Senin, 07 April 2025

AGAR MUSIBAH MENJADI NIKMAT

By. Satria hadi lubis
Ketika saudara-saudaranya membuang Nabi Yusuf ke dalam sumur tua agar mati kelaparan, ternyata Nabi Yusuf tetap hidup dalam keadaan segar bugar.
Dipisahkannya dari ayahnya dengan harapan agar Nabi Yusuf dapat dilupakan ternyata sang ayah semakin mengingatnya
Ditinggalkan di tengah hutan belukar yang sepi tidak pernah dilewati orang lain, ternyata justru rombongan kafilah yang menemukannya.
Ketika Nabi Yusuf dijual oleh kafilah tersebut sebagai budak ternyata menjadi jalan baginya menjadi menteri.
Apa yang dilakukan Nabi Yusuf di setiap episode kehidupannya? Beliau tidak melakukan apa-apa. Hanya pasrah dengan segala kelemahan dirinya, BERTAWAKAL kepada Allah Yang Maha Memiliki Segala Kekuatan.
Tetapi lihatlah bagaimana tawakal mengubah mati menjadi hidup, lupa menjadi ingat, sepi menjadi ramai, bahkan budak menjadi menteri.
Maha Benar Allah atas firman-Nya dalam surat Al-Anfaal 64,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu." 

KERIKIL KECIL

 

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 3 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah.
Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, maka dilemparnya uang logam Rp1.000 yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut uang tersebut dan melanjutkan pekerjaannya. Mungkin dikiranya itu uang logam yang tercecer.
Sang mandor akhirnya melemparkan uang Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor melemparkan kerikil kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan mandornya.
Cerita tersebut di atas serupa dengan kehidupan kita, Allah SWT selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.
Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-Nya.
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang
Bahkan kita selalu bilang...
kita lagi "Hoki!" Atau "Wajar donk...logis donk ...apa yang saya dapatkan!"
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rezeki yang sebenarnya milik Allah!
Jadi... jangan sampai kita mendapatkan lemparan "kerikil kecil" yang kita sebut MUSIBAH agar kita mau menoleh kepada-Nya.
Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada-Nya, sehingga tak perlu ada lagi lemparan "kerikil kecil" saat Dia rindu dan ingin berkomunikasi dengan kita.
"Dan dari mana saja kamu keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (Allah). Dan dimana saja kamu kalian berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk” (Qs. Al Baqarah ayat 150).
By. Satria hadi lubis

KETERLALUAN DALAM BERZIKIR

 By. Satria hadi lubis

Perbuatan keterlaluan atau berlebih-lebihan biasanya tidak baik dampaknya. Berlebih-lebihan dalam makan, bekerja, berolahraga, bermain dan aktivitas lainnya cepat atau lambat akan merusak tubuh dan membuat hidup menjadi tidak seimbang. Bahkan untuk ibadah pun kita dilarang untuk berlebih-lebihan.
Dari Abdullah bin ‘Amru, dia berkata; “Rasulullah SAW menemuiku, lalu beliau bersabda: “Aku memperoleh berita bahwa kamu bangun di malam hari (untuk tahajud) dan berpuasa di siang hari, benarkah itu?” Aku menjawab; “Benar.” Beliau bersabda, “Jangan berlaku demikian, bangun dan tidurlah, puasa dan berbukalah, sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, sesungguhnya matamu memiliki hak atasmu, tamumu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu. (HR. Bukhari)
Dari hadis ini, dengan jelas Nabi saw menyebutkan bahwa hak istri, keluarga, tamu dan tubuh wajib diberikan haknya masing-masing. Karena demikianlah apa yang dilakukan Rasulullah saw, tidak berlebihan dalam ibadah.
Namun, ada SATU aktivitas ibadah yang diperintahkan Allah agar kita melakukannya sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, boleh dilakukan secara berlebihan atau keterlaluan banyaknya, yaitu aktivitas berzikir (dan berdoa) kepada Allah SWT.
"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya" (Qs. 33 ayat 41).
Mengapa aktivitas zikir dan doa boleh keterlaluan banyaknya? Sebab aktivitas ini, selain bisa dilakukan secara khusus, tapi bisa juga dilakukan sambil melakukan aktivitas lain. Sambil bekerja, hati dan pikiran kita bisa berzikir dan berdoa. Sambil olahraga atau melaksanakan hobi pun kita tetap bisa berzikir dan berdoa.
Bahkan dalam perjalanan atau sambil mengendarai kendaraan pun bisa. Sebab ada hadits yang mengatakan bahwa salah satu doa yang diterima Allah SWT adalah doa (zikir) dalam perjalanan.
"Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: doa orang yang terzholimi, doa seorang musafir (dalam perjalanan), dan doa orang tua pada anaknya” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini).
Jadi, marilah kita keterlaluan dan berlebih-lebihan dalam berzikir serta berdoa kepada Allah, sebagai BUKTI CINTA kita kepada Allah 'Azza wa Jalla. Bukankah orang yang mencintai sesuatu akan ingat akan sesuatu yang dicintainya secara terus menerus?
Jangan malah mengingat atau "zikir" kita jauh lebih banyak (keterlaluan) dalam mengingat harta, atau rasa sakit hati. Juga kepada mantan atau orang yang dicintai, bahkan kepada maksiat yang dirindukannya.
Janganlah menjadi orang yang keterlaluan dalam "zikir" (mengingat) kepada selain Allah, tapi lupa untuk keterlaluan dalam zikir kepada Allah, baik dalam keadaan duduk, berdiri, dan tidur.
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka" (Qs. 3 ayat 191).
Wajar jika ketenangan dan kebahagiaan jarang hadir dalam hidup orang-orang yang sedikit berzikir kepada Allah. Bukankah ketenangan dan kebahagiaan HANYA bisa diraih dengan banyak berzikir kepada Allah, baik dalam keadaan miskin atau kaya, ditimpa musibah atau kenikmatan hidup, sedang sakit atau sehat?
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan zikir (mengingat) Allah. Ingatlah, HANYA dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (Qs. 13 ayat 28).

BIASAKANLAH UNTUK MENDOAKAN ORANG LAIN

 By. Satria Hadi Lubis

KEBIASAAN yang sekarang ini meningkat di kalangan kaum muslimin adalah kebiasaan mendoakan muslim lainnya, seperti ucapan : syafakallah (semoga Allah segera menyembuhkan sakitmu, untuk perempuan : syafakillah), barakallahu fik (semoga Allah memberkahimu), jazakumullah khoiron (semoga Allah membalas kebaikanmu), dan lain-lain.
Ini kebiasaan baik yang perlu dibudayakan. Biasakan untuk mengucapkan doa tersebut dalam bahasa Arab, bahasa umat Islam, bahasa al Qur'an. Siapa lagi yang menjaga bahasa al Qur'an selain umat Islam itu sendiri.
Selain doa yang secara langsung atau tidak langsung (melalui online) disampaikan kepada sesama muslim, kita juga perlu membiasakan mendoakan sesama muslim TANPA sepengetahuannya. Sebab Rasulullah saw bersabda :
"Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim no. 4912).
Doakan sesama muslim, baik yang kita kenal secara dekat atau pun tidak, dengan atau tanpa sebab. Maksudnya, dengan atau tanpa ada hajat (kebutuhan) terhadap orang tersebut. Juga bukan karena orang tersebut sedang mendapatkan musibah atau nikmat dari Allah Azza Wa Jalla.
Faedahnya, selain kita mendapatkan doa dari malaikat untuk mendapatkan hal yang serupa (seperti yang kita doakan kepada muslim tersebut), kita juga sedang membersihkan hati kita dari sifat egois, sakit hati, dendam, riya' dan tak peduli kepada orang lain.
Semuanya itu bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kita agar menjadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah SWT.

DIRIMU BISA MENJADI PENYEBAB NIKMAT ATAU BENCANA BAGI ORANG BANYAK

 By. Satria hadi lubis

Kadang Allah memberikan nikmat kepada orang banyak disebabkan oleh dirimu yang beramal sholih dan menjaga ibadah.
Disebabkan oleh doa dan istighfarmu, Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Kaya memberikan nikmat kepadamu dan orang-orang lain secara merata.
"Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun.” (Qs. al-Anfal ayat 33)
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab suatu kaum selama di tengah mereka masih terdapat orang-orang yang beristighfar." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Sebaliknya, disebabkan oleh dirimu yang bermaksiat dan jauh dari Allah, maka kadang Allah memberikan bencana kepada orang banyak secara merata.
Disebabkan oleh dosa dan kezalimanmu, Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemberi Balasan (Al Muntaqim) memberikan musibah kepadamu dan orang lain secara merata
Renungkan ayat berikut :
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Qs. Al Anfal ayat 25).
Bahkan bencana yang merata bisa terjadi ketika kebanyakan orang baik dan rajin beribadah berdiam diri terhadap kemungkaran dan kezaliman, padahal mereka bisa mengubahnya jika bekerjasama.
إن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك أن يعمهم الله بعقابه
"Jika kebanyakan orang melihat kemunkaran atau kezaliman di depan mata mereka, tapi mereka tidak mengubahnya, padahal mereka mampu mengubahnya maka mereka akan terkena bencana pula" (HR Ahmad Tabrani).
Maka...
Jadilah engkau penyebab turunnya nikmat Allah kepada orang banyak dan bukan menjadi penyebab turunnya bencana kepada orang banyak.

JANGAN ANGGAP REMEH BERBURUK SANGKA

 

By. Satria hadi lubis
SUATU ketika sebuah mobil yang sedang melaju kencang berpapasan dengan mobil lain di sebuah tikungan yang sepi. Pengemudi mobil lain tersebut langsung berteriak, "Sapiii !!" kepada pengemudi yang mobilnya sedang melaju kencang. Langsung saja si pengemudi yang diteriaki sapi tersebut marah karena merasa dicemooh dan balik berteriak tak kalah kencang, "Loe yang sapi!!!". Tiba-tiba mobilnya benar-benar menabrak rombongan sapi yang sedang melintas di tengah jalan.
Pengemudi yang pertama berteriak "sapi" sebenarnya sedang mengingatkan pengemudi yang mobilnya melaju kencang bahwa memang ada rombongan sapi yang sedang menyeberang, tapi pengemudi yang membalas dengan marah itu menduga bahwa ia sedang dicemooh, sehingga yang terjadi adalah tabrakan mobilnya dengan rombongan sapi. Inilah yang disebut PERSEPSI (Zhon, dalam bahasa Arab).
Setiap orang hidup dengan persepsinya masing-masing. Dan al Qur'an menyuruh kita untuk memiliki persepsi (zhon) yang baik-baik saja agar tidak kena MUSIBAH seperti dialami pengemudi yang mobilnya melaju kencang dalam cerita di atas.
Allah SWT berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" (Qs. 49 ayat 12).
Allah menyebutkan bahwa prasangka itu mudah sekali menjadi prasangka buruk, sehingga menjadi dosa. Bahkan Allah SWT juga menyebutkan di ayat tersebut orang yang suka su'u zhon (sangka buruk) dan bergunjing (ghibah) seperti kanibal yang memakan sesama manusia. Pelaku kanibal tentu orang yang sadis, kotor, biadab, dan tidak beradab. Apalagi kalau dia menjadi kanibal dengan memakan daging saudaranya sendiri. Sungguh perumpamaan yang paling buruk. Begitulah Allah memberikan permisalan bagi mereka yang suka berprasangka buruk kepada orang lain.
Mengapa Allah menyebut su'u zhon dengan perumpamaan yang mengerikan? Sebab, kalau kita renungkan, dari sikap su'u zhon inilah AWAL terjadinya berbagai musibah, baik musibah dalam skala pribadi maupun masyarakat. Contohnya, perceraian suami isteri, tawuran antar kelompok, putusnya silaturahim antar saudara, sampai peperangan antar negara, pada umumnya berawal dari su'u zhon.
Dulu, ada kisah nyata tentang seorang kakek usia 80 tahun yang dikeroyok massa sampai meninggal dunia dengan tuduhan maling padahal bukan ia pelakunya. Hal ini menjadi bukti bahwa sangka buruk sangat berbahaya jika dibiarkan tumbuh dengan subur.
Begitu pun jika seorang pemimpin yang mengambil keputusan atas dasar buruk sangka, maka yang terjadi adalah kezaliman terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Lalu solusinya apa agar kita tidak berburuk sangka? Solusinya adalah suka melakukan TABAYYUN, sampai jelas duduk perkaranya. Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya” (Qs. Al Hujurat ayat 6).
Semoga kita terhindar dari sifat suka berburuk sangka, yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Aamin yaa robbal aalamiin.

JANGAN-JANGAN...

 By. Satria hadi lubis

SAAT bangun mulai sering kesiangan. Shalat sering ketinggalan. Tahajud mulai terlewatkan. Shalat sunnah terasa memberatkan. Mengaji (liqo') pun tak punya kesempatan … mungkin ini peringatan.
Tatkala shalat tak lagi nikmat, tilawah mudah lelah, puasa rasanya menyiksa … mungkin ini sebuah pertanda.
Keluarga mulai terasa hambar. Pasangan berulah dan anak-anak tak menurut....mungkin itu sebuah isyarat.
Teman yang sholih mulai ditinggalkan, namun teman kesia-siaan malah berdatangan. Pembicaraan akhirat terasa membosankan, ngobrol kesenangan dunia semakin mengasyikkan … jangan-jangan ini teguran.
Mengapa terhalang melakukan kebaikan?
Kenapa terjauhkan dari kesalehan?
Jangan-jangan ada dendam yang mencengkeram, keikhlasan yang tidak tulus, atau ada kebusukan menghuni hati dan bara kesombongan yang masih tersimpan.
Jangan-jangan ada keharaman merasuk dalam badan, atau jejak dosa yang belum terhapuskan.
Lihat ke belakang barangkali pernah mengukir kata yang menoreh luka orang lain. Lalu .. mereka yang tersakiti itu tak kuasa menahan kecamuk dalam dada dan melantunkan doa yang entah apa isinya.
Sebaliknya …
Jika tiba-tiba sekarang begitu dekat dengan orang yang gemar berbuat kebajikan. Tanpa sengaja sering menemukan kalimat nasihat atau peringatan.
Ada rindu dengan teman-teman yang baik, ada kangen terhadap pengajian dan ayat-ayat suci menjadi merdu terdengar.
Saat ada yang mengajak berbuat baik begitu mudah mengiyakan. Hati begitu lembut, tidak sukar menerima kebenaran. Meski sebelumnya kita dianggap manusia berandalan.
Ada keinginan berlama-lama dalam sholat. Tangan yang semakin ringan membantu dan hati yang semakin kuat melaksanakan perintah Allah.
Berarti Allah masih melihat ada kebaikan ….
Jangan-jangan itu karena sebuah bakti pada ibu yang tak lelah berdoa, atau mungkin punya jiwa yang selalu tulus membantu sesama.
Jangan-jangan itu doa dari mereka yang mengasihi kita dengan diamnya atau rasa kasih yang tersisa dengan menyingkirkan batu kecil di tengah jalan dan memberi makan kucing yang kelaparan.
Apapun itu, berarti Allah masih memberi kesempatan.
Lalu pertanyaannya ... berada di manakah kita sekarang?
Belum tibakah saatnya kita menyungkur sujud dihadapan Ilahi Robbi?
"Dan mereka menyungkurkan wajah (sujud) sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk" (Qs. 17 : 109).