IKUT PENGAJIAN : NIKMAT YANG LANGKA
By. Satria hadi lubis
DI ZAMAN serba cepat ini, yang langka bukan harta, bukan jabatan, tapi waktu yang mau berhenti untuk duduk mengaji (mengikuti liqo' atau mentoring).
Banyak orang yang mampu begadang demi hiburan, sanggup antri demi dunia, tapi berat melangkahkan kaki ke majelis ilmu.
Padahal, ikut ngaji itu nikmat yang mahal.
Bukan karena materinya, tapi karena Allah memilihkan hati yang mau datang.
Tidak semua yang punya waktu diberi kemauan datang mengaji.
Tidak semua yang cerdas diberi kerendahan hati mendengarkan guru mengaji.
Ngaji itu menenangkan.
Hati yang lelah dipeluk ayat.
Pikiran yang kusut diluruskan hikmah.
Dosa yang menumpuk dicuci dengan istighfar.
Kadang kita datang ke pengajian dengan masalah,
lalu pulang dengan cara memandang masalah yang berbeda.
Bukan hidupnya yang langsung mudah,
tapi hatinya yang jadi lebih kuat.
Kalau hari ini masih Allah gerakkan hati kita untuk datang ke majelis ta'lim, liqo' atau mentoring
Maka jangan sombong—itu bukan karena kita baik,
tapi karena Allah sedang sayang.
Jaga nikmat ini.
Karena bisa jadi, di tengah dunia yang makin bising,
ikut ngaji adalah salah satu bentuk rahmat dari Allah yang paling langka.
"Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha kepada para penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar