MENIKAH : IBADAH TERLAMA
By. Satria hadi lubis
AKU sering lupa bahwa menikah bukan hanya tentang bahagia.
Menikah sejak awal aku tahu adalah ibadah terlama yang kupilih untuk dijalani.
Jika benar aku menikah karena Allah --yang diisyaratkan dengan ijab qabul menyebut nama Allah-- mengapa aku masih sering ingin menang sendiri?
Mengapa masih mudah meninggikan ego, padahal aku tahu setiap kata dan sikapku akan dimintai pertanggungjawaban?
Menikah adalah menjalankan perintah Allah SWT.
Dan sesuatu yang dikerjakan karena Allah,
seharusnya aku jalani dengan cara Allah.
Bukan dengan caraku,
bukan dengan emosiku,
bukan dengan egoku.
Aku merenung…
Apakah rumah tangga ini sudah kujalani dengan niat menciptakan sakinah, mawaddah, wa rahmah?
Ataukah aku hanya menuntut ketenangan untuk diriku sendiri, sementara lupa menjadi sumber tenang bagi pasanganku?
Setiap hari aku belajar bahwa ibadah ini tidak berhenti setelah akad.
Ia hidup dalam caraku berbicara,
dalam caraku menahan marah,
dalam caraku memilih diam agar tidak melukai.
Kadang aku ingin dimengerti,
tapi lupa untuk mengerti.
Ingin dihargai, tapi lalai menghargai.
Padahal mungkin, di situlah ujian ibadah ini sesungguhnya.
Allah sudah menjelaskan arah pernikahan ini.
Bahwa pasangan diciptakan agar aku menemukan ketenangan, dan agar aku belajar memberi ketenangan.
Bahwa hidup berpasang-pasangan adalah tanda kebesaran Allah, bukan arena saling menundukkan.
Aku bertanya pada diriku sendiri:
Sudahkah aku takut kepada Allah dalam memperlakukan pasanganku?
Sudahkah aku menjaga lisanku saat marah?
Sudahkah aku memilih sabar ketika aku mampu menyakiti?
Karena menikah bukan soal siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling taat.
Bukan siapa yang paling didengar, tetapi siapa yang paling ikhlas mengalah karena Allah.
Aku sadar, ibadah ini panjang.
Dan aku belum tentu kuat menjalaninya sendirian.
Maka aku kembali pada satu niat:
menikah bukan untuk menyempurnakan kebahagiaanku,
tetapi untuk mendekatkanku kepada Allah.
Ya Allah,
jika pernikahan ini adalah jalan ibadah terlamaku,
maka ajari aku menjalaninya dengan lembut,
dengan takut kepada-Mu,
dan dengan harap akan ridha-Mu di akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar