Jumat, 23 Januari 2026

AKU RINDU MARAHMU, BU

 AKU RINDU MARAHMU, BU


By. Satria hadi lubis


DULU aku paling benci jika ibu marah

Nada suaramu yang meninggi

Tatapan matamu yang kecewa

Nasihatmu yang terasa seperti hukuman panjang


Aku merasa dewasa terlalu cepat

merasa tahu segalanya

merasa tidak membutuhkan siapa pun—

termasuk dirimu.


Aku sering menutup pintu kamar dengan keras

membalas kata-katamu dengan diam

dan pergi tanpa menoleh

saat engkau memanggil namaku dengan suara gemetar.


Aku tidak tahu, Bu

bahwa marahmu adalah doa

yang tak pandai kau susun dengan kalimat lembut


Sekarang aku mengerti…

setiap teguranmu adalah cara Allah menjagaku,

saat aku terlalu keras kepala

untuk mendengar suara kebenaran


Hari ini aku berdiri di titik

di mana hidup tidak selalu ramah

Aku jatuh, aku salah, aku lelah

Dan di saat seperti ini

aku sangat merindukan marahmu, Bu


Rindu seseorang yang berani menegurku

saat aku mulai jauh dari Allah

Rindu suara yang mengingatkanku shalat

saat dunia terasa lebih penting

Rindu wajah kecewa yang sebenarnya

menyimpan cinta paling dalam


Sekarang tak ada lagi yang marah

saat aku pulang terlambat

Tak ada lagi yang menegur

saat aku lalai


Yang ada hanya sunyi

dan penyesalan yang datang terlambat


Bu, jika engkau bisa mendengar ini…

maafkan aku yang dulu keras

yang lebih memilih ego

daripada ridhamu


Aku tahu...

ridha Allah bergantung pada ridhamu

Dan aku terlambat memahaminya

saat suaramu mulai jauh dari jangkauan


Jika ibu-ibu di luar sana masih hidup

jangan tunggu anakmu sadar dengan cara sepertiku

Dan bagi anak-anak seperti aku

yang ibunya telah tiada

Semoga Allah mengganti marahmu

dengan syafaat dan ampunan


Karena kini aku tahu, Bu…

marahmu adalah bentuk cinta

yang paling tulus


Dan aku rindu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar