KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR'AN MESKI TERBATA-BATA
By. Satria hadi lubis
TAK sedikit kaum muslimin di Indonesia yang masih buta huruf Al-Qur’an. Berdasarkan kajian MUI tahun 2025 sekitar 58,57% muslim Indonesia buta aksara Al-Qur'an. Namun menurut penelitian IIQ Jakarta, yang buta huruf Al-Qur’an mencapai 72,25%.
Negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi masih banyak yang belum akrab dengan huruf-huruf wahyu. Bukan karena tidak cinta Islam, seringkali karena tidak sempat, tidak dibiasakan, atau malu memulai belajar aksara Al Qur'an.
Padahal, Al-Qur’an tidak menunggu kita lancar dulu untuk dibaca. Justru dari terbata-bata itulah Allah membuka pintu pahala.
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia (bersih dari maksiat) dan taat dalam kebaikan. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan ketika membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari, no. 4937 dan Muslim, no. 798)
Maksudnya, orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata, susah payah, dan sering salah, mendapat dua pahala: pahala membaca dan pahala atas kesungguhannya. Setiap huruf yang kita kejar dengan keringat dan kesabaran, tidak ada yang sia-sia di sisi Allah.
Banyak orang hari ini lancar membaca Al-Qur’an. Tapi jangan lupa, mereka juga dulu pernah gagap. Pernah keliru panjang-pendek, salah makhraj, bahkan terbata membaca satu ayat. Tidak ada yang tiba-tiba mahir. Lancar itu hasil dari kesetiaan, bukan keajaiban semalam.
Dari terbata-bata menjadi lancar, yang berubah bukan hanya lidah tapi hati. Al-Qur’an yang dulu terasa berat, perlahan menjadi teman. Yang awalnya dipaksa, lama-lama dirindu. Yang dulu sekadar membaca, akhirnya mulai merasakan makna.
Keuntungan membaca Al-Qur’an, meski terbata-bata, bukan hanya pahala di akhirat. Ia melatih kerendahan hati, mematahkan ego, dan mengajarkan bahwa ibadah bukan soal pamer kemampuan, tapi soal kesungguhan.
Kuncinya bukan target besar, tapi rutinitas kecil yang konsisten. Satu halaman setiap hari. Lima menit setelah Subuh, misalnya. Atau sepuluh menit sebelum tidur.
Rutinitas yang sederhana, tapi dilakukan terus-menerus, jauh lebih dicintai Allah daripada semangat sesaat yang cepat padam.
"Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah SWT adalah amal yang rutin dikerjakan meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim).
Jangan tunggu lancar baru membaca.
Justru membaca itulah jalan menuju kelancaran.
Jika hari ini masih terbata-bata, jangan berkecil hati. Bisa jadi, suara yang paling Allah cintai adalah suara yang sedang berjuang.
Karena di setiap huruf yang terbata, ada doa yang sedang naik ke langit.
Dan Allah Maha Tahu, siapa hamba-Nya yang sedang sungguh-sungguh belajar mencintai firman-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar