DIAMNYA IBU
By. Satria hadi lubis
Ketika ibu semakin menua
Ibu tidak banyak bicara.
Bukan karena tak punya cerita,
tapi karena terlalu banyak yang harus ia simpan sendiri.
Ia belajar menelan kecewa,
agar rumah tetap terasa hangat.
Ia belajar menahan air mata,
agar anak-anaknya merasa baik-baik saja.
Ibu diam…
padahal hatinya sering berisik oleh lelah.
Kesabaran bukan berarti tidak menangis.
Kesabaran adalah tetap tersenyum meski hati retak pelan-pelan.
Kita sering salah paham.
Mengira ibu baik-baik saja
hanya karena ia tidak mengeluh.
Padahal, diamnya ibu adalah jeritan yang paling lirih.
Ia diam ketika ucapannya bisa berubah jadi doa,
atau berubah jadi luka.
Maka ia memilih yang paling berat:
memendam.
Ibu tahu, anak-anaknya sedang tumbuh.
Sedang sibuk dengan dunia.
Maka ia menyingkirkan egonya,
agar cinta tetap utuh.
Rasulullah saw mengulang kata ibu tiga kali.
Bukan tanpa sebab.
Karena dalam diamnya ibu,
ada kesabaran yang tidak sanggup ditanggung oleh banyak jiwa.
Jika suatu hari ibu lebih sering diam,
jangan merasa tenang.
Bisa jadi ia sedang kelelahan,
tapi tak ingin menjadi beban.
Dekatlah.
Peluklah.
Tanyakan dengan sungguh-sungguh:
“Bu, Ibu nggak apa-apa?”
Jangan tunggu sampai rumah terasa sepi,
dan kita baru sadar…
ternyata suara dan marahnya ibu adalah doa
yang paling sering Allah dengar untuk hidup kita.
Selama ibu masih ada,
jangan biarkan ia berjuang sendirian dalam diam.
Karena kelak,
diam itu akan selamanya.
Dan kita tinggal menyesal
karena kehilangan ibu sebelum berbakti sepenuh cinta.
*Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar