BIAR LAMBAT ASAL HANCUR
By. Satria hadi lubis
ADA pepatah baik yang mengatakan "Biar lambat asal selamat". Namun dalam realita, ternyata ada orang yang hidupnya lambat berubah ke arah yang lebih baik, sehingga menyesal karena sengsara di kemudian hari. Hidupnya hancur karena gagal dunia akhirat. Hidupnya "biar lambat asal hancur."
Mereka hancur pelan-pelan, tanpa suara, tanpa terasa. Sedikit demi sedikit, sampai suatu hari bangun dan bertanya: “Koq hidupku jadi begini?”
Tanda-tanda dari hidup yang perlahan menghancurkan diri sendiri adalah :
1. Waktu yang terbuang tanpa disadari
Hidup mereka bukan tidak sibuk, tapi kesibukan tanpa arah.
Jam demi jam hilang begitu saja, misalnya hobi scroll-scroll hp, rebahan, ngobrol kosong, suka menunda, dan berkata “nanti saja, besok saja, suatu saat aku pasti berubah…”
Padahal setiap detik tak akan kembali. Ia pergi membawa umur. “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian…” (QS. Al-‘Ashr ayat 1)
Kerugian itu bukan datang sekaligus. Ia menggerogoti seperti rayap—diam, tapi mematikan.
2. Kebiasaan menunda yang membunuh masa depan
Hari ini menunda shalat.
Besok menunda taubat.
Lusa menunda belajar Al-Qur’an.
Minggu depan menunda menikah.
Dan tiba-tiba tahun-tahun telah berlalu.
Hidup tidak berubah bukan karena tak mampu, tapi karena selalu menganggap masih ada waktu.
Padahal menunda kebaikan adalah cara paling halus untuk menghancurkan diri.
3. Dosa-dosa kecil yang dianggap sepele
Misalnya, ketika sholat tidak tepat waktu, ia berkata "Ah.. kecil."
Ketika melihat gambar seronok, ia berkata, "Ah ...cuma sebentar."
Ketika ghibah sedikit mengatakan, "Sekali ini saja."
Ketika tidak baca al Qur'an, ia berkata. "Tidak apa-apa."
Mereka lupa bahwa lubang kecil bisa menenggelamkan kapal besar.
Begitulah maksiat kecil. Ia tidak langsung merusak, tetapi perlahan menghapus rasa malu kepada Allah dan mengeraskan hati, sehingga menganggap remeh dosa. Lalu dosanya lama-lama menjadi bukit.
Hati yang keras tidak rusak dalam sehari. Ia rusak oleh kebiasaan maksiat yang dibiarkan.
4. Tidak mau berubah, tapi ingin sukses
Ada yang ingin hidupnya tenang, tapi tak mau meninggalkan maksiat.
Ingin rezeki banyak, tapi malas ibadah.
Ingin rumah tangga harmonis, tapi lisannya kasar.
Ingin masa depan cerah, tapi enggan memperbaiki diri.
Mereka berharap hasil tanpa proses, buah tanpa menanam.
Padahal Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Qs. Ar-Ra'd ayat 11)
Yang paling menakutkan adalah ketika Allah membiarkan seseorang larut berbuat maksiat tapi hatinya tidak gelisah. Lama melakukan keburukan tapi dirinya tetap merasa aman.
Itulah tanda-tanda kerasnya hati: hancur tapi tidak terasa hancurnya.
Sampai suatu ketika musibah datang, atau umur menua, atau kematian mendekat, barulah ia melihat betapa banyak waktu yang telah terbakar sia-sia.
Maka bangkitlah wahai diri...
Allah tidak butuh waktu lama untuk menerima taubat. Kamu saja yang terlalu lama menundanya.
Perubahan tak perlu sempurna.
Tidak harus langsung besar.
Yang penting mulai, dan berhenti mengira bahwa kamu punya banyak waktu.
Jangan menunggu pasti dan mapan baru berubah, tapi berubahlah untuk berubah.
Jangan biarkan dirimu perlahan hancur.
Hidup hanya sekali, dan tiap detik adalah tiket menuju keberhasilan.
Jika hari ini masih diberi nafas, berarti Allah masih memberimu kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Mulailah sekarang...
Sebelum “perlahan” itu berubah menjadi “hancur”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar