KURANG AJAR KEPADA ORANG TUA
By. Satria hadi lubis
SEKARANG ini banyak anak muda yang susah untuk nurut kepada orang tuanya. Bahkan ada anak yang tak merasa bersalah kalau bisa "memberontak" terhadap perintah orang tuanya. Milih sekolah sesukanya, milih jodoh seenaknya, milih kerjaan semaunya, bahkan milih agama juga sesuka hati. Boro-boro membaca al Qur'an rutin, sholat wajib saja sering ditinggalkan.
Pendapat dan perintah orang tua tak lagi diindahkan. Orang tua sampai menangis di tengah malam sambil munajat kepada Allah saking sedihnya. Stres mikirin anaknya yang durhaka dan menyakiti hatinya.
Dengan alasan "ini kan hidup gue", "orang tua gue udah ketinggalan zaman, gak tau perubahan zaman", bahkan ada yang menyitir puisi Khalil Gibran "anakmu bukan milikmu (orang tua), tapi milik zamannya", banyak anak yang berani menentang perintah orang tuanya.
Dampaknya dapat kita lihat sendiri, banyak anak-anak muda sekarang ini susah hidupnya. Susah mencari kerja, susah mencari jodoh, sudah mendapat rezeki, dan kalau sudah berkeluarga anaknya juga bandel, kalau sudah punya pasangan disakiti terus hatinya. Hidupnya menjadi sial seumur hidup.
Anehnya di antara mereka ada yang tak menyadari bahwa penyebab semuanya itu mungkin akibat dulu pernah menyakiti hati orang tuanya, tidak taat alias durhaka kepada orang tuanya. Dikiranya kesialan dirinya karena negara salah urus, atau alasan logis lainnya.
Mereka lupa dengan hukum kehidupan (sunnatullah) yang berlaku sepanjang zaman, yaitu barangsiapa durhaka kepada orang tuanya, maka hidupnya akan menderita, kecuali orang tuanya memaafkan dan si anak kembali berbakti kepada orang tuanya.
Benarlah Allah dengan firmannya :
"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" (Qs. 17 ayat 23).
Berkata "ah" (yang menandakan keberatan) saja tidak boleh, apalagi lebih durhaka daripada itu.
Benarlah Rasulullah saw dengan sabdanya :
"Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia, yaitu orang yang zalim dan (orang yang) durhaka kepada orang tuanya” (HR Al-Hakim).
Al-Hakim dan Al-Ashbahani meriwayatkan semua dosa akan ditunda oleh Allah hukumannya sampai hari kiamat nanti. Terkecuali mereka yang durhaka kepada ayah atau ibunya. Maka, Allah akan segera memberi hukumannya di dunia sebelum mereka meninggal. Inilah hukum kehidupan yang berlaku abadi.
Aisyah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Amal kebajikan yang disegerakan balasannya di dunia adalah berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan kejahatan yang disegerakan siksaannya adalah berzina, durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus silaturahim” (HR Imam Turmudzi dan Ibnu Majah).
Mengapa begitu besar petaka bagi anak yang durhaka kepada orang tuanya? Jawabannya sederhana, karena cinta makhluk yang tertinggi adalah cinta orang tua kepada anaknya. Orang tua rela berkorban harta, waktu, pikiran, hati, bahkan nyawa untuk merawat anaknya. Lalu ketika anak membalas cinta orang tuanya dengan kedurhakaan, maka murkalah Allah yang menjadi sebab kehadiran sang anak melalui perantara orang tuanya.
Sebaliknya, jika anak berbakti kepada kedua orang tuanya hidupnya menjadi barokah, banyak kemudahan dan kenikmatan yang ia peroleh, sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.
Oleh sebab itu, wahai anak muda... taatlah kepada orang tuamu. Meskipun perintahnya tak sesuai dengan keinginanmu, selama hal itu tak bertentangan dengan syariat Allah.
Tidakkah engkau melihat korban-korban anak durhaka yang bergelimpangan di sekitarmu? Bukankah engkau sudah diajarkan oleh banyak pendidik dari kecil sampai dewasa secara berulang-ulang untuk selalu berbakti kepada kedua orang tuamu? Tidakkah engkau mengambil pelajaran?
Maka janganlah engkau kurang ajar kepada orangtuamu. Sebab barang siapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya, maka seumur hidup kesialan akan datang silih berganti dari berbagai arah. Kalau tidak percaya buktikan saja sendiri.
*Tolong tulisan ini dishare kepada anak-anak kita. Anak yang kita sayangi sepenuh hati. Semoga mereka menjadi anak yang sholih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar