya tanpa henti. Bahkan cucu, cicit dan generasi selanjutnya terus mendoakannya. Sebab doa anak dan cucu menjadi pelepas dahaga dan melapangkan kubur orang yang sudah meninggal.
"Sesungguhnya seseorang pasti diangkat derajatnya di surga, lalu ia berkata keheranan : 'Kenapa (derajat saya diangkat)?', maka dikatakan kepadanya : “Dengan sebab istighfarnya anakmu” (HR. Ibnu Majah no. 3660).
Ketiga kriteria tersebut juga menjadi tujuan pendidikan anak yang sholeh.
Semoga kita bisa menjadi orang tua yang mampu membentuk anak-anak yang bermanfaat (anak yang sholih) dengan tiga kriteria di atas.
Dalam posisi sebagai anak, semoga kita tidak menjadikan orang tua kita mandul dengan tidak melaksanakan tiga kriteria di atas.
Semoga orang tua kita bangga dengan kita, anak-anaknya. Jika orang tua kita sudah meninggal mereka bisa tersenyum bahagia di alam kubur sana karena berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih.

TAMPIL PANTAS DI HADAPAN ALLAH

 

By. Satria hadi lubis
SERINGKALI kita gusar dan gelisah untuk tampil pantas di hadapan manusia. Apakah saya sudah tampil pantas di depan si A yang akan saya jumpai? Apakah dandanan saya layak untuk acara itu? Apakah saya orang baik di mata teman-teman saya? Dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya.
Saking gusarnya kadang ada yang berhari-hari memikirkannya sampai tidak bisa tidur nyenyak untuk tampil pantas di hadapan manusia.
Hmm....jika sekiranya hal yang sama kita lakukan untuk tampil pantas di hadapan Allah 'ajja wa jalla, sungguh telah damailah bumi ini. Tenteramlah hidup manusia.
Tampil pantas di hadapan Allah yang Maha Melihat membuat kita akan hati-hati bertindak. Takut berbuat semaunya dan tidak meremehkan dosa, terutama di kala sendirian. Sebab dosa terbanyak justru adalah dosa ketika sendirian. Tersembunyi berupa aib. Sering orang yang tampil pantas di hadapan manusia, justru tampil berantakan di hadapan Allah, saking banyaknya dosa-dosa aibnya.
Sayangnya...tampil pantas di hadapan Allah tidak nyata sanksinya, sehingga membuat banyak orang tertipu dan meremehkannya. Mereka lebih sibuk untuk tampil pantas di hadapan manusia. Sebab nyata dan instan hasilnya.
Akhirnya, ketidakpedulian untuk selalu tampil pantas di hadapan Allah akan berujung tragedi.
Lebih sibuk dengan pencitraan manusia daripada sibuk memperbaiki diri di kala sepi dan ramai berbuntut nestapa. Seperti firman-Nya yang membuat orang yang peduli menjadi takut.
"Dan kepada mereka dikatakan, "Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu. Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan, dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia.” Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat" (Qs. 45 ayat 34-35).
Wahai diri....jika ayat di atas tak mampu membuat engkau berubah, maka dengan apa lagi engkau bisa dinasehati?

BANGKITLAH, MESKI BANYAK RINTANGAN

 

By. Satria hadi lubis
Sahabatku...
Bila luka itu teramat parah, jangan pernah merasa diri paling susah.
Bila suasana tak lagi mendamaikan, jangan pernah merasa diri tersisihkan.
Bila kita yakin bahwa tidak satu pun peristiwa itu hanya kebetulan, semua telah dirancang oleh Allah agar kita bisa memetik pelajaran.
Bahkan duri yang menusuk jari kita pun tak lepas dari pandangan-Nya,
agar kita menyadari bahwa semua yang Allah takdirkan akan berbuah kemuliaan.
Bila kita yakin, bahwa akan selalu ada cahaya setelah kegelapan.
Allah siapkan kemudahan seiring dengan hadirnya kesulitan.
Banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kepada kita yang tak bisa kita pungkiri.
Nikmat iman dan Islam yang telah kita rasakan telah merasuk sanubari.
Itulah karunia yang mampu menuntun kita untuk tetap tegar menapaki jalan Ilahi.
Pengorbanan, kesulitan, dan segala ujian yang ada di jalan ini adalah suatu fase yang akan mengantarkan kita untuk semakin merasakan indahnya kehidupan.
Kita tak akan pernah merasakan bahagia bila kita tak pernah merasakan kesedihan.
Kita tak akan pernah merasa lapang bila kita belum pernah mencicipi kesempitan.
Dan hanya orang-orang yang selalu bersyukur saja yang mampu merasakan segala titah Sang Penciptanya.
Bila kita yakin bahwa semua yang berlalu itu titah dari Sang Penentu, maka langkah-langkah kita tak kan pernah jemu.
Dalam keadaan apa pun kita sanggup melalui, meski jalan ini mengalami tantangan dan ujian yang semakin berat.
“Andai perjuangan ini mudah, pasti
ramai yang menyertainya.
Andai perjuangan ini singkat, pasti
ramai yang istiqomah.
Andai perjuangan ini menjanjikan
kesenangan dunia, pasti ramai orang yang tertarik padanya.
Tetapi hakikat perjuangan bukanlah begitu, turun naiknya, sakit pedihnya, merupakan kemanisan yang tidak terhingga.
Andai rebah, bangkitlah kembali. Andai terluka, ingatlah janji-Nya"
(Hasan Al Banna).