Sabtu, 24 Januari 2026

MENYIKAPI BENCANA : ANTARA AIR MATA, IMAN DAN KESADARAN

 MENYIKAPI BENCANA : ANTARA AIR MATA, IMAN DAN KESADARAN


By. Satria hadi lubis 


KETIKA bencana datang, kita sering bertanya, “Mengapa ini terjadi?”


Rumah runtuh, harta hilang, rencana masa depan porak-poranda. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Di saat seperti itu, iman sedang diuji, bukan untuk diucapkan, tapi untuk dihidupkan.


Dalam Islam, bencana bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah bahasa Allah SWT kepada manusia. Kadang sebagai ujian, kadang sebagai peringatan, kadang sebagai penghapus dosa, dan kadang sebagai azab. Yang menentukan bukan besar kecilnya bencana, tetapi bagaimana sikap hati kita menerimanya.


“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


Bencana mengajarkan kita bahwa manusia lemah. Selama ini mungkin kita merasa aman dengan tabungan, jabatan, teknologi, dan rencana. Namun dalam hitungan menit, semuanya bisa hilang. Saat itulah hati dipaksa jujur: kepada siapa kita benar-benar bergantung?


Islam tidak mengajarkan kita menyalahkan keadaan. Tidak pula menyederhanakan musibah dengan kalimat “sudah takdir” tanpa sikap. Takdir tidak meniadakan ikhtiar dan empati. Rasulullah saw justru mengajarkan kepedulian, doa, dan saling menguatkan.


Bagi yang tertimpa bencana, sabar bukan berarti diam tanpa air mata. Sabar adalah tetap menjaga iman, tidak berputus asa, dan tidak berburuk sangka kepada Allah. Setiap kesabaran yang jujur, tak ada satu pun yang sia-sia di sisi-Nya.


Bagi yang selamat, jangan merasa aman. Bencana orang lain adalah cermin untuk introspeksi diri. Sudahkah kita mensyukuri nikmat? Sudahkah kita peduli? Sudahkah kita bertaubat dari dosa yang selama ini kita anggap sepele?


Karena bisa jadi, Allah tidak sedang menghancurkan, tetapi sedang membangunkan kesadaran.


Membangunkan hati yang terlalu lama tertidur oleh dunia.

Membangunkan jiwa yang lupa bahwa hidup ini sementara.

Membangunkan iman yang mulai dingin oleh rutinitas.


Maka saat bencana datang, jangan hanya sibuk bertanya “Mengapa ini terjadi?”

Tanyakan juga, “Apa yang harus aku perbaiki?”


Sebab orang yang beriman tidak keluar dari bencana hanya dengan selamat, tetapi keluar dengan hati yang lebih dekat kepada Allah SWT.

Jumat, 23 Januari 2026

CARA MELUPAKAN ALLAH

 CARA MELUPAKAN ALLAH


By. Satria hadi lubis 


JIKA engkau benar-benar ingin melupakan Allah, caranya ternyata tidak sulit.


Pertama, sibukkan dirimu sampai tak tersisa ruang untuk diam. Isi hari dengan pekerjaan, layar hp, obrolan, dan target dunia. Pastikan tidak ada waktu untuk merenung, apalagi mengingat kematian. Karena hati yang sibuk tak akan sempat bertanya: “Untuk apa aku hidup?”


Kedua, biasakan menunda ibadah. Katakan, “Nanti saja, masih muda,” atau “Allah Maha Pengampun.” Shalatlah jika sempat, berdoalah jika ingat. Lama-lama, yang wajib terasa berat, yang sunnah terasa asing, dan yang haram terasa biasa. Dari menunda, lahirlah lupa.


Ketiga, dekatkan diri pada maksiat kecil. Jangan langsung yang besar, cukup yang ringan tapi rutin. Sedikit dusta demi aman, sedikit curang demi untung, sedikit lalai demi nyaman, sedikit zina demi nikmat. Maksiat yang diulang akan menumpulkan rasa bersalah. Saat hati tumpul, nama Allah tak lagi menggugah.


Keempat, ukur segalanya dengan dunia. Nilai dirimu dengan harta, jabatan, pujian, dan like. Jika berhasil, merasa hebat. Jika gagal, putus asa. Dalam ukuran dunia, Allah hanya disebut saat butuh, dilupakan saat cukup.


Kelima, jauhi Al-Qur’an. Jika membacanya, cukup untuk acara tertentu atau untuk Ramadhan. Jangan dipahami, jangan direnungi. Karena Al-Qur’an adalah pengingat paling jujur. Ia membangunkan hati yang tertidur. Maka, agar lupa, jangan biarkan ia berbicara terlalu dekat.


Keenam, bertemanlah dengan orang yang membuatmu jauh dari Allah. Lingkaran yang menertawakan taat, meremehkan dosa, dan memaklumi lalai. Lingkungan seperti ini akan efektif membuat lupa kepada Allah terasa normal, bahkan benar.


Namun ketahuilah...

Ini bukan tulisan yang mengajarkan lupa. Ini cermin.

Karena seringkali, tanpa sadar, kita sudah melakukan semua langkah di atas.


Dan saat Allah “terasa jauh”, bukan Dia yang pergi.

Kitalah yang berjalan menjauh, perlahan tapi pasti, sambil merasa baik-baik saja.


Maka jika engkau membaca ini dengan dada yang sesak, itu tandanya hatimu belum mati. Masih ada rindu yang tersisa. Masih ada panggilan yang menunggu dijawab.


Berhentilah melupakan.

Kembalilah mengingat Allah.

Dengan menegakkan ajaran-Nya.


Sebab mengingat Allah tidak membuat hidup sempit.

Justru melupakan-Nya yang membuat hidup terasa hampa.

AKU RINDU MARAHMU, BU

 AKU RINDU MARAHMU, BU


By. Satria hadi lubis


DULU aku paling benci jika ibu marah

Nada suaramu yang meninggi

Tatapan matamu yang kecewa

Nasihatmu yang terasa seperti hukuman panjang


Aku merasa dewasa terlalu cepat

merasa tahu segalanya

merasa tidak membutuhkan siapa pun—

termasuk dirimu.


Aku sering menutup pintu kamar dengan keras

membalas kata-katamu dengan diam

dan pergi tanpa menoleh

saat engkau memanggil namaku dengan suara gemetar.


Aku tidak tahu, Bu

bahwa marahmu adalah doa

yang tak pandai kau susun dengan kalimat lembut


Sekarang aku mengerti…

setiap teguranmu adalah cara Allah menjagaku,

saat aku terlalu keras kepala

untuk mendengar suara kebenaran


Hari ini aku berdiri di titik

di mana hidup tidak selalu ramah

Aku jatuh, aku salah, aku lelah

Dan di saat seperti ini

aku sangat merindukan marahmu, Bu


Rindu seseorang yang berani menegurku

saat aku mulai jauh dari Allah

Rindu suara yang mengingatkanku shalat

saat dunia terasa lebih penting

Rindu wajah kecewa yang sebenarnya

menyimpan cinta paling dalam


Sekarang tak ada lagi yang marah

saat aku pulang terlambat

Tak ada lagi yang menegur

saat aku lalai


Yang ada hanya sunyi

dan penyesalan yang datang terlambat


Bu, jika engkau bisa mendengar ini…

maafkan aku yang dulu keras

yang lebih memilih ego

daripada ridhamu


Aku tahu...

ridha Allah bergantung pada ridhamu

Dan aku terlambat memahaminya

saat suaramu mulai jauh dari jangkauan


Jika ibu-ibu di luar sana masih hidup

jangan tunggu anakmu sadar dengan cara sepertiku

Dan bagi anak-anak seperti aku

yang ibunya telah tiada

Semoga Allah mengganti marahmu

dengan syafaat dan ampunan


Karena kini aku tahu, Bu…

marahmu adalah bentuk cinta

yang paling tulus


Dan aku rindu itu.

KETIKA HIDUP MULAI MENJEMUKAN

 KETIKA HIDUP MULAI MENJEMUKAN


PAGI itu, Amir bangun tanpa semangat. Alarm berbunyi seperti biasa, tapi hatinya terasa kosong. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding, bertanya dalam diam: “Beginikah hidup akan terus berjalan?”


Hari-harinya tidak buruk. Pekerjaannya stabil, keluarganya utuh, kebutuhan tercukupi. Namun entah sejak kapan, semua terasa sama. Bangun, bekerja, pulang, dan tidur. Besoknya terulang. Tidak ada luka besar, tapi juga tidak ada rasa hidup.


Di perjalanan menuju kantor, Amir melihat orang-orang bergegas. Wajah-wajah lelah, mata kosong. Ia merasa sedang bercermin. Di sela kesibukan, ia bertanya pada dirinya sendiri: “Aku capek, tapi bukan karena berat. Aku jenuh, tapi bukan karena kekurangan.”


Malam itu, Amir pulang lebih awal. Ia duduk sendirian di ruang tamu. Telepon genggamnya ia letakkan. Sunyi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan sunyi datang. Dan di situlah ia sadar, yang menjemukan itu bukan hidupnya, tapi hatinya yang lama tak diajak bicara.


Waktu isya hampir habis. Amir berwudhu dengan langkah berat. Shalat ia lakukan seperti biasa. Namun malam itu, entah mengapa, ia tak langsung berdiri setelah salam. Ia duduk lebih lama. Nafasnya tertahan. Dadanya sesak. Lalu ia berbisik lirih, “Ya Allah, kenapa hidupku terasa kosong?”


Tidak ada suara yang menjawab. Tidak ada cahaya yang turun. Tapi hatinya terasa disentuh. Ia teringat, sudah lama shalatnya sekadar menggugurkan kewajiban. Doanya tergesa. Al-Qur’annya berdebu di rak. Hidupnya penuh aktivitas, tapi miskin arah.


Hari-hari berikutnya, Amir mencoba mengubah sedikit saja. Ia datang shalat lebih awal. Ia membaca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat, tapi ia baca artinya. Ia niatkan ulang pekerjaannya. Bukan sekadar mencari nafkah, tapi menunaikan amanah. Tidak drastis, tapi perlahan.


Beberapa pekan berlalu. Hidup Amir masih sama. Pekerjaan sama. Rutinitas sama. Masalah tetap ada. Namun rasa itu berubah. Hidup tak lagi terasa hambar. Karena kini, setiap hari terasa terhubung kepada tujuan yang lebih besar dari sekadar bangun besok pagi.


Amir akhirnya mengerti bahwa hidup terasa menjemukan bukan karena kurang warna, tapi karena lupa makna. Dan makna itu tidak ditemukan dengan lari menjauh, tapi dengan kembali kepada Allah.


Karena bersama Allah, bahkan hidup yang sederhana pun terasa hidup.


Edited by. Satria hadi lubis

MENGAPA NGAJI SEBAIKNYA OFFLINE?

 MENGAPA NGAJI SEBAIKNYA OFFLINE?


By. Satria hadi lubis 


DI ZAMAN serba daring ini, hampir semua hal bisa dilakukan lewat layar. Lalu muncul pertanyaan bukankah mengaji (liqo') bisa juga dengan online?


Jawabannya : 


1.⁠ ⁠Ilmu agama itu bukan sekadar informasi

Ilmu agama bukan seperti berita atau tutorial. Ia bukan hanya apa yang diketahui, tapi siapa yang kita ikuti.


Rasulullah saw bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Warisan ini bukan sekadar isi kepala, tetapi akhlak, sikap, dan cara hidup. Semua itu sulit ditangkap lewat online (daring)


Di liqo offline, kita belajar bukan hanya dari lisan guru ngajinya, tapi juga dari kesabaran, cara menegur, cara mendengar, cara mempraktikkan ilmu, dan lain-lain dari guru (pembinanya). Hal ini tidak bisa didapatkan jika mengaji itu online.


2.⁠ ⁠Adab lebih mudah dilatih saat bertemu

Ngaji offline melatih adab, misalnya datang tepat waktu, duduk dengan tenang, mendengar tanpa menyela, menahan diri dari membuka ponsel, dan lain-lain.


Ini bukan hal kecil. Para ulama salaf bahkan mempelajari adab sebelum ilmu. Sebab ilmu tanpa adab seringkali melahirkan ilmu yang kosong, bahkan kesombongan.


Di layar (daring), kita mudah mematikan kamera. Di majelis offline (luring), kita belajar hadir sepenuhnya.


3.⁠ ⁠Hati lebih mudah tersentuh

Ada sesuatu yang berbeda ketika ayat dibaca di ruang offline yang sama. Ketika doa diaminkan bersama, ketika nasihat disampaikan sambil menatap mata jamaah.


Liqo' offline membuat hati lebih siap menerima. Lebih khusyuk dan lebih jujur dengan diri sendiri. Itulah sebabnya kesan dari ngaji online biasanya, “Kajiannya bagus, tapi kenapa hati tetap terasa kering?” Sebab mungkin yang hadir hanya telinga, bukan seluruh diri.


4.⁠ ⁠Ukhuwah tidak tumbuh dari layar

Ngaji offline (luring) bukan hanya belajar, tapi berjalan bersama. Saling mengenal, saling memahami, saling menegur dan mendoakan. Itulah sendi ukhuwah.


Ukhuwah lahir dari berjabat tangan, duduk melingkar, dan berbagi cerita di majelis. Inilah yang membuat iman bertahan dalam jangka panjang.


5.⁠ ⁠Menjaga kesinambungan dan komitmen

Ngaji offline melatih istiqamah karena kita tahu jika tidak datang akan terasa kurang komitmennya.


Ilmu agama butuh sistem, guru, dan kebersamaan. Tanpa itu, ngaji sering hanya menjadi konsumsi sesaat, didengar lalu dilupakan.


Ngaji online itu memang praktis dan mudah. Namun ngaji (liqo') offline itu pondasi. Sebab tidak hanya menambah ilmu, tapi juga membentuk kepribadian.


Kalau ingin sekadar tahu, ngaji online mungkin cukup. Tapi kalau ingin berubah, menjadi lebih taat, dan lebih beradab, maka duduklah di majelis offline (luring).


"Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (dalam majelis ilmu), kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenteraman (sakinah) turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

KOMUNIKASI BERLUMURAN DOA

KOMUNIKASI BERLUMURAN DOA


By. Satria hadi lubis 


DALAM komunikasi, tak semua orang butuh jawaban.

Sebagian hanya butuh didoakan.


Ada luka yang tak bisa disembuhkan oleh nasihat,

ada lelah yang tak reda oleh logika.

Tapi sering kali, hati luluh oleh kalimat sederhana:

“Barakallahu fiikum (Semoga Allah memberkahimu)"

"Jazakumullah (semoga Allah membalas kebaikanmu)"

"Syafakallah (semoga Allah menyembuhkanmu)"


Tak peduli doa dengan bahasa Arab atau bahasa lainnya,

mendoakan orang lain dalam komunikasi adalah tanda

bahwa kita tak sekadar mendengar,

tapi ikut menanggung rasa.


Saat kata-kata terasa berat,

doa menjadi bahasa yang paling jujur.


Ia tidak menghakimi, tidak membandingkan,

hanya menyerahkan semuanya kepada Allah.


Dan indahnya,

ketika kita mendoakan orang lain,

langit pun membalas diam-diam.


Ada malaikat yang mengamini,

lalu berkata, “Dan untukmu seperti itu.”


Maka sering-seringlah mendoakan orang lain.

Dalam pesan singkat, dalam obrolan ringan,

dalam diam yang tak terucap.


Jadikan komunikasi kita berlumuran doa.

Karena doa adalah cara paling lembut

untuk berkata:

"Aku mencintaimu, dan aku ingin kamu baik-baik saja."


“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

DIAMNYA IBU

 DIAMNYA IBU


By. Satria hadi lubis 


Ketika ibu semakin menua

Ibu tidak banyak bicara.

Bukan karena tak punya cerita,

tapi karena terlalu banyak yang harus ia simpan sendiri.


Ia belajar menelan kecewa,

agar rumah tetap terasa hangat.

Ia belajar menahan air mata,

agar anak-anaknya merasa baik-baik saja.


Ibu diam…

padahal hatinya sering berisik oleh lelah.

Kesabaran bukan berarti tidak menangis.

Kesabaran adalah tetap tersenyum meski hati retak pelan-pelan.


Kita sering salah paham.

Mengira ibu baik-baik saja

hanya karena ia tidak mengeluh.

Padahal, diamnya ibu adalah jeritan yang paling lirih.


Ia diam ketika ucapannya bisa berubah jadi doa,

atau berubah jadi luka.

Maka ia memilih yang paling berat:

memendam.


Ibu tahu, anak-anaknya sedang tumbuh.

Sedang sibuk dengan dunia.

Maka ia menyingkirkan egonya,

agar cinta tetap utuh.


Rasulullah saw mengulang kata ibu tiga kali.

Bukan tanpa sebab.

Karena dalam diamnya ibu,

ada kesabaran yang tidak sanggup ditanggung oleh banyak jiwa.


Jika suatu hari ibu lebih sering diam,

jangan merasa tenang.

Bisa jadi ia sedang kelelahan,

tapi tak ingin menjadi beban.

Dekatlah.

Peluklah.

Tanyakan dengan sungguh-sungguh:

“Bu, Ibu nggak apa-apa?”


Jangan tunggu sampai rumah terasa sepi,

dan kita baru sadar…

ternyata suara dan marahnya ibu adalah doa

yang paling sering Allah dengar untuk hidup kita.


Selama ibu masih ada,

jangan biarkan ia berjuang sendirian dalam diam.

Karena kelak,

diam itu akan selamanya.


Dan kita tinggal menyesal

karena kehilangan ibu sebelum berbakti sepenuh cinta. 


*Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2025