Minggu, 26 Juli 2026

ANAK NURUT, JIKA SUAMI NURUT KEPADA ALLAH

 ANAK NURUT, JIKA SUAMI NURUT KEPADA ALLAH


By. Satria hadi lubis


BANYAK ayah ingin anaknya rajin shalat, sopan kepada orang tua, cinta Al-Qur’an, dan mudah dinasihati. Tetapi sayangnya, tidak sedikit ayah yang hanya pandai memerintah, namun lemah dalam memberi teladan. Padahal anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar.


Bagaimana anak mau rajin ke masjid jika ayahnya sendiri malas shalat berjamaah?

Bagaimana anak mau lembut lisannya jika setiap hari mendengar ayahnya membentak ibunya?

Bagaimana anak mau taat kepada orang tua jika ia melihat ayahnya sendiri durhaka kepada orang tuanya?


Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan ayah hari ini sering kali menjadi karakter anak di masa depan.


Karena itu, sebelum sibuk menuntut anak berubah, seorang suami harus lebih dahulu nurut kepada Allah. Taat kepada perintah-Nya, menjaga shalat, mencari nafkah yang halal, memuliakan istri, serta menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Allah SWT berfirman :


“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim : 6)


Ayat ini dimulai dari menjaga diri sendiri terlebih dahulu sebelum keluarga. Artinya, pendidikan terbaik untuk anak bukan hanya ceramah, tetapi keteladanan yang dimulai dari ayah yang pribadinya baik.


Suami yang baik bukan yang paling ditakuti di rumah, tetapi yang paling layak dicontoh. Ketika ayah bangun malam untuk shalat, anak melihat. Ketika ayah jujur dalam mencari nafkah, anak merekam. Ketika ayah sabar menghadapi masalah, anak belajar. Dan ketika ayah tunduk kepada Allah, biasanya anak akan lebih mudah tunduk kepada orang tuanya.


Jangan heran jika anak sulit diatur karena rumah jarang diisi dengan ibadah, bacaan Al-Qur’an, dan keteladanan. Karena anak yang shalih biasanya lahir dari orang tua yang terus memperbaiki diri untuk taat kepada Allah.


Seorang ulama bernama Said bin Al-Musayyib berkata : "Tatkala dalam shalat, aku teringat anakku, maka aku pun menambah shalatku."


Jadi kaidahnya begini: jika anak ingin menurut kepada orang tua, mulailah dari suami yang menurut kepada Allah Ta'ala. Mulailah dari istri yang menurut kepada suami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar