KISAH DI SUDUT MASJID
By. Satria hadi lubis
ANGIN sore berembus lembut di halaman masjid kecil itu.
Seorang pemuda bernama Fahri duduk di sudut masjid, memandangi lantai yang dingin dengan hati yang kacau.
Hari itu, ia baru saja melakukan dosa yang telah ia tinggalkan sejak lama. Ia merasa hancur, malu, dan sangat jauh dari Allah. Namun entah mengapa, langkahnya justru dibawa kembali ke masjid, tempat yang selalu membuat hatinya tenang.
Fahri menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Allah… kenapa aku begini? Kenapa aku terus mengecewakan-Mu?” bisiknya lirih.
Tak lama kemudian, seorang lelaki tua —Pak Hasan, muazin masjid— menghampirinya. Raut wajahnya lembut, penuh kasih.
“Fahri, kenapa murung seperti itu?”
Pemuda itu terdiam. Lalu air matanya pecah.
“Aku malu, Pak… Allah selalu menutup aibku, memberi semua yang aku minta, tapi aku masih melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak pantas dekat dengan Allah.”
Pak Hasan duduk di sampingnya.
Ia menepuk bahu Fahri pelan.
“Nak, justru rasa malu seperti itu adalah tanda hatimu masih hidup. Orang yang tidak punya rasa malu kepada Allah… dialah yang bahaya.”
Fahri mengusap matanya, mendengarkan.
Pak Hasan melanjutkan dengan suara tenang:
“Dulu, ketika saya muda, saya juga sering jatuh dalam kesalahan. Tapi ada satu momen yang mengubah hidup saya…”
Fahri menatapnya.
“Saya pernah melakukan kesalahan besar. Malam itu, saya bersembunyi di masjid ini, takut bertemu siapa pun. Saya pikir Allah pasti murka kepada saya. Tapi waktu saya sujud panjang, saya merasa sesuatu menghantam hati saya seperti petir.”
Pak Hasan tersenyum haru.
“Saya sadar… jika Allah mau mempermalukan saya, sudah sejak dulu saya hancur. Tapi Dia tutupi. Dia jaga. Dia beri saya kesempatan untuk kembali. Sadar itu membuat saya malu… tapi bukan malu yang menjauh, melainkan malu yang mendekat kepada Sang Khaliq.”
Fahri terdiam lama. Kata-kata itu masuk ke hatinya seperti air jernih.
“Fahri,” lanjut Pak Hasan, “malu kepada Allah bukan tanda bahwa kamu buruk. Itu tanda Allah masih mencintaimu. Karena hati yang mati… tak lagi merasa malu.”
Pemuda itu menunduk, suara lirih keluar dari bibirnya.
“Lalu… apa yang harus aku lakukan sekarang, Pak?”
Pak Hasan tersenyum hangat.
“Bangun lagi, Nak. Perbaiki dirimu perlahan. Ingat setiap nikmat Allah, ingat setiap aibmu yang Allah tutupi, ingat betapa Dia tetap menjaga langkahmu. Dari situlah rasa malu yang benar tumbuh. Malu yang membuatmu kembali, bukan pergi.”
Fahri menghela napas panjang. Rasanya dada yang tadi sesak mulai lapang.
Sore itu, ia bangkit, melangkah menuju tempat wudhu.
Setiap percikan air terasa seperti menyapu kotoran dari jiwanya.
Ketika ia berdiri menghadap kiblat, hatinya bergetar.
“Ya Allah… aku kembali. Aku malu, tapi aku ingin Engkau tetap memandangku. Jangan biarkan aku jauh dari-Mu lagi.”
Dan di sudut masjid kecil itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fahri merasakan ketenangan yang hanya dirasakan oleh mereka yang sedang kembali pulang kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar