Jumat, 23 Januari 2026

MENGAPA NGAJI SEBAIKNYA OFFLINE?

 MENGAPA NGAJI SEBAIKNYA OFFLINE?


By. Satria hadi lubis 


DI ZAMAN serba daring ini, hampir semua hal bisa dilakukan lewat layar. Lalu muncul pertanyaan bukankah mengaji (liqo') bisa juga dengan online?


Jawabannya : 


1.⁠ ⁠Ilmu agama itu bukan sekadar informasi

Ilmu agama bukan seperti berita atau tutorial. Ia bukan hanya apa yang diketahui, tapi siapa yang kita ikuti.


Rasulullah saw bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Warisan ini bukan sekadar isi kepala, tetapi akhlak, sikap, dan cara hidup. Semua itu sulit ditangkap lewat online (daring)


Di liqo offline, kita belajar bukan hanya dari lisan guru ngajinya, tapi juga dari kesabaran, cara menegur, cara mendengar, cara mempraktikkan ilmu, dan lain-lain dari guru (pembinanya). Hal ini tidak bisa didapatkan jika mengaji itu online.


2.⁠ ⁠Adab lebih mudah dilatih saat bertemu

Ngaji offline melatih adab, misalnya datang tepat waktu, duduk dengan tenang, mendengar tanpa menyela, menahan diri dari membuka ponsel, dan lain-lain.


Ini bukan hal kecil. Para ulama salaf bahkan mempelajari adab sebelum ilmu. Sebab ilmu tanpa adab seringkali melahirkan ilmu yang kosong, bahkan kesombongan.


Di layar (daring), kita mudah mematikan kamera. Di majelis offline (luring), kita belajar hadir sepenuhnya.


3.⁠ ⁠Hati lebih mudah tersentuh

Ada sesuatu yang berbeda ketika ayat dibaca di ruang offline yang sama. Ketika doa diaminkan bersama, ketika nasihat disampaikan sambil menatap mata jamaah.


Liqo' offline membuat hati lebih siap menerima. Lebih khusyuk dan lebih jujur dengan diri sendiri. Itulah sebabnya kesan dari ngaji online biasanya, “Kajiannya bagus, tapi kenapa hati tetap terasa kering?” Sebab mungkin yang hadir hanya telinga, bukan seluruh diri.


4.⁠ ⁠Ukhuwah tidak tumbuh dari layar

Ngaji offline (luring) bukan hanya belajar, tapi berjalan bersama. Saling mengenal, saling memahami, saling menegur dan mendoakan. Itulah sendi ukhuwah.


Ukhuwah lahir dari berjabat tangan, duduk melingkar, dan berbagi cerita di majelis. Inilah yang membuat iman bertahan dalam jangka panjang.


5.⁠ ⁠Menjaga kesinambungan dan komitmen

Ngaji offline melatih istiqamah karena kita tahu jika tidak datang akan terasa kurang komitmennya.


Ilmu agama butuh sistem, guru, dan kebersamaan. Tanpa itu, ngaji sering hanya menjadi konsumsi sesaat, didengar lalu dilupakan.


Ngaji online itu memang praktis dan mudah. Namun ngaji (liqo') offline itu pondasi. Sebab tidak hanya menambah ilmu, tapi juga membentuk kepribadian.


Kalau ingin sekadar tahu, ngaji online mungkin cukup. Tapi kalau ingin berubah, menjadi lebih taat, dan lebih beradab, maka duduklah di majelis offline (luring).


"Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (dalam majelis ilmu), kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenteraman (sakinah) turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar