HARMONISNYA ORANG TUA : TELADAN BAGI ANAK
By. Satria hadi lubis
SERINGKALI kita lupa, bahwa cara kita berumah tangga hari ini, akan menjadi contoh bagi anak-anak kita esok hari.
Bagaimana kita berbicara kepada pasangan, bagaimana kita menyelesaikan konflik, bagaimana kita menghormati, memaafkan, dan bersabar dengan pasangan, semuanya direkam tanpa sadar oleh anak-anak kita.
Sadar atau tidak sadar, baik atau buruk perlakuan kita kepada pasangan, akan menjadi cetak biru pernikahan anak-anak kita kelak.
Tidak sedikit anak yang tumbuh dengan luka pengasuhan, karena menyaksikan orang tuanya saling merendahkan, saling menyakiti, atau saling diam tanpa kasih.
Trauma itu membuat mereka takut menikah, bukan karena benci pernikahan, tetapi karena tak ingin mengulang luka yang sama. Maka menikah bukan hanya tentang bertahan,
tetapi tentang meninggalkan teladan.
Hakikatnya setiap orang tua sedang menulis warisan, bukan dalam bentuk harta, tetapi dalam bentuk teladan.
Silakan memilih...ingin meninggalkan contoh rumah tangga yang menenangkan, atau contoh yang melahirkan ketakutan.
Bahkan membuat anak tidak mau menikah kelak.
Jadi menikah bukan hanya ibadah sehari, bukan ibadah setahun, tetapi ibadah terlama yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (Qs. 4 ayat 9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar