Jumat, 23 Januari 2026

FATHER ABSENCE : AYAH ADA TAPI TIADA

 FATHER ABSENCE : AYAH ADA TAPI TIADA


By. Satria hadi lubis 


TIDAK semua anak kehilangan ayah karena kematian, sebagian kehilangan ayah meski ayahnya masih ada.


Ayah ada di rumah, tetapi tak hadir dalam hidup.

Pulang membawa lelah, bukan pelukan.

Memberi nafkah, tapi tidak memberi arah.


Inilah yang disebut father absence, ketiadaan peran ayah, bukan sekadar ketidakhadiran fisik.


Dalam Islam, ayah bukan hanya pencari nafkah. Ia adalah imam, pendidik, dan pelindung jiwa. Rasulullah saw bukan ayah yang sempurna secara materi, tetapi beliau hadir secara ruhani: mendengar, menasihati, dan membersamai.


“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)


Ayat ini merupakan perintah agar ayah menjaga keluarganya dari api neraka. Bukan hanya perintah ayah memberi makan anak-anaknya, tapi juga memberikan tuntunan.


Ketika ayah absen, yang tumbuh sering kali bukan sekadar kemandirian, tetapi kekosongan. Anak belajar kuat sendiri, namun diam-diam rapuh. Ia akhirnya mencari figur pengganti di pergaulan, di media, bahkan di jalan yang salah.


Banyak anak tersesat bukan karena kurang cerdas,

tetapi karena tak pernah dipeluk secara batin.


Islam sangat menekankan kehadiran ayah dalam kehidupan anak. Nabi Ya’qub as menasihati anak-anaknya dengan penuh kelembutan. Luqman menasihati anaknya dengan hikmah. Ini bukan kisah simbolik, tapi teladan peran ayah.


Ayah yang hadir bukan yang selalu benar,

tetapi yang selalu mau kembali: kembali mendengar, kembali belajar, kembali memperbaiki diri.


Pesan bagi anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah: Islam tidak menutup harapan. Allah adalah Al-Wali, Pelindung terbaik. Luka pengasuhan boleh ada, tetapi masa depan tidak boleh rusak. 


Dengan iman, luka pengasuhan bisa menjadi kekuatan, bukan kutukan. Dengan dekat kepada Allah, menyalahkan orang lain di masa lalu bisa berubah menjadi kekuatan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri di masa kini dan masa depan.


"Atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?” (Qs. 7 ayat 173)


Ayat ini menjelaskan kelak di yaumil qiyamah alasan mereka yang suka menyalahkan generasi terdahulu (termasuk menyalahkan orang tua) sebagai akibat kesesatannya di masa kini tertolak di hadapan Allah SWT, Hakim yang Maha Adil. 


Setelah dewasa, sikap suka menyalahkan orang lain (termasuk menyalahkan orang tua akibat luka pengasuhan) adalah sikap pengecut. Lempar batu sembunyi tangan. Sebab setiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.


Akhirnya...

Father absence memang masalah serius, tetapi bukan takdir yang tak bisa diubah.

Karena dalam Islam, ayah yang lalai masih bisa bertaubat,

anak yang terluka masih bisa disembuhkan selama ada keberanian untuk kembali kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar