Jumat, 23 Januari 2026

 TETAP BERSAMA, WALAU TAK SEMANIS DULU


By. Satria hadi lubis 


DALAM rumah tangga, ada masa ketika pasangan kita tampak begitu sempurna. Akhlaknya menenangkan, rezekinya lancar, fisiknya menawan, dan perannya terasa utuh. 


Namun waktu berjalan, ujian datang silih berganti. Kesehatan menurun, penghasilan tak lagi seperti dulu, emosi mudah goyah, atau perhatian tak sehangat awal pernikahan.


Di titik inilah cinta suami istri diuji.

Islam mengajarkan bahwa pernikahan bukan kontrak saat senang saja, melainkan mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat). 


Tetap bersama ketika pasangan tak semanis dulu adalah ujian mengalahkan egoisme. Sebab pernikahan bukan sekedar cari senang, tapi juga ujian peningkatan kualitas diri.


Tetap bersama tatkala pasangan sudah turun pesonanya adalah bentuk keimanan kepada takdir. Sebab pernikahan di sisi Allah tidak diukur dari apa yang sedang ia miliki, tetapi dari bagaimana ia bertahan dalam ujian.


Bukankah Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu”? (Qs. 2 ayat 216).


Bisa jadi penurunan pasangan kita adalah ladang pahala, tempat kesabaran kita tumbuh, dan pintu keberkahan yang belum kita pahami.


Cinta sejati bukan hanya kagum pada kelebihan, tetapi setia merawat kekurangan. Bukan hanya berjalan di puncak, tetapi juga duduk bersama saat jatuh. Seperti kata bijak seorang ulama, "Cinta sejati tak bertambah oleh kelebihan pasangan dan tak berkurang oleh kelemahan pasangan."


Ketika pasangan melemah, kehadiran kita adalah doa yang hidup. 

Ketika ia kehilangan kelebihan duniawi, kita justru meneguhkan kelebihan ukhrawinya: iman, harapan, dan ketenangan.


Setia dalam kondisi sulit adalah ibadah yang sunyi, tak selalu terlihat manusia, tapi dicatat rapi oleh Allah. Dan sering kali, justru dari kesetiaan inilah Allah mengangkat derajat rumah tangga jauh lebih tinggi dari sebelumnya.


Justru dari kebersamaan dalam suka dan duka inilah menjadi kenangan manis suami istri di surga kelak.

Menjadi obrolan mesra suami istri dalam mengenang perjuangan untuk tetap bersama ketika di dunia.


"(Dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu, dalam keadaan gembira ria." (Qs. 43 ayat 70)


Tetap bersama bukan karena tak ada pilihan, tetapi karena sadar, bahwa Allah tak pernah salah mempertemukan dua insan. Apa yang sudah disatukan Allah, jangan mudah dicerai beraikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar