Sabtu, 24 Januari 2026

BEDA IZIN DAN RIDHO ALLAH

 BEDA IZIN DAN RIDHO ALLAH


By. Satria hadi lubis 


KADANG kita heran, “Kok ada ya orang yang jahat tapi tetap bisa kaya?”, “Aku tahu ini salah tapi koq lancar-lancar saja", atau “Koq Allah membiarkan sirewel melakukan genosida di Gaza?”


Jawabannya sering tersembunyi pada dua kata yang kelihatannya mirip, tetapi sebenarnya berbeda jauh : IZIN dan RIDHO Allah.


Izin Allah adalah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, tak peduli diridhoi Allah atau tidak. Izin itu hanya berarti Allah membiarkan sesuatu terjadi dalam sistem sunatullah-Nya.


Api membakar, air membasahi, orang jahat bisa kaya, orang lalai bisa diberi nikmat. Itu semua diizinkan terjadi sebagai bagian dari ujian dunia.


Izin adalah bagian dari kehendak kauni, yaitu ketetapan sunnatullah yang berlaku untuk semua makhluk, tanpa melihat mereka baik atau buruk.


"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk ke hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs. 64 ayat 11)


Karena itu, ketika sesuatu lancar atau macet, jangan cepat-cepat merasa itu tanda kebaikan atau keburukan. Bisa saja itu sekadar izin, bukan ridho Allah.


Sedang ridho Allah adalah derajat yang jauh lebih tinggi. Bukan sekadar diperbolehkan, tetapi diinginkan oleh Allah.

Ridho berarti Allah merestui, memberkahi, dan menyukai apa yang kita lakukan.


Orang yang mendapat ridho Allah mungkin jalannya tidak selalu mulus, tetapi hatinya tenang, hidupnya berkah, langkahnya dijaga, dan akhirnya diselamatkan.


Ridho datang dari kehendak syar’i, yaitu apa yang Allah perintahkan dan cintai, seperti kejujuran, ibadah, kesabaran, kebaikan, dan akhlak mulia. Ridho Allah pasti berupa kebaikan dan kemuliaan.


Jadi jika seseorang mendapatkan uang banyak tapi dari kerja curang, maka itu izin Allah, bukan ridho Allah.


Namun rezeki yang sedikit tapi halal, itu merupakan ridho Allah, bukan sekedar izin.


Doa yang belum dikabulkan mungkin saja merupakan cara Allah agar kita mendapat ridho-Nya, jika kita bersabar.


Kesempatan bermaksiat yang datang terus itu adalah ujian, bukan tanda cinta atau tanda ridho Allah SWT.


Kadang kita merasa “Allah memudahkan” kita, padahal sebenarnya Allah sedang memberi kesempatan terakhir kepada kita untuk kembali, sebelum semua izin itu berubah menjadi azab.


Jadi jalan yang kita butuhkan bukan jalan yang sekedar mudah, tapi jalan yang diridhoi, walau kadang untuk itu butuh pengorbanan.


"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya" (Qs. 2 ayat 207)


Sebab hidup ini bukan tentang apa yang berhasil kita capai, tetapi dengan cara apa kita mencapainya dan siapa yang merestui langkah itu.


Kita mungkin bisa sukses dengan kekuatan sendiri, tetapi hanya ridho Allah yang membuat hidup kita tenang dan berakhir bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar