BURUK SANGKA ITU TERSEMBUNYI, TAPI MERUSAK
By. Satria hadi lubis
PERNAHKAH kita menyadari bahwa ada dosa yang begitu menjijikkan sampai Allah menggambarkannya dengan perbuatan paling mengerikan? Itulah buruk sangka.
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Allah tidak sekadar melarang, tapi membuat perumpamaan yang mengerikan: disamakan dengan memakan bangkai. Bangkai bukan sembarang bangkai, tapi bangkai saudaranya, sesama manusia.
Buruk sangka itu tersembunyi, tapi merusak.
Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada tindakan yang terlihat. Ia hanya berputar di dalam hati dan pikiran.
Namun justru di situlah bahayanya.
Saat kita berburuk sangka, kita telah menghakimi orang lain tanpa bukti, menuduh tanpa klarifikasi dan menyimpulkan tanpa bersikap adil. Dan itu semua terjadi di dalam hati, di tempat yang seharusnya terjaga dari kekotoran.
Mengapa Allah menyamakan berburuk sangka (su'uzhon) dengan memakan bangkai? Sebab bangkai itu sudah tidak bisa membela diri, tidak bisa melawan dan menjelaskan.
Begitu pula saudara kita ketika menjadi objek buruk sangka.
Ia tidak tahu. Ia tidak diberi kesempatan menjelaskan.
Namun kehormatannya sudah kita koyak dalam pikiran dan hati kita.
Yang lebih menakutkan, buruk sangka biasanya tidak berhenti di pikiran dan hati, tapi ia merambat menjadi ghibah, bahkan fitnah. Pada saat itu dosa yang tadinya tersembunyi berubah menjadi kerusakan moral dan sosial.
Gara-gara berburuk sangka rumah tangga hancur, persahabatan retak dan ukhuwah menjadi rusak. Bahkan kebanyakan peperangan yang terjadi di muka bumi ini berawal dari prasangka yang tidak dijaga.
Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu...
Tidak semua yang kita pikirkan harus kita percayai.
Tidak semua yang kita dengar harus kita yakini.
Karena kehormatan seorang muslim terlalu mahal
untuk dikunyah oleh prasangka buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar