Sabtu, 24 Januari 2026

BERPERAN TANPA BAPERAN

 BERPERAN TANPA BAPERAN


By. Satria hadi lubis 


Hidup ini bukan untuk baperan, tapi untuk berperan. Allah SWT berfirman : 


"Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu atas apa yang Dia berikan kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat sanksi-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Qs. 6 ayat 165)


Itulah sebabnya manusia terbaik di dunia ini adalah muslim yang dalam perannya paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)


Namun, sering kali semangat berperan itu tersandung oleh satu hal: baperan (bawa perasaan), yaitu perasaan yang terlalu sensitif, mudah tersinggung, cepat sakit hati ketika pendapatnya tak diterima atau saat orang lain lebih menonjol.


Padahal dalam Islam, IKHLAS adalah kunci utama setiap amal. Ketika niat kita lurus karena Allah, maka kita tak akan mudah baper. Kita tidak mencari tepuk tangan manusia, melainkan ridha-Nya. 


Orientasi kita fokus pada satu tujuan : kebaikan yang diridhoi Allah SWT, tanpa peduli dengan gangguan sepanjang perjalanan, termasuk gangguan perasaan.


"Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (Qs. 2 ayat 149)


Lihatlah teladan para sahabat Nabi. Mereka saling berlomba dalam kebaikan, tapi tidak saling menjatuhkan. Umar bin Khattab ra tak iri pada Abu Bakar ra yang selalu lebih dulu beramal. Justru Umar ra berkata, “Aku tak akan bisa menyainginya.” Sambil beliau tetap berbuat baik dengan caranya sendiri.


Bagaimana agar kita tetap berperan tanpa baperan?


1.⁠ ⁠Fokus pada kontribusi, bukan pengakuan.

Jangan sibuk menunggu pujian, tapi sibuklah menebar manfaat.

2.⁠ ⁠Belajar menerima kritik dengan lapang dada.

Kritik bisa jadi jalan perbaikan, bukan penghinaan.

3.⁠ ⁠Menahan hati dari iri dan dendam.

Karena hati yang bersih lebih ringan dalam melangkah.

4.⁠ ⁠Menyadari bahwa hasil akhir bukan urusan kita.

Allah-lah yang menilai dan memberi balasan.


Jadi, teruslah berperan aktif di jalan kebaikan di mana pun berada, tanpa membawa hati yang mudah retak dan ngambekan, sehingga melihat segala sesuatu dengan kacamata kotor : iri, benci, sangka buruk, ingin dipuji, dan sulit menerima kritik.


Ketahuilah! Yang penting itu bukan siapa yang paling menonjol, tapi siapa yang paling ikhlas. 


Jika kita baperan, mungkin itu menunjukkan ketidakikhlasan kita, sehingga niat perlu diluruskan agar mendapat ridho, pahala dan barokah dari Allah SWT.


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar