PASANGAN ADA, TAPI MERASA SENDIRIAN
By. Satria hadi lubis
TAK semua yang berstatus suami istri benar-benar bersama. Ada yang duduk bersebelahan, tapi hatinya saling asing. Ada pasangan, tapi rasanya sendirian.
Pasangan ada secara fisik, namun tak hadir sebagai tempat pulang. Sepi. Ada di rumah, tapi tak lagi menjadi penenang.
Ini bukan selalu soal orang ketiga, bukan pula soal ekonomi semata. Sering kali, ini tentang hati yang lelah dan komunikasi yang mati. Tentang cinta yang dulu diupayakan,
lalu pelan-pelan ditinggalkan. Padahal pernikahan bukan hanya sah di akad, tetapi hidup dalam sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Lalu, apa solusinya?
Pertama, luruskan kembali niat.
Pernikahan adalah ibadah panjang. Bukan untuk menang, tapi untuk bertahan bersama menuju ridha Allah.
Kedua, hadirkan kembali komunikasi yang jujur dan lembut. Bicarakan perasaan, bukan kesalahan.
Nada yang lembut lebih mudah mengetuk hati daripada suara yang tinggi.
Ketiga, hidupkan ibadah bersama.
Shalat berjamaah, saling mendoakan, atau sekadar ngaji bareng. Hati yang sama-sama mendekat pada Allah
akan lebih mudah didekatkan oleh Allah satu sama lain.
Keempat, rawat cinta dengan hal kecil tapi konsisten.
Perhatian sederhana, ucapan terima kasih, dan mendengar dengan sungguh-sungguh sering kali lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang.
Kelima, bersabar dengan ikhtiar.
Sabar bukan diam, tapi terus berusaha memperbaiki cara mencinta. Jika perlu, mintalah bantuan orang yang amanah dan bijak.
Pasangan yang terasa “ada tapi tiada”, bukan selalu tanda harus berpisah. Bisa jadi itu tanda cinta perlu dihidupkan kembali dengan cara yang diridhai Allah SWT.
Karena pasangan sejati, bukan hanya yang tinggal serumah,
tetapi yang saling menggandeng tangan untuk pulang bersama kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar