CARA MENDIDIK ANAK YANG SUDAH DEWASA
By. Satria hadi lubis
CARA mendidik anak yang sudah dewasa berbeda dengan mendidik anak yang masih kecil atau remaja. Beberapa cara mendidik anak yang sudah dewasa kisaran usia 20 tahun ke atas adalah :
1. Ubah peran: dari pengasuh menjadi penuntun.
Dalam Islam, ketika anak sudah baligh dan berakal, ia memikul tanggung jawab sendiri di hadapan Allah.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka peran orang tua bergeser : bukan lagi “mengatur”, tapi menuntun dengan hikmah dan keteladanan.
Contoh:
“Nak, Ayah ingin kamu selalu jaga shalatmu, karena itu tiang hidup kita.”
Bukan: “Kamu harus shalat lima waktu, kalau tidak dosa!”
2. Didik dengan hikmah, nasihat, dan keteladanan.
Allah memerintahkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Prinsip dakwah ini juga berlaku dalam mendidik anak dewasa, yakni : Hikmah dengan memilih waktu, kata, dan cara yang lembut. Pelajaran baik, dengan berbagi pengalaman hidup. Cara terbaik, dengan tidak mempermalukan, tidak memaksa. Sebab dengan memaksa anak makin menjauh dari orang tuanya.
3. Doakan mereka tanpa henti.
Doa orang tua sangat besar pengaruhnya, bahkan setelah anak dewasa.
“Doa orang tua untuk anaknya seperti doa Nabi untuk umatnya.” (HR. Al-Bazzar)
4. Tunjukkan kasih sayang, bukan kemarahan.
Nabi saw adalah teladan dalam kasih sayang kepada generasi muda.
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
(HR. Ahmad)
Maka walau anak sudah dewasa jangan mudah memarahi atau menuduh. Tunjukkan rasa cinta dengan perhatian, bukan tekanan. Sampaikan nasihat dengan kalimat yang lembut dan menghargai.
5. Ajak mereka pada kebaikan secara bersama.
Daripada sekadar menasihati, ajak beramal bersama, misalnya ajak ke masjid atau kajian, bukan sekadar menyuruh. Lakukan sedekah bersama, atau kegiatan sosial.
Ini menumbuhkan rasa kebersamaan dalam beramal.
6. Hormati pilihan mereka selama tidak melanggar syariat.
Jika anak sudah dewasa dan memilih jalan hidup (pekerjaan, pasangan, gaya hidup) yang masih dalam koridor halal, maka orang tua harus menghormati dan tetap mendoakan. Jangan menuntut mereka meniru masa lalu orang tua.
Nabi Ya’qub tidak memaksa anak-anaknya, tapi menasihati dengan lembut :
“Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132)
7. Perkuat hubungan hati, bukan kekuasaan
Mendidik anak dewasa bukan dengan kontrol, tapi dengan hubungan batin dan keteladanan.
Jadilah sahabat tempat curhatnya. Jangan hanya hadir saat mereka salah, tapi juga saat mereka berhasil. Tunjukkan akhlak sabar, lapang dada, dan istiqamah.
Jadi mendidik anak dewasa dalam Islam berarti menuntun dengan kasih, mendoakan dengan tulus, dan menasihati dengan hikmah. Orang tua bukan lagi pengatur, tapi qudwah hasanah (teladan yang hidup).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar