Sabtu, 24 Januari 2026

HOBI NGAJI, HOBI YANG SERING TIDAK DIPRIORITASKAN

 HOBI NGAJI, HOBI YANG SERING TIDAK DIPRIORITASKAN


By. Satria hadi lubis 


DI ZAMAN ketika orang sibuk melakukan berbagai hobi, yaitu kegemaran yang dilakukan secara sukarela dan memberikan kepuasan pribadi. Entah bersepeda, ngopi, main game, merawat tanaman, atau membuat konten. 


Namun ada satu hobi yang sering tidak diprioritaskan, yakni hobi mengaji (mengikuti kajian Islam). Padahal, dari semua kesenangan yang kita kejar, hanya hobi mengaji yang berisi ilmu untuk membuat hidup semakin terang dan langkah semakin benar.


Banyak orang mengaku ingin dekat dengan Al-Qur’an. Banyak juga yang bilang ingin paham agama. Tapi ketika jadwal mulai padat, mengaji sering dipinggirkan. Ia dianggap kegiatan tambahan, bukan kebutuhan. Padahal, bagi seorang muslim, mengaji bukan sekedar hobi, ia adalah bekal perjalanan hidup dan mati.


1.⁠ ⁠Ngaji Perlu Sistematis, Tidak Asal Ambil Potongan


Kini informasi agama tersebar di mana-mana. Ada yang benar, ada yang menggugah, ada yang sekadar viral, dan ada pula yang berbahaya. Karena itu, mengaji harus sistematis, bukan hanya potongan-potongan video pendek atau quotes manis.


Sebab ilmu agama ibarat bangunan.

Pondasinya : akidah

Tiangnya: ibadah

Dindingnya : akhlaq.

Dan atapnya : dakwah dan jihad.


Jika kita belajar secara acak, bangunannya tidak pernah tegak. Kita tahu sedikit dari banyak hal, tapi tidak menguasai apa pun. Kita tersentuh, tapi tidak kokoh.


2.⁠ ⁠Ngaji Sebaiknya Offline : Sebab ada Ruh yang Tak Bisa Digantikan


Kajian online memudahkan, tapi ngaji offline memiliki ruh yang berbeda. Ada adab yang terlihat. Ada suasana yang menguatkan. Ada kedekatan yang membuat nasihat lebih meresap.


Melihat guru secara langsung, mendengar suaranya, merasakan kesungguhan ilmunya hal itu semua membentuk karakter. Ulama dulu menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk satu hadist. Kita sekarang tinggal melangkah ke masjid atau rumah ustaz.


Keutamaan dan imbalan mengaji offline sungguh luar biasa. Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)


3.⁠ ⁠Ngaji Rutin Membuat Muslim Punya Mentor (Pembimbing)


Seorang muslim membutuhkan mentor, murabbi, atau pembimbing keagamaan.

Tanpa mentor, kita mudah terseret arus. Tanpa arahan. Belajar jadi terputus-putus. Tanpa bimbingan, sehingga kita sulit menyadari kesalahan diri.


Mentor bukan sekadar guru.

Ia penjaga ritme mengaji kita.

Ia cermin yang memperbaiki niat.

Ia penuntun agar kita tak berhenti di tengah jalan.


Setiap orang yang berhasil dalam agama hampir selalu punya seorang mentor atau pembimbing.


Akhirnya…

Menjadikan ngaji sebagai hobi prioritas adalah keputusan yang paling bernilai untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Dari hobi itu lahir ketenangan, arah yang jelas, hati yang bersih, dan amal yang benar.


Jadikan mengaji sebagai aktivitas yang terjadwal, bukan sampingan.

Cari mentor yang bisa mengarahkan.

Datangi kajian offline yang membangun.

Belajar agama secara bertahap dan menyeluruh.


Karena hobi yang kita bawa sampai ke surga bukanlah hobi koleksi dunia, tapi ilmu yang menuntun langkah menuju ridho Ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar