BAGAIMANA CARA MENGAJAK GEN Z IKUT NGAJI?
By. Satria hadi lubis
BANYAK orang tua yang bertanya, “Kenapa anak muda Gen Z susah ikut pengajian?” Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah sudahkah pengajian (liqo' dan mentoring) menjadi tempat yang membuat mereka merasa butuh dan ingin berlama-lama?
Anak muda Gen Z hidup di zaman yang bising. Timeline di medsos tak pernah berhenti, tuntutan datang dari segala arah, dan hati sering kelelahan tanpa tahu harus bercerita ke siapa. Mereka bukan tidak butuh agama, justru mereka butuh sandaran, hanya saja tak selalu tahu di mana menemukannya.
Islam datang bukan untuk mengusir yang lelah, tapi untuk memeluk yang rapuh. Rasulullah saw tidak membangun dakwah dengan bentakan. Beliau mendekat, mendengar, lalu menuntun.
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Anak muda Gen Z rata-rata tidak suka digurui, tapi mereka rindu didengarkan. Ketika pengajian hanya berisi larangan tanpa pelukan, mereka akan menjauh. Namun ketika pengajian menjadi ruang aman untuk bertanya tanpa dicemooh, di situlah iman pelan-pelan tumbuh. Allah sendiri membuka banyak ayat dengan kasih: “Wahai hamba-hamba-Ku…” bukan “Wahai pendosa…”
Jadi relevan dulu dengan kebutuhan mereka, baru menyampaikan ajaran Islam yang mendalam. Jika pengajian berbicara seolah mereka tidak punya masalah, bagaimana mungkin mereka merasa dipahami?
Berikut cara menumbuhkan minat anak muda Gen Z untuk ikut pengajian, liqo' atau mentoring :
1. Ubah mindset: pengajian bukan ceramah, tapi ruang bertumbuh.
Gen Z tidak suka digurui, mereka suka diajak mikir dan didengar. Buat pengajian sebagai ruang diskusi. Tempat yang aman untuk bertanya tanpa dihakimi. Tempat healing ruhani, bukan sekadar kewajiban.
2. Bahas isu yang dekat dengan dunia mereka.
Tema menentukan segalanya. Contoh tema yang “kena” untuk Gen Z adalah "Overthinking dan anxiety dalam perspektif iman", "Mengatasi patah hati" atau tema tentang
quarter life crisis, tentang media sosial, FOMO, dan lain-lain.
Kuncinya adalah tema yang relevan dengan masalah mereka. Dalil dan argumentasi yang Islami menyusul dengan hikmah.
3. Gaya penyampaian singkat, jujur, dan visual.
Durasi ideal 30–45 menit dengan bahasa sehari-hari, bukan dengan istilah yang berat. Sisipkan kisah nyata, bukan teori panjang. Gunakan slide sederhana, video pendek, atau analogi hidup. Sebab Gen Z pada umumnya lebih terhubung dengan cerita, bukan definisi.
4. Bangun relasi, bukan sekadar formalitas.
Bagi Gen Z, kedekatan personal lebih penting dari jadwal rutin. Ada sesi ngobrol santai setelah pengajian. Ada mentor yang mudah dihubungi. Ada rasa “aku dikenal di sini.” Pengajian yang hangat akan mengalahkan pengajian yang megah.
5. Libatkan mereka, jangan hanya menjadikan pendengar.
Berikan peran kepada mereka, misalnya menjadi MC, moderator diskusi, seksi acara, dan lain-lain. Saat mereka merasa dibutuhkan, mereka akan merasa memiliki dan akan datang dengan hati.
6. Jangan langsung “menyeramkan.”
Tahap awal dimulainya pengajian tidak langsung membahas tata tertib atau materi yang "berat." Fokus saja mengambil hati mereka dan menyampaikan materi yang ringan dan relevan dengan kehidupan mereka.
7. Jadilah teladan.
Gen Z sangat sensitif pada kepalsuan. Jika guru ngaji dan mentor rendah hati, mereka tertarik. Jika mentornya konsisten antara ucapan dan sikap, mereka percaya. Ingat, mereka mengikuti orang, baru kemudian ilmunya.
Jadi Gen Z bukan anti pengajian. Mereka hanya lelah dengan agama yang keras, tapi tak menguatkan hati. Benar tapi tak menghangatkan.
Insya Allah...jika pengajian menjadi tempat yang bisa memahami, menerima dan menguatkan mereka, niscaya mereka akan datang dan betah berlama-lama dalam pengajian, liqo' atau mentoring.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar