AKU RINDU MARAHMU, BU
By. Satria hadi lubis
DULU aku paling benci jika ibu marah
Nada suaramu yang meninggi
Tatapan matamu yang kecewa
Nasihatmu yang terasa seperti hukuman panjang
Aku merasa dewasa terlalu cepat
merasa tahu segalanya
merasa tidak membutuhkan siapa pun—
termasuk dirimu.
Aku sering menutup pintu kamar dengan keras
membalas kata-katamu dengan diam
dan pergi tanpa menoleh
saat engkau memanggil namaku dengan suara gemetar.
Aku tidak tahu, Bu
bahwa marahmu adalah doa
yang tak pandai kau susun dengan kalimat lembut
Sekarang aku mengerti…
setiap teguranmu adalah cara Allah menjagaku,
saat aku terlalu keras kepala
untuk mendengar suara kebenaran
Hari ini aku berdiri di titik
di mana hidup tidak selalu ramah
Aku jatuh, aku salah, aku lelah
Dan di saat seperti ini
aku sangat merindukan marahmu, Bu
Rindu seseorang yang berani menegurku
saat aku mulai jauh dari Allah
Rindu suara yang mengingatkanku shalat
saat dunia terasa lebih penting
Rindu wajah kecewa yang sebenarnya
menyimpan cinta paling dalam
Sekarang tak ada lagi yang marah
saat aku pulang terlambat
Tak ada lagi yang menegur
saat aku lalai
Yang ada hanya sunyi
dan penyesalan yang datang terlambat
Bu, jika engkau bisa mendengar ini…
maafkan aku yang dulu keras
yang lebih memilih ego
daripada ridhamu
Aku tahu...
ridha Allah bergantung pada ridhamu
Dan aku terlambat memahaminya
saat suaramu mulai jauh dari jangkauan
Jika ibu-ibu di luar sana masih hidup
jangan tunggu anakmu sadar dengan cara sepertiku
Dan bagi anak-anak seperti aku
yang ibunya telah tiada
Semoga Allah mengganti marahmu
dengan syafaat dan ampunan
Karena kini aku tahu, Bu…
marahmu adalah bentuk cinta
yang paling tulus
Dan aku rindu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar