Jumat, 23 Januari 2026

CARA MELUPAKAN ALLAH

 CARA MELUPAKAN ALLAH


By. Satria hadi lubis 


JIKA engkau benar-benar ingin melupakan Allah, caranya ternyata tidak sulit.


Pertama, sibukkan dirimu sampai tak tersisa ruang untuk diam. Isi hari dengan pekerjaan, layar hp, obrolan, dan target dunia. Pastikan tidak ada waktu untuk merenung, apalagi mengingat kematian. Karena hati yang sibuk tak akan sempat bertanya: “Untuk apa aku hidup?”


Kedua, biasakan menunda ibadah. Katakan, “Nanti saja, masih muda,” atau “Allah Maha Pengampun.” Shalatlah jika sempat, berdoalah jika ingat. Lama-lama, yang wajib terasa berat, yang sunnah terasa asing, dan yang haram terasa biasa. Dari menunda, lahirlah lupa.


Ketiga, dekatkan diri pada maksiat kecil. Jangan langsung yang besar, cukup yang ringan tapi rutin. Sedikit dusta demi aman, sedikit curang demi untung, sedikit lalai demi nyaman, sedikit zina demi nikmat. Maksiat yang diulang akan menumpulkan rasa bersalah. Saat hati tumpul, nama Allah tak lagi menggugah.


Keempat, ukur segalanya dengan dunia. Nilai dirimu dengan harta, jabatan, pujian, dan like. Jika berhasil, merasa hebat. Jika gagal, putus asa. Dalam ukuran dunia, Allah hanya disebut saat butuh, dilupakan saat cukup.


Kelima, jauhi Al-Qur’an. Jika membacanya, cukup untuk acara tertentu atau untuk Ramadhan. Jangan dipahami, jangan direnungi. Karena Al-Qur’an adalah pengingat paling jujur. Ia membangunkan hati yang tertidur. Maka, agar lupa, jangan biarkan ia berbicara terlalu dekat.


Keenam, bertemanlah dengan orang yang membuatmu jauh dari Allah. Lingkaran yang menertawakan taat, meremehkan dosa, dan memaklumi lalai. Lingkungan seperti ini akan efektif membuat lupa kepada Allah terasa normal, bahkan benar.


Namun ketahuilah...

Ini bukan tulisan yang mengajarkan lupa. Ini cermin.

Karena seringkali, tanpa sadar, kita sudah melakukan semua langkah di atas.


Dan saat Allah “terasa jauh”, bukan Dia yang pergi.

Kitalah yang berjalan menjauh, perlahan tapi pasti, sambil merasa baik-baik saja.


Maka jika engkau membaca ini dengan dada yang sesak, itu tandanya hatimu belum mati. Masih ada rindu yang tersisa. Masih ada panggilan yang menunggu dijawab.


Berhentilah melupakan.

Kembalilah mengingat Allah.

Dengan menegakkan ajaran-Nya.


Sebab mengingat Allah tidak membuat hidup sempit.

Justru melupakan-Nya yang membuat hidup terasa hampa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar